
Selama beberapa detik Bu Nisa merasakan sakit di lehernya. Pada saat itu perempuan itu sudah merasa akan mati. Namun, ternyata dugaanya salah. Beberapa detik kemudian, Bu Nisa merasa tidak ada lagi yang mencekik lehernya dan Bu Nisa mendengasr suara seseorag sedang berbincang-bincang.
“Pesan untuk berapa kamar, Pak?” tanya seseorang.
“Satu saja, Mbak!” jawab seseorang yang ia kenal baik.
“Loh, itu kan suara Pak Dimas?” pikir Bu Nisa saat itu sambil tetap memejamkan matanya.
Bu Nisa belum berani memejamkan matanya karena ia masih takut kepada hantu Pak Hartono dan hantu Laras.
“Hm … istri Bapak kenapa?” tanya perempuan itu lagi.
“Dia kebanyakan minum, Mbak,” jawab Pak Dimas.
“Kalau berkenan biar kami bantu membawa ibu ke dalam,” ucap perempuan itu lagi.
“Nggak usah, Mbak! Biar saya sendiri,” jawab Pak Dimas.
“Baiklah kalau begitu. Ini kuncinya, Pak Dimas! Silakan!” ucap perempuan itu lagi.
Karena yakin dengan pendengarannya Bu Nisa pun memberanikan diri untuk membuka matanya dan benar saja saat itu ia sedang berada di sebelah meja resepsionis sebuah hotel melati dan saat itu ia melihat Pak Dimas sedang membawa Laras dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Ya Tuhan! Apa yang akan dilakukan Pak Dimas terhadap Laras?” tanya Bu Nisa di dalam hatinya.
Pak Dimas pun membawa Laras berjalan menuju kamar yang telah ia sewa. Bu Nisa diam-diam mengikuti mereka dari belakang. Ternyata Pak Dimas naik ke lantai dua. Bu Nisa pun menggunakan tangga untuk bisa sampai ke lantai dua juga. Setelah bersusah payah mengikuti Pak Dimas dengan menggunakan tangga, akhirnya Bu Nisa pun bisa kembali mengintip Pak Dimas di lantai dua. Secara mengendap-endap ia membuntuti mereka.
Dan ternyata Pak Dimas membawa Laras ke sebuah kamar. Bu Nisa pun mengintip mereka dari luar pintu. Tidak ada lubang yang dapat ia gunakan untuk mengintip ke dalam karena semua lubang tertutup dengan rapat. Tapi, perempuan itu tidak kehabisan akal. Ia menempelkan telinganya ke pintu agar dapat mendengar percakapan di dalam kamar tersebut.
“Ha ha ha ha ha … Larasssss! Akhirnya aku bisa memilikimu juga hari ini! Suruh siapa kamu jual mahal terhadapku? Meskipun aku sudah kalah cepat dengan Si Hartono, tapi tak apalah yang penting aku bisa mencicipimu. Ha ha ha ha ha … Apa? Kamu tidak mau? Apa peduliku, Laras! Kamu itu terlalu cantik makanya kami bertiga semuanya berlomba-lomba untuk mendapatkanmu.” Ucap Pak Dimas dari dalam kamar yang membuat Bu Nisa berpikir.
__ADS_1
“Tiga orang? Siapa saja?Pak Hartono … Pak Dimas … dan siapa orang ketiganya? Jangan-Jangan … Tidak! Tidak mungkin suamiku juga berbuat jahat kepadamu Laras. Dia itu cintanya cuma padaku saja. Tidak mungkin dia akan tertarik padamu, Laras!” ucap Bu Nisa pada dirinya sendiri.
Bu Nisa terus saja memantau suara yang terdengar dari dalam. Pak Dimas terus saja berbicara pada dirinya sendiri karena Laras dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Aku tahu kamu itu perempuan yang tidak akan mau melayaniku. Makanya aku membius kamu supaya kamu tidak dapat menolak lagi. Nanti, aku akan memotret tubuh kamu dalam keadaan tanpa busana agar kamu tidak bisa menolak lagi kalau aku menginginkannya lagi. Ha ha ha …” ucap Pak Dimas dengan sedikit berteriak.
“Suruh siapa kamu polos, Laras? Harusnya kamu bisa menilai bahwa tidak ada laki-laki yang baik mau menolongmu tanpa bermaksud lain. Ha ha ha … Sekarang kamu baru tahu rasa, kan? Ah capek juga ngobrol sama kamu yang sedang pingsan. Lebih baik aku segera melancarkan aksiku saja. Aku akan menjadi ayah dari anakmu nanti, Laras! Ha ha ha …,” ucap Pak Dimas dengan sangat jahatnya.
Bu Nisa yang sebenarnya sangat mengenal baik Pak Dimas pun tidak menyangka bahwa sahabat suaminya itu akan tega berbuat jahat seperti itu. Bu Nisa pun bermaksud menolong Laras dari kejahatan Pak Dimas Ia bermaksud membuka pintu kamar itu, tapi tidak bisa karena pintunya dikunci dari dalam. Bu Nisa pun panik karena di dalam kamar ia mendengar Pak Dimas sudah akan memulai aksinya untuk melecehkan Laras.
Bu Nisa pun memutar otaknya agar bisa menolong Laras. Ia kemudian ingat akan sesuatu. Ia kemudia turun ke lantai satu melalui lift dan kemudian ia pun menemui resepsionis hotel melati tersebut.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” sapa resepsionis wanita tersebut.
“Mbak, saya ini pacarnya Pak Dimas yang pingsan tadi. Nah, tadi setelah siuman Pak Dimas menyuruh saya untuk membuang sampah di luar kamar. Saya pun keluar kamar untuk membuang sampah. Dan apesnya pintu tidak sengaja tertutup. Kemudia saya menggedor-gedor pintu agar bisa masuk kembali, tapi suami saya sudah berupaya membuka pintu dari dalam tapi pintunya macet, Mbak. Apa Mbak bisa membantu kami?” cerita Bu Nisa panjang lebar.
“Apa tidak Mbak sendiri yang membuka pintunya ke atas?” tanya Bu Nisa berpura-pura.
“Nggak apa-apa, Mbak saja sudah. Kebetulan saya sedang banyak kerjaan,” jawab resepsionis.
“Terima kasih banyak, Mbak!” jawab Bu Nisa.
“Sama-Sama,” jawab resepsionis sambil memperhatikan ujung rambut sampai ujung kaki Bu Nisa.
Bu Nisa yang mulai khawatir penyamarannya akan terungkap pun buru-buru mengambil kunci duplikat dan berlari menuju lift. Setelah itu ia pun buru-buru memencet tombol menuju ke lantai dua. Setelah sampai di lantai dua, Bu Nisa pun buru-buru mencari nomor kamar yang tadi dan ia pun buru-buru membuka pintu kamar itu. Ternyata di dalam sana, Pak Dimas sudah bersiap untuk melecehkan Laras. Bu Nisa datang tepat pada waktunya. Pak Dimas ketakutan melihat kedatangan Laras.
“Apa yang kamu lakukan pada gadis itu, Pak Dimas? Kamu itu sudah menyakiti dua wanita yaitu Laras dan juga istrimu! Apa kamu tidak sadar hal itu?” bentak Bu Nisa.
“Maaf, Mbak! Aku tidak bermaksud begitu, tapi …,” jawab Pak Dimas dengan terbata-bata.
__ADS_1
“Tapi apa? Kamu masih mau berkelit?” bentak Bu Nisa.
Tiba-Tiba Laras yang sedang pingsan mendadak bangun dan menatap ke arah Bu Nisa.
“Bu Nisa! Percuma kamu menolongku sekarang! Semua sudah terjadi. Pertolonganmu sudah terlambat! Hanya dengan kematianmu saja yang membuatku puas!” teriak Laras dengan keras sambil merubah dirinya menjadi sesosok pocong yang sangat menyeramkan.
“Tidaaaak!” teriak Bu Nisa ketakutankarena melihat Laras dan Pak Dimas berubah menjadi pocong.
Bu Nisa berusaha kabur dengan membuka kunci pintu. Tapi, ia kesulitan. Kuncinya sampai terjatuh ke lantai. Bu Nisa berusaha mengambilnya kembali, tapi pocong Laras dan Pak Dimas semakin dekat saja dengannya. Untunglah Bu Nisa bisa melarikan diri tepat sebelum kedua pocong itu berhasil mendekatinya.
Bu Nisa lari menyusuri koridor hotel lantai dua dan ia pun sampai di depan lift. Ia bermaksud naik lift, tapi pocong Laras semakin dekat. Bu Nisa pun memilih turun ke lantai satu menggunakan tangga saja. Bu Nisa dengan terengah-engah menuruni tangga dengan diejar oleh pocong Laras dan Pak Dimas. Akhirnya Bu Nisa sampai di depan meja resepsionis.
“Mbak! Tolongggg! Ada pocong!” teriak Bu Nisa sambil memanggil resepsionis yang sedang membelakanginya itu.
“Lebih seram mana pocongnya sama saya?” jawab resepsionis sambil membalikkan badannya dan menampakkan wjudnya yang tidak kalah menyeramkan.
“Huaaaaaa!!!” teriak Bu Nisa sambil berlari dari kejaran hantu-hantu itu.
Bu Nisa lari ke arah jalan.Namun karena kurang berhati-hati ia pun terjatuh karena kakinya tersangkut sesuatu.
“Aduh!” pekik Bu Nisa berusaha bangkit lagi dan melanjutkan larinya.
Namun, Bu Nisa terkejut karena ketika bangun, ia tidak berada di depan hotel melati melainkan ia sedang berada di sebuah koridor hotel kembali.
“Ya Tuhan!” pekik Bu Nisa tertahan.
BERSAMBUNG
Ayo like dan komentar di Novel KAMPUNG HANTU mulai bab 1 sd extra part 4 dan dapatkan hadiah menariknya.
__ADS_1