
Suara teriakan nyaring Revan dan ibunya terdengar sampai ke dalam gua. Sontak saja Pak Ade teringat dengan anak dan istrinya yang sedang bersembunyi di warung di bawah bukit.
“Revan! Dik Nisa!” Pak Ade pun menyebut nama anak dan istrinya.
Suara teriakan dan jeritan semakin keras terdengar dari bawah. Keluarga Ki Santo panik dan berusaha menuruni bukit. Tentu saja ia butuh waktu untuk melakukannya. Pak Ade juga tak kalah paniknya. Pria itu tidak mau terjadi apa-apa dengan anak dan istrinya. Ia pun melompat dari altar dan keluar dari gua menuju tebing dan dari atas tebing itu pula ia dapat melihat ular raksasa sedang berusaha menyerang anak dan istrinya.
“Jangaaaaaan!” teriak Pak Ade keras sabil berusaha menuruni bukit.
Teriakan Pak Ade didegar dengan jelas oleh ular raksasa dan juga oleh keluarga Ki Santo.
“Masuk ke gua lagi, Ade!” teriak Jatmiko berusaha menyadarkan temannya itu.
“Nak Ade! Jangan turun!” teriak Nenek Galuh dengan paniknya.
Pak Ade baru menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan. Ular raksasa itu berbalik naik ke atas bkit dan berusaha untuk mengejar Pak Ade yang saat ini sudah dalam keadaan tanpa perlindungan. Ular raksasa itu pun melepas buruan kecilnya yang sedang main kucing-kucingan dengannya karena sudah ada mangsa besar yang sebenarnya.
Dalam hitungan detik ular raksasa itu sudah berhasil mengejar Pak Ade dan menghadang Pak Ade yang mau masuk ke dalam gua.
“Sekarang ajalmu sudah sampai, Pak Ade!” teriak arwah Laras dengan keras sambil melilit tubuh Pak Ade dengan menggunakn badannya yang panjang.
Tulang tubuh Pak Ade langsung patah saat itu juga karena dililit dengan kuat oleh ular raksasa itu.
“Maafkan aku, Laras!” pekik Pak Ade di sela-sela rasa sakitnya.
“Rasakan ini, Pak Ade!” pekik ular raksasa itu sambil mematuk meremukkan kepala Pak Ade dengan menggunakan gigi taringnya.
Dan Nyawa Pak Ade pun melayang saat itu juga. Ki Santo dan keluarganya sudah terlambat untuk menyelamatkan nyawa Pak Ade.
“Adeeeeee!” teriak Jatmiko dengan marah saat melihat ular raksasa itu melempar mayat Pak dari atas tebing ke bawah tebing dan jatuh tepat di depan Bu Nisa dan Revan.
__ADS_1
Ajaibnya. Setelah berhasil membunuh Pak Ade, kekuatan ular raksasa itu menjadi lemah seketika. Bahkan ia tidak mampu melawan ketika Jatmiko dan keluarganya menghantamnya. Tubuh ular raksasa itu pun berubah kembali menjadi sosok perempuan berambut panjang. Arwah Laras lemah sekali kondisinya saat itu saat dikeroyok oleh Ki Santo dan keluarganya. Pada suatu kesempatan, Ki Santo bersiap menancapkan keris ke kepala arwah Laras untuk melenyapkan arwah Laras selama-lamanya.
Sementara itu Bu Nisa dan Revan histeris sekali begitu melihat mayat Pak Ade sudah dalam kondisi mengenaskan akibat dicabik-cabik oleh ular raksasa.
“Bapaaaaak!!!” teriak Revan.
“Mas Adeeee!!” teriak Bu Nisa.
Mereka memeluk jenazah Pak Ade yang dalam kondisi mengenaskan itu. Namun, karena tidak tega melihat kondisi itu, mereka berdua pun pingsan seketika. Herman dan Cintia yang mendengar suara teriakan pun berlari menuju tempat tersebut. Mereka berdua terkejut karena sudah menemukan kondisi keluarga Pak Ade dalam keadaan mengenaskan. Cintia pun buru-buru menghubungi Kapten Yosi untuk mengirimkan bala bantuan ke tempat tersebut. Mereka berdua tidak menyangka bahwa mereka sudah terlambat datang ke tempat tersebut, sehingga mereka pun gagal menyelamatkan nyawa Pak Ade. Cintia pun berusaha untuk menyelamatkan Bu Nisa dan anaknya dengan terlebih dahulu mengganti pakaian mereka yang sangat bau dan dikerubut I nyamuk dan lalat. Ia menggunakan jaketnya dan jaket Herman untuk mengganti pakaian mereka. Setelah itu ia mencari air untuk membersihkan tubuh anak dan ibunya itu. Cintia membersihkan tubuh Bu Nisa, sedangkan Revan dibersihkan oleh Herman.
Butuh waktu bermenit-menit bagi polisi dan tenaga medis untuk datang ke tempat tersebut. Bu Nisa dan ibunya ditangani khusus oleh tenaga medis, sedangkan jasad Pak Ade langsung dibawa tim forensik untuk diotopsi. Ada beberapa petugas yang berjaga di tempat tersebut sambil mencari barang-barang bukti.
“Sepertinya kita harus naik ke atas bukit it. Barangkali ada petunjuk penting di sana,” ucap Herman pada Cintia.
“Iya, Her. Aku curiga di atas sana itu ada sesuatu,” jawab Cintia.
“Tidak! Kalian tidak boleh naik ke sana!” tegur salah seorang warga yang ikut hadir di sana.
“Jangan, Pak! Setiap orang yang naik ke atas sana itu termasuk melanggar adat warga di sini. Dan kalian bisa menjadi mandul kalau naik ke atas!” sahut warga yang lain.
“Bapak-Bapak ini tidak sedang berbohong, kan?” tanya Herman.
“Tidak. Itu sudah menjadi keyakinan turun temurun warga di sini. Bahkan kami juga tidak diperkenankan naik ke atas sana,” jawab pria itu.
“Loh, kenapa begitu?” tanya Herman.
“Hanya tetua dan keturunannya yang bisa naik ke sana. Itu pun pada acara-acara tertentu saja,” jawab pria satunya.
Cintia pun melarang Herman untuk naik ke atas. Dan mereka pun memilih untuk memeriksa area di bawah bukit itu dengan lebih teliti denga dibantu anggota polisi yang lain.
__ADS_1
Sementara itu, beberapa menit sebelum Herman dan Cintia datang ke tempat tersebut. Saat KI Santo bersiap untuk melenyapkan arwah Laras. Ada seorang pria berbadan kekar tiba-tiba datang dan berkata.
“Hentikan! Jangan habisi arwah itu!” teriak pria itu.
Ki Santo dan keluarganya menoleh ke arah belakang.
“Kamu? Beraninya kamu melarangku? Arwah ini sudah menghabisi anak angkatku,” teriak Nenek Galuh dengan bersedih.
“Maksudku, jangan dilenyapkan sekarang! Aku masih butuh arwah itu untuk menyingkirkan seseorang,” jawab pria itu.
“Kamu ini selalu saja serakah dengan jabatan!” omel Ki Santo.
“Tidak, Ki. Kita lenyapkan arwah itu nanti setelah misiku berhasil. Sekarang kita manfaatkan dulu arwah ini untuk meneror keluarga sainganku. Ki Santo bisa , kan? Aku janji akan membantu apapun rencana kalian kedepannya.” Jawab pria itu.
“Gimana, Nyi?” tanya Ki Santo pada istrinya.
“Ya sudah, Ki. Kita ikuti saja dulu rencana murid geblekmu ini,” jawab Nenek Galuh.
“Oke. Aku akan memasung dulu arwah perempuan ini dengan menggunakan pusakaku. Toh, dia sudah tidak punya kekuatan lagi karena dendamnya sudah terbalaskan,” jawab Ki Santo.
“Terima kasih, Ki. AKu tidak akan melupakan jasa Ki Santo da Nenek Galuh,”jawab pria itu.
“Semoga kamu bisa memegang ucapanmu. Kamu tahu sendiri akibatnya kalau kamu ingkar!” ancam Ki Santo.
“Tidak, Ki. Aku tidak akan mungkin mengkhianati guruku sendiri,” jawab pria itu.
“Baiklah! Ayo, bantu saya untuk membawa perempuan ini ke dalam!” ajak Ki Santo.
“Baik, Ki,” jawab pria tersebut dengan gembira.
__ADS_1
BERSAMBUNG