
Tepat pukul tujuh, Herman sudah selesai membaca koran. Memang susah menjadi kebiasaan pemuda itu, setiap selesai sarapan ia membiasakan diri memperkaya literasinya dengan membaca koran. Meskipun jaman sudah semakin maju, polisi yang satu ini masih memilih koran untuk menjadi pilihan membaca di pagi hari karena sinya lebih berkualitas dan tidak terlalu membebani mata sih, menurutnya.
“Belum berangkat, Her?” tanya ibunya lagi.
“Sebentar lagi, Mi!” jawab Herman seraya melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan angka jam tujuh lebih sedikit.
“Umi mau nitip sesuatu, Her,” sambung ibunya lagi.
“Nitip apa, Mi?” tanya Herman lagi.
“Nitip sayur lodeh dan perkedel kesukaan Cintia,” jawab perempuan tua itu lagi.
“Nggak usah, Mi. Ntar nggak dimakan sama Cintia malahan,” protes Herman yang tidak mau dibuat repot oleh titipan ibunya.
“Mana ada ceritanya makanan titipan umi tidak dimakan oleh Cintia? Apalagi anak itu sering berangkat kerja tanpa sarapan dulu. Umi kepikiran dengan kesehatannya kalau sering tidak sarapan,” jawab ibunya lagi.
Herman berpikir percuma saja berdebat dengan perempuan itu. Uminya adalah seorang yang tidak pernah mau mengalah kalau sudah menginginkan sesuatu.Toh, apa yang dikatakan ibunya barusan semuanya benar. Cintia memang sering mengabaikan kegiatan sarapan pagi, makanya ia sering mengajak gadis muda itu sarapan di kantin agar ia tidak sakit. Padahal Herman sudah sarapan di rumahnya, tapi ia berbohong kepada Cintia bahwa ia belum sarapan juga.
“Ya, sudah mana, Mi. Herman mau berangkat sekarang,” jawab Herman dengan sedikit menggerutu.
“Nah, gitu dong. Sama calon istri harus peduli,” sahut ibunya lagi.
Herman pun tidak bisa menyahut lagi. Ia langsung menyambar kotak nasi yang disodorkan ibunya. Setelah itu ia pun menciu tangan ibunya dan juga mencium pipi kiri da kanan ibunya yang sudah mulai keriput. Benarkata ibunya bahwa ibunya sudah semakin tua dan seharusnya sudah menggendong cucu darinya.
“Doakan Herman ya, Bu?” ucap Herman di dalam hati.
Setelah itu Herman pun menyempatkan diri untuk mengabari Cintia bahwa ia sudah siap berangkat untuk menjemput gadis itu. Namun, pesan yang dikirimkan olehnya ternyata belum dibaca oleh gadis itu.
“Semoga Cintia sudah bersiap-siap dulu di sana,” ucap Herman di dalam hatinya sambil menyalakan mobilnya yang sudah ia hangatkan mesinnya pagi tadi saat bersih-bersih rumah.
“Hati-Hati di jalan, Her!” sapa uminya Herman dari teras rumahnya.
__ADS_1
Herman melempar senyuman dan melambaikan tangannya pada perempuan tua itu sebelum ia pergi meninggalkan rumahnya. Trenyuh hati Herman melihat ibunya yang selama ini selalu setia merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Herman adalah seorang pengemudi yang handal. Pada jam tujuh pagi seperti itu biasanya jalanan di kota tersebut sedang padat-padatnya. Laki-Laki muda itu selalu punya cara agar ia bisa berkendara secara efektif dan efisien sehingga ia bisa sampai di depan rumah Cintia tanpa terlalu terjebak oleh macetnya jalanan kota tersebut. Sayangnya, ketika ia sampai di depan pintu pagar ruma Cintia, tirai rumah Cintia masih dalam keadaan tertutup.
“Tuh bener, kan? Dia pasti tidur lagi setelah subuh,” gerutu Herman sambil membunyikan klakson mobilnya keras-keras.
Cintia bukanlah orang yang sulit untuk dibangunkan. Baru saja klakson mobil Herman berbunyi dua kali, ia sudah terbangun dari tidurnya. Dan sudah menjadi ritual gadis itu ketika mendengar klakson mobil Herman, ia langsung melambaikan tangannya melalui jendela yang ada di kamarnya. Herman langsung dapat melihat tangan Cintia yang melambai-lambai di jendela kamarnya sebagai tanda bahwa perempuan itu sudah terbangun dan bersiap untuk mandi.
“Duh, setengah jam nih menunggu dia bersiap,” gerutu Herman sambil mematikan mesin mobilnya.
Herman pun langsung mengambil Ponselnya dan membaca pesan masuk yang dikirimkan oleh Cintia.
“Tunggu lima menit, aku mau bersiap dulu!” Isi pesan Cintia.
“Lima menit apa setengah jam?” balas Herman.
Selanjutnya Cintia hanya membalas pesan Herman dengan sebuah emoticon tersenyum. Herman pun memilih untuk memutar lagu favoritnya untuk disambungkan ke speaker di dalm mobilnya. Dan ia pun menyandarkan tubuhnya di kursinya yang sudah sedikit ia condongkan agar ia bisa berbaring dengan nyaman.
Setelah delapan lagu diputar oleh Herman, barulah Cintia muncul mengetuk pintu samping. Herman pun langsung membuka kunci pintu samping tersebut
“Sebentar apanya? Penyanyi favoritku sampai kecapekan nyanyi,” jawab Herman dengan sedikit dilebih-lebihkan.
“Maaf, deh! Aku tidur lagi soalnya aku capek banget!” jawab Cintia sambil masuk ke dalam mobil.
“Sudah sarapan barusan?” tanya Herman.
“Hm … be-lum,” jawab Cintia terbata-bata.
“Tuh, di jok belakang ada kotak sarapan titipan umi,” jawab Herman sambil sedikit menoleh ke belakang.
Bagaikan kerbau dicocok hidungnya, Cintia langsung menoleh ke arah jok belakang. Matanya berbinar begitu melihat kotak nasi yang sudah sangat familiar itu. Paling tida dalam satu minggu, ibunya Herman selalu membuatkan sarapan untuknya dan dimasukkan ke dalam kotak nasi berwarna ungu tersebut. Kalau melihat dari motif luar kotak nasi tersebut, sepertinya ibunya Herman sengaja membeliknnya untuk Cintia karena tidak mungkin Herman membawa kotak nasi dengan motif boneka barbie.
__ADS_1
Cintia langsung mengambil kotak nasi tersebut dari jok belakang dan ia pun membuka isinya.
“Wow, rejeki nomplok nih! Sayur lodeh dan perkedel kentang. Aku sarapan di mobil sekarang, ya?” ucap Cintia sambil melirik ke arah Herman.
“Iya,” jawab Herman singkat.
“Kamu sudah sarapan, tadi?” tanya Cintia sambil mengambil sendok dari kotak nasi tersebut.
“Sudah! Kamu makan saja!” jawab Herman mulai menyetir.
“Bilang sama umimu, terima kasih banyak atas sarapan gratisnya, ya?” ucap Cintia sebelum akhirnya ia mulai untuk menyantap dengan lahap makanan tersebut.
Cara hidup Cintia memang sedikit berbeda dengan Herman. Kalau Herman terbiasa sarapan pagi dengan sesuatu yang instan seperti roti, sedangkan Cintia terbiasa sarapan pagi dengan makan nasi. Di keluarga Cintia kalau belum makan nasi maka belum disebut makan.
Herman memperhatikan cara makan gadis di sebelahnya yang sangat lahap menyantap masakan buatan ibunya. Herman takjub dengan kecantikan alamai gadis itu. Tapi, ia belum berani untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung. Entah dengan cara apa pria itu nanti akan mengungkapkan isi hatinya. Ia sudah kadung berjanji pada ibunya bahwa ia akan melamar Cintia paling lama satu bulan lagi.
“Kenap, Her? Ada yan tidak beres dengan penampilanku,” tegur Cintia tiba-tiba karena dipelototi oleh Herman.
“Eh, enggak kok, Cin. Aku Cuma senang lihat cara kamu makan,” kilah Herman.
“Ih kamu ini! Masa orang makan diperhatiin. Awas nabrak loh, ya!” protes Cintia merasa malu.
“Nggak bakalan lah! Aku kan sopir handal,” jawab Herman.
“Pokoknya jangan lihat aku lagi makan. Malu tau …,” protes Cintia.
“Iya … Iya … Kita ke kantor dulu untuk cek log. Setelah itu baru kita ke dusun Delima,” ujar Herman mengalihkan pembicaraan.
“Aku ikut apa kata kamu saja, Her!” jawab Cintia.
Dan mobil yang mereka kendarai itu pun meluncur menuju kantor tempat mereka bekerja.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Ayo, ikutan kuis novel KAMPUNG HANTU. Caranya like dan komentar di setiap bab novel tersebut.