MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 77 : GUA RAHASIA


__ADS_3

Pak Ade buru-buru mengosongkan pikirannya dari arwah Laras sehingga arwah Laras pun lenyap dari pandangan pria itu. Setelahnya, pria itu pun mengingat-ingat momen kebahagiaannya bersama keluarga kecilnya. Ia juga mengatur napasnya sendiri agar ia bisa segera tertidur seperti anak dan istrinya. Beruntungnya mereka bertiga karena dapat melewati malam yang panjang dengan tenang hingga adzan Subuh berkumandang. Mereka bertiga baru bangun saat ada petugas rumah sakit yang menggedor-gedor pintu kamar mereka. Hal itu sudah biasa dilakukan di rumah sakit tersebut. Setiap jam lima pagi, petugas kebersihan datang untuk membersihkan kamar dan menyuruh pasien untuk bangun agar dapat menghirup udara pagi yang menyehatkan.


Sementara itu, Jatmiko sedang berada di suatu tempat bersama ibunya.


“Bu, kita mau ke mana ini?” tanya Jatmiko kepada ibunya yang tidak mengajaknya berbicara sejak tadi.


“Kamu ikuti saja aku! Nanti juga kamu akan tahu sendiri,” jawab ibunya dengan ketus.


Jatmiko pun tidak berani bertanya lagi kepada ibunya. Ia mengikuti langkah ibunya dari belakang menaiki area perbukitan di desanya yang jarang dikunjungi oleh penduduk di desa tersebut. Bahkan, Jatmiko yang dulu sering berpetualang bersama Pak Ade pun tidak pernah naik ke atas perbukitan tersebut karena ada semacam pantangan bagi warga desa tersebut untuk bisa naik ke sana.  Hanya sesepuh desa yang boleh naik ke sana untuk melakukan ritual tahunan desa yaitu menyerahkan sesajen di atas bukit tersebut. Jatmiko tidak menyangka diusia ibunya yang sudah tua tersebut, ternyata ibunya masih kuat untuk naik ke atas bukit padahal jalannya sangat menanjak.


“Bu, apa sesepuh desa tidak akan marah kalau kita naik ke sini?” tanya Jatmiko penasaran.


“Kamu pikir ibumu ini bukan salah satu sesepuh di sini, Jat?” jawab ibunya Jatmiko.


“Tapi, bagaimana dengan aku, Bu? Aku tidak mau menjadi mandul karena aku naik ke atas sini, Bu. Bukankah semua penduduk di desa ini bilang, kalau orang biasa naik ke atas sini bisa mandul seumur hidup?” protes Jatmiko.


“He he he … Kamu ini benar-benar polos, Jatmiko. Perlu ibu kasih tahu sama kamu bahwa kamu dulu itu lahirnya di atas bukit ini dan kamulah satu-satunya pemuda yang boleh naik ke atas bukit ini tanpa perlu takut mengalami kemandulan atau musibah lainnya,” jawab ibunya Jatmiko dengan terkekeh.


“Oh ya? Kenapa sampai usiaku sekarang Ibu tidak pernah bilang kalau dulu aku dilahirkan di atas bukit ini?” tanya Jatmiko.


“Ya, karena sekarang lah waktunya ibumu ini mengatakannya kepadamu dan perlu kamu tahu kamu adalah harapan terbesar ibu dan sesepuh desa ini,” jawab ibunya Jatmiko.


“Harapan terbesar apa, Bu? Aku tidak mengerti?” ucap Jatmiko.


“Tidak lama lagi kamu akan ibu nikahkan dengan perempuan itu. Perempuan yang sangat kamu idam-idamkan selama ini,” jawab ibunya Jatmiko.


“Siapa perempuan itu, Bu? Dari kemarin ibu sudah mengatakannya padaku, tapi aku benar-benar tidak mengerti dengan maksud Ibu. Sampai kapan Ibu akan merahasiakannya kepadaku?” jawab Jatmiko.


“He he he … Sabar, Jatmiko! Nanti kamu juga akan tahu sendiri. Sekarang kita fokus dulu untuk menyelamatkan Nak Ade dulu. Kasihan dia selalu berada dalam ancaman arwah Laras,” jawab ibunya Jatmiko.


“Siapa Laras itu, Bu?” tanya Jatmiko.


“Laras iu gadis bodoh yang pernah dijerumuskan oleh Nak Ade ke lembah dosa,” jawab ibunya Jatmiko.

__ADS_1


“Dari mana Ibu tahu hal itu?” tanya Jatmiko.


“Kamu ini bodoh atau bagaimana, Jatmiko? Sudah lama hidup sama ibu tapi tidak tahu kelebihan ibumu sendiri. Ah … semoga calon cucuku nanti tidak seperti kamu bodohnya,” jawab ibunya Jatmiko.


Jatmiko hanya bisa diam saja setelah ditegur ibunya. Tak terasa akhirnya mereka berdua sudah berada di puncak bukit. Ternyata di puncak bukit tersebut terdapat sebuah gua.


“Jat, ayo kita masuk ke gua itu!” ajak ibunya Jatmiko.


“Aku baru tahu kalau di sini ada guanya, Bu. Ada apa di dalam gua itu, Bu?” tanya Jatmiko lagi.


“Ayo, kita masuk dulu! Nanti kamu akan kukenalkan dengan seseorang,” jawab ibunya Jatmiko.


Ibunya Jatmiko pun mengajak Jatmiko memasuki gua tersebut. Jatmiko merasa agak ngeri masuk ke dalam tempat yang asing baginya itu. Terlebih gua tersebut lembab dan kurang pencahayaan. Jatmiko tak habis pikir apabila ada orang yang mau tinggal di dalam gua tersebut. Bukankah ular atau kalajengking bisa saja seliwar-seliwer di tempat itu dan mencelakai manusia yang mereka temui. Sejak masuk ke dalam gua, Jatmiko merasa was-was akan keberadaan hewan-hewan berbisa di dalamnya.


“Kiiiii!!!!” panggil ibunya Jatmiko ketika ia masuk ke dalam ruangan.


Tidak ada sahutan seseorang dari dalam gua. Hanya pantulan suara ibunya sendiri yang didengar oleh mereka berdua.


Tiba-Tiba terdengar suara sahutan dari sudut gua.


“Masuk, Nyi!” suara  berat laki-laki terdengar dari ujung gua.


Jatmiko terkejut mendengar jawaban itu. Suara itu seperti tidak asing baginya. Tapi, ia masih tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Dari kejauhan Jatmiko melihat ada pergerakan seorang pria di ujung gua. Dari siluet yang ia lihat itu, Jatmiko merasa yakin bahwa seseorang itu memang orang yang sudah ia kenal dengan baik. Tapi, yang membuat pria itu terkejut adalah orang tersebut sudah lama dinyatakan meninggal oleh penduduk desa tempat tinggal Jatmiko dan ibunya.


“Bu …,” ucap Jatmiko dengan terbata-bata karena rasa ketakutannya yang tiba-tiba menyeruak.


“Ayo, Jat!” ajak ibunya.


“Tidak Bu! Bukankah itu Ki-“ jawab Jatmiko dengan ekspresi ketakutan.


“Iya, kamu benar. Dia tidak seperti yang kamu duga. Dia masih hidup,” jawab ibunya Jatmiko.


“Tidak! Setahun yang lalu beliau sudah dikabarkan meninggal dimakan buaya,” jawab Jatmiko dengan semakin ketakutan.

__ADS_1


“Buktinya, beliau sampai saat ini masih segar bugar,” jawab ibunya Jatmiko.


“Itu hantu, Bu. Ayo, kita segera pergi dari sini!” ajak Jatmiko pada ibunya.


“Kemari kamu, Jatmiko!” teriak laki-laki tua yang berada di ujung gua itu.


“Tidak!!!” Jatmiko berusaha menarik ibunya untuk lari dari tempat itu, tapi ibunya menolak.


“Mau ke mana kamu, Jatmiko?” teriak pria itu sambil melompat dari posisi duduknya menuju ke tempat Jatmiko dan ibunya.


Pria itu melompat dari satu batu ke batu yang lain dengan menggunakan ilmu bela diri yang cukup tinggi. Tak sampai semenit, pria tua itu sudah mencengkram bahu Jatmiko.


“Ampun, Ki! Jangan bunuh aku, Ki!” rintih Jatmiko memohon kepada pria tua itu.


“Ha ha ha … Kamu kira aku ini hantu yang akan memakan kamu, Jatmiko?” teriak pria tua itu dengan tawa terkekeh.


“Ampun, Ki!” rengek Jatmiko karena ketakutan.


“Kamu jangan takut sama aku, Jatmiko! Aku ini manusia biasa sama kayak kamu. Aku ini bukan hantu seperti dugaanmu.  Perlu kamu tahu, mayat yang dimakan buaya itu bukan aku, tapi orang lain yang sengaja kami siapkan untuk memalsukan kematianku,” jawab pria tua itu.


“Iya , Jat! Kami terpaksa harus memalsukan kematiannya karena beliau ini sedang diincar oleh banyak orang,” jawab ibunya Jatmiko.


“Apa kamu belum mengatakannya pada anak kita ini, Nyi?” ujar pria tua itu.


“Anak?” ucap Jatmiko tidak mengerti.


“I-ya, Jat. Pri-a yang be-ra-da di de-pan-mu ini a-da-lah a-yah kan-dung-mu …” jawab ibunya Jatmiko dengan terbata-bata.


“Apa????” pekik Jatmiko dengan mata melotot.


BERSAMBUNG


Apakah Readers ingat sesuatu setelah membaca bab ini? Tes analisa yuk!

__ADS_1


__ADS_2