MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 137 : MELAMUN


__ADS_3

Untuk menghilangkan perasaan sedihnya karena permintamaafannya ditolak oleh Jamila, Minul berencana untuk duduk-duduk di pinggir sawah sambil mengamati indahnya alam di desanya. Dia biasa seperti itu kalau pikirannya sedang galau. Seperi dulu saat ia ditinggal oleh suaminya, berhari-hari ia duduk di pinggir sawah sambil mengamati pemandangan yang membuatnya sedikit tenang. Bedanya, dulu ada Jamila yang menemaninya. Mengambilkan makanan dan minuman untuknya. Sedangkan sekarang justeru Jamila lah yang menjadi sumber kegalauannya.


“Ya, Jamila layak marah sama aku. Aku terlalu jahat sama dia …,” berkali-kali Minul berkata seperti itu pada dirinya sendiri.


“Apa yang harus aku lakukan agar Jamila bisa memaafkanku?” Minul terus berpikir keras memikirkan tentang kemarahan sahabatnya itu.


Setelah kurang lebih satu jam Minul duduk-duduk di pinggir sawah, tiba-tiba Pak Salihun lewat dan mengetahui perempuan tersebut sedang duduk-duduk di gubuk yang letaknya di pinggir sawah itu.


“Assalamualaikum …,” sapa Pak Salihun.


“Waalaikumsalam …,” jawab Minul dengan suara lemah.


“Loh, kamu ngapain di situ, Nul? Nggak mau bantui Bu Reni mempersiapkan acara tujuh harian Pak Hartono?” tanya Pak Salihun sambil mengambil tempat duduk agak berjauhan dari Minul. Kebetulan ukuran gubuk tersebut cukup luas. Jadi, jarak antara ujung yang satu dan yang lain agak lebar.


“Nggak ada, Pak. Cuma pingin nyantai saja menghilangkan kesumpekan. Capek juga yang mau bantu-bantu di rumah Bu Reni,” jawab Minul dengan nada suara yang meperlihatkan seseorang yang kehilangan semangat hidup.


Minul yang posisi duduknya sudah agak jauh dari Pak Salihun itu semakin meminggirkan duduknya sampai menyentuh tiang gubuk. Ia tidak ingin Jamila akan semakin marah kepadanya apabila perempuan itu tiba-tiba melihatnya. Karena sepengetahuan Minul, Jamila saat ini sedang dekat dengan Pak Salihun.


“Loh, kamu kok malah kayak nggak bersemangat begini, Nul? Biasanya kalau ada warga di sini yang repot, kamu semangat sekali membantu. Menimba air, angkat piring kotor, angkat gulai, dan lain-lain …,” cerca Pak Salihun.


“Lagi males saja, Pak Salihun,” jawab Minul pendek.


“Hm … kalau aku perhatikan kayaknya kamu bukan capek fisik nih! Tapi, capek pikiran, ya?” tanya Pak Salihun dengan nada yang sopan.


Minul tidak menyahut. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke sawah yang menghampar luas di depannya. Dengan diamnya Minul membuat Pak Salihun yakin bahwa perempuan di depannya itu saat itu sedang ada yang dipikirkan.


Pak Salihun menoleh ke arah perempuan itu dan ia pun berkata dengan suara lembut.

__ADS_1


“Nul, kamu lihat Pak Mat dan Bu Mat yang sedang duduk di pondok sebelah sana itu. Mereka tampak bahagia dan bersenda gurau, kan?” ucap Pak Salihun sambil menunjuk ke sisi sebelah timur.


Karena penasaran, Minul pun melihat ke arah yang dimaksudkan oleh Pak Salihun.


Minul tidak menjawab pertanyaan Pak Salihun, tapi Pak Salihun tahu bahwa Minul mengiyaka pertanyaannya.


“Kamu tahu tidak bahwa mereka berdua itu habis gagal panen karena padinya dimakan tikus,” lanjut perkataan Pak Salihun.


Minul yang baru mendengar berita itu pun terkejut dengan info yang disampaikan Pak Salihun barusan.


“Kenapa mereka tidak menunjukkan wajah sedih, Pak, kalau memang habis menderita gagal panen? Tanya secara spontan.


“Kamu mau tahu jawabannya? Karena mereka sadar bahwa semua itu adalah takdir dan mereka yakin, kalau sekarang mereka gagal panen, mak di lain waktu panen mereka akan menjadi dua kali lipat,” jawab Pak Salihun dengan lugas.


Minul hanya diam dan berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Pak Salihun Sementara Pak Salihun buru-buru menyambung perkataannya dengan perkataan yang lain.


Pak Salihun berusaha mengingatkan Minul tentang kegalauannya beberapa tahun yang lalu.


Minul menitikkan air mata karena teringat dengan kejadian beberapa tahun silam itu.


“Iya, Pak. Dunia seakan runtuh saat itu. Aku sudah kehilangan segalanya,” jawab Minul dengan sedikit terisak.


“Nah, sama dengan sekarang. Apapun masalahmu sekarang, kamu harus bisa menempatkannya sama seperti saat kamu berpisah dengen suamimu itu. Terimalah semua itu sebagai sebuah takdir Tuhan! Sakit, iya. Tapi, yakinlah suatu saat semua akan kembali normal. Hanya waktu yang akan menjawabnya,” lanjut perkataan Pak Salihun.


Minul kembali terisak karena ingat kisah-kisah indahnya selama bersahabat dengan Jamila.


“Tapi, Pak. Sekarang masalahnya berbeda. Aku melakukan kesalahan terhadap seseorang dan orang itu baru mengetahuinya dan orang itu tidak mau memaafkanku.” Tutur Minul dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Pak Salihun tidak segera menyahut. Ia membiarkan perempuan di depannya meluapkan emosinya terlebih dahulu. Setelah dirasa kembali tenang, barulah Pak Salihun memberanikan diri untuk berpendapat sesuai dengan kapasitasnya.


“Nul, aku yakin orang yang kamu maksudkan itu bukan tidak mau memaafkanmu. Tapi, ia masih butuh waktu untuk menata hatinya terlebih dahulu,” jawab Pak Salihun dengan pelan-pelan.


Minul menatap mata Pak salihun. Ada keteduhan yang ia rasakan saat itu. Keteduhan yang tidak ia rasakan saat berdua dengan Pak Ratno. Namun, kali ini Minul buru-buru membuang jauh-jauh perasaan kagum kepada Pak Salihun karena ia tahu Pak Salihun itu milik Jamila.


“Terima kasih ya, Pak. Pak Salihun sudah menyadarkanku tentang hal ini,” jawab Minul kemudian.


“Sama-Sama, Nul. Hanya ini yang bisa aku berikan buat kamu,” jawab Pak Salihun dengan sopan.


“Sekarang aku sadar bahwa tidak sepatutnya aku terlalu memikirkan hal itu. Anakku sangat membutuhkan kehadiranku,” tutur Minul.


“Syukurlah kalau begitu . Sebaiknya kamu sekarang pulang dan mandi. Soalnya sejak tadi aku di sini kok kayak bau kecut begitu,” goda Pak Salihun agar pikiran Minul tidak kembali spaneng.


“Eh, aku mandi loh tadi pagi. Bukan aku yang kecut,” sahut Minul sambil sedikit menyungging senyum.


“Oalah, kirain kamu tadi belum mandi sama sekali, Nul! Berarti yang kecut bukan kamu, tapi aku,” jawab Pak Salihun dengan nada bercanda.


“Lah, Pak Salihun sudah mandi apa belum?” tanya Minul sambil menyungging senyuman.


“Belum,” sahut Pak Salihun dengan polosnya.


“Dasar! Pak Salihun sendiri yang nggak mandi malah nuduh aku yang nggak mandi,” protes Minul sambil tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.


“Ya sudah. Aku minta maaf kalau begitu,” sahut Pak Salihun enteng.


DI dalam hati pria tua itu merasa senang karena bisa melihat senyuman manis perempuan bongsor itu lagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2