MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 53 : SERAM


__ADS_3

Pak Ade saat itu tertidur dengan lelapnya karena efek dari obat tidur yang disuntikkan oleh suster Marisa agar pria tersebut dapat beristirahat dengan cukup. Pada saat itu Pak Ade tidak hanya sendirian di dalam kamarnya karena ada Revan yang tidur terlelap di dipan yang satunya. Sedangkan di karpet juga ada Bu Nisa dan Bu Jefri yang juga turut terlelap. Sementara pintu kamar dalam keadaan tidak terkunci.


Beberapa menit kemudian angin bertiup dengan cukup kencang sehingga sanggup membuka pintu kamar Pak Ade dengan suara keras. Sayangnya, orang-orang yang berada di dalamnya tidak ada yang mendengar suara tersebut. Sepertinya keempat orang tersebut sudah hanyut dengan mimpi masing-masing. Dari arah koridor tiba-tiba muncul seseorang dengan pakaian serba putih sedang membawa kota berisi alat injeksi yang sudah terisi penuh dengan cairan berwarna kuning. Entahlah apa isi cairan berwarna kuning tersebut. Perempuan itu nampak tersenyum menyeringai sambil melangkah melalui koridor dan berhenti tepat di depan pintu kamar Pak Ade yang sedang terbuka lebar.


Selanjutnya perempuan itu pun berbalik dan berjalan masuk ke dalam kamar Pak Ade dengan suara sengaja dipelankan. Mungkin tidak ingin mengganggu Bu Nisa dan Bu Jefri yang sedang dibuai mimpinya masing-masing. Benar saja, perempuan itu berhasil melangkahi kedua perempuan itu tanpa disadari kehadirannya oleh kedua perempuan yang sedang tertidur di lantai. Kali ini perempuan tersebut sudah tepat berada di samping Pak Ade yang sedang tertidur pulas.


Perempuan itu pun melihat ke arah Pak Ade secara sekilas dan senyumnya makin lebar. Kemudian ia pun mengambil alat injeksi dari dalam kotak yang ia bawa dan memegangnya dengan menggunakan kedua jarinya sedangkan kotak itu ia letakkan di atas meja yang berada di samping Pak Ade. Sampai saat ini tidak ada yang menyadari kehadiran perempuan misterius itu di dalam kamar Pak Ade.


Selanjutnya perempuan itu mengangkat alat injeksinya agar bisa menjangkau posisi botol berisi cairan infus yang digantung di alat penyangga di sebelah dipan Pak Ade. Dengan postur tubuhnya yang cukup tinggi tentunya hal itu mudah saja bagi perempuan itu untuk melakukannya.  Perlahan demi perlahan isi di dalam alat injeksi itu sudah masuk ke dalam tabung infus dan membuat perubahan warna terjadi pada cairan di dalam tabung infus itu.Perempuan itu menggoyangkan sedikit botol infusnya agar cairannya bercampur merata. Selanjutnya perempuan itu pun kembali berjalan secara perlahan meninggalkan kamar tersebut sambil tersenyum dengan lebar. Anehnya, sesampai di pintu kamar sosok perempuan yang awalnya berpakain ala suster rumah sakit itu pun berubah wujudnya dan menjelma menjadi sosok yang menyeramkan. Kuku-Kuku di tangannya pun sangat panjang dan wajahnya penuh dengan belatung.


“Hihihihihi …,” suara tawa sosok mengerikan itu menggema di kamar Pak Ade.


Sementara itu cairan infus yang bercampur dengan zat asing itu secara perlahan masuk ke tubuh Pak Ade melalui selang infus. Akibatnya Pak Ade merasakan sesak yang amat sangat. Sekujur tubuhnya pun menjadi panas. Karena saking sakitnya, Pak Ade yang awalnya tidur terlelap pun bangun karena merasakan sakit yang amat sangat di sekujur tubuhnya terutama di bagian dada.


“Tidaaaaaak!!!” teriak Pak Ade sambil bangun dari tidurnya.


Keringat dingin mengucur deras dari pori-pori tubuh Pak Ade membuat bajunya menjadi sedikit basah. Pria itu memegangi dadanya yang beberapa detik yang lalu terasa panas. Napas pria tersebut tersengal karena efek dari ketakutan yang ia rasakan. Setelah menghela beberapa tarikan napas, akhirnya pria itu mulai menyadari dirinya bahwa ia baru saja bermimpi buruk. Anehnya, ketika ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, pria tersebut kaget karena sama persis dengan apa yang ia ihat di dalam mimpinya. Ada Revan anaknya di dipan satunya dan ada Bu Nisa serta Bu Jefri di karpet tebal yang digelar di atas lantai.


“Syukurlah. Ternyata hanya mimpi! Tapi, kenapa pemandangan di dalam kamar ini sama persis dengan yang ada di dalam mimpiku?” ucap Pak Ade pada dirinya sendiri.


Pak Ade masih mengatur napasnya tatkala ia mendengar suara pintu dibuka.


Deg!


“Siapa yang sedang membuka pintu? Jangan-Jangan sosok mengerikan yang ada di dalam mimpiku barusan?” pikir Pak Ade.


Selanjut terdengar suara langkah seseorang sedang masuk ke dalam kamar yang ia tempati. Pak Ade menjadi bingung dan panik saat itu. Ia benar-benar khawatir itu adalah sosok perempuan menyeramkan yang akan menyuntikkan racun ke dalam botol infusnya.


“Aku harus berbuat sesuatu. AKu tidak boleh menyerah!” ucap Pak Ade pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sementara suara langkah itu sudah semakin dekat dengan dirinya.


“Dik, bangun, Dik … Banguuuuuun!!” teriak Pak Ade berusaha membangunkan istrinya yang sedang terlelap di atas lantai.


Bu Nisa tidak bereaksi sedikitpun dengan panggilan suaminya. Ia masih saja terlelap dalam mimpinya. Suara langkah itu semakin cepat saja terdengar di telinga Pak Ade.


“Tolooooong!!!” Pak Ade pun berteriak memanggil nama istrinya. Namun suara Pak Ade saat itu tidak terlalu keras karena staminanya belum pulih benar.


Bu Nisa masih tetap terlelap di dalam tidurnya meskipun Pak Ade sudah berteriak. Dan sosok yang suara langkahnya membuat panik Pak Ade itu pun muncul dari balik tembok.


“Kenapa kok berteriak, Pak?” sapa orang itu yang ternyata adalah Pak Jefri.


“P-pak Jefri???” suara Pak Ade tercekat di tenggorokan.


“Iya, Pak. Ini saya Pak Jefri. Ada apa dengan Pak Ade? Kenapa berteriak?” tanya Pak Jefri sambil berusaha mendekati tetangganya itu.


“Pak Ade kenapa? Ini saya Pak Jefri. Apa Pak Ade habis bermimpi buruk?” ucap Pak Jefri sambil tetap berusaha mendekati Pak Ade.


“Aku bilang Stop!!! Jangan mendekat!!” teriak Pak Ade kembali.


Akhirnya Bu Nisa dan Bu Jefri pun terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara gaduh yang ditimbulkan oleh Pak Ade dan Pak Jefri.


“Ada apa, Mas? Kamu sudah bangun?” tanya Bu Nisa sambil mengucek-ngucek matanya.


“Mas Ade kenapa, Pak Jefri?” tanya Bu Nisa kepada Pak Jefri.


“Entahlah, Bu. Sepertinya beliau habis bermimpi buruk. Beliau tidak mau saya dekati,” jawab Pak Jefri.


Bu Nisa dan Bu Jefri pun bangkit berdiri. Bu Nisa berjalan mendekati suaminya. Tidak ada reaksi dari Pak Ade ketika istrinya berjalan mendekat.

__ADS_1


“Mas, kamu kenapa? Itu Pak Jefri. Pak Jefri dan Bu Jefri membawa Revan datang ke sini. Mereka berdua mau menginap di sini menemani kita semua,” ucap Bu Nisa dengan suara lembut.


Barulah Pak Ade menyadari bahwa apa yang ia lakukan barusan adalah sebuah kesalahan. Hal itu ia lakukan karena ia habis bermimpi buruk.


“Maafkan ketidaksopanan saya, Pak Jefri,” ucap Pak Ade kemudian.


“Iya.Tidak apa-apa, Pak Ade,” jawab Pak Jefri kalem.


“Ayo tidur lagi, Mas! Kamu hanya mimpi buruk,” ucap Bu Nisa sambil membimbing suaminya untuk tidur kembali.


“Iya, Dik. Tolong kamarnya dikunci dari dalam,Dik!” perintah Pak Ade.


“Iya, Mas,” jawab Bu Nisa.


Pak Jefri pun mengambil langkah untuk mengunci pintu kamar dari dalam. Bu Nisa pun memegang tangan suaminya agar bisa beristirahat dengan tenang. Pak Ade memilih tidur miring agar bisa melihat Revan, anaknya.


“Nyenyak sekali tidur anak kita ya, Dik?” ucap Pak Ade.


“Iya, Mas. Dia ingin sekali menjengukmu. Kata Bu Jefri anak itu merengek terus minta diantar ke sini. Ayo, Mas tidur lagi biar besok pagi bisa mengobrol dengan Revan,” jawab Bu Nisa.


“Iya, Dik. Tapi, kamu tetap di sini, ya? Biar mas tenang,” pinta Pak Ade.


“Iya, Mas. Jangan khawatir!” jawab Bu Nisa sambil mengelus kepala suaminya.


Bu Nisa tidak tega melihat Pak Ade yang dalam kondisi sakit itu. Terlebih ia belum tahu bahwa suaminya itu sudah kehilangan satu sahabatnya lagi. Air mata mengalir di pipi Bu Nisa mengingat hal itu. Tapi, ia tidak mau menyampaikan kabar duka itu sekarang agar suaminya bisa beristirahat dengan tenang.


Sementara itu Pak Jefri nampak bingung karena harus mengunci pintu. Padahal ia baru saja bertemu dengan Bu Dimas di depan tempat pemulasaraan jenazah. Bu Dimas dan Niko sedang terpuruk di sana. Ia ingin mengajak istrinya untuk menghibur Bu Dimas dan Niko ke sana. Namun, melihat kondisi Pak Ade sekarang, ia juga tidak tega meninggalkan Bu Nisa menjaga Pak Ade sendirian.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2