MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 111: MIMPI ANEH


__ADS_3

Bu Nisa berusaha mencari lagi pintu yag menghilang di belakangnya. Namun, usahanya sia-sia karena pintu itu sudah benar-benar lenyap begitu saja.


“Kenapa pintu tadi bisa menghilang begitu saja, ya?” tanya Bu Nisa pada dirinya sendiri.


Bu Nisa tidak menemukan jawaban yang ia cari. Ia pun teringat dengan boneka berbahan emas yang ia ambil dari ruangan sebelumnya. Ia pun merogoh sakunya untuk memastikan bahwa benda itu masih ada di sana. Dan ternyata benar. Boneka kecil yang terbuat dari emas itu masih tersimpan dengan baik di dalam sakunya sendiri.


“Hm, ternyata boneka emas ini masih ada di sakuku. Tempat apa ini sebenarnya? Kenapa aku bisa berada di tempat ini sendirian? Mana suami dan anakku” Bu Nisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Bu Nisa pun memusatkan pikirannya pada keadaan di sekitarnya saat ini. Dan ia dibuat terkejut oleh penglihatannya sendiri saat itu. Ia seperti berada di sebuah perkampungan yang ia kenal, meskipun wujud perkampungan itu jauh berbeda dengan yang pernah ia lihat.


“Bukankah ini dusun Delima? Kenapa aku tiba-tiba berada di sini? Loh, ini kan rumahnya Mbok Inah dan Laras? Kenapa aku tiba-tiba berada di sini?” ucap Bu Nisa pada dirinya sendiri.


Belum habis rasa penasaran Bu Nisa, tiba-tiba perempuan itu dikejutkan dengan kemunculan seorang perempuan dengan pakaian sederhana dan juga anak kecil perempuan yang sangat cantik. Bu Nisa memandangi wajah kedua orang itu dengan saksama dan Bu Nisa pun terkesiap karena ia baru sadar ada keanehan yang sedang ditampakkan kepadanya saat itu.


“Loh, wajah anak kecil itu kok mirip sekali dengan Laras? Dan perempuan itu mirip sekali dengan Mbok Inah. Iya … Dia memag Mbok Inah ibunya Laras. Loh, bukankah mereka berdua sudah meninggal? Kenapa mereka tiba-tiba ada di sini?” Bu Nisa makin bertanya-tanya didalam hatinya.


Karena Bu Nisa merasa aneh dengan pemandangan yang ia lihat, perempuan itu pun memilih untuk bersembunyi di balik pagar.


“Laras ….,” panggil Mbok Inah pada anak kecil itu.


“Iya, Bu!” jawab anak kecil itu.


“Kamu mau ke mana Nduk?” tanya Mbok Inah.


“Aku mau main ke rumah bude, Bu,” jawab anak kecil itu lagi.

__ADS_1


“Ini masih siang, Nak. Ntar kamu malah mengganggu budemu. Tunggu agak sorean saja!” balas Mbok Inah.


Meskipun agak kesal, akhirnya Laras pun menuruti ucapan ibunya. Ia pun mengurungkan niatnya pergi dari rumah dan menghampiri ibunya yang sedang menjahit baju seragamnya.


“Sini, Laras! Bantuin ibu melipat baju!” perintah Mbok Inah.


“Iya, Bu!” jawab Laras.


Laras pun membantu ibunya melipat baju jemuran sedangkan ibunya meneruskan menjahit baju seragam Laras yang robek.


“Laras, kamu kamu kalau sudah besar mau jadi apa?” tanya Mbok Inah.


“Hm … Aku ingin jadi desainer, Bu. Enak, bisa bikin-bikin baju yang aku suka,” jawab Laras.


“Insyaallah, Bu. Selepas SMP Laras mau lanjut ke SMK saja supaya sesuai dengan cita-cita Laras,” jawab Laras.


“Iya. Ibu setuju. Oh ya, kamu tunggu di sini dulu, ya, ibu mau mengurus sesuatu,” ucap Mbok Inah sambil masuk ke dalam rumahnya meninggalkan putrinya yang sedang melanjutkan aktifitasnya melipat baju jemuran.


Bu Nisa masih saja memperhatikan Laras dan ibunya yang sedang melipat baju dari tempat persembunyiannya. Ia masih bertarung dengan pikirannya sendiri.


“Kenapa aku bisa berada di tempat ini, ya? Apa aku sedang bermimpi? Tidak ah, semuanya terlihat nyata sekali. Tidak mungkin aku sedang bermimpi sekarang. Tapi, kok bisa Laras dan ibunya masih segar bugar. Bukankah mereka berdua sudah meninggal?”


Baru saja perempuan itu memikirkan hal itu, tiba-tiba saja ia mengendus bau bunga kenanga yang cukup menyengat di hidungnya. Perempuan itu tidak tahu menahu dari mana asal wewangian itu. Matanya masih fokus pada Laras kecil yang sedang melipat baju di teras dengan rajinnya. Namun, perempuan itu dibuat terkejut tatkala ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Bu Nisa pun menoleh ke belakang dan ia pun menjadi tergagap.


“Mbok Inah?” pekik Bu Nisa dengan suara tercekat di tenggorokannya.

__ADS_1


Mbok Inah tidak menyahut. Ia hanya diam sambil melotot ke arah Bu Nisa. Ketakutan yang dirasakan Bu Nisa tidak berhenti sampai di situ saja. Soso Mbok Inah secara perlahan menjelma menjadi sesosok pocong yang sangat menyeramkan.


“Po-po-pocoooooong!!!!” teriak Bu Nisa sambil berlari menjauhi pocong itu.


Bu Nisa berlari menjauhi pocong dan mendekat ke arah Laras yang sedang melipat baju.


“Laras!!!! Tolong aku!” teriak Bu Nisa sambil menepuk pundak Laras kecil dan menoleh ke arah pocong Mbok Inah.


Laras kecil tidak menyahut. Sosok kecil itu tetap fokus melipat baju yang ada di depannya. Bu Nisa pun tetap saja menepuk-nepuk pundak Laras kecil berharap ia dapat dibantu. Namun, sial tak dapat ditolah dan untungtak dapat diraih. Pada tepukan ketiga, Bu Nisa merasa pundak Laras berubah teksturnya. Karena penasaran, istri Pak Ade itu pun menoleh kepada Laras kecil yang sedang melipat baju.


“Laras???” ucap Bu Nisa dengan rasa ketakutan karena sosok Laras kecil juga mejelma menjadi sesosok pocong yang sekarang mendongakkan mukanya yang menyeramkan ke arah perempuan itu.


“Po-pocooooooooong!!!!” Kembali Bu Nisa berteriak histeris dan berusaha lari menjauhi pocong Laras kecil.


Sayangnya, usaha Bu Nisa untuk lari dari pocong kecil Laras tidak membuahkan hasil. Tangan kanan Bu Nisa tiba-tiba dipegangi oleh tangan pocong kecil itu. Bu Nisa bingung karena setahu dia pocong itu lengannya bersedekap dan tidak bisa keluar. Tapi, kenyataannya tangan pocong kecil itu mampu menahannya dan lebih sialnya lagi secara perlahan tangan pocong kecil itu membesar. Ketika Bu Nisa memindahkan perhatiannya dari tangan itu ke wajahnya, Bu Nisa semakin histeris ketakutan karena yang berada di depannya saat ini bukanlah pocong Laras kecil, melainkan sosok arwah Lara dewasa dengan pakaian putih dan wujud yang sangat menyeramkan.


“La-Laraaaaaaaaaaas!!!!” pekik  Bu Nisa dengan jeritan yang sangat kuat.


“Hi hi hi hi hi ..,” tawa arwah Laras cekikikan karena senang melihat Bu Nisa yang ketakutan seperti itu.


Bu Nisa pun berlari menjauh dari arwah Laras dan juga dari pocong Mbok Inah. Bu Nisa tidak peduli lagi ke mana ia akan berlari saat itu karena yang paling penting baginya adalah lepas dari kedua sosok menyeramkan yang baru saja ia temui.


Setelah berlari dengan cukup jauh, akhirnya Bu Nisa pun melihat ada semacam pintu menuju dimensi yang lain. Bu Nisa takut untuk masuk ke dalam pintu itu, tapi ketika ia menoleh ke belakang, pocong Mbok Inah dan arwah Laras sudah semakin dekat dengan perempuan itu. Bu Nisa pun membulatkan tekad untuk melompat ke pintu antar dimensi di depannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2