MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 74 : PENGAKUAN


__ADS_3

Pak Ade yang sedang menenangkan anaknya pun terkejut mendengar teriakan dari istrinya. Ternyata Pak Ade sudah berhasil menidurkan Revan, meskipun cara tidurnya Revan menunjukkan ia sedang tidak tenang.


“Ada apa, Dik?” tanya Pak Ade dengan mata terbelalak dan tetap menjaga Revan supaya tidak terbangun dari tidurnya.


Bu Nisa mendatangi suaminya dan berpegangan pada suaminya. Tubuhnya masih menggigil karena ketakutan.


“Mas, barusan di kamar mandi aku melihat hantu perempuan. Hantunya persis sekali dengan yang aku lihat di sungai waktu itu. Wajahnya menyerupai Laras, Mas. Gimana ini, Mas? Aku takuuuut!” rengek Bu Nisa sambil menangis dan merengkuh erat bahu Pak Ade.


“Tenang, Dik! Ada mas di sini. Kamu nggak usah takut! Kalau kamu tenang, hantu itu tidak akan datang, tapi kalau kamu panik, energinya akan semakin kuat dan ia memiliki kekuatannya untuk mengganggumu,” jawab Pak Ade berusaha menenangkan istrinya yang sedang panik.


“Gimana aku bisa tenang, Mas? Tadi hantu itu mengganggu Revan, anak kita. Barusan hantu itu menggangguku lagi untuk yang kedua. Bagaimana kalau dia datang lagi, Mas? Bukankah tadi Jatmiko dan ibunya sudah datang ke sini? Kenapa hantu-hantu masih bisa mengganggu kita?” protes Bu Nisa dengan suara parau karena menahan tangis.


“Loh, bukankah Dik Nisa sendiri yang bilang kalau tidak percaya dengan ilmu yang dimiliki ibunya Jatmiko? Sekarang kok malah menyalahkan mereka?” jawab Pak Ade.


“AKu nggak mau tahu, Mas. Kalau memang ibunya Jatmiko itu memiliki kemampuan supranatural harusnya beliau bisa menyingkirkan hantu-hantu itu supaya tidak mengganggu kita!” protes Bu Nisa dengan nada emosi bercampur takut.


Pak Ade menarik napas dalam-dalam sebelum ia berkata lagi kepada istrinya.


“Dik, sebenarnya ibunya Jatmiko dan Jatmiko sendiri sudah menolong kita dari ancaman kematian oleh hantunya Laras,” jawab Pak Ade dengan terbata-bata.


“Apa maksudmu berkata seperti itu, Mas? Buktinya Laras sudah dua kali menggangguku! Apakah itu pertanda bahwa jampi-jampi mereka masih kalah oleh kekuatan hantunya Laras? Gimana ini terus, Mas? Aku takut, Mas? Kenapa Laras mau membunuh kita, Mas? Apa ia marah karena aku selalu menggosipkan dirinya selama hidup dan di saat kematiannya? Aku tidak mau mati konyol, Mas. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa terlepas dari gangguan hantunya Laras? Apa aku harus minta maaf kepada Laras? Aku kapok! Aku tidak mau lagi menggunjingkan Laras,” cerocos Bu Nisa dengan perasaan takut.

__ADS_1


“Tidak seperti itu, Dik! Ini bukan kesalahanmu. Ini semua kesalahan mas. Laras tidak marah kepadamu, Dik! Tapi, dia marah kepada Mas. Laras itu ingin membalas dendam kepada orang-orang yang menyakitinya selama ini. Dua orang sahabat mas telah dibunuh oleh Laras dan sekarang saatnya bagi Laras untuk membunuhku,” jawab Pak Ade dengan irama sengaja dipelankan karena ia perlu mengatur emosi agar bisa terbuka kepada istrinya.


“Apa? Berarti Pak Dimas dan Pak Hartono itu mati di tangan Laras? Apa yang telah Mas Ade dan teman-teman Mas Ade lakukan terhadap Laras? Jangan bilang kalau kalian bertiga ini yang telah memp3rk0sa gadis itu?” teriak Bu Nisa dengan penuh kemarahan.


Pak Ade hanya bisa diam mendengar teriakan istrinya yang penuh emosi.


“Ngomong, Mas! Jangan diam saja! Jadi selama ini ketika aku menghina Laras sebagai perempuan kotor. Ternyata Mas Ade justeru lebih kotor dari Laras?” teriak Bu Nisa lagi dengan cukup keras.


“Jangan keras-keras, Dik! Nanti Revan bangun!” jawab Pak Ade.


Bu Nisa kemudian memelankan suaranya karena tidak mau membangunkan anaknya. Tapi, kata-katanya malah bertambah pedas di telinga Pak Ade.


“Mas, tak kusangka kamu sendiri yang menjatuhkan harga diriku. Selama ini aku selalu merendahkan Laras di depan seluruh warga dusun Delima. Ternyata suamiku sendiri yang menggilir perempuan yang aku hina itu. Jijik aku sama kamu, Mas? Kamu benar-benar seperti meraupi kotoran ke mukaku. Kalau sampai warga dusun Delima tahu Mas Ade pernah men1duri Laras, kita pasti akan jadi bahan olokan mereka semua, Mas!” ucap Bu Nisa dengan perasaan jengkel.


“Lantas? Kenapa arwah Laras sampai mau membunuhmu, Mas?” tanya Bu Nisa dengan sedikit perasaan lega.


“Anu, Dik! Aku melakukan kejahatan lebih dari itu kepada Laras,” jawab Pak Ade dengan menundukkan wajahnya.


“Apa kejahatan Mas Ade pada perempuan itu? Selagi Mas Ade tidak memp3rk0sanya atau men1durinya bagiku itu masih bisa aku maafkan,” jawab Bu Nisa dengan nada serius.


“Kamu yakin siap mendengarkan jawabanku, Dik? Kamu janji tidak marah?”tanya Pak Ade.

__ADS_1


“Iya! Asal bukan dua hal yang aku sebutkan barusan, aku masih bisa memaafkan Mas Ade,” jawab Bu Nisa.


“Meskipun perbuatan mas lebih jahat dari itu?” tanya Pak Ade.


“Iya. Aku akan memaafkan Mas Ade,” jawab Bu Nisa serius.


“Aku menggunakan tubuh Laras untuk menyogok salah satu saingan terberat mas dalam merebut tender besar,” jawab Pak Ade dengan perlahan.


“Bagaimana itu bisa terjadi, Mas?” tanya Bu Nisa dengan ekspresi wajah tidak marah lagi.


“Begini, Dik. Waktu itu mas sedang berebut tender besar dengan beberapa CV saingan yang cukup berat. Saingan yang lain sudah bisa aku singkirkan dengan menggunakan narkoba sebagai alat untuk menjebak mereka. Tapi, ada satu bos besar dari Jakarta yang sulit dijebak dengan narkoba itu. Akhirnya mas menyuruh seseorang untuk mencari kelemahan bos besar itu. Dan ternyat kelemahannya adalah perempuan. Aku pun meminta tolong kepada Pak Dimas untuk mencarikan perempuan cantik untuk diumpankan kepada bos besar itu. Dan secara kebetulan Pak Dimas bilang bahwa saat itu ia sedang berada di sebua hotel bersamaLaras. Maka, karena sudah tidak punya cukup waktu lagi, aku pun menyuruh Pak Dimas untuk menggunakan Laras sebagai penukar tender besar itu dan ternyata bos besar itu bersedia untuk menerima tawaran itu.


“Apa, Pak Dimas berada di hotel bersama Laras? Apa yang dilakukan Pak Dimas terhadap Laras?” tanya Bu Nisa.


“Entahlah, Dik. Aku tidak tahu menahu tentang hal itu. Aku tidak pernah menanyakannya kepada Pak Dimas. Tapi, kalau dari caranya meninggal yang misterius itu, sepertinya Pak Dimas telah berbuat jahat kepada Laras,” jawab Pak Ade dengan ekspresi serius.


Bu Nisa hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan suaminya. Kemudian ia pun berkata.


“Mas, aku sekarang merasa lebih tenang setelah mengetahui semuanya. Aku bisa memaklumi kenapa Mas Ade memberikan Laras pada bos besar itu. Itu semua karena Mas Ade tidak mau usahanya menurun, kan? Tapi, sekarang yang ingin aku tanyakan, kira-kira Mas Ade tahu, nggak apa yang dilakukan Pak Hartono kepada Laras?” tanya Bu Nisa dengan penasaran.


Bu Nisa sebenarnya cukup heran dengan apa yang diceritakan oleh suaminya. Ia tidak menyangka kalau Pak Dimas yang kelihatannya sangat setia pada Bu Dimas itu ternyata pernah menghianati istrinya juga. Tentu hal itu akan ia simpan sendiri dan tidak akan ia ceritakan kepada orang lain karena ia tidak ingin mengecewakan hati dan perasaan Bu Dimas dan Niko.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2