MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 110: PENYELAMATAN


__ADS_3

Jatmiko senang sekali mendengar Revan sudah menyuruhnya menyelamatkan Pak Ade dan Bu Nisa. Jatmiko pun tersenyum pada anak kecil di depannya itu.


“Pinter kamu, Nak! Kamu di sini dulu! Ingat pesan Om Jatmiko, ya? Kamu jangan hiraukan apapun yang mengganggu kamu nanti. Kamu aman di sini!” ucap Jatmiko sambil mengelus rambut anaknya Pak Ade itu.


Revan membalas senyuman pemuda matang di depannya. Ia pun menjawab, “Iya, Om. Aku akan mengingat dan menjalankan pesan-pesan, Om. Tolong selamatkan bapak dan ibu, ya?”


Jatmiko pun menjawab, “Oke. Om janji akan menyelamatkan mereka berdua dari hantu perempuan itu. Om berangkat sekarang, ya?”


“Iya, Om!” jawab Revan sambil melepas kepergian Jatmiko dari kamarnya.


Jatmiko berat hati sebenarnya meninggalkan anak kecil itu sendirian di kamar, tapi ia tidak punya pilihan lagi. Ia harus tega melakukan hal itu karena ia tidak punya waktu lebih lama lagi untuk menyelamatkan sahabatnya dan juga istrinya.


Pada saat Jatmiko baru saja meninggalkan kamar yang dihuni Revan, ia sudah bermaksud untuk berlari ke kamar ibunya untuk membangunkan ibunya yang sedang tertidur. Namun, tiba-tiba ia mendengar teriakan dari arah timur rumahnya dan Jatmiko pun urung berlari ke kamar ibunya. Ia buru-buru keluar dari rumahnya untuk menolong Pak Ade dan Bu Nisa.


“Aaaaaaaaaa!!!!” suara teriakan Pak Ade yang sedang terkejut karena kemunculan arwah Laras yang tiba-tiba muncul di depannya yang sedang berusaha merangkak menuju tempat istrinya tidak sadarkan diri.


“Hi hi hi hi hi …,” suara cekikikan arwah Laras memekakkan telinga Pak Ade yang sedang berfokus untuk menyelamatkan istrinya.


“Pergi kamu, Laras!” teriak Pak Ade dengan suara parau.


“Hi hi hi hi hi … Aku akan pergi kalau kamu sudah mati, Ade!” jawab arwah Laras dengan sangat keras.


“Lepaskan anak dan istriku! Mereka tidak ada hubungannya denganku,” balas Pak Ade dengan suara lirih sambil tetap merangkak dan memalingkan muka dari arwah perempuan itu.


“Kenapa kamu takut, Ade? Sepertinya dengan membunuh mereka akan membuatmu lebih menderita. Hi hi hi hi hi …,” balas arwah Laras dengan nada meledek.


“Ti-daaaaaak!! Jangan kau sentuh anak dan istriku!” teriak Pak Ade dengan suara tercekat di tenggorokan.

__ADS_1


“Kamu tidak berhak mengaturku, Ade! Posisimu sekarang harus menurut saja apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang jelas aku pastikan kamu akan mati dengan tersiksa,” teriak arwah Laras lagi.


Pak Ade masih berusaha untuk  merangkak mendekati istrinya. Arwah Laras pun tidak membiarkan pria itu mendekati istrinya. Memang arwah Laras tidak dapat menyentuh secara fisik tubuh Pak Ade maupun Bu Nisa, tapi arwah perempuan itu tidak kehabisan akal untuk menakut-nakuti Pak Ade. Tak ayal pria itu harus berjibaku dengan rasa takutnya untuk dapat mendekati tubuh istrinya yang masih tetap tidak sadarkan diri.


Sementara itu Bu Nisa yang sedang pingsan ternyata ruhnya sedang berada di dimensi rekaan arwah Laras. Bu Nisa seolah-olah sedang berada di sebuah kastil tua yang terlihat menyeramkan.


“Haloooo ada orang di dalam?” teriak Bu Nisa begitu ia berada di depan pintu kastil itu.


Tiba-Tiba angin berembus dengan kencang. Hujan turun dengan derasnya di luar kastil tua itu. Bu Nisa pun tak punya pilihan lain selain masuk ke dalam kastil tua itu.


Braaaak!


Suara dorongan kaki Bu Nisa pada pintu kastil tua itu. Bu Nisa pun masuk ke dalam kastil tua itu dan ia terkejut setelah melihat pemandangan di dalam kastil tua itu. Ternyata di dalam kastil tua itu cahayanya sangat terang sehingga menampakkan kilauan-kilauan dari tiang-tiang kastil tua yang terlihat mengkilap seperti emas.


“Wow, ternyata bangunan di dalamnya sangat mewah dan luas!” sorak Bu Nisa dengan perasaan takjub.


Dari kejauhan ia melihat sebuah singgasana yang sangat mewah. Karena penasaran ia pun mendekati singgasana yang mengkilap kekuningan itu. Pantulan cahaya lampu membuat singgasana itu menjadi sangat indah dan mewah.


“Halooooo!!!” teriak Bu Nisa lagi berusaha memastikan apakah di dalam kastil tersebut terdapat penghuninya.


Sampai serak suara Bu Nisa memanggil, tapi tak kunjung juga ada sahutan.


“Tunggu, logam-logam yang aku lihat ini apakah emas asli?” tanya Bu Nisa pada dirinya sendiri.


Bu Nisa pun berusaha menyentuh pegangan tangan singgasana yang sedang berada di depannya.


“Loh, apakah ini emas asli? Sulit sekali membedakan antara emas asli dan palsu,” racau Pak Ade pada dirinya sendiri.

__ADS_1


“Loh, iya. Ini emas asli. Punya siapakah kastil tua ini? Kalau sampai ada orang tahu tentang tempat ini, pasti mereka akan berbondong-bondong untuk menjarah emas yang ada di sini,” pikir Bu Nisa.


“Hallllooooo permisiiiiii!!!” teriak Bu Nisa lagi dengan lebih keras agar suaranya terdengar oleh penghuni kastil tua itu.


Hening … Tidak ada suara jawaban.


Bu Nisa mengamati kembali emas di depannya sambil meraba-raba permukaan pegangan singgasana itu. Dan akhirnya ia menemukan sebuah bentuk seperti boneka. Bu Nisa memeganginya dan ternyata boneka kecil itu bisa diputar. Bu Nisa pun secara perlahan memutar boneka emas itu sehingga terlepas dari pegangan singgasana.


“Wah, indah sekali boneka emas ini! Aku akan membawanya,” ucap Bu Nisa pada diri sendiri.


Pada saat ia memasukkan boneka emas itu ke dalam sakunya, tiba-tiba Bu Nisa mendengar suara pintu dibuka.


Krieeeeeet …


Bu Nisa pun menoleh ke arah sumber suara itu. Dan pandangannya tertumbuk pada pintu di sebelah timur yang sedang terbuka lebar.


“Loh, kenapa pintu itu terbuka?” pekik Bu Nisa pada dirinya sendiri.


Rasa penasaran menghinggapi hati Bu Nisa begitu melihat sebuah pintu terbuka di ruangan itu. Bu Nisa pun mengedarkan pandangan ke sekelilng ruangan itu. Ternyata memang tidak ada pintu lain di ruangan tersebut. Selanjutnya Bu Nisa pun secara perlahan mendekati pintu yang sedang terbuka itu. Setelah melangkah sejauh kurang lebih sepuluh meter, sampailah Bu Nisa tepat di depan pintu yang sedang terbuka. Bu Nisa berusaha mengintip pemandangan di dalam pintu yang sedang terbuka itu, tapi di dalamnya terlihat gelap sekali. Bu Nisa bingung saat itu. Ia sangat ingin masuk ke dalam, tapi ia merasa takut. Akhirnya selama beberapa menit perempuan itu hanya diam termangu di sana tanpa mengambil keputusan.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah tidak kenapa-kenapa kalau aku masuk ke dalam?” tanya Bu Nisa pada dirinya sendiri.


Setelah lama berpikir, akhirnya Bu Nisa memilih untuk memberanikan diri masuk ke dalam pintu yang sedang terbuka itu. Secara perlahan Bu Nisa memasukkan kaki ke dalam kamar dan betapa terkejutnya Bu Nisa saat sebagian besar tubuhnya sudah berada di dalam ruangan itu.


“Loh, pintunya kok tiba-tiba menghilang?” pekik Bu Nisa dengan terkejut.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2