
Pak RT menyodorkan sebuah wadah berisi darah ayam yang sudah ia siapkan. Pak Seno segera membaca mantra-mantra di atas permukaan darah ayam itu. Aku yang melihat adegan itu di depan mata kepalaku sendiri menjadi jijik dan merasa takut dengan nasib yang akan menimpaku.
"Benarkah setelah aku dilumuri dengan darah ayam bermantra itu aku akan menjadi perempuan yang takluk kepada Pak RT dan juga akan menjadi bagian dari mereka? Apakah ia aku akan memaafkan Ma Wisnu setelah apa yang ia lakukan terhadap keluargaku? Tidaaaak!!! Aku tidak mau!" ucapku pada diri sendiri.
Pak Seno menyerahkan wadah berisi darah ayam kepada Pak RT. Pak RT buru-buru membaluri tubuhnya dengan darah ayam itu selanjutnya Pak RT pun membaluri tubuhku dengan darah ayam itu juga sampai habis.
Aku merasa tubuhku memanas dengan seketika. Kepalaku tiba-tiba merasakan pusing yang sangat luar biasa. Aku seperti berada antara sadar dan tidak sadar. Aku tidak bisa mencium bau amis yang seharusnya begitu menyengat. Tubuhku terasa dilolosi sekujur tubuh sehingga aku tidak memiliki tenaga sama sekali. Dalam keadaan lemah seperti itu aku masih merasakan belenggu di kaki dan tanganku dilepas satu persatu oleh Pak RT. Selanjutnya aku antara sadar dan tidak melihat Pak RT melepas pakaiannya sendiri. Selanjutnya pria itu akan melucuti pakaian yang aku kenakan.
Aku tidak terima dengan perbuatan yang akan dia lakukan, aku pun berusaha meronta dan
BRAK!!!
Aku menendang perut pria itu sekuat tenagaku dan ternyata tenaga dan kesadaranku pulih dengan cepat. Pak Seno dan Mas Wisnu terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya. Pak RT terlempar jauh ke dinding gua sambil meringis kesakitan.
Pak Seno dan Mas Wisnu tidak tinggal diam. Mereka berdua berusaha merengkuh tubuhku, aku pun melompat ke ruang kosong di antara mereka berdua. Namun, sialnya Pak RT berhasil menangkap kakiku disusul kemudian oleh Pak Seno dan Mas Wisnu yang membantu memegangi bagian tubuhku yang lain.
"Ayo, kita angkat perempuan ini kembali ke atas altar!" perintah Pak Seno.
Aku berusaha meronta, namun kali ini mereka bertiga sudah lebih siap dari sebelumnya. Tubuhku dibaringkan di atas altar. Pak RT kembali akan melancarkan aksinya dengan dibantu oleh Pak Seno dan Mas Wisnu yang memegangi kaki dan tanganku.
"Kamu ini bikin repot saja, Sinta!" teriak Pak RT dengan keras.
Aku terus meronta dengan sekuat tenaga hingga akhirnya.
Bug!!! Bug!!!
"Aaaaaaaaaaaaaaaarghh!!!"
Pak RT berteriak kesakitan dan tubuhnya terjerembap ke belakang sedangkan dua pria yang terlempar ke samping.
__ADS_1
Darah mengucur deras dari perut bagian bawah perut Pak RT. Ia meronta kesakitan.
"Itulah ganjaran yang setimpal untuk orang bejat sepertimu!" teriak laki-laki gagah yang baru saja datang menolongku. Kepala laki-laki itu diikat dengan sebuah kain dan di tangan kanannya memegang sebilah pisau.
Laki-Laki itu berbalik badan dan menarik lenganku.
"Mas Diki!!" pekikku bahagia karena meliihat suamiku masih hidup.
Mas Diki menarik tubuhku agak menjauh dari ruangan itu. Ia melepaskan bajunya untuk dikenakan kepadaku.
"Makasih, Mas," jawabku.
"Kamu di sini saja. Perempuan tidak pantas kalau berkelahi. Biar saya saja yang mengatasi mereka semuanya," ujar Mas Diki dengan gentelnya.
"Hati-Hati, Mas!" jawabku.
Selanjutnya Mas Diki berhadapan dengan Pak Seno dan Mas Wisnu. Pak Seno mengeluarkan sebilah pedang danMas Wisnu mengambil kayu dari samping altar.
"Arrrrrgh!!!" teriak Mas Wisnu kesakitan.
Bagian perut Mas Wisnu terluka akibat sabetan pedang Pak Seno sehingga organ dalamnya keluar.
"Maaaaaaaas!!!" teriak Mbak Ning yang tiba-tiba muncul bersama Nur dari pinggir sungai.
Mbak Ning memeluk erat tubuh Mas Wisnu yang sedang sakaratul maut. Nur berlari ke arah ibunya.
"Maaaaaas!!!!" teriak Mbak Ning.
"Maafkan saya, Dik. Saya telah menghianatimu. Saya juga yang telah menumbalkan ibu. Ampun, Dik!" ucap Mas Wisnu terbata-bata.
__ADS_1
"Maaaas!!" Mbak Ning tergagap mendengar pengakuan suamimya.
"Maafkan saya, Dik!" Itulah kata yang keluar dari mulut Mas Wisnu sebelum menghembuskan napas yang terakhir.
"Maaaaassss!!! teriak Mbak Ning histeris.
Entahlah, Mbak Ning histeris karena ditinggal suaminya atau marah karena suaminya adalah pembunuh ibunya sendiri.
Aku pun segera berlari menghampiri Mbak Ning yang sedang meratapi kesedihannya. Mbak Ning bersandar di bahuku melepas emosinya.
Sementara itu Mas Diki terus bergumul dengan Pak Seno. Keringat membanjiri tubuh mereka. Belum ada yang kalah di antar mereka semuanya. Hingga akhirnya, karena kelelahan Pak Seno berhasil menjatuhkan Mas Diki. Pak Seno memegang rambut Mas Diki dan tangan kanannya menghunus pedang. Aku yang melihat hal itu kontan histeris dan segera berlari untuk menyelamatkan suamiku. Saat Pal Seno mengayunkan pedangnya ke kepala Mas Diki, aku buru-buru membelokkan pedang itu ke arah perut Pak Seno sendiri.
"Aaaaaaarghhhh!!!" Pak Seno menggelepar-gelepar di lantai akibat perutnya terluka. Tak lama kemudian Pak Seno pun menghembuskan napas yang terakhir. Aku memeluk tubuh Mas Diki dengan erat seraya bersyukur karena suamiku masih diberi keselamatan.
Pak RT yang kami kira sudah mati, tiba-tiba menghunuskan pisau milik suamiku yang terlempar saat bertarung dengan Pak Seno. Pak RT bermaksud melukai aku dan Mas Diki yang sedang berpelukan. Namun, tiba-tiba terdengar ledakan.
DOR!!!
Sebuah peluru bersarang di dada Pak RT sehingga menghentikan aksinya yang akan melukai kami.berdua. Tubuh Pak RT terbaring ke tanah. Kami menoleh ke samping, ke arah sumber letusan. Ternyata di sana sudah ada Bulek Darsih bersama seorang petugas kepolisian.
"Buleeeeeeeek!!!!" Aku dan Mbak Ning berlari ke arah Bulek Darsih diikuti oleh Mas Diki dan Nur.
Aku memeluk erat tubuh tua Bulek Darsih dengan perasaan bersalah.
"Maafkan kami, Buleeeeek! Kami sempat mencurigai Bulek sebagai dalang dari semua ini," tangis kami di pelukan Bulek Darsih.
"Siiiin .... Niiiiing ... Bulek tidak mungkin melakukan hal sekeji itu kepada kalian. Bulek ini adalah orang tua kalian juga. Sejak kematian Mbak Yati dan salah satu guru di sekolah, saya sudah mulai curiga bahwa ada yang tidak beres. Makanya saya ingin membawa Ikbal supaya aman bersama saya. Diam-Diam saya mencari informasi. Bahkan saya juga membuntuti kamu, Sin. Ketika melihat ada yang tidak beres, saya pun mengatur cara agar berpapasan dengan Pak RT di mini market. Tidak hanya itu, Saya juga meminta tolong polisi ini untuk membuntuti suamimu, Ning. Ternyata suamimu secara diam-diam sering bertemu dengan Si Seno dan Pak RT," tutur Bulek Darsih panjang lebar.
"Maafkan kami, Bulek" teriak kami bersamaan.
__ADS_1
Nur dan Mas Diki ikut meminta maaf kepada Bulek Darsih, sementara polisi mulai menghubungi kantor sambil mengumpulkan bukti-bukti yang ada di lokasi tersebut. Tak berselang lama, polisi dan warga pun mulai berdatangan ke tempat tersebut.
TAMAT