
Saking terkejutnya, Bu Dewi sampai terbangun dari tidurnya di tengah malam. Keringat dingin membanjiri tubuh perempuan yang masih kelihatan cantik di usianya yang sudah matang itu. Kemarahan itu masih menguasai pikiran dan hati Bu Dewi saat baru bangun dari tidurnya. Mata Bu Dewi menatap langit-langit dengan tajam sambil berusaha mengurai kesadarannya.
“Untunglah hanya mimpi …,” ucap Bu Dewi pada dirinya sendiri.
Perempuan itu mengusap wajahnya yang banjir dengan keringat. Ia mengatur napasnya sendiri yang terengah-engah. Meskipun Bu Dewi sadar bahwa apa yang ia alami barusan adalah mimpi semata, tapi ia tidak dapat menampik dirinya sendiri bahwa hal itu sangat menganggu pikirannya. Setelah menenangkan dirinya, Bu Dewi pun melihat ke arah Panji yang tertidur pulas di sampingnya. Ditatapnya wajah anak angkatnya itu dengan penuh kasih sayang.
“Kenapa aku bisa mimpi seperti itu, ya? Kalau dilihat-lihat memang sedikit ada kemiripan antara Panji dengan Mas Herman. Tapi, mana mungkin Mas Herman menikahi Laras secara diam-diam di belakangku? Tidak mungkin Laras juga mau menikah dengan Mas Herman? Ah, aku yakin semua itu hanya mimpi belaka. Mereka tidak mungkin melakukan hal itu. Selama ini aku tidak pernah melihat hal mencurigakan dari mereka berdua. Bahkan saat pemakaman Laras, Mas Herman juga tidak bisa datang karena kesibukannya di luar kota. Aku yakin ini semua hanya mimpi,” ucap Bu Dewi di dalam hatinya.
Kletek … Kletek … Kletek …
Terdengar suara orang membuka pintu depan rumah Bu Dewi.
“Nah, itu Mas Herman sudah datang,” ucap Bu Dewi.
Setelah itu terdengar langkah seseorang masuk ke dalam rumah dan terdengar suara tas dibanting ke atas meja. Sudah menjadi kebiasaan Pak Herman. Setiap pulang tengah malam, ia tidur di kursi ruang tamu karena tidak mau mengganggu istrinya dan Panji yan sedang tertidur pulas.
“Mas, tidur di dalam saja!” sapa Bu Dewi pada suaminya yang cukup mengejutkan pria berusia matang itu.
“Kamu belum tidur, Dik?” tanya Pak Herman sambil berdiri lagi.
“Sudah kok, Mas. Barusan kebetulan aku terbangun,” jawab Bu Dewi sambil melangkah keluar dari kamar menuju meja ruang tamu.
“Maaf, pas buka pintu aku terlalu keras sehingga mengganggu istirahatmu, Dik,” ucap Pak Herman.
__ADS_1
“Enggak kok, Mas. Biasanya juga aku tidak bangun. Mungkin sekarang kebetulan saja pas Mas Herman datang, pas aku terbangun,” jawab Bu Dewi.
“Biar aku bawa sendiri tasnya, Dik!” ucap Pak Herman sambil merebut tas dari tangan Bu Dewi.
“Nggak apa-apa, Mas. Biar aku sekali ini saja membawakan tas ransel Mas Herman. Plis, sekali ini saja …” pinta Bu Dewi.
“Jangan, Dik. Tas mas berat. Mas tidak mau kamu kenapa-kenapa. Kamu sudah lelah seharian mengerjakan pekerjaan rumah. Oh ya, Panji gimana seharian ini?” kata Pak Herman.
“Alhamdulillah, Panji sehat Mas dan tidak rewel sama sekali,” jawab Bu Dewi dengan perasaan sedikit tergelitik ketika suaminya menanyakan keadaan Panji.
Setelah masuk ke dalam kamar, Pak Herman melihat ke arah Panji yang sedang tertidur pulas.
“Duh, lucunya anak bapak kalau lagi tidur. Panji itu imut ya, Dik?” ucap Pak Herman dengan wajah berbinar.
“Biasakan mendahulukan kata ‘MasyaAllah’ setiap memuji makhluk, Mas. Supaya pujian kita tidak berdampak buruk buat orang yang kita puji,” jawab Bu Dewi.
“Iya, Dik. Maaf, aku lupa,” jawab Pak Herman.
“Iya, Panji imut kayak ibunya,” jawab Bu Dewi dengan perasaan cemburu.
“Ih, ibunya mau ikut dompleng anaknya,” jawab Pak Herman sambil menyentuh dagu Bu Dewi dan melemparkan senyum renyahnya
Bu Dewi yang awalnya ingin menyindir suaminya dengan menyebut ‘Laras’ yang ia maksudkan sebagai ibunya Panji, malah menjadi merasa adem karena suaminya mengira Bu Dewi lah yang dimaksud ‘ibu’ oleh Pak Herman. Perasaan dianggap menjadi ibu itu benar-benar membuat hati perempuan itu adem, meskipun ia tahu bahwa Panji tidak lahir dari rahimnya sendiri. Bu Dewi membalas candaan suaminya dengan senyum mengembang. Ia urung cemburu kepada Laras. Pak Herman memang sosok lelaki yang baik yang sangat mengerti caranya membahagiakan seorang istri yang telah mensupport karir dan kehidupannya di rumah. Mungkinkah laki-laki seperti Pak Herman berselingkuh di belakang istrinya?
__ADS_1
“Mas, aku buatin teh hangat dulu, ya?” tanya Bu Dewi pada Pak Herman.
“Kamu nggak capek?” tanya balik Pak Herman.
“Enggak, Mas. Aku juga susah kalau langsung tidur lagi,” jawab Bu Dewi sambil berjalan meninggalkan kamar menuju dapur.
Entah kenapa malam ini Bu Dewi merasa enjoy saja berjalan sendirian ke dapur. Mungkin itu efek dari adanya Pak Herman di rumahnya. Setelah Bu Dewi sampai di dapur, ia langsung menyalakan kompor dan memanaskan air dengan menggunakan panci. Sementara itu Pak Herman sedang asyik memperhatikan Panji. Tentunya setelah ia mencuci tangannya dengan menggunakan cairan pembersih khusus karena ia tidak mau pulang ke rumah membawa virus penyakit untuk keluarganya.
Sambil menunggu airnya mendidih, Bu Dewi menyiapkan tehnya di dalam cangkir antik yang sudah belasan tahun ini ada di dapur mereka. Perempuan cantik itu pun menuangkan air panas ke dalam cangkir yang berisi teh kemasan yang berbentuk bandul. Sejak dulu ia tidak pernah beralih ke merek lain karena suaminya sangat suka dengan the yang sudah legend itu. Bu Dewi mengaduk tehnya supaya gulanya bercampur dengan merata. Bu Dew mencium aoma yang berbeda ketika ia hampir selesai menyeduh minuman itu.
“Bau apa ini?” tanya Bu Dewi pada dirinya sendiri.
Perempuan itu merasakan hal aneh saat itu karena ia tidak pernah mencium bau seprti itu di dalam rumahnya. Ia memang terkenal rapi dan bersih, jadi tidak mungkin ada bau aneh di dalam rumahnya. Perempuan itu mendengkus untuk mencari sumber bau yang cukup menyengat hidung itu. Namun, ia tidak menemukan benda mencurigakan seperti bangkai tikus dan sebagainya.
Setelah Bu Dewi mencari-cari tidak ketemu, akhirnya ia berpikir untuk mencarinya besok saja karena sudah malam. Dan ia pun bermaksud membawa teh panasnya yang sudah jadi ke ruang tamu agar diminum oleh suaminya. Namun, ia merasa ada seseorang berdiri di belakang perempuan itu. Ia pikir itu adalah suaminya yang sedang menyusulnya ke dapur.
“Tehnya sudah jadi, Mas! Ini, aku sedang mencari sesuatu yang-“ ucap Bu Dewi sambil menoleh ke belakang.
Dan betapa terkejutnya perempuan itu karena yang sedang berdiri di belakangnya bukanlah Pak Herman. Melainkan sesosok makhluk berpakaian putih dan berambut panjang dengan wajah sangat menyeramkan.
“Aaaaaaaaaaaaaaaa!!!!” teriak Bu Dewi dengan ketakutan.
BERSAMBUNG
__ADS_1