
Nenek Galuh mengajak Bu Nisa dan Revan menuju ke kamarnya. Bu Nisa dan Revan harus melewati ruang pembatas yang agak gelap, tapi kali ini mereka merasa lebih tenang karena sudah mengenal baik ibunya Jatmiko tersebut.
“Ayo, buruan kalian masuk ke dalam kamar. Terlalu berbahaya bagi kalian kalau jauh-jauh dari aku dan Jatmiko. Pertahanan kalian terlalu lemah sehingga mudah diperdaya oleh arwah perempuan itu untuk keluar rumah ini,” ucap Nenek Galuh.
“Iya, Bu. Mohon mafkan keteledoran kami tadi,” jawab Bu Nisa sambil mengikuti Nenek Galuh masuk ke dalam kamar pribadi Nenek Galuh.
“Sudahlah, lupakan saja! Di kamar ini niscaya kalian akan aman dari godaan arwah perempuan sialan itu. Aku sudah memagari kamar ini khusus jadi tidak bisa dipengaruhi oleh setan manapun,” jawab Nenek Galuh sedikit jumawa.
Mendengar ucapan Nenek Galuh itu membuat hati Bu Nisa merasa lega setidaknya ia dan keluarganya akan aman untuk malam ini.
“Terima kasih banyak, Bu, atas pertolongannya. Kalau tidak ada Ibu dan Mas Jatmiko, entahlah kita akan meminta tolong kepada siapa lagi,” jawab Bu Nisa dengan sangat sopan.
“Sudahlah, sebaiknya kalian berdua segera tidur saja! Besokmasih banyak yang harus kalian kerjakan,” jawab Nenek Galuh sambil menata permukaan tempat tidur yang sedikit acak-acakan karena ia pakai sebelumnya.
“Sudah, Bu. Biar saya sendiri yang merapikannya,” ucap Bu Nisa merasa tidak enak.
Bu Nisa pun dibiarkan oleh Nenek Galuh merapikan tempat tidur itu. Selanjutnya Bu Nisa pun menunggu instruksi Nenek Galuh tentang posisi tidur iadan anaknya karena ia tidak enak kepada ibunya Jatmiko tersebut.
__ADS_1
“Ayo, kamu tidur di sebelah sana, Nisa! Reva biar di tengah dan aku di pinggir,” ucap Nenek Galuh sambil menunjuk ke arah kasur.
“Iya, Bu,” jawab Bu Nisa sambil naik ke atas kasur berukuran 180 x 200 cm itu.
“Sini, Revan! Kamu naik ke kasur!” ucap Bu Nisa lagi sambil memberi kode kepada anaknya dengan menggunakan tangannya.
Revan pun naik ke atas kasur sesuai perintah ibunya disusul oleh Nenek Galuh yang juga naik ke atas kasur paling akhir. Mereka bertiga akhirnya sama-sama berada di atas kasur dan berbaring dengan posisi kepala berada di sebelah utara.
“Kamarnya enak sekali, Bu!” ucap Bu Nisa berbasa-basi sebelum tidur.
“Ya, ini adalah kamar yang sudah lama saya tempati semenjak menikah dan sampai suam saya meninggal,”jawab Nenek Galuh dengan mata sendu sepertinya ia sedang mengenang kebersamaan dengan suaminya yang sudah meninggal.
“Ya begitulah. Suamimu itu sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Dia lebih sering menginap di sini daripada tidur di rumahnya sendiri. Maklum, dia kan sangat dekat dengan Jatmiko. Mereka berdua itu waktu kecil sangat nakal,” jawab Nenek Galuh sambil menoleh ke Bu Nisa.
“Hm … Begitu ya, Bu? Oh ya … Katanya Mas Ade waktu kecil itu pandai mengaji, ya?” tanya Bu Nisa lagi.
“Ya, Ade dan Jatmiko itu diajari almarhum suami saya. Yah, saya tidak bisa melarang mereka berdua untuk belajar mengaji meskipun menurut saya itu tidak ada gunanya. Buktinya, sampai sekarang mereka sehat wal afiat, kan? Yah, waktu itu saya tidak mungkin melawan keinginan almarhum suami saya. Saya terlalu sayang sama dia,” tutur ibunya Jatmiko panjang lebar.
__ADS_1
Bu Nisa sebenarnya sedikit tersentak mendengar omongan ibunya Jatmiko itu, tapi mau gimana lagi, ibunya Jatmiko memang berbeda seratus delapan puluh derajat dari suaminya. Lagipula dia sendiri dan Pak Ade juga bukan orang yang taat dalam beribadah. Tapi, Revan juga ia ikutkan mengaji di TPA yang dikelola oleh Ustad Andi.
“Sudah tidur pulas Revan, Bu. Kasihan dia. Sepertinya dia sangat kecapekan,” ujar Bu Nisa kemudian.
“Iya, Nisa. Sebaiknya kita segera tidur juga menyusul Revan supaya besok pagi kita bisa bangun dalam keadaan segar bugar,” ujar Nenek Galuh.
“Iya, Bu,” jawab Bu Nisa sambil mengamati wajah perempuan tua yang tidur miring menghadapnya itu.
Nenek Galuh pun mulai memejamkan matanya untuk melanjutkan merajut mimpi yang sempat tertunda akibat terganggu oleh pertarungan anaknya melawan arwah Laras yang berbentuk ular raksasa itu. Bu Nisa menatap dalam-dalam wajah tua perempuan ang rambutnya sudah didominasi warna putih itu.
Bu Nisa tidak langsung tidur. Pikirannya masih membayangkan masa kecil suaminya yang tinggal di desa tersebut. Ia pandangi wajah keriput Nenek Galuh sambil membayangkan bagaimana perempuan tua itu hidup bersama suaminya padahal mereka berdua memiliki keyakinan yang berbeda. Yang satu masih menjalankan hidup beragama sedangkan perempuan di depannya lebih ke mendalami dunia perdukunan.
“Tapi, bagaimana pun ibunya Jatmiko ini sudah sangat baik terhadapku dan juga keluargaku. Tidak ada orang yang bisa menyelamatkanku dari serangan dan ancaman pembunuhan arwahnya Laras selain ibunya Jatmiko yang kali ini sedang terlelap di dalam tidurnya. Iya, aku harus banyak berterima kasih kepada perempuan tua ini dan juga Mas Jatmiko. Hm … Sepertinya aku juga sudah mulai mengantuk. Sebaiknya aku segera menyusul tidur agar aku besok bisa bangun pagi dan melaksanakan tugas yang sdah dijelaskan oleh ibunya Jatmiko tadi sewaktu makan malam. Hm … kok di kamar ini suasananya lebih tenang, ya? Sepertinya benar kata ibunya Jatmiko barusan bahwa kamarnya sudah dipagari khusus sehingga arwah Laras tidak dapat menjangkau ke dalam ruangan ini. Semoga Mas Ade di kamar Mas Jatmiko juga merasa tenang dan aman sepertiku,” ucap Bu Nisa pada dirinya sendiri.
Tak butuh waktu lama bagi perempuan itu untuk terlelap dalam tidurnya. Fisiknya yang sudah super capek membuat ia langsung terlelap beberapa detik setelah matanya dipejamkan. Sementara itu di kamar Jatmiko, kedua pria itu sudah terlelap terlebih dahulu sebelum Nenek Galuh tertidur karena mereka juga sudah sangat mengantuk. Ketenanga tidur mereka berdua tak luput dari mantera-mantera yang dibaca oleh Jatmiko sebelum tidur untuk memagari kamarnya agar arwah Laras tidak mampu menjangkau ke dalam kamar tersebut. Dan benar saja, jangankan penglihatan, suara arwah Laras pun tidak mampu menembus kamar Jatmiko padahal saat itu arwah laras sedang seliwar-seliwer di sekeliling rumah tersebut utuk memperdayai keluarga Pak Ade agar bisa keluar rumah pada malam hari itu. Sayangnya, arwah Laras harus gigit jari karena keluarga Pak Ade sudah tidak tidur di kamar depan sehngga mereka ertiga dilindungi oleh mantera sakti yang dirapal oleh Nenek Galuh dan juga oleh Jatmiko.
Mereka berlima tidur dengan nyenyak malam hari itu dan mereka baru bangun keesokan harinya saat ayam berkokok di desa tersebut.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Ditunggu partisipasi Pembaca untuk ikutan kuis novel KAMPUNG HANTU.Berikan like dan komentar di setiap bab novel tesebut mulai dari BAB 1 sd EXTRA PART 4. Dapatkanhadiah pulsa 20 ribu untuk 3 orang pemenang. Lima menit selesai kok kalau cuma memberi like dan menulis komentar singkat.