
Bu Dewi benar-benar merasa kecewa dengan semua kejadian yang terjadi di dusun Delima setelah kematian Laras. Ia tidak habis pikir kenapa Laras benar-benar melakukan balas dendam sesuai dengan isi buku hariannya. Tidak hanya itu, Laras ternyata juga membalas dendam atas perlakuan tidak mengenakkan masyarakat dusun Delima terhadap dirinya selama hidup maupun saat pemakamannya. Sebagai orang yang menganggap Laras sebagai anaknya sendiri, Bu Dewi tidak mau diam saja melihat semua kejadian tersebut. Ia ingin menghentikan Laras dengan caranya sendiri. Perempuan itu memang bukanlah dukun atau ahli supranatural yang sanggup berkomunikasi dengan makhluk dari dunia lain. Namun, ia memiliki keinginan yang kuat untuk mencegah keburukan yang akan terjadi di dusun Delima akibat ulah Laras. Yang bisa dilakukan oleh istri Pak Herman saat ini yaitu mendatangi makam Laras dan mengatakan kepada Laras bahwa apa yang sedang ia lakukan saat ini adalah tidak dibenarkan. Mungkin bagi kebanyakan orang, apa yang akan diperbuat oleh Bu Dewi dianggap sia-sia karena arwah Laras tidak akan mendengarnya. Namun, bagi orang biasa seperti Bu Dewi hanya cara itulah yang dapat ia lakukan.
Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya Bu Dewi sudah sampai di pintu gerbang makam. Perempuan itu membulatkan tekad untuk masuk ke dalam area pemakaman yang kanan dan kirinya dipenuhi batu nisan yang berjejer. Fajar sudah menyingsing, namun matahari belum muncul dari peraduannya. Bu Dewi dengan perasaan campur aduk antara takut dan marah memasuki area pemakaman umum dusun Delima setapak demi setapak. Perempuan itu sudah melalui setengah area pemakaman ketika ia seperti mendengar suara dari arah belakang. Karena penasaran, perempuan itu pun menoleh ke belakang dan dalam pandangan yang masih samar-samar, ia melihat sekelebat bayangan seperti orang sedang berlari namun hanya sekilas dibarengi sayup-sayup suara jeritan. Perasaan was-was mulai menghinggapi hati dan pikiran istri Pak Herman tersebut. Namun, semua itu kalah dengan keinginan kuatnya untuk menjalankan misinya yaitu berdoa dan berbicara dengan Laras di makamnya.
“Siapa barusan itu? Apa itu orang? Kalau orang, tapi kok cepat sekali menghilangnya?”
Begitulah kurang lebih yang dipikirkan oleh Bu Dewi saat itu. Untuk kembali sudah tidak mungkin karena Bu Dewi sudah hampir sampai di makam Laras. Sedangkan jalan kembali satu-satunya adalah melewati pintu gerbang tadi sekaligus tempat ia melihat sekelebat bayangan barusan. Setelah menimbang-nimbang, perempuan itu memilih untuk melanjutkan misinya yaitu menyampaikan uneg-unegnya kepada ibu kandung Panji.
Suara-Suara sudah tidak terdengar lagi di telinga Bu Dewi. Terlebih saat ini perempuan itu sudah memasuki area pemakaman sebelah selatan yang posisinya sudah semakin jauh dari pintu gerbang. Bu Dewi saat ini sudah sampai di jalan setapak yang semakin kecil. Sedangkan di sebelah kiri dan kanannya ditumbuhi ilalang yang cukup tinggi sehingga menyulitkan pandangan mata. Tapi, perempuan itu hapal betul posisi makam Laras. Dengan perlahan kakinya melangkah melewati jalan setapak yang kecil itu. Sesekali ia harus menyibak ilalang yang roboh ke arah jalan setapak dan menutupi jalan yang ia lewati. Kalau melihat dari kondisi jalan setapak tersebut, sepertinya tidak ada orang yang lewat di sana. Mungkin, Bu Dewi adalah satu-satunya warga dusun Delima yang berani melewatinya.
Selain mengandalkan ingatan, Bu Dewi juga harus mengandalkan insting untuk menemukan makam Laras karena saat itu ilalang banyak yang roboh ke arah jalan setapak. Bahkan sebagian jalan setapak sudah tidak kelihatan karena ditutupi ilalang.
“Cepat sekali tumbuhnya ilalang-ilalang ini,” ujar Laras di dalam hatinya.
“Hm, sebentar. Kayaknya makam Laras itu di sekitar sini,” kata Bu Dewi pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Perempuan itu memutar tubuhnya untuk memeriksa semua batu nisan di sekitar tempat ia berdiri sekarang. Tidak hanya batu nisan yang ia periksa, tapi juga kondisi gundukan tanah di atas pusara-pusara yang berjejer itu. Pastinya pusara Laras masih baru.
Pada saat Bu Dewi memutar badannya untuk memeriksa setiap makam yang ada di sekitar tempat ia berdiri, perempuan itu memekik terkejut karena ternyata makam Laras tepat berada di sebelahnya.
“Innalillah! Ternyata aku sudah sampai di sebelah makam Laras!”
Tiba-Tiba bulu kuduk perempuan itu merinding. Mungkin karena ia efek keterkejutannya. Namun, perasaan perempuan itu menjadi was-was ketika teringat ucapan sahabatnya, Sinta, bahwa merinding itu adalah tanda kehadiran makhluk halus di sekitar manusia.
“Wi, kamu ingat kata-kata saya, ya! Kalau tiba-tiba bulu kuduk merinding itu artinya sedang ada arwah di sekitar kita karena bulu kuduk manusia itu adalah sinyal adanya kehadiran sosok gaib di dekat manusia,” ucap Sinta.
“Pas aku pertama kali harus tinggal sekamar dengan Mas Herman juga merinding, Sin. Masa waktu itu ada sosok gaib?” protes Bu Dewi saat itu.
“Sialan kamu, Sin!” gerutu Dewi.
Bu Dewi kembali harus bertarung dengan perasaannya sendiri. Namun, mental perempuan ini patu diacungi jempol karena akhirnya ia kembali memenangkan pertarungan itu. Ia tetap bersikukuh bertahan dengan misinya. Perempuan itu kali ini duduk bersimpuh di sebelah makam Laras. Tangannya yang berkulit kuning langsat memegangi batu penanda nisan Laras.
__ADS_1
“Bismillahirrohmanirrohim …”
Bu Dewi mengawali semuanya dengan mendoakan arwah Laras agar terbebas dari siksa kubur dan diberikan tempat di surganya. Air mata perempuan itu menetes saking khusyunya berdoa untuk ibunya Panji itu. Setelah mendoakan arwah Laras, perempuan itu pun menyampaikan uneg-unegnya di sana.
“Laras, aku sebenarnya tidak percaya kalau kamu yang meneror Bu Nisa. Aku juga tidak percaya kalau kamu yang menaku-nakuti Bu Reni. Aku juga tida percaya kalau kamu yang membunuh Pak Hartono. Tapi, setelah kejadian tadi malam Panji menangis dan aku menemukan buku harian yang kamu tulis. Aku sulit menyangkal kalau memang bukan kamu yang melakukan itu semuanya, Nduk. Nduk, Allah itu maha pengampun. Aku yakin saat ini kamu lebih tahu betapa Allah itu memang maha pengampun, tapi kenapa kamu belum bisa memaafkan semua orang yang menyakiti hati kamu selama hidup? Nduk, tolong hilangkan perasaan marah dan dendam yang ada di hati kamu saat ini agar kamu bisa melanjutkan perjalanmu dengan tenang di sana. Jangan kamu turuti godaan untuk melakukan balas dendam, Nduk. Kamu tidak mau kan Panji dikenal sebagai anak dari seorang pembunuh?” Bu Dewi menangis sejadinya di atas makam Laras. Tangisnya sulit dibendung saat itu dan perasaan Bu Dewi menjadi lega setelah menyampaikan uneg-unegnya di atas makam Laras.
Saking khusyunya Bu Dewi berkomunikasi satu arah di tempat tersebut, perempuan itu tidak menyadari bahwa ada benda tak lajim di atas makam Laras. Perempuan itu baru menyadari hal itu tatkala matahari sudah menerangi area pemakaman dan perempuan itu mengendus bau yang cukup menyengat.
“Bau apa ini?” ucap Bu Dewi pada dirinya sendiri.
“Apakah ini bau jenazah Laras? Ya Allah, kasihan sekali kamu, Nduk. Apa sebenarnya yang sedang terjadi padamu, Nduk? Tidak! Aku yakin ini bukan bau jenazah Laras. Laras itu orang baik,” Bu Dewi menyangkal omongannya sendiri.
Bu Dewi memeriksa dengan teliti makam Laras dan betapa ia terkejut saat melihat ada bangkai ayam di atas makam Laras.
“Astagfirullah!” pekik perempuan itu karena terkejut.
__ADS_1
“Kenapa bangkai ayam ini bisa ada di sini?” ucap Bu Dewi pada dirinya sendiri.
BERSAMBUNG