
Aku pun langsung berlari meninggalkan ruangan nomor empat itu dan aku bermaksud untuk berlari menuju pintu keluar ruangan UGD, tapi mendadak aku teringat dengan kakak sepupuku, Mbak Ning yang sedang terbaring tak berdaya di kamar nomor tiga. Aku tidak tega meninggalkan Mbak Ning sendirian. Aku sempat bingung apakah aku berlari ke luar saja untuk menyelamatkan diri? Ataukah aku harus menemani Mbak Ning di ruangannya yang kebetulan hanya berbatasan kain dengan arwah dokter Reny itu. Namun, mata hatiku kuat memilih agar aku berlari ke kamar Mbak Ning saja.
Mata Mbak Ning menatapku tajam saat aku masuk ke ruangannya. Aku segera berdiri di sebelah Mbak Ning dan berpegangan erat dengan tangan kakak sepupuku itu. Sorot mata Mbak Ning menandakan ketakutan dan kekhawatiran. Aku tidak berkata apa-apa kepada istri Mas Wisnu itu karena aku tidak mau menambah rasa kehawatirannya. Tapi, sepertinya Mbak Ning tahu bahwa keadaannya sedang gawat.
SRET ... SRET ...
Terdengar bunyi derit antara kaki seseorang dan lantai. Mbak Ning kembali memicingkan mata untuk mendesakku menjawab pertanyaannya. Aku hanya meletakkan telunjuk di depan bibirku untuk memberi kode kepada Mbak Ning agar tidak membuat kegaduhan dan Mbak Ning pun menurut. Sekarang kami berdua sama-sama menunggu ke mana perginya derit langkah kaki di luar ruangan tersebut.
Telinga kami berdua sama-sama dipusatkan untuk memantau pergerakan derit langkah kaki diseret itu. Tubuh kami panas dingin manakala suara derit langkah kaki diseret itu berhenti tepat di depan kamar Mbak Ning. Keringat dinginku mengucur dengan deras. Aku khawatir arwah dokter Reny itu akan masuk ke kamar ini karena Mbak Ning yang dalam kondisi seperti ini tidak akan mungkin dapat melarikan diri. Tangan Mbak Ning dingin seketika, pasti ia sangat ketakutan sekali.
Kedua mata kami saling bersitatap dan tangan kami saling menggenggam erat. Aku yang sudah melihat sosok arwah itu kontan saja panik. Aku berpikir bagaimana kalau Mbak Ning sampai melihat juga sosok yang kulihat barusan? Pasti ia akan syok.
Selama beberapa detik kami berdua tidak mendengar suara apapun? Gurat kebahagiaan tersungging di bibirku. Aku sempat menduga bahwa arwah dokter Reny sudah lenyap. Namun dugaanku ternyata salah. Dalam sekejap mata kain hijau di depan kami tersingkap dengan sendirinya ke kiri dan kanan lebar-lebar. Di tengahnya muncul sosok arwah dokter Reny dengan kepala terpelintir ke belakang. Arwah dokter Reny berjalan dengan tertatih ke arah kami berdua yang semakin erat saling berpegangan.
"Hantuuuuuu!!!!" teriak kami berdua sekencang-kencangnya.
Bukannya takut, arwah dokter Reny malah terbang ke arah kami berdua. Dan begitu ia sudah sampai di dekat kami, ia langsung berusaha mencekik Mbak Ning.
"Tidaaaaaak!!!" teriak Mbak ning dengan keras sambil berusaha melepaskan diri dari cekikan arwah menyeramkan itu.
Tenaga Mbak Ning terlalu lemah untuk melawan arwah dokter Reny. Ia tidak mungkin bisa lepas dari cekikan arwah itu. Aku yang berada tepat di sebelah Mbak Ning pun dengan segera membantu Mbak Ning agar bisa lepas dari rengkuhan setan sialan itu. Aku berusaha menarik tangan arwah itu dari leher Mbak Ning. Hantu itu tidak suka dengan apa yang aku lakukan. Ia menolehkan wajahnya yang menyeramkan ke arahku sambil berkata.
"Kamu tidak usah ikut campur! Biarkan aku bunuh wanita ini!" teriaknya dengan suara menggema.
__ADS_1
"Tidak!!! Dia itu kakakku. Lepaskan dia! Aku tidak akan membiarkanmu melukainya," teriakku tidak kalah keras.
Kembali aku berusaha menarik tangan arwah itu agar tidak melukai leher kakak sepupuku.
"Aaaaaaaarggggh!!!" pekik arwah itu dengan suara melengking.
BRAAAK!!!
Tubuhku terlempar ke lantai dengan cukup keras karena dikibaskan oleh hantu dokter Reny itu.
"Aduuuh!!!" Aku mengeluh sakit di bagian punggungku karena menghantam lantai.
Sementara itu arwah itu kembali mencekik Mbak Ning hingga Mbak Ning sulit bernapas. Aku tidak tega melihat kondisi kakak sepupuku itu. Sedangkan aku sendiri dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk menolongnya.
Aku berupaya untuk bangkit kembali sambil menahan sakit yang mendera fisikku. Entah mendapat kekuatan dari mana, akhirnya aku berhasil bangkit kembali dan bersiap membantu Mbak Ning. Kali ini aku berdoa terlebih dahulu sebelum mendekati arwah itu kembali.
"Ampun, Nyi ...," teriak hantu itu tiba-tiba sambil menahan sakit. Wajahnya yang semula tampak seram, kali ini berubah menjadi wajah yang seperti menahan sakit yang luar biasa. Hantu dokter Reny menggelepar-gelepar di udara dengan bagian leher tercekik oleh tanganku. Iya, kali ini aku justeru berbalik mencekik hantu tersebut dengan segenap kekuatanku. Entah dari mana kekuatanku itu datang hingga aku bisa mengangkat tubuh arwah itu.
"Kenapa kamu mau membunuh wanita ini?" teriakku agak di luar kesadaran.
"Ampun, Nyi! Aku hanya menjalankan perintah! Kalau tidak, aku akan dihukum oleh orang yang menyuruhku," jawab arwah itu sambil menahan sakit.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" teriakku lagi.
__ADS_1
"Aku tidak boleh mengatakannya pada siapapun kalau aku sampai mengatakannya aku akan dibunuh," jawab hantu itu.
"Kalau kamu tidak mengatakannya maka aku yang akan membunuhmu," teriakku.
"Baiklah, Nyi. Orang yang menyuruhku adalah ... Aaaarrrrrhh!!!" tiba-tiba datang sekelebat cahaya menghantam kepala arwah itu dengan keras dan keluar asap dari kepalanya. Tidak hanya begitu, tiba-tiba asap itu menyebar ke seluruh permukaan tubuhnya diiringi erangan kesakitan dan arwah dokter Reny itu pun lenyap seketika tanpa jejak.
Aku segera menghambur ke arah Mbak Ning. Mbak Ning kesulitan bernapas. Aku pun panik dan segera berlari keluar ruangan UGD dan berteriak memanggil petugas. Tak lama kemudian beberapa petugas pun datang ke ruangan tersebut.
"Mohon maaf, silakan Ibu menunggu di luar. Kondisi pasien sedang kritis. Kami harus segera bertindak!" perintah dokter Indri kepadaku.
"Baik, Bu!" jawabku sambil berjalan ke luar ruangan.
Aku sebenarnya masih kebingungan kenapa dokter Indri tadi tiba-tiba menghilang. Tapi, aku urungkan bertanya ke dokter Indri karena yang kupikirkan saat itu hanyalah keselamatan Mbak Ning.
Sambil menunggu perkembangan fisik Mbak Ning, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.
"Kenapa arwah dokter Reny tiba-tiba seperti ketakutan melihatku? Kenapa ia memanggilku Nyi? Kenapa aku bisa mengangkat tubuh dokter Reny?"
"Ya Allah ... selamatkanlah nyawa kakakku ...,"
Aku terus menunggu kabar kondisi fisik Mbak Ning sambil terus mendoakan keselamatannya. Mas Diki, Ikbal, dan Mas Wisnu juga belum kembali dari laboratorium. Semoga satu dari mereka ada yang cocok darahnya dengan Mbak Ning agar dokter bisa segera melakukan transfusi darah.
BERSAMBUNG
__ADS_1