MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 149 : DEMI SAHABAT


__ADS_3

Setelah menunaikan salat Isya, Bu Sinta mengajak Bu Dewi untuk mengobrol.


“Wi, aku boleh mengatakan sesuatu kepadamu, nggak?” tanya Bu Sinta.


“Apa, Sin?” tanya Bu Dewi.


“Suamimu sekarang ada di Curah Putih,” tutur Bu Sinta.


“Curah Putih? Bagaimana kamu bisa tahu? Ngapain suamiku di sana?” tanya Bu Dewi dengan penasaran.


“Percaya sama aku, Wi! Suamimu sedang dalam bahaya sekarang,” jawab Bu Sinta.


“Bahaya bagaimana, Cin? Kemarin suamiku masih baik-baik saja, kok! Cuma sikapnya saja yang nyebelin!” keluh Bu Dewi.


“Aku tidak main-main, Wi! Kita harus segera menolong suamimu sebelum terlambat, Wi!” ujar Bu Sinta lagi.


“Kamu serius, Sin? Kita berdua akan ke desa Curah Putih maksudmu? Bukankah pihak kepolisian sudah menghimbau masyarakat untuk tidak pergi ke sana setelah kemunculan ular raksasa di desa tersebut,” ucap Bu Dewi.


“Kamu mau suamimu selamat atau tidak, Wi?” tanya Bu Sinta lagi.


“Tentunya aku ingin suamiku selamat lah, Sin,” jawab Cintia.


“Kalau kamu ingin suamimu selamat, ayo malam ini kita berangkat ke desa Curah Putih untuk menyelamatkan suamimu sebelum dia terlanjur tidak bisa diselamatkan lagi!” timpal Bu Sinta dengan nada serius.


“Malam ini? Bagaimana dengan Panji?” tanya Bu Dewi dengan perasaan khawatir.


“Aku sebenarnya menginginkan anak itu tidak ikut, tapi sayangnya malam ini dia harus ikut!” jawab Bu Sinta dengan lemah.


Bu Dewi sebenarnya masih tidak menduga bahwa keadaannya saat itu begitu rumit, tapi ia mengenal Sinta bukan hanya setahun dua tahun. Perempuan itu tidak pernah berbohong kepadanya.


“Baiklah, aku ke kamar dulu untuk bersiap-siap!” jawab Bu Dewi sambil berjalan ke dalam kamar dengan membawa serta Ponselnya.


Bu Sinta menatap kepergian sahabatnya itu ke kamarnya dengan perasaan sedih dan khawatir. Perempuan itu juga bersiap-siap menuju kamar pribadinya. Ia sebenarnya masih ragu dengan apa yang akan ia kerjakan malam itu bersama Bu Dewi, tapi ia tidak punya pilihan lagi. Tak lupa Ponselnya juga ia bawa serta untuk berjaga-jaga.


Setengah jam kemudian mereka pun sudah siap untuk berangkat. Bu Sinta mengoleskan ludahnya ke tangannya kemudian ia pun mengoleskannya ke alis Bu Dewi dan Panji dengan berpura-pura membenarkan make up sahabatnya itu dan mengkudang Panji. Setelah itu Bu Sinta memesan sebuah taksi online untuk mengantarnya menuju Desa Curah Putih.

__ADS_1


“Mbak-Mbak berdua ini mau ngapain di desa Curah Putih?” tanya sopir taksi itu dengan ketakutan.


“Kami mau ke rumah saudara, Mas,” jawab Bu Sinta.


“Tapi kan di televisi lokal sudah dihimbau masyarakat untuk tidak pergi ke desa tersebut karena ular raksasa yang sering melintas di sana,” sergah Pak Sopir.


“Tenang, Mas. Nggak ada apa-apa kok di sana. Itu hanya rumor saja. Nanti ongkosnya aku kasih dua kali lipat,” jawab Bu Sinta.


“Rumor bagaimana, Mbak? Lah wong korbannya suda ada,” ujar Pak Sopir.


“Itu kan masih simpang siur beritanya. Lagi pula kejadiannya kan di pelosoknya. Kalau di pinggir jalan kayaknya masih aman,” jawab Bu Sinta berusaha menenangkan.


“Mbak-Mbak ini kok yakin sekali, sih? Aku aja yang laki-laki keder mendengar berita tersebut,” protes Pa Sopir.


“Kan masih ada Allah, Mas. AKu kasih tiga kali liat deh masnya nanti,” jawab Bu Sinta.


“Heh … Sebenarnya bukan masalah ongkosnya, Mbak. Aku takut ular raksasa itu beneran ada,” jawab Pak sopir.


“Tenang, dijamin aman, Mas! Nanti begitu sudah sampai di jalanan desa tersebut turunkan saja kami meskipun bukan di titik antarnya,” jawab Bu Sinta memohon.


“Makasih banyak, Mas,” jawab Bu Sinta sambil tersenyum.


Setelah berkendara kurang lebih dua puluh menit, jalanan di depan macet karena ada sekelompok masyarakat yang sedang mengantarkan jenazah ke pemakaman.


“Ada-Ada saja orang-orang ini. Masa memakamkan orang malam-mala begini,” gerutu Pak Sopir.


“Mungkin sudah adat istiadatnya, Mas!” jawab Bu Sinta.


Setelah dijawab begitu, Pak Sopir pun diam. Sementara itu Bu Dewi yang sedang duduk di pinggir sambil menggendong Panji yang tertidur ikut memperhatikan satu persatu iring-iringan orang yang mengantarkan jenazah itu. Namun, ketika ia sudah tepat berada di sebelah keranda yang dipikul oleh beberapa orang, Bu Dewi memekik terkejut karena melihat seseorang berwajah pucat sedang duduk di atas keranda itu.


“Astagfirullah!” pekik Bu Dewi.


“Kenapa, Mbak?” tanya Pak Sopir.


Bu Sinta buru-buru menutup mata dan mulut Bu Dewi.

__ADS_1


“Nggak apa-apa, Mas? Teman saya ini emang agak penakut kalau melihat keranda,” sambar Bu Sinta.


“Oalah! Kirain apaan? Penakut tapi nekad mau peri ke desa Curah Putih!” omel Pak Sopir.


“Kan, tidak ada apa-apa di desa Curah Putih, Mas!” sahut Bu Sinta.


“Iya, deh!” jawab Pak Sopir tak mau memperpanjang omongan.


Setelah Pak Sopir berkonsentrasi ke jalan, Bu Sinta berbisik kepada Bu Dewi.


“Maaf, Wi! Aku tadi it sudah membuka mata batinmu dan Panji! Kamu jangan kaget ya kalau meliha sesuatu yang seram,” bisik Bu Sinta.


“Kamu sih nggak bilang-bilang! Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Bu Dewi.


“Kamu harus dibuka mata batinnya untuk bisa menolong suamimu,” bisik Bu Sinta lagi.


Bu Dewi pun hanya bisa terdiam saat itu. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya yang satu itu. Karena perasaannya semakin tidak enak, Bu Dewi pun memilih untuk memejamkan matanya supaya tidak melihat yang aneh-aneh seperti tadi.


Setelah berkendara selama lebih dari satu jam, akhirnya mereka pun sampai di jalanan desa Curah Putih. Mereka pun turun dari mobil dengan memberi ongkos sesuai yang dijanjikan oleh Bu Sinta kepada sopir tadi. Sopir taksi online itu pun buru-buru kabur dari tempat itu dengan perasaan was-was. Sedangkan Bu Sinta dan Bu Dewi pun langsung menyusuri jalanan desa tersebut menuju ke area bukit seperti yang diberitakan di televisi lokal dan juga sesuai yang diingat oleh Bu Sinta semasa kecil dulu.


“Sin, aku takut!” bisik Bu Dewi pada Bu Sinta.


“Kamu harus menguatkan hatimu, Wi! Di sini kamu bisa saja melihat banyak hal yang aneh. Tapi, kamu nggak usah hiraukan. Yang penting anakmu itu kamu jaga biar tidak kedinginan atau masuk angin!” perintah Bu Sinta.


“Kita nggak akan kenapa-kenapa, kan, Sin?” tanya Bu Dewi ragu.


“Tenang Wi! Kamu nggak usah takut. Ada aku kan di sebelahmu?” jawab Bu Sinta.


“Tapi,Sin. Aku seumur-umur nggak pernah pergi ke tempat seperti ini,” jawab Bu Dewi.


“Ssssst!!!! Di depan sana ada sesuatu yang akan menyambut kita. Kamu nggak sah takut, ya, mereka tidak akan  menyerang kita. Jangan tatap mata mereka! Supaya mereka tidak tahu kalau kita bisa melihat mereka!” perintah Bu Sinta yang langsung diiyakan oleh Bu Dewi.


BERSAMBUNG


__ADS_1


__ADS_2