MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 36 HARIMAU PENJAGA


__ADS_3

Harimau putih itu dengan gagahnya masuk ke dalam pekarangan, membuat kami harus mundur beberapa langkah untuk menjauhinya.


"Maaaaaas ...," ucapku sambil bersembunyi di bahu suamiku.


"Tenang, Dik, jangan takut!" ucap suamiku berusaha menenangkanku.


Aku memang sangat ketakutan saat itu. Seolah-olah kematian sudah berada dekat denganku. Tapi, mendengar Mas Diki berkata seperti itu, perasaanku sedikit tenang. Mas Diki membimbingku untuk mundur menjauhi harimau putih itu. Ternyata, harimau putih itu sudah menyadari betul kehadiran kami. Bahkan, ia memang sudah ditugaskan untuk menyerang kami berdua. Jadi, ke manapun kami pergi, sepertinya ia akan terus mengejar kami berdua.


"Dik, kita tidak punya pilihan lagi. Kita harus melawannya," ucap suamiku dengan penuh percaya diri.


"Mas yakin dapat mengalahkannya?" tanyaku ragu.


"Harus, Dik. Kalau mas tidak membinasakan harimau ini, kecil kemungkinan kita dapat menemukan anak kita," jawab suamiku padaku.


"Iya, Mas. Saya akan membantu Mas Diki untuk membunuh harimau itu," ucapku.


"Tidak, Dik. Kamu diam di pinggir saja. Biar mas yang menghadapi harimau ini sendirian. Tapi, kamu harus tetap waspada. Takutnya, ia tiba-tiba menyerangmu," ucap suamiku.


"Tapi, Mas harus berhati-hati, ya?" ucapku cemas.


"Baiklah. Sekarang kamu minggir dan bersembunyilah di balik batu itu!" ucap suamiku.


Aku pun mengikuti perintah suamiku. Jujur, sebenarnya aku sangat berat meninggalkan Mas Diki sendirian menghadapi harimau itu, tapi aku tidak punya pilihan. Aku menguatkan hatiku dan mensugesti diriku sendiri bahwa Mas Diki dapat mengalahkan makhluk buas di depannya. Toh, ia bukanlah pria yang lemah. Ia memiliki ilmu bela diri yang cukup mumpuni.

__ADS_1


HHRRRRRRRRRRR


Harimau putih itu mengaum dengan suara keras dan berdiri berhadapan dengan Mas Diki. Mas Diki memasang kuda-kudanya.


ARRRRRRGGHHHH


Harimau itu melompat ke arah Mas Diki. Ia berusaha menerkam suamiku itu dengan kuku-kukunya yang tajam. Untunglah Mas Diki dengan cepat berkelit ke samping sehingga terkaman harimau itu mengenai tempat kosong.


BRAAAAKKK


Harimau itu menabrak pagar pembatas pekarangan sehingga hewan puas itu pun sempat terpelanting. Mas Diki dengan cepat mengambil kayu yang secara kebetulan tergeletak di tanah. Ia mendekati harimau putih itu dan memukul kaki belakangnya.


ARRRRRRRRRGH


Harimau putih itu pun mengeramg kesakitan karena dihajar oleh suamiku. Mas Diki hanya sempat memukul kaki belakangnya sebanyak dua kali saja karena hewan buas itu sudah bangkit lagi dengan cepat dan berbalik menghadap suamiku kembali. Kali ini harimau itu terlihat sangat marah.


"Awaaaaaaaaas, Maaaaaaas!!!" teriakku dengan cukup keras karena melihat Mas Diki tidak menyadari serangan tiba-tiba si kucing raksasa itu.


Ungunglah Mas Diki mendengar teriakanku dan segera koprol ke samping sehingga harimau itu kembali menerkam ruang kosong dan menabrak pagar. Kali ini si harimau terpelanting lebih kuat dari sebelumnya. Menyadari kesempatan itu, Mas Diki segera mendekati harimau itu lagi dan ia pun mengayunkan batang kayu di tangannya ke kaki belakang harimau putih itu kembali.


ARRRRRRRGGGHHH


Suara auman kesakitan kembali keluar dari mulut si kucing raksasa. Kali ini Mas Diki berkali-kali memukul kaki si harimau dengan harapan kalau kakinya cedera, harimau itu tak akan berdaya nantinya.

__ADS_1


BUUG BUGGG BUUUG


Tak kurang dari tiga kali, batang kayu itu mengenai kaki harimau itu. Sehingga kaki harimau itu pun luka-luka. Saking semangatnya Mas Diki memukuli kaki harimau di depannya, ia sampai ngos-ngosan dan kehabisan napas. Saat ia mengatur napasnya kembali, harimau itu berusaha untuk bangkit meskipun pijakan kakinya kurang seimbang. Harimau itu berhasil bangkit dengan bersusah payah. Mas Diki cukup terkejut karena hewan pemangsa di depannya kali ini sudah bisa berdiri kembali. Mas Diki kebingungan karena ia sendiri sudah kehabisan tenaganya setelah memukuli kaki harimau itu.


Mas Diki menatap mata harimau itu yang dengan tertatih berusaha mendekatinya. Mas Diki mundur secara perlahan esuai irama pergerakan harimau di depannya.


Kini, kedua petarung itu sama-sama tidak dalam kondisi prima. Yang satu kakinya pincang, yang satunya lagi kehilangan tenaga. Keringat membanjiri tubuh Mas Diki. Pakaian yang dipakai Mas Diki sudah awut-awutan tak beraturan. Aku yang bersembunyi di balik batu semakin mencemaskan keadaan suamiku tersebut. Aku tidak rela kalau suamiku harus dicincang oleh hewan buas itu.


AUUUUUUUM


Harimau putih mengaum dengan sangat keras dan memekakkan telinga. Dengan langkah tertatih, harimau itu berjalan mendekati Mas Diki. Mas Diki mundur secara teratur menjauhi harimau itu. Semakin lama, harimau itu semakin dapat menemukan keseimbangannya sehingga jalannya semakin cepat dan kali ini harimau itu dapat berlari lagi meskipun tidak segesit tadi. Mas Diki menggunakan sisa tenaganya untuk berlari menghindari kejaran si kucing raksasa. Namun naas menimpa suamiku. Saat ia berada beberapa meter di dekatku, kaki Mas Diki tersandung sesuatu sehingga ia pun jatuh terjerembab di atas tanah.


Harimau itu kembali melompat dan menerkam suamiku. Mas Diki membalikkan badan tepat sedetik sebelum harimau itu berhasil melompat dan menerkam ke arahnya.


"TIDAAAAAAAK!!!" Aku berteriak kencang ketika melihat harimau itu tepat berada di atas Mas Diki yang sedang terlentang di atas tanah.


AAAAARRRGH


Harimau putih itu kini berada tepat di atas tubuh suamiku. Kaki belakang harimau itu terombang-ambing ke kiri dan ke kanan karena mengimbangi bagian tubuh bagian depannya. Sedangkan mulut harimau itu sedang berusaha untuk memakan kepala Mas Diki. Namun, Mas Diki terus menghalaunya dengan menahan kepala dan leher harimau itu menggunakan tangannya.


Dalam posisi seperti itu, nampak sekali perbedaan ukuran tubuh keduanya. Tubuh Mas Diki yang menurutku sudah besar, masih jauh lebih kecil dari badan harimau putih itu. Berkali-kali kepala harimau itu berusaha menunduk dan menggigit kepala Mas Diki, tapi selalu gagal karena ditahan oleh kedua tangan suamiku. Lama-Lama Mas Diki tidak kuat juga melawan tenaga harimau itu. Untuk mempersulit gerakan harimau itu dna menghindari bagian bawah tubuhnya terkena cakaran kuku harimau itu, Mas Diki pun merangkulkan kakinya ke punggung harimau itu. Tapi lama-lama tenaga Mas Diki habis. Dan di puncak kelemahan tenaganya, Mas Diki berteriak.


"Toloooooooooong!!!!!!"

__ADS_1


Pegangan tangan Mas Diki di kepala dan leher harimau putih itu mulai melemah, sehingga taring harimau itu semakin dekat dengan kepala pria gempal itu. Ekspresi wajah Mas Diki menunjukkan rasa ketakutan yang teramat sangat.


Bersambung


__ADS_2