
Aku memutar badanku karena penasaran dengan ekspresi wajah yang ditunjukkan Mas Diki. Dan ketika aku sudah dapat melihat dengan jelas apa yang membuat suamiku terbelalak seperti itu, aku pun terperangah sama seperti Mas Diki. Seseorang dengan tubuh tinggi dan badan berotot sedang berdiri di depan kami berdua. Laki-Laki dengan codet di pipi kirinya tersebut sedang memegang tongkat satpam di tangan kanannya. Yang membuat kami terkejut bukanlah karena penampilannya yang nyeremin, melainkan karena kami sangat mengenal baik orang tersebut.
"Arman?" pekik suamiku.
"Loh, kalian, to? Diki ... Sinta ...," ujar teman SMA suamiku itu dan sekaligus teman masa kecilku itu.
Arman menarik pintu gerbang setelah membuka kunci gemboknya terlebih dahulu.
"Se-sejak kapan kamu kerja di sini, Man?" tanyaku dengan sedikit tergagap.
"Belum sebulan kok," jawabnya.
"Ayo, masuk ke dalam! Kita ngobrol di pos saja," ajak Arman.
Aku dan Mas Diki saling berpandangan. Kemudian aku berkata.
"Maaf, Man. Kami berdua tidak bisa berlama-lama di sini," ucapku.
"Loh, emangnya kalian mau kemana? Ayolah kita ngobrol sejenak. Bukankah kita sudah dua tahunan tidak bertemu?" ucap Arman.
"Bukan begitu, Man. Kami berdua ke sini sebenarnya untuk mencari anak kami yang bersekolah di sini. Dia bilangnya mau menyusul kami berdua sepulang sekolah, tapi kami tunggu nggak datang-datang. Akhirnya, kami memutuskan untuk menyusul ke sini. Eh, ternyata sekolahnya sudah tutup. Untung kami ketemu kamu jadi bisa tanya-tanya," jawab suamiku.
Arman mendengarkan dengan saksama apa yang dikatakan oleh Mas Diki. Dahinya nampak berkerut ketika fokus mendengarkan.
"Kalau boleh tahu, ciri-ciri anak kalian seperti apa?" tanya Arman kemudian.
"Anaknya tingginya biasa saja seperti anak-anak yang lain. Dia membawa tas ransel berwarna hitam dengan gantungan berbentuk rusa," tuturku menjelaskan kepada Arman.
"Apakah anakmu membawa sepeda gunung berwarna silver?" Arman balik bertanya.
"Iya benar. Tadi pagi kami berangkat bareng. Kami membuntutinya dari belakang dengan kecepatan rendah supaya ia tidak ketinggalan. Apa kamu melihat anak itu, Man?" Aku bertanya dengan penuh penasaran.
"Iya, saya melihatnya. Karena kebetulan anak itu pulang belakangan" jawab Arman.
"Benar kamu melihatnya, Man? Kemana perginya anak itu?" Aku mendesak Arman untuk memberikan informasi.
"Ta-tadi ia pulang dengan seseorang," jawab Arman perlahan.
"APA?? Siapa yang bersamanya, Man?" Aku memaksa.
"Sepertinya anak kalian mengenal orang itu. Karena sebelum ia masuk ke dalam mobil orang tersebut, anak kalian berbincang-bincang dulu dengan perempuan tersebut. Kemudian anak kalian memasukkan sepeda yang ia bawa ke bagasi belakang mobil tersebut," jawab Arman.
__ADS_1
"PEREMPUAN? Seperti apa ciri-ciri perempuan tersebut, Man?" Aku semakin penasaran.
"Hm ... usianya lebih muda dari kamu. Orangnya cantik dan ...," Arman menjawab.
"Dan apa, Man? Tolong kasih tahu kami, Man!" Aku merengek kepada Arman.
"Perempuan itu membawa anak kecil. Anak kalian sepertinya juga mengenal anak kecil tersebut," jawab Arman.
"YA TUHAN!!! Jangan-Jangan ...," Aku berpikir sesaat.
"Kamu kenal orang tersebut, Dik?" tanya Mas Diki.
"Saya mencurigai seseorang, Mas!" jawabku.
"Siapa, Dik?" tanya Mas Diki.
Aku menoleh ke arah Arman kembali. Aku sudah yakin betul dengan perkiraanku.
"Man, ke arah mana perempuan itu berkendara tadi?" tanyaku.
"Ke situ, Sin!" jawab Arman sambil menunjuk jalan yang menuju ke rumahku.
"Apa saya boleh membantu kalian berdua?" tanya Arman.
"Tidak perlu, Man, karena kamu harus menjaga sekolah ini. Tapi, kami butuh bantuanmu," jawabku.
"Bantuan apa, Sin?" tanya Arman.
"Tolong, kalau kamu ketemu anak kami lagi, kamu hubungi nomer saya. Dan saya titip anak saya ya, Man!" ucapku.
"Oke, saya siap membantumu, Sin. Mana nomermu?" tanya Arman.
"Ini nomer saya, Man ...," jawabku sambil menunjukkan nomer HP-ku kepadanya. Arman pun mencatat nomer itu.
Kami berdua pun pamit kepada Arman. Tak kusangka, setelah dua tahunan tidak bertemu Arman, hari ini kami dipertemukan secara tidak sengaja. Sayangnya, saat ini kami harus mencari Nur, jadi tidak bisa bercengkrama lebih lama untuk melepas rindu. Kalau ngomongin Arman, saya jadi geli sendiri waktu dia bilang suka sama aku. Tentu saja aku tolak dia, lah wong nggak mungkinlah kami berdua menjalin hubungan asmara karena aku sudah menganggap Arman sebagai sahabatku sendiri. Kami berdua tumbuh bersama mulai kecil. Di mana ada Arman, di situ ada Sinta. Untungnya Arman tidak marah meskipun kutolak, lagipula dia itu ganteng dan banyak disukai wanita. Ditolak olehku tentunya bukanlah masalah baginya. Banyak perempuan yang antri untuk menerima cintanya. Setelah penolakan itu hubungan persahabatan kami terjalim seperti biasanya hingga akhirnya setahun kemudian aku menerima lamaran Mas Diki. Sayangnya, pas kami nikah, Arman sudah merantau ke luar daerah.
"Apa Arman sudah menikah, ya? Jadi penasaran seperti apa istri dan anaknya Arman." Aku bertanya di dalam hati.
"Dik, kita mau kemana ini? Siapa perempuan yang membawa Nur?" tanya suamiku sambil menyetir motor.
"Kita ke arah rumah, Mas!" jawabku.
__ADS_1
"Loh, kita ini mau mencari Nur, kok kamu malah minta pulang?" tanya suamiku dengan nada agak emosi.
"Perempuan itu pasti Clara, Mas!" jawabku.
"Oh, ya? Kenapa kamu yakin perempuan itu Clara, tetangga baru kita?" tanya Mas Diki.
"Nur itu tidak mudah ikut orang lain yang tidak ia kenal baik. Nur pernah dikasih makanan oleh Clara. Tentunya Nur sempat ngobrol dengan Clara beserta anaknya, Riki," jawabku.
"Oke, kita cek dulu ke rumah Clara. Semoga Nur memang ada di sana," ujar suamiku.
"Semoga Nur tidak diapa-apakan oleh perempuan itu. Awas kamu Clara, kalau sampai kamu mencelakai anakku, kamu akan tanggung akibatnya!" ucapku di dalam hati.
Mas Diki menyetir motor dengan kecepatan cukup tinggi. Beberapa menit kemudian, motor yang kami bawa sampai di pelataran rumah. Aku bergegas turun dari motor dan berlari menuju rumah Clara.
DOK! DOK! DOK!
"CLARAAA!!!!" teriakku sambil menggedor-gedor rumah perempuan itu.
"Iya, Mbak. Tunggu sebentar!" jawab perempuan muda itu dari arah dalam.
Aku berdiri di balik pintu dengan emosi. Kalu menengok dari suaranya, sepertinya Clara akan berlagak tidak bersalah.
Clara muncul dari balik pintu dengan wajah tak berdosa.
"Mana anak saya, Clara?" tanyaku dengan nada tinggi.
Clara seperti terkejut melihatku dalam keadaan emosi.
"M-m-ma-maaf, Mbak!" suara yang keluar dari mulut perempuan muda itu.
"Saya tidak butuh maafmu, Clara. Saya butuh anak saya sekarang. Mana anak saya!" Aku berkata dengan nada sedikit membentak.
Mas Diki yang awalnya berdiri di motornya menghampiriku dan memegangi badanku, sementara perempuan di depanku menatapku dengan wajah penuh penyesalan.
Bersambung
Maaf update agak terlambat karena prepare versi cetak NOVEL KAMPUNG HANTU.
Jangan lupa like dan komennya, ya, Kak. Biar aku tambah semangat menulis lanjutannya.
Salam Seram dan Bahagia
__ADS_1