
Setelah memarkir mobil di tempat parkiran sementara di kantor polisi tempat mereka bekerja, Herman dan Cintia pun turun dari dalam mobil menuju ruangan kantor mereka.
“Her, sepertinya Kapten Yosi sudah datang. Bagaimana kalau beliau menanyakan mau ke mana kita pagi ini?” tanya Cintia pada Herman.
“Sebaiknya kita menghindari beliau, Cin. Ntar kita malah tidak dibolehkan ke mana-mana oleh beliau,” jawab Herman.
“Baiklah! Ayo, kita masuk secara diam-diam saja ke dalam dan buru-buru ke luar kalau sudah selesai cek log,” ujar Cintia.
“Oke,” jawab Herman dengan serius.
Selanjutnya mereka pun melangkah secara perlahan sambil mengamati pergerakan Kapten Yosi di sekitar tempat kerja mereka.
“Cin, sepertinya Kapten Yosi masih ada di ruang lobi. Ayo, kita buru-buru masuk ke dalam kantor!” ajak Herman pada Cintia.
“Iya, Her! Kita harus berhati-hati,” jawab Cintia.
Mereka pun secara diam-diam masuk ke dalam ruang kerja mereka dan benar saja tidak ada Kapten Yosi di ruangan tersebut. Hal itu menandakan bahwa pria atasan mereka itu sedang ada di ruang lobi bersama pimpinan divisi lain.
“Ayo, Her! Buruan cek log dan pergi dari sini!” ucap Cintia setelah ia selesai menyecan jari jempol sebelah kanannya ke mesin finger print berwarna hitam pekat itu.
“Iya, Cin!” jawab Herman sambil menggantikan posisi Cintia.
Akhirnya, mereka berdua pun selesai cek log dan bersiap untuk pergi meninggalkan ruang kerja mereka untuk pergi menemui Bu Dewi di dusun Delima untuk menanyakan perihal budenya Nona Larasati. Namun, sesuatu di luar dugaan terjadi saat mereka berdua sudah keluar dari ruang kerja mereka sendiri. Tepat sebelum mereka menghilang di balik tembok yang membatasi ruang kerja mereka dengan koridor pintu keluar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari arah belakang mereka.
“Mau ke mana kalian berdua?” tegur Kapten Yosi dengan wajah masam.
Cintia dan Herman pun terkejut mendengar suara Kapten Yosi yang tiba-tiba muncul di belakang mereka itu.
“Eh anu, Kapten … Kami berdua mau langsung berangkat ke TKP,” jawab Herman dengan terbata-bata.
“TKP apa? Kasus Pak Dimas yang sudah mau ditutup beberapa hari lagi itu?” jawab Kapten Yosi dengan tegas.
Cintia dan Herman berbalik dan menghampiri atasannya itu.
“Kapten Yosi, kami sudah menemukan petunjuk baru tentang kematian Pak Dimas. Dan kami yakin dalam beberapa hari ini kami dapat mengungkap semuanya. Jadi, tolong beri kami kesempatan untuk menyelesaikan kasus tersebut,” jawab Cintia.
__ADS_1
“Ya, sesuai dengan apa yang sudah saya bilang kemarin. Kalian memang masih diberi kesempatan, tapi tidak lama. Sewaktu-waktu kasus tersebut bisa saja ditutup dari pusat,” jawab Kapten Yosi.
Herman dan Cintia saling berpandangan. Dari raut wajah mereka terlihat bahwa keduanya sama-sama kecewa. Tapi, mau bagaimana lagi di sini mereka hanyalah bawahan yang harus patuh pada atasan mereka.
“Kapten, ijinkan hari ini dan besok kami berdua fokus pada kasus ini dulu! Kami janji akan membawa hasil yang memuaskan untuk divisi kita,” ujar Herman dengan penuh percaya diri.
Kapten Yosi menatap wajah kedua bawahannya itu dengan optimis tapi juga prihatin karena ia masih menangkap sinyal ketidakyakinan di wajah mereka berdua.
“Oke, silaan. Aku beri waku tiga hari bagi kalian untuk menyelesaikan kasus ini. Lebih dari itu, mohon maaf!” jawab Kapten Yosi sambil menepuk pundak Herman.
“Terima kasih, Kapten!” sahut Herman dan Cintia.
“Kami pamit dulu, Kapten!” ujar Cintia sambil meraih tangan atasannya itu untuk dicium.
Mereka berdua sudah menganggap Kapten Yosi bukan hanya sebagai atasan, tapi juga sekaligus sebagai orang tua yang harus dihormati. Selanjutnya mereka berdua pun pergi meninggalkan Kapten Yosi. Secara diam-diam mereka berdua tidak menyadari bahwa Kapten Yosi menatap kepergian mereka dengan perasaan terharu karena ia melihat kegigihan kedua bawahannya itu mengingatkannya pada masa awal karirnya dahulu.
“Herman … Cintia … Semoga kalian berdua bisa memecahkan kasus ini sehingga aku bisa tenang menghadapi masa pensiunku nanti,” gumam Kapten Yosipada dirinya sendiri sambil menatap punggung Cintia dan Herman.
Setelah meninggalkan kantor, Herman dan Cintia langsung meluncur menggunakan mobil menuju dusun Delima.
“Cin, kamu membawa laptop, kan? Untuk mengecek data di CCTV warung tadi?” tanya Herman di tengah perjalanan.
“Bagus lah kalau begitu. Sebentar lagi kita akan sampai di dusun Delima. Kamu tidak lupa membawa potongan buku harian dari temannya Nona Larasati tadi malam, kan?” tanya Herman.
“Iya lah, Her. Masa mau ketemu Bu Dewi tanpa membawa potongan buku harian itu?” jawab Cintia.
“Kirain kamu lupa, kamu kan sering lupaan?” protes Herman.
“Iya sih, tapi kamu juga kurang peka,” jawab Cintia.
“Kurang peka apaan, Cin?” tanya Herman dengan ekspresi heran.
“Ya, kurang peka saja,” jawab Cintia asal.
“Aneh kamu, ini, Cin” protes Herman dengan masih bertanya-tanya apa maksud perkataan Cintia tentang tidak pekanya dia barusan.
__ADS_1
Cintia memalingkan wajahnya ke arah luar mobil untuk menyembunyikan perasaannya saat itu. Iya, sejujurnya Cintia memang menunggu Herman untuk mengungkapkan perasaannya kepada perempuan itu. Memang, sih selama ini Cintia sering bilangbahwa ia mau fikus ke karir dulu, tapi ia juga tidak akan menolak kalau Herman berani mengungkapkan perasaan dan keinginannya tentang hubungan mereka.
“Herman, kamu ini sebenarnya menganggapku apa?” gumam Cintia di dalam hatinya.
Herman hanya dapat menatap Cintia yang sedang memandangi sawah di dusun Delima yang kini mereka lewati. Sebentar lagi mereka akan sampai di rumah Bu Dewi. Ia berharap Bu Dewi ada di rumahnya, sehingga ia dapat langsung menanyakan perihal budenya Nona Larasati kepada istri Pak Herman itu.
“He he he … Nama kok bisa sama kayak aku, sih?” gumam Herman begitu teringat dengan nama suami Bu Dewi itu.
Setelah berkendara selama beberapa menit, akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah Bu Dewi. Mereka berdua pun turun dari dalam mobil dan langsung berjalan menuju pintu depan rumah Bu Dewi.
Tok Tok Tok
“Assalamualaikum …,” salam diucapkan oleh Cintia dan Herman.
“Waalaikumsalam …,” sahut seorang perempuan dari dalam rumah.
Setelah ditunggu selama beberapa detik, pintu dibuka dari dalam oleh Bu Dewi.
“Loh, kalian berdua lagi? Monggo masuk!” ucap Bu Dewi sedikit heran dengan kedatangan kedua polisi itu.
“Terima kasih, Bu Dewi. Mohon maaf sudah mengganggu aktifitas Bu Dewi di rumah,” jawab Cintia sambil masuk ke dalam rumah tersebut.
“Nggak kok. Silakan duduk!” ucap Bu Dewi sambil merapikan posisi kursi yang sedikit melenceng.
“Iya, Bu,” jawab Herman dengan sopan.
“Saya buatkan minuman dulu, ya, ke belakang?” ucap Bu Dewi.
“Eh, nggak usah repot-repot, Bu!” cegah Cintia.
“Nggak repot kok! Air panasnya sudah ada. Kebetulan tadi suami saya sebelum berangkat minta dibuatkan kopi.
Cintia dan Herman pun hanya bisa diam karena tidak enak hati mencegah keinginan tuan rumah.
Bu Dewi pun masuk ke dalam dapur untuk membuatkan minuman buat kedua tamu polisinya itu. Dalam hati Bu Dewi bertanya-tanya. Ada apa gerangan kenapa polisi itu datang lagi ke rumahnya padahal tadi malam mereka berdua sudah datang untuk menanyakan sesuatu kepada ia dan suaminya.
__ADS_1
“Perasaanku kok kayak tidak enak, ya?” pikir hati Bu Dewi.
BERSAMBUNG