MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 78 : MIMPI BURUK


__ADS_3

Bu Dewi malam itu masuk ke kamarnya lebih awal dari biasanya karena Panji sudah tidur lebih awal. Selain itu kehadiran Minul dan Jamila di rumahnya sore tadi sangat membantu tugasnya untuk bersih-bersih. Perempuan itu berharap kedua perempuan itu  akan datang lagi besok sore agar ia tidak secapek hari-hari sebelum kedatangan mereka berdua. Terlebih, pada saat hari terakhir selamatan untuk mendoakan Laras.


“Minul dan Jamila itu dua sosok perempuan yang unik. Terutama dari segi fashion. Selera keduanya memang sangat jauh berbeda dalam hal seni berbusana. Jamila suka menggunakan pakaian yang casual dan simpel sesuai dengan kepribadiannya yang kalem. Sementara Minul … hem … meskipun agak norak, sih. Tapi, entah kenapa Minul itu terlihat berbeda dan tinggi sekali rasa kepercayaandirinya. Hm … Seandaianya cita-citaku untuk memiliki butik atau toko busana di desa ini tercapai, kayaknya dua orang itu akan aku jadikan mascotnya. Semoga saja mereka mau ….” Bu Dewi diam-diam mengamati kedua perempuan beda ayah dan beda ibu itu.


Sekitar pukul delapan malam, Bu Dewi sudah tertidur pulas bersama dengan Panji anaknya. Pada saat perempuan itu tertidur, Bu Dewi memimpikan sesuatu.


Bu Dewi saat itu tiba-tiba sudah berada di sebuah tempat dengan menggendong Panji. Panji menangis terus sejak tadi dan tidak mau berhenti menangis. Bu Dewi berpikir bahwa saat itu Panji sedang haus, maka is memeriksa barang bawaannya. Ternyata tidak ada susu yang ia bawa.


“Loh, kenapa aku pergi tidak membawa susu untuk Panji?”


Bu Dewi pun memeriksa keadaan sekitar untuk mencari tempat ia bisa membeli susu untuk Panji. Tapi, di tempat itu sepi sekali dan anginnya cukup kencang. Suara deburan obak sayup-sayup terdengar di telinga Bu Dewi.


“Aku di mana ini kok sepi sekali? Sepertinya aku berada di daerah pesisir. Tapi ke mana perginya penduduk di sekitar sini? Aku harus berkeliling untuk mencari toko yang menjual susu.”


Bu Dewi pun berjalan mengikuti alur jalan setapak yang ada di depannya. Setelah ia berjalan cukup jauh, akhirnya ia pun melihat ada orang yang sedang berseliweran di jalan. Ia pun buru-buru mendatangi orang tersebut.


“Mas, di sini tempat yang menjual susu untuk anak kecil di mana?” tanya Bu Dewi.


“Duh, kalau di sini nggak ada toko-toko kayak gitu, Bu. Adanya warung kecil tapi hanya menjual susu sachetan,” jawab orang tersebut.


“Kalau ke tempat yang menjual susu untuk anak saya ini kira-kira butu berapa lama?” tanya Bu Dewi.


“Butuh dua jaman lah. Tapi, warga sini sedang ada gawe jadi tidak mungkin ada orang yang mau mengantar ibu ke sana. Kasihan anak ibu sepertinya sudah sangat kehausan. Kalau menurut saya berikan susu sachetan itu saja dulu. Besok pagi barulah ada ojek yang bisa mengantar Ibu ke kota,” jawab orang tersebut.

__ADS_1


Bu Dewi syok juga mendengar jawaban orang tersebut, tapi ia tidak punya pilihan lagi.


“Baiklah, Mas. Ke mana saya harus berjalan untuk sampai ke warung itu?” tanya Bu Dewi.


“Ibu jalan lurus saja mengikuti jalan setapak ini. Warungnya ada di kiri jalan, tepat di depan orang yang punya gawe itu,” jawab pemuda itu.


“Terima kasih, Mas,” jawab Bu Dewi.


“Sama-Sama, Bu,” jawab pria itu sambil menatap kepergian Bu Dewi dengan senyuman misterius.


Bu Dewi pun terus berjalan mengikuti arahan pria tersebut sambil menggendong Panji yang terus menangis.


“Cup … cup … Nak. Sebentar lagi susunya datang. Sabar, ya!” ucap Bu Dewi berusaha menenangkan anak angkatnya.


Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit, sampailah Bu Dewi di warung yang dimaksud pemuda tadi. Benar saja, di seberang jalan warung tersebut sedang ramai orang menggelar pesta. Sepertinya semua warga desa tersebut berkumpul di sana. Bu Dewi buru-buru berjalan ke arah kiri menuju warung yang menjual berbagai kebutuhan warga desa tersebut.


“Anu, Nek. Apakah di sini ada susu?” tanya Bu Dewi sambil menatap sosok perempuan tua itu.


Bu Dewi merasa seperti pernah bertemu dengan perempuan tua tersebut, tapi ia lupa.


“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Nek?” tanya Bu Dewi.


“Hm … saya tidak pernah ke mana-mana, Nduk. Mungkin kamu salah orang,” jawab nenek tua itu sambil menyodorkan beberapa sachet susu kepada Bu Dewi.

__ADS_1


“Saya kok merasa kita pernah bertemu sebelumnya, ya?” sahut Bu Dewi sambil mencari uang di dalam tasnya.


“Hal itu biasa, Nduk. Setiap orang pasti pernah merasakannya. Susunya nggak perlu dibayar. Anggap saja ini hadiah perkenalan dari saya,” jawab Nenek tua itu.


“Tapi, Nek?” sahut Bu Dewi.


“Cepat buatkan susu untuk anakmu sebelum terlambat! Nanti kamu bawa saja anakmu menonton pertunjukan di depan sana!” jawab nenek tua itu.


“Saya ingin pulang sekarang, Nek!” sahut Bu Dewi.


“Tidak bisa, Nduk! Tidak ada yang bisa mengantarmu selagi pertunjukan itu belum usai,” jawab nenek tua itu sebelum masuk ke dalam rumahnya.


Bu Dewi pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Terlebih, Panji semakin keras tangisannya karena kehausan. Bu Dewi pun buru-buru mengeluarkan botol susu Panji dan membuat minuman untuk anak angkatnya itu. Panji dengan lahap meminum susu yang dibuatkan oleh Bu Dewi. Dua botol dihabiskan sekaligus oleh Panji.


“Maafkan ibu ya, Nak! Semoga kamu sehat-sehat saja setelah minum susu sachet ini. Besok ibu akan membawamu pulang dari tempat ini,” ucap Bu Dewi pada Panji.


Setelah meminum susu tesebut, Panji menjadi tenang. Entah kenapa, Bu Dewi merasa penasaran untuk menonton pertunjukan yang ada di depan warung tersebut. Terlebih, ketika orang-orang yang berkerumun di tempat orang punya hajat tersebut tiba-tiba menatap ke arah Bu Dewi.


“Kenapa mereka melihatku? Apa karena aku orang asing di sini, ya?” pikir Bu Dewi.


Bu Dewi sebenarnya merasa risih diperhatikan seperti itu, tapi entah kenapa ia sangat ingin melihat ada apa sih di kerumunan yang suara musik gamelannya terdengar dari kejauhan itu. Karena penasaran Bu Dewi pun melangkah menuju ke tempat orang punya hajat itu selangkah demi selangkah. Orang-Orang yang berkerumun di tempat itu seperti dikomando, mereka memberikan ruang untuk Bu Dewi  menyibak kerumunan itu. Seperti terkena hipnotis, Bu Dewi sambil menggendong Panji berjalan terus menyibak kerumunan dan betapa terkejutnya Bu Dewi saat ia melihat sepasang pengantin sedang bersanding di sebuah kuade. Pengantin perempuannya adalah Laras, sedangkan pengantin laki-lakinya adalah Pak Herman, suaminya sendiri.


“Mas Her-maaaan!!!! Laaa-raaaaas!!!” pekik Bu Dewi dengan perasaan hancur.

__ADS_1


Bu Dewi kehilangan tenaganya saat itu juga.


BERSAMBUNG


__ADS_2