MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 131 : USAHA PENYELAMATAN


__ADS_3

Bu Dewi benar-benar terkejut mendengar pengakuan Cintia. Ia tidak menyangka bahwa Pak Ade juga adalah orang yang telah berbuat jahat kepada Laras. Ia pikir Pak Ade hanya menggunakan cara-cara kotor dan Narkoba untuk kesuksesan bisnisnya. Ternyata dugaannya keliru. Pak Ade juga berbuat jahat kepada Laras yaitu menggunakan tubuh Laras untuk memuluskan usahanya.


“Biadab kamu, Ade!” pekik Bu Dewi dengan sangat keras karena emosinya.


“Bu Dewi nggak apa-apa?” tanya Cintia dari seberang telepon.


“Tidak, Dik. Saya hanya syok saja. Karena pria terpandang seperti Pak Ade ternyata tega melakukan hal biadab itu.


“Iya, Bu. Tenang kami akan mengumpulkan barang bukti agar Pak Ade bisa dipenjara,” jawab Cintia.


“Iya, Dik Cintia. Tolong perjuangkan keadilan untuk Laras agar ia bisa berisirahat dengan tenang,” jawab Bu Dewi.


“Iya, Bu Dewi.,” jawab Cintia kalem.


“Ya Tuhan, tolong buruan selamatkan Pak Ade, Dik Cintia sebelum arwah Laras membunuhnya. Saya tidak mau arwah keponakan saya melakukan hal buruk seperti yang dilakukan oleh Pak Ade kepadanya. Biarlah hukum negara ini saja yang menjeratnya!” pinta Bu Dewi kepada Dik Cintia.


“Apa Bu Dewi yakin Laras yang membunuh Pak Hartono dan Pak Dimas?” tanya Cintia memastikan perkataan Bu Dewi.


“Saya berani sumpah, Bu. Laras sendiri yang mengatakan kepada saya. Bahkan ketika ia membunuh Pak Dimas, Laras menunjukkan aksinya melalui Ponsel saya. Cuma saya tidak sempat merekamnya. Tapi, Saya berkata sejujurnya Dik Cintia. Tidak ada gunanya bagi saya berbohong kepada Dik Cintia. Saya sudah percaya sepenuhnya kepada Dik Cintia dan Dik Herman. Bukankah kalian sudah bertemu sendiri dengan arwah Laras? Kalian berdua bisa bersentuhan dengan arwah Laras, kan? Bukan tidak mungkin arwah keponakan saya itu juga membunuh dua orang yang telah berbuat jahat terhadapnya selama hidup. Tolong, Dik Cinta … Dik Herman … Selamatkan nyawa Pak Ade! Saya tidak tahu caranya menyelamatkan mereka berdua. Saya minta tolong kepada Dik Cintia dan Dik Herman untuk mencegah pembunuhan oleh arwah Laras terhadap Pak Ade. Kasihan anak istrinya yang tidak bersalah kalau Pak Ade nanti dibunuh oleh arwah Laras!” ujar Bu Dewi dengan berderai air mata.


Herman yang mendengar perkataan Bu Dewi itu pun akhirnya menjadi percaya dengan adanya hantu yang dapat membunuh seseorang.


Herman pun menggantikan posisi Cintia untuk berbicara  dengan Bu Dewi.


“Bu Dewi. Ini saya Herman. Iya, Bu. Kami berdua akan membantu untuk mencegah pembunuhan terhadap Pak Ade. Tolong doakan kami ya, Bu! Dan tolong Ponsel Bu Dewi jangan dimatikan karena sewaktu-waktu kami mungkin membutuhkan informasi dari Bu Dewi,” ujar Herman dengan perasaan sedih.


“Iya, Dik Herman. Saya tidak akan mematikan Ponsel saya. Saya sangat berterima kasih kepada Dik Herman dan Dik Cintia atas semua bantuannya. Tolong berhati-hatilah selama menjalankan tugas. Saya tidak mau terjadi hal yang buruk menimpa kalian berdua,” jawab Bu Dewi.


“Iya, Bu Dewi. Selalu doakan kami. Insyaallah kami akan menjaga diri baik-baik. Bu Dewi juga berhati-hati di rumah,” jawab Herman dengan perasaan sedih.


“Iya, Dik Herman,” sahut Bu Dewi.


“Kami pamit dulu, Bu Dewi. Assalamualaikum …,” sapa Herman sebagai penutup sambungan telepon.


“Waalaikumsalam Wr Wb …,” jawab salam Bu Dewi.


Bu Dew langsung tertunduk lesu di kamarnya sambil menatap Panji yang sedang bermain di atas kasur.


Sementara itu Cintia dan Herman langsung panik begitu mendengar informasi ancaman pembunuhan terhadap Pak Ade oleh arwah Laras.


“Cin, ayo kita segera ke rumah sakit untuk menjaga Pak Ade dari serangan arwah Nona Larasati!” uca Herman.


“Ayo, Her! Jangan sampai kita terlambat. Selain sebagai pelaku kejahatan terhadap Laras, Pak Ade juga termasuk dalam saksi kunci dalam peredaran Narkoba di kota ini,” jawab Herman dengan tegas.


“Ayo, kita berangkat sekarang!” ajak Cintia sambil bergegas keluar dari ruangannya menuju parkiran.


Herman berjalan dengan sedikit berlari agar ia buru-buru sampai di parkiran. Akhirnya kedua orang polisi muda itu sudah berada di dalam mobil dan bersiap menuju rumah sakit daerah tempat Pak Ade menjalani perawatan.


Herman mengendarai moblnya dengan kecepatan penuh karena ia tidak mau terlambat sampai di rumah sakit tersebut. Cintia juga tidak banyak mengajak Herman untuk mengobrol karena tidak ingin mengganggu konsentrasi pria itu.


Ia hanya berucap, “ Bu Dewi itu orang baik ya, Her. Buktinya dia tidak mengiginkan kematian Pak Ade padahal Pak Ade sudah berbuat jahat kepada Nona Larasati.”


“Iya, Cin. Mungkin Bu Dewi tidak ingin arwah Nona Larasati melakukan kejahatan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang itu,” jawab Herman.


“Iya, Bu Dewi tadi berkali-kali bilang seperti itu,” jawab Cintia.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya mobil yang mereka naiki sudah sampai di rumah sakit daerah. Tempat di mana beberapa hari kemarin mereka berdua tanpa sengaja bertemu dengan Pak Ade dan keluarganya. Mereka berdua sempat bersandiwara sebagai pasangan suami istri di depan Pak Ade.


Herman pun buru-buru memarkir kendaraannya di parkiran yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit daerah setempat. Setelah itu mereka berdua pun langsung turun dari dalam mobil dan berjalan menuju ruangan VIP di mana mereka berdua sempat bertemu dengan laki-laki itu.


Tidak butuh waktu lama bagi Herman dan Cintia untuk sampai di kamar yang ditempati Pak Ade waktu itu. Mereka pun langsung mengetuk pintu dan ada seseorang yang membukakan pintu untuk mereka. Namun, ternyata orang tersebut bukanlah Bu Nisa atau pun anaknya.


“Cari siapa, ya” tanya orang itu.


“Maaf, apa benar ini kamar Pak Ade warga dusun Delima?” tanya Herman dengan sopan.


“Oh, maaf. Kami tidak mengenal orang yang barusan Bapak bilang. Kami baru masuk ke sini tadi pagi,” jawab orang tersebut.


“Oh, maaf kalau begitu,” jawab Herman sambil menarik diri dari kamar tersebut.


“Apa kita salah kamar, Cin?” tanya Herman pada rekannya.


“Hm … Menurutku tidak, Her. Kamarnya sudah benar, tapi mungkin Pak Ade sudah pulang,” jawab Cintia.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kita tanyakan kepada perawat yang bertugas mengawasi ruangan VIP ini?” tanya Herman.


“Ide yang bagus. Ayo!” jawab Cintia.


Mereka berdua pun berjalan menuju ruangan perawat dan ternyata di sana ada seorang suster dengan name tag bertuliskan Suster Marissa.


“Selamat siang, Suster!” sapa Herman pada Suster Marissa.


“Selamat siang. Ada apa, ya?” tanya Suster Marissa.


“Kami mau menanyakan pasien bernama Pak Ade yang beberapa hari yang lalu dirawat di kamar sana kok sudah nggak ada, ya?” tanya Herman pada Suster Senior itu.


“Oh, Pak Ade suaminya Bu Nisa warga dusun Delima yang dirawat karena luka di bagian kepala, ya?” tanya Suster Marisa.


“Iya, benar, Sus. Di mana Pak Ade sekarang? Apa sudah dipindahkan ke kamar yang lain?” tanya Herman.


Suster Marissa tampak menyungging senyuman. Kemudian ia pun berkata.


“Pak Ade sudah pulang kemarin siang,” jawab Suster Marisa singkat.


“Loh, tapi tadi pagi saya susul ke dusun Delima katanya beliau belum pulang,” jawab Herman.


“Sudah pulang kemarin sore, Pak. Saya sendiri kok yang membantu Pak Ade. Pak Ade nai taksi di depan,” jawab Suster Marisa dengan ramah.


“Waduh, kok bisa nggak ada di rumahnya, ya? Apa Pak Ade pulang ke tempat lain, ya?” tanya Herman.


“Kalau masalah itu saya kurang paham, Pak. Atau Bapak saya kasih nomor Ponsel Pak Ade dan istrinya?” tawar Suster Marisa.


“Kalau ada mana, Sus? Soalnya kami butuh sekali dengan Pak Ade,” jawab Herman.


Suster Marisa pun mengambil sebuah buku catatan yang berisi data orang-orang yang pernah dirawat di kamar VIP itu.


Setelah membuka halaman terakhir buku tersebut, Suster Marisa pun memberitahukan nomor Ponsel Pak Ade dan istrinya kepada Herman.


“Terima asih, Suster!” jawab Herman.


Herman pun langsung mencoba menghubungi kedua nomor Ponsel tersebut dan ternyata keduanya sama-sama di luar jangkauan.


“Sus, apa Suster masih ingat dengan sopir taksi yang membawa Pak Ade dan istrinya?” tanya Cintia pada Suster Marisa.


“Oh iya saya ingat. Soalnya sopirnya meman sering mangkal di depan rumah saki ini. Ciri-Cirinya orangnya agak kurus dan ia menggunaka kacamata. Umurnya sekitar empat puluh limaan,” jawab Suster Marisa pada Cintia.


“Hm … Apa Suster Marisa tidak keberatan kalau diminta mengantar kami ke depan untuk bertemu dengan sopir taksi itu?” tanya Cintia.


“Boleh! Tapi, tunggu teman saya ada yang datang, ya? Takutnya ada pasien yang membutuhkan bantuan saya,” jawab Suster Marisa.


“Baik, Sus!” jawab Suster Marisa.


Akhirnya Herman dan Cintia pun menunggu kedatangan salah satu perawat yang akan menggantikan tugas Suster Marisa berjaga di ruangan itu. Setelah menunggu sekitar lima belas menit akhirnya ada juga perawat yang masuk ke ruangan tersebut.


“Din, kamu jaga di sini sebentar, ya? Aku mau mengantar kedua polisi ini ketemu sopir taksi di depan,” pinta Suster Marisa pada temannya.


“Oke!” jawab perawat itu.


“Ayo, Pak … Bu ….,” ajak Suster Marisa pada kedua polisi itu.


Mereka bertiga pun berangkat menuju bagian depan rumah sakit untuk mencari sopir taksi yang kemarin siang membawa Pak Ade pulang. Setelah tolah-tole selama beberapa menit, akhirnya Suster Marissa menemukan sopir taksi yang sedang mereka cari.


“Nah, itu dia!” teriak Suster Marissa sambil menunjuk kepada seorang laki-laki yang sedang bermain catur dengan temannya.


“Alhamdulillah,” pekik Cintia.


Suster Marissa pun mengajak kedua polisi itu untuk mendatangi sopir taksi itu. Setelah sampai di depan sopir taksi itu, Suster Marisa menyapa duluan.


“Pak, sampean kan yang mengantar pasien yang kepalanya diperban kemarin siang?” tanya Suster Marissa pada lelaki itu.


“Yang sama istrinya dan anak laki-laki itu?” tanya balik pria itu.


“Iya, benar! Kenapa Suster? Apa pasiennya minta dijemput lagi ke sini?” tanya sopir taksi tersebut.


“Bukan. Kedua polisi ini minta diantar ke sana. Apa sampean masih ingat tempatnya?” tanya Suster Marissa.


“Bisa … Tapi saya lihat tadi pak polisi ini bawa mobil sendiri?” tanya Pak Sopir.

__ADS_1


“O, nggak apa-apa, Pak. Nanti teman saya ini yang naik taksinya. Biar saya mengikuti di belakang,” jawab Herman.


“Okelah kalau begitu,” jawab Pak Sopir dengan antusias.


“Terima kasih, Pak!” jawab Cintia.


“Nah, saya balik lagi ke dalam, ya?” tanya Suster Marissa.


“Iya, Sus. Terima kasih banyak atas bantuan Suster, ya?” jawab Herman.


“Sama-Sama,” jawab Suster Marissa sambil berlalu pergi menuju ke dalam rumah sakit.


“Berangkat sekarang ya, Pak!” ajak Cintia.


“Monggo! Sahut sopir tersebut.


Akhirnya mereka bertiga pun memulai perjalanan menuju ke tempat Pak Ade. Cintia naik di mobil taks sedangkan Herman mengikuti dari belakang. Sayangnya ketika mereka berada di perjalanan. Tiba-Tiba ban mobil taksi tersebut kempes seketika.


“Duh, bannya kempes, Bu Polisi. Mana saya nggak ada ban serep,” ujar Pak Sopir.


“Waduh, terus gimana, Pak?” tanya Herman yang berhenti tepat di belakang mobil taksi tersebut.


“Biar saya telepon atasan saya dulu, ya! Ban serepnya ada di mobi satunya biar diantar oleh Bos saya ke sini,” jawab Pak Sopir.


“Baiklah!” jawab Cintia dan Herman.


Secara kebetulan tempat berhentinya mobil mereka dekat dengan musala. Mereka pun memutuskan untuk salat Asar di musala itu. Ketika mereka sudah selesai salat Asar ternyat bos sopir taksi belum datang.


“Duh, gimana ini, Pak, kok belum datang-datang ya, bannya?” tanya Cintia.


“Tadi katanya suda di jalan, Bu Polisi. Sabar dulu ya, Bu?” rayu Pak Sopir.


“Iya, Pak. Tapi, ini sudah jam empat lebih. Saya khawatir nanti kita sampai malam di tempat Pak Ade,” jawab Cintia.


“Semoga bos saya segera datang, Bu Polisi,” jawab Pak Sopir.


Setelah menunggu setengah jam kemudian, akhirnya bosnya datang dengan membawa ban serep. Bosnya sempat memarahi Pak Sopir taksi karena kecerobohannya tidak membawa ban serep.Hanya butuh waktu beberapa menit bag sopir taksi itu untuk mengganti bannya. Akhirnya tepat pukul setengah lima sore, bannya sudah selesai diganti dan mereka bisa kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat Pak Ade.


“Masih jauh, Pak?” tanya Cintia pada sopir taksi tersebut.


“Sebentar lagi, Bu Polisi. Tempatnya memang agak terpelosok,” jawab sopir taksi.


“Ya sudah. Kalau bisa buruan, Pak. Karena sebentar lagi sudah magrib ini,” ujar Cintia.


“Iya, Bu Polisi. Saya mohon maf ya karena atas kecerobohan saya sehingga menghambat perjalanan Bu Polisi dan Pak Polisi,” ucap Pak Sopir taksi.


“Tidak apa-apa, Pak. Namanya juga apes. Tidak ada yang tahu,“ jawab Cintia dengan sopan.


“Nah, itu dia desanya, Bu Polisi. Sebentar lagi kita akan sampai. Saya akan antar Bu Polisi dan Pak Polisi tepat di depan rumah orang yang kemarin,” ujar sopir taksi itu dengan sopan.


“Wah, terima kasih banyak ya, Pak, atas bantuannya. Kalau tidak ada Bapak mungkin kami tidak akan bertemu dengan teman saya itu,” jawab Cintia.


“Sama-Sama. Bu. Saya juga berterima kasih atas kepercayaan Bu Polisi dan Pak Polisi naik taksi saya,” jawab pak sopir.


Setelah masuk ke desa tersebut selama beberapa menit, akhirnya mereka pun sampai di depan sebuah mesjid kuno yang lama tidak dipakai. Pak sopir pun menghentikan kendaraannya tepat di depan rumah Jatmiko.


“Itu rumahnya, Bu Polisi. Kemarin saya mengantarnya sampai di sana,” ujar pak sopi taksi.


“Wah, terima kasih, Pak. Bapak silakan balik lagi saja supaya tidak kemalaman di jalan. Ini ongkosnya,” jawab Cintia.


“Waduh kebanyakan, Bu Polisi. Apa ada uang pas?” tanya sopir taksi.


“Ambil saja kembaliannya!” jawab Cintia.


“Terima kasih banyak, Bu Polisi. Saya pamit dulu, ya?” ujar sopir taksi setelah Cintia turun dari mobil.


“Iya, Pak. Hat-Hati!” jawab Cintia.


Sopir taksi pun pergi dari desa tersebut. Herman turun dari dalam mobil setelah parkir di dekat masjid. Kedua orang itu merasa ada yang tidak beres dengan desa itu. Masjidnya sepi seolah tidak pernah digunakan. Perasaan mereka berdua menjadi tidak enak seketika.


BERSAMBUNG


Ayo ditunggu partisipasinya daam kuis novel KAMPUNG HANTU, ya.

__ADS_1


__ADS_2