MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 34 : MARAH


__ADS_3

Dunia seakan runtuh saat itu. Aku tidak menyangka Mas Diki akan pulang secepat ini. Biasanya kalau ia ke luar kota, minimal jam delapan malam ia baru pulang ke rumah. Bahkan pernah ia pulang jam 1 malam karena armada yang ia naiki mengalami kemacetan di jalan.


Selama kami menikah, aku tidak pernah berada di posisi ini, semobil dengan pria lain. Dan kali ini aku semobil dengan laki-laki yang pernah menyukaiku dan disaksikan sendiri dengan mata kepala Mas Diki. Tenagaku seperti hilang seketika saat itu. Otakku tidak bisa diajak untuk memikirkan alasan kenapa aku bisa semobil dengan Pak RT.


Pandangan mata Mas Diki semakin tajam ke arah kami. Aku berjalan ke arahnya dengan segenap kekuatan yang nasih tersisa, sedangkan Pak RT dengan tenang mengekor di belakangku. Akhirnya, aku berada beberapa meter di depan suamiku.


"Mas, tadi ...," Aku berkata dengan sedikit terbata-bata.


"Iya. Barusan Bulik Darsih menelpon saya. Katanya ia tidak bisa ikut mengantarmu ke sini," potong Mas Diki sebelum aku menyelesaikan perkataanku.


"Oooo ...," Aku tergagap mendengar jawaban Mas Diki saat itu.


"Monggo, Mas. Mampir dulu. Terima kasih sudah mengantarkan istri saya," sapa Mas Diki dengan ramah kepada Pak RT.


"Iya, Mas. Terima kasih. Saya langsung pamit saja karena masih ada urusan lain yang harus saya selesaikan," jawab Pak RT kalem.


"Ayolah, Mas. Kita ngopi bareng!" bujuk Mas Diki sambil menyipitkan matanya yang indah.


"Lain kali saja, Mas. Beneran nih, saya harus butu-buru pulang sekarang," jawab Pak RT kembali.


"Baiklah, kalau begitu. Hati-Hati di jalan!" jawab Mas Diki.


"Iya, terima kasih, Mas," jawab Pak RT sambil masuk ke mobilnya dan segera meninggalkan rumah tersebut.


Aku diam-diam melirik ke arah Mas Diki yang melambaikan tangan kepada Pak RT. Aku ingin menelisik apakah benar-benar ia tidak marah kepadaku atau ia hanya menyembunyikan perasaannya saja. Saat mataku asik memandangi raut wajahnya, tiba-tiba Mas Diki menoleh ke arahku.


"Kenapa, Dik?" tanya Mas Diki.

__ADS_1


"Hm ... Mas Diki beneran nggak marah melihat saya numpang mobil Pak RT?" tanyaku memberanikan diri.


Aku memang bukan tipe istri yang bisa menyembunyikan sesuatu dari suaminya. Karena menurutku, langgengnya suatu hubungan itu terjadi karena saling percaya dan saling terbuka.


"Hm ... Sebenarnya saya nggak suka melihat kamu semobil sama pria lain. Tapi, mau gimana lagi kondisinya darurat," jawab Mas Diki sambil menatap mataku lekat.


"Emangnya Bulik Darsih cerita apa sama Mas Diki?" tanyaku penasaran.


"Bulik Darsih bilang, kamu minta ditemani Bulik Darsih pergi ke rumah Pak Seno bareng Pak RT. Kamu berangkatnya naik angkutan umum katanya. Terus pas pulangnya, nggak ada angkutan umum sama sekali. Terus, Bulik Darsih juga tiba-tiba nggak enak badan. Jadi, Bulik Darsih yang nyuruh Pak RT untuk mengantar kamu pulang," tutur Mas Diki panjang lebar.


Aku hanya terdiam dan manggut-manggut saja. Aku kaget dengan apa yang diceritakan Mas Diki. Aku tidak menyangka Bulik Darsih mengarang-ngarang cerita itu kepada Mas Diki untuk melindungiku. Tapi, jujur saat itu aku tertolong dengan cerita Bulik Darsih. Meskipun itu kebohongan semata. Aku ingin berterus terang kepada Mas Diki saat itu, tapi melihat ekspresi wajahnya yang sudah sabar aku urungkan. Aku takut laki-laki yang paling aku cintai ini akan marah besar kalau tahu bahwa Bulik Darsih berbohong. Biarlah, lain kali saja aku berterus terang.


"Masuk, yuk, Dik!" ajak Mas Diki sambil menggandeng tanganku mesra.


"Nur sudah datang, Mas?" tanyaku.


"Ooo ...," jawabku.


"Masih ada waktu, Dik," ujar Mas Diki sambil melirikku mesra.


"Waktu untuk apa, Mas?" tanyaku.


"Waktu untuk itu lah, Dik," jawabnya.


"Ih, Mas Diki ini ...," jawabku manja.


Mas Diki menggandeng tanganku menuju kamar pribadi kami. Tak lupa ia menutup pintu depan rapat, takut ada orang yang tiba-tiba datang dan mengganggu ritual wajib yang akan kami lakukan. Kami berdua berjalan ke kamar secara perlahan dengan mata tetap saling memandang penuh kekaguman. Aku bersandar di pundak Mas Diki dan Mas Diki merangkulku dengan penuh rasa cinta.

__ADS_1


Seperti biasa Mas Diki bukanlah sosok pasangan yang egois dalam urusan apapun, termasuk urusan 'dalam negeri'. Ia tidak langsung mengkonsumsi menu utama. Melainkan, ia mengajakku untuk mengobrol santai terlebih dahulu tentang masa depan dan sebagainya. Setelah itu pria itu biaasanya mulai memuji kecantikanku. Selanjutnya pria pemilik hatiku itu pun menunjukkan rasa cintanya kepadaku, sehingga saat itu aku ingin waktu berhenti atau melambat. Kala itu Ia menunjukkan bahwa ia adalah sosok laki-laki terbaik yang pernah kumiliki. Tak ada ruang di hatiku untuk orang lain selain suamiku.


Istimewanya lagi, pada suatu titik tertentu. Mas Diki tiba-tiba menjelma menjadi seorang "monster" yang baik. Tidak bisa dipungkiri, secara naluriah, setiap wanita pasti ingin merasakan sensasi yang berbeda dari pasangannya. Sungguh Mas Diki adalah sosok yang memang benar-benar kurindukan seumur hidupku.


Keseimbangan itu terjadi karena adanya take and give antara kedua pasangan. Besarnya rasa cinta dan gelora yang diberikan oleh Mas Diki tentunya harus kuimbangi dengan besarnya cinta dan pengorbananku juga. Tidak hanya istri yang memiliki imajinasi aneh, suami pun memiliki keinginan berbeda yang harus dilampiaskan. Sebagai istri yang baik dan sangat mencintai pasangannya, aku pun mempersembahkan hal yang sama kepada suamiku. Kami berdua memang sudah sepakat dalam hal itu. Kami bukanlah pasangan yang kolot dalam hal itu.


Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tibalah saat bagi kami untuk menikmati menu utama yang sudah sangat kami inginkan. Kami tidak grusa-grusu dalam hal ini. Entah mengapa, bagi kami setiap malam adalah malam pertama yang begitu istimewa. Kami pun menyatu dalam cinta dan gelora saat itu. Hingga akhirnya ...


"Pocoooong!!!!" teriak Mas Diki cukup keras sambil menjauh dariku.


Aku terkejut dengan teriakan Mas Diki.


"Kenapa, Mas?" tanyaku kebingungan.


"Ba-ba-barusan ...," jawab Mas Diki tergagap sedangkan napasnya ngos-ngosan seperti orang ketakutan.


"Mas Diki lihat apa barusan?" desakku.


"Oh tidak! Mas salah lihat saja," jawab Mas Diki sambil merangkulku. Laki-Laki itu berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan.


"Ada apa sih, Mas?" tanyaku kebingungan.


"Nggak apa-apa, Dik. Maafkan Mas," jawabnya.


Aku benar-benar bingung dengan tingkah suamiku saat itu. Mengapa ia harus melakukan hal konyol di saat yang tidak tepat. Tingkahnya terang saja membuatku kesal.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Novel KAMPUNG HANTU dalam versi berbeda tersedia di lapak kami. Silakan ketik 'mohamadimron' di kolom pencarian SHOPEE. Tersedia juga produk fashion dan KPOP.


__ADS_2