
Pagi-Pagi sekali Bu Dewi sudah bangun untuk menunaikan salat Subuh. Semalaman ia tidak begitu nyenyak tidur karena memikirkan isi buku harian yang ditulis oleh Laras. Hati dan pikirannya mulai terpengaruh oleh omongan dan isu yang beredar di kalangan tetangganya bahwa Laras menjadi hantu dan meneror warga. Terlebih, kejadian semalam saat ia menemukan buku harian itu. Sangat mustahil ia dapat menemukan potongan buku harian itu jika tidak ada campur tangan hal mistis di dalamnya.
“Mas, bangun. Sudah subuh,” bisiknya pada suaminya.
“Mas masih mengantuk, Dik,” jawab Pak Herman sambil berusaha untuk tidur kembali.
“Ingat loh, Mas. Mas sudah berjanji dua hal kepadaku saat akan menikahiku dulu. Satu, Mas mau membimbingku untuk rajin sholat. Dua …,” ucap Bu Dewi dan dihentikan oleh suaminya.
“Iya, Dik. Maafin mas, ya?” potong suaminya dan segera bangun menuju kamar mandi.
“Alhamdulillah …,” ucap Bu Dewi sambil tersenyum.
Di dalam hati Bu Dewi itu bersyukur karena suaminya masih mengingat janji suci yang pernah ia ucapkan dulu. Janji pertama yaitu tentang membimbing sholat Bu Dewi, sedangkan janji kedua yaitu Pak Herman berjanji akan selalu menjaga kesetiaan cintanya. Untuk yang kedua Bu Dewi sepertinya tidak perlu meragukan hal itu. Keseharian Pak Herman hanya berkutat antara pekerjaan, mengasuh Panji, dan memanjakan Bu Dewi. Tidak ada hal lain yang dapat menarik perhatian Pak Herman. Apalagi wanita. Pak Herman dikenal sebagai sosok yang dingin dan jarang berkomunikasi dengan perempuan lain selain keluarga sendiri.
Setelah selesai menunaikan sholat Subuh berjamaah, Bu Dewi langsung memanfaatkan waktu untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga dan bersih-bersih rumah. Mumpung Panji masih tertidur lelap ditemani Pak Herman. Sementara Pak Herman, begitu selesai sholat Subuh, ia bilang mau menjaga Panji yang sedang terlelap. Pada saat Bu Dewi membersihkan ruang tamu, ia baru tahu bahwa Pak Herman malah tidur mengorok di samping Panji.
“Dasar bapak dan anak mirip sekali cara tidurnya,” ucap Bu dewi pada dirinya sendiri.
“Loh, aku kok bilang Mas Herman bapaknya Panji, ya? Ah, nggak apa-apa. Lah wong memang Panji adalah anak kita sekarang. Ibunya Panji sudah nggak ada. Siapa lagi yang akan menjadi ayah dan ibu buat anak itu kalau bukan aku dan Mas Herman?” lagi-lagi Bu Dewi berkata pada dirinya sendiri.
Bu Dewi melanjutkan bersih-bersihnya di ruang tamu dengan mengelap jendela yang berdebu.
__ADS_1
“Loh, orang-orang itu mau ke mana kok seperti keburu-buru begitu?” Tanya Bu Dewi pada dirinya sendiri sambil mengintip orang-orang yang sedang berjalan melalui gang sebelah menuju utara.
Karena penasaran, Bu Dewi pun segera keluar dari rumahnya dan berjalan menuju gang sebelah. Letaknya agak jauh dari rumah Bu Dewi, tapi pemandangan dari ruang tamunya terlihat dengan jelas. Akhir-Akhir ini, orang-orang lebih suka melewati jalan itu menuju warung atau ke luar dusun daripada lewat di depan rumahnya. Bu Dewi awalnya menyesalkan hal itu, tapi setelah kematian Pak Hartono dan kejadian menangisnya Panji tadi malam, ia mulai merasa bahwa omongan warga ada benarnya.
Setelah berjalan agak cepat menuju pertigaan itu, akhirnya Bu Dewi pun sampai di depan gang. Ia menunggu orang yang berjalan tergesa-gesa seperti Bu Reni dan ibu-ibu lain yang ia lihat barusan.
Setelah menunggu selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya perempuan itu pun bertemu dengan Pak Bagong yang rumahnya di ujung dusun sedan tergesa-gesa masuk ke dalam gang.
“Assalamualaikum, Pak Bagong mau ke mana? Kok kelihatan tergesa-gesa sekali?” tegur Bu Dewi sedikit mengagetkan pria tambun itu.
“Eh, anu …Bu Dewi ngapain di sini?” Pak Bagong bertanya balik.
“Saya tadi pas bersih-bersih rumah kebetulan melihat banyak warga berjalan tergesa-gesa lewat sini seperti ada kejadian penting. Makanya saya senaja menunggu orang lewat sini untuk bertanya,” jawab Bu Dewi.
“Pak Ade terluka? Kok bisa sampai kejatuhan rak dapur?” Tanya Bu Dewi lagi.
“Kurang tahu, Bu Dewi. Tapi, menurut omongan yang beredar, katanya Pak Ade ketakutan sama-“ jawab Pak Bagong ragu-ragu.
“Ketakutan kenapa, Pak Bagong?” tanya Bu Dewi lagi.
“Eh … Takut sama-“ jawab Pak Bagong ragu-ragu.
__ADS_1
“Takut sama siapa, Pak? Jawab saja, Pak! Tidak usah merasa tidak enak sama saya,” paksa Bu Dewi.
“Saya nggak enak yang mau jawab, Bu Dewi. Bu Dewi tanya sama yang lain saja,” jawab Pak Bagong tidak enak hati.
“Pak Ade takut sama Laras ya, Pak?” tanya Bu Dewi mempertegas omongannya.
Wajah Pak Bagong menjadi merah seketika saat itu. Ia tidak menyangka Bu Dewi akan mendesaknya untuk mengatakan hal yang tidak ingin ia katakana karena ia sangat mengormati Bu Dewi dan Pak Herman.
“Dari mana Bu Dewi tahu hal itu?” Pak Bagong balik bertanya.
“Terima kasih, Pak Bagong, atas informasinya,” jawab Bu Dewi.
“Saya mohon maaf ya, Bu. Saya pamit ke rumah Pak Ade dulu untuk memastikan keadaan di sana,” ujar Pak Bagong kemudian.
“Nggak apa-apa, Pak. Pak Bagong berangkat saja dulu. Saya menyusul nanti,” jawab Bu Dewi lemah.
Pak Bagong pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah Pak Ade. Sedangkan Bu Dewi berdiri termangu di tempat itu dengan perasaan campur aduk antara kecewa dan sedih. Ia benar-benar sedih seandainya Laras benar-benar mati gentayangan dan mengganggu warga di dusun Delima ini.
“Laras, apa benar kamu akan membalas dendam kepada orang yang berbuat jahat kepadamu? Bukankah kamu sudah membunuh Pak Hartono, Nduk? Kenapa kamu masih mengganggu warga-warga lain yang tidak bersalah? Apa kamu marah kepada seluruh warga dusun ini yang tidak turut membantu pemakamanmu, Nduk? Bukankah sudah ada aku dan orang-orang yang dikirim oleh suamiku, Nduk? Tolong, Nduk, jangan kamu sakiti orang-orang yang tidak bersalah!” ucap Bu Dewi pada dirinya sendiri.
Bu Dewi saat ini berjalan kaki meninggalkan gang sebelah, tapi arah langkah kakinya bukan menuju ke rumahnya atau ke rumah Pak Ade. Sepertinya arah langkahnya menuju ke area pemakaman dusun tersebut. Ia berjalan dengan langkah gontai dan tatapan mata nanar. Ada beban berat yang sedang ia pikul saat ini. Ada perasaan gagal di dalam hatinya karena telah salah mendidik Laras sepeninggal ibu kandungnya. Tangis perempuan itu pecah selama berjalan menuju arah kuburan. Tidak ada orang yang mengetahui keadaan Bu Dewi saat itu karena jalan menuju arah kuburan pada jam-jam itu memang sepi sekali. Hanya sesekali suara jangkrik dan belalang yang saling bersahutan satu dengan lainnya. Bu Dewi sudah tidak peduli dengan hal buruk yang akan terjadi padanya di kuburan nanti. Ada suatu hal yang ingin lakukan di makam Laras.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Terima kasih ku ucapkan kepada pembaca setia novel MARANTI. Sekedar mengingatkan kalau aku juga punya novel horor yang lain berjudul KAMPUNG HANTU dan SEKOLAH HANTU.