
Aku selalu menundukkan pandangan setiap Pak RT berusaha untuk menatapku dan aku tidak banyak berbicara saat itu. Yang ada di pikiranku saat itu adalah bagaimana caranya aku bisa segera keluar dari tempat tersebut. Sungguh tidak nyaman berada di posisi itu.
"Galih, bolehkah kami melihat hasil rekaman CCTV di depan?" tanya Mbak Ning kemudian.
Wajah Pak RT nampak terkejut mendapat pertanyaan seperti itu.
"Loh, apa ada barangmu yang hilang semalam, Ning?" Pak RT balik bertanya.
"Oh tidak bukan begitu maksudnya. Tidak ada barang saya yang hilang. Hanya saja, saya butuh untuk melihat hasil rekaman CCTV itu semalam karena Dik Sinta ini tadi malam melihat ada hal mencurigakan di depan rumah," jawab Mbak Ning dengan nada diplomatis.
"Oalah, kirain Ningrum kemalingan. Emangnya Dik Sinta ini melihat apa tadi malam? Jangan bilang Dik Sinta ini sedang diintip seseorang loh, ya?" tanya Pak RT kepadaku.
"Oh, tidak Pak RT ... eh M-mas Galih. Bukan begitu juga. Tadi malam saya melihat ada benda aneh di depan rumah, tapi benda itu pas saya lihat tadi pagi bersama suami sudah tidak ada," jawabku terbata-bata karena gugup.
Aku sengaja menekankan kata 'suami' saat berbicara agar Pak RT ini tahu bahwa aku sudah menikah dan tidak sepantasnya dia bersikap kayak gitu kepadaku.
"Ooo ... Dik Sinta ini sudah menikah rupanya, ya? Saya kira masih bujang soalnya tampilannya masih kayak gadis saja. Oke, kalau begitu saya akan mengambil ponsel untuk kalian dapat melihat rekaman CCTV semalam," ujar Pak RT sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Baik. Akan kami tunggu, Galih," jawab Mbak Ning dengan sopan.
Tak sampai lima menit, Pak RT pun kembali dengan membawa ponselnya. Setelah itu ia pun membuka sebuah aplikasi di dalamnya dan mengklik beberapa tombol yang muncul di layar.
"Kira-Kira kejadiannya jam berapa semalam?" tanya Pak RT kepadaku.
"Kira-Kira jam dua belas lebih," jawabku sopan.
__ADS_1
Pak RT menampilkan sebuah video hasil rekaman CCTV itu semalam dan ditunjukkan kepada kami berdua.
"Silakan kamu geser-geser tombolnya untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang mencurigakan. Biasanya jam segitu tidak ada lagi orang yang lalu lalang di sini. Paling-Paling jam enam pagi barulah tetangga depan itu lewat karena mau berangkat kerja," ujar Pak RT sambil menyodorkan ponselnya kepada Mbak Ning.
Mbak Ning menerima ponsel itu dan menontonnya bersamaku di depan Pak RT. Waktu di layar video menunjukkan pukul 00.00 WIB. Kami menonton dengan saksama video itu sambil menggeser-geser tombolnya secara acak dari jam 12 malam sampai jam lima pagi saat aku dan Mas Diki memeriksa ke depan. Selama kami menontonnya, kami tidak menemukan sesuatu yang aneh yang ditampilkan oleh video tersebut. Pak RT dengan sabar menunggu kami berdua menonton video hasil rekaman itu. Sedangkan kami berdua merasa gelisah karena belum menemukan seeeorang yang lalu lalang di video itu.
"Galih, bisakah video ini dikirim ke nomor WA saya? Soalnya kalau ditonton sekilas-sekilas saja takut ada yang terlewat, sedangkan kalau nonton full kayaknya butuh waktu lima jam. Kalau videonya dikirim ke nomor saya, kan enak bisa dicicil nontonnya," pinta Mbak Ning kemudian.
"Ide yang bagus, Mbak Ning. Dengan begitu aku nggak usah terlalu lama berada di sini," ucapku di dalam hati.
"Oh, bisa Ningrum. Tinggal kamu kirim nomor wa-mu saja. Ntar saya kirim videonya," jawab Pak RT.
"Ya Tuhan!!!" pekik Mbak Ning tiba-tiba.
"Saya lupa nomor saya, Galih. Hape saya juga tertinggal di rumah," jawab Mbak Ning tiba-tiba.
"Nomormu saya simpan di hape saya kok, Mbak," selaku sambil mengeluarkan ponsel.
Mbak Ning dan Pak RT langsung menatap ke arah saya.
"Lah ini Dik Sinta bawa hape. Pake nomor WA Dik Sinta saja sudah daripada masih repot mencari nomor Ningsih," cetus Pak RT.
"Tidak, Mas Galih. Saya lupa nomor saya. Kalau nomor Mbak Ningrum ada tercatat di daftar kontak nama saya," jawabku sambil menscroll nama-nama yang ada di kontak hapeku.
Mungkin karena gugup, nama Mbak Ningsih tak kunjung saya temukan.
__ADS_1
"Tuh, kan, nggak ketemu-ketemu. Coba sini saya pegang hapenya!" ujar Pak RT sembari merebut ponsel yang saya pegang.
Entah kenapa saya diam saja ketika Pak RT merebut Ponsel di tanganku, padahal menurutku itu adalah perbuatan tidak sopan. Aku hanya bisa memandangi saja ketika Pak RT membuka aplikasi WA dan mengklik tombol yang menampilkan kode barcode di Ponsel saya tersebut. Setelah itu ia pun melakukan scanning barcode dengan menggunakan aplikasi WA-nya dan kami pun akhirnya saling berteman di aplikasi WA. Sesuatu yang sungguh membuat saya sebal akhirnya terjadi juga. Pak RT pun mengembalikan Ponsel saya dan ia pun mengirimkan video hasil rekaman yang ada di ponselnya.
"Begini caranya kalau kita lupa nomor WA. Enak, kan?" tanya Pak RT kepada kami berdua.
Aku tidak menjawab karena masih kesal dengan sikap lancang pria ini. Mbak Ning lah yang manggut-manggut sebagai jawaban atas pertanyaan Pak RT.
"Galih, kami pamit dulu, ya? Kayaknya ibu-ibu sudah mulai berdatangan ke rumah. Tidak enak rasanya membuat mereka bekerja tanpa didampingi kami," ucap Mbak Ning kemudian.
Akhirnya, waktu yang kutunggu-tunggu pun tiba. Aku sudah jengah berada di rumah pria yang menurutku kurang sopan ini. Entah gimana ceritanya kok bisa orang ini dipilih menjadi ketua RT? Apa tidak ada orang lain yang lebih sopan untuk menduduki posisi tersebut?
"Iya, Ningrum. Mohon maaf ya, kalian ke sini tidak disuguhi apa-apa?" ujar Pak RT.
"Oh, tidak apa-apa, Galih. Yang penting kami sudah mendapatkan video rekamannya audah sangat bersyukur," jawab Mbak Ning.
"Oh, ya, kalau kalian butuh apa-apa atau melihat sesuatu yang aneh lagi, jangan sungkan-sungkan untuk melapor ke saya. Dik Sinta, kan sudah punya nomor WA saya, jadi bisa langsung dihubungi kapan saja. Insyaallah saya akan segera datang membantu," jawab Pak RT sembari melempar senyum mesumnya ke arahku.
"Sialan, ogah ah, aku tidak mau menghubungi nomormu, Mas Galih. Palingan habis ini nomormu langsung saya hapus saja dari kontak Ponselku," rutukku di dalam hati.
"Terima kasih, Galih. Assalamualaikum ...," salam Mbak Ning.
"Sama-Sama. Waalaikumsalam," jawab Pak RT.
Kami berdua pun meninggalkan rumah Pak RT menuju rumah Mbak Ning. Sepanjang jalan aku sudah menyiapkan kata-kata hujatan untuk mengomel pada kakak sepupuku ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Mana nih like dan komentarnya?