
Setelah seharian sibuk dengan urusan pemakaman dan menyajikan konsumsi tahlilan di rumahnya, Bu Dewi pun rebahan di sebelah Panji yang tertidur pulas. Dipandanginya wajah Panji yang sangat mirip dengan Laras tersebut. Kebahagiaan terpancar dari wajah Bu Dewi saat itu. Ia benar-benar bahagia dengan kehadiran Panji di rumahnya. Meskipun di sisi lain ia juga sedih karena meninggalnya Laras.
"Mas, pulang jam berapa?" Bu Dewi mengirim chat pribadi kepada suaminya.
"Masih di jalan, Dik. Ada kemacetan panjang, tadi. Ada truk guling menutup setengah jalan. Panji gimana? Apa masih hangat badannya?" balas Pak Herman.
"Alhamdulillah sudah dingin badannya. Mas, susu Panji sudah habis Aku takut nanti anaknya bangun tengah malam. Kasian kalau nggak ada susu," balas Bu Dewi.
"Saya usahakan mampir mini market nanti," balas Pak Herman.
"Iya, makasih, Mas. Hati-Hati di jalan, ya?" pesan terakhir Bu Dewi.
"Iya, Dik," balas Pak Herman.
Setelah saling berbalas pesan dengan Pak Herman, Bu Dewi baru ingat kalau ia belum salat Isya. Ia pun bangun secara perlahan dari tempat tidur supaya tidak mengganggu nyenyaknya tidur Panji. Bu Dewi melangkah secara perlahan melewati ruang tengah menuju kamar mandi yang terletak di sebelah dapur.
Bu Dewi sempat melirik ke arah tempat cuci piring. Ada empat piring kotor di sana bekas tempat kue basah yang belum ia cuci. Ia pun buru-buru berjalan ke arah tempat cuci piring tersebut. Ia ingat pesan orang tuanya dulu. Tidak boleh tidur dalam keadaan banyak piring kotor karena itu salah satu sebab tidak lancarnya rejeki. Dengan beberapa kali gosokan akhirnya piring-piring kotor itu pun menjadi bersih dan ia pun berniat menuju kamar mandi untuk berwudu.
Baru dua langkah ia meninggalkan tempat cuci piring, ia mendengar suara keran terbuka dari bak cuci piring.
"Loh, kayaknya barusan kerannya sudah aku tutup? Ah, mungkin aku sudah lupa," pikir Bu Dewi.
__ADS_1
Bu Dewi pun berbalik menuju ke tempat cuci piring dan menutup kerannya. Setelah itu Bu Dewi balik lagi berjalan ke kamar mandi.
Cuuuuur!!!
Suara keran terbuka kembali terdengar.
"Ya Allah!" Bu Dewi kaget karena keran air yang baru ia tutup ternyata terbuka lagi. Perasaan Bu Dewi mulai tidak enak. Tapi ia masih berpikir positif.
"Apa kerannya rusak, ya?" pikir Bu Dewi sambil berjalan menuju bak cuci piring dan kembali menutup keran yang terbuka. Kali ini ia memegangi keran itu selama beberapa detik baru dilepas. Setelah yakin tidak ada pergerakan lagi ia pun meninggalkan bak cuci piring menuju ke kamar mandi. Alhamdulillah keran tidak terbuka lagi.
Kali ini Bu Dewi sudah berada di dalam kamar mandi. Ia pun buang air kecil terlebih dahulu sebelum berwudu. Perasaan Bu Dewi saat itu seperti tidak tenang seolah ada yang sedang mengawasinya dari arah meja makan. Tapi, ketika Bu Dewi menoleh ke arah meja makan, ia tidak melihat siapapun ada di sana.
"Ya Allah ... Kenapa aku separno ini, ya?" pikir Bu Dewi sambil melanjutkan wudunya.
Brak!
Bu Dewi menutup rapat-rapat pintu yang menghubungkan dapur dan ruang tengah. Meskipun terbilang kaya, Bu Dewi memang lebih suka rumah yang tidak terlalu besar dan tipenya masih seperti rumah kebanyakan. Hanya perabotnya memang serba berkualitas bagus.
Bu Dewi berjalan menuju kamarnya dulu untuk melihat kondisi Panji setelah ia tinggal beberapa menit ke dapur. Hatinya tenang begitu melihat Panji masih terlelap. Ia pun berjalan menuju musalla yang letaknya menjadi satu dengan ruang tengah. Digelarnya sajadah dan dipakainya mukenah dengan bahan katun bali yang adem yang ia beli di toko online langganannya. Murah harganya, tapi kualitasnya bagus. Bu Dewi pun mulai menunaikan salat Isya.
Pada saat Bu Dewi ruku', ia mendengar suara pintu depan dibuka oleh seseorang. Bu Dewi berpikir itu suaminya. Jadi, ia tenang saja melanjutkan salat Isya-nya sampai selesai. Suaminya memang sengaja membawa kunci cadangan karena sering pulang tengah malam. Jadi dengan begitu ia tidak perlu mengganggu waktu istirahat Bu Dewi.
__ADS_1
Bu Dewi yang merasa Pak Herman sudah datang itu pun berkata dengan suara agak dikeraskan sambil melipat mukena yang baru saja ia pakai.
"Mas, susunya Panji nggak lupa, kan?" ujar Bu Dewi.
Tidak ada sahutan.
"Mas!!! Mas Herman!!!" panggil Bu Dewi sambil melangkah ke kamar utama tempat Panji tidur.
Setelah Bu Dewi sampai di kamar Panji, ia tidak melihat ada Pak Herman di sana. Bu Dewi mulai bertanya-tanya di dalam hati.
"Loh, kok Mas Herman nggak ada? Terus, yang barusan buka pintu siapa? Ya Tuhan! Jangan-Jangan maling???" Bu Dewi pun buru-buru mengecek pintu depan. Ia kaget ternyata pintu depan dalam keadaan terkunci sama seperti sebelumnya. Dalam artian Pak Herman masih belum pulang.
"Terus, yang barusan itu suara apa apa pas aku salat? Masa suara jendela?" pikir Bu Dewi sambil mengecek jendela satu persatu.
Ternyata jendela pun tidak ada yang terbuka. Bu Dewi pun buru-buru menutup gorden jendela itu satu persatu. Gorden terakhir yang ia tutup adalah yang mengarah ke timur. Dari jendela itu Bu Dewi dapat melihat bagian depan rumahnya yang ditempati Laras. Selama beberapa detik Bu Dewi menatap ke arah rumah yang gelap itu. Bulu kuduknya tiba-tiba meremang dan Bu Dewi merasa seperti ada sesuatu yang menarik Bu Dewi untuk berjalan ke rumah itu. Tapi, karena Bu Dewi tidak mau meninggalkan Panji sendirian, ia pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah itu.
Setelah menutup gorden terakhir Bu Dewi buru-buru berjalan masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia pun mengambil posisi tidur di sebelah Panji. Saat ia sudah berada di dalam kamar bersama Panji, Bu Dewi seperti mendengar suara perabot jatuh di belakang. Bu Dewi tidak berniat untuk mengecek benda apa yang jatuh itu. Ia menutupi telinga Panji supaya tidak mendengar suara-suara itu.
Krompyang!!!
Beberapa kali terdengar suara dari arah dapur. Bu Dewi tidak bisa memejamkan mata. Ia hanya berkonsentrasi untuk menjaga Panji agak tidak terjaga karena susunya sudah habis. Namun, kali ini Bu Dewi tidak hanya mendengar suara benda jatuh, tapi ia mendengar suara langkah kaki mondar mandir di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Like dan komen Kakak aku tungguin loh.