
Azan Magrib sudah berkumandang dari mesjid dan musalla di dusun Delima. Orang yang menunaikan salat Magrib di mesjid dan musallah tetap itu-itu saja. Terlebih dengan adanya isu adanya hantu membuat sebagian orang yang terbiasa salat di tempat ibadah berpikir dua kali untuk berangkat ke tempat ibadah. Akhirnya, mereka memilih salat di rumahnya masing-masing. Begitulah salah satu dampak negatif adanya isu-isu tentang hantu tersebut.
Setelah selesai menunaikan azan Magrib, Pak Herman meminta izin kepada istrinya untuk ikut tahlilan di rumah Bu Reni dan Pak Dimas.
“Dik, mas ikut tahlilan di rumah Bu Reni, ya?” ucap Pak Herman.
Bu Dewi menatap ke arah suaminya dengan perasaan berat karena jarang-jarang suaminya bisa berada di rumah seperti malam ini. Tapi, bagaimana pun acara tahlilan di rumah Bu Reni juga penting karena itu bentuk kepedulian keluarga mereka kepada tetangga. Apalagi Pak Herman selama ini jarang ada di rumah.
“Kamu nggak capek, Mas?” tanya Bu Dewi.
“Capek sedikit Cuma, Dik. Tapi, ini kesempatan bagi mas untuk ikut tahlilan. Besok mas sudah harus masuk kerja lagi, Dik,” jawab Pak Herman dengan nada serius.
“Ya sudah kalau Mas Herman memang mau ikut tahlilan, tapi habis dari rumah Bu Reni langsung pulang nggak usah mampir-mampir!” jawab Bu Dewi.
Pak Herman menatap sendu mata istrinya.
“Hm … rencananya mas mau salat Isya di mesjid sekaligus habis salat Isya mas mau ikut tahlilan di rumah Pak Dimas,” jawab Pak Herman.
Bu Dewi cukup terkejut mendengar jawaban suaminya itu. Itu artinya Pak Herman akan meninggalkan dia sendirian di rumah dalam durasi yang cukup lama.
“Mas? Nggak pulang dulu aja? Salat di rumah sama aku?” rayu Bu Dewi.
“Dik … mas itu sudah lama loh nggak ikut sholat jamaah di mesjid. Ini kan kesempatan mas, Dik, bisa kumpul sama para tetangga untuk sholat bareng? Biasanya kalau ada mas, orang-orang itu semangat sholat di mesjid,” jawab Pak Herman.
“Hhhh .. Ya sudah lah kalau memang itu keinginan, Mas. Nggak apa-apa deh! Toh, aku kan sudah sering ditinggal sendirian di rumah,” gerutu Bu Dewi.
“Jangan ngomong gitu dong, Dik? Mas ini kan ingin menebus kesalahan kepada para tetangga karena selama enam hari mas tidak menyambut kedatangan mereka yang ikut tahlilan di rumah,” rayu Pak Herman.
__ADS_1
“Iya, Mas. Aku nggak apa-apa, kok!” jawab Bu Dewi akhirnya ikhlas juga.
“Maksih banyak ya, Dik!” jawab Pak Herman.
Pak Herman pun bersalaman dengan istrinya yang cantik terutama dengan mukena yang masih dipakai nya setelah salat jamaah dengannya.
“Salamannya simbolis saja ya, Mas? Aku mau sekalian nunggu Isya!” tolak Bu Dewi.
“Loh, emangnya kalau salaman bisa batal, Dik? Aku pernah baca sebuah hadits kurang lebih isinya seperti ini. Rosulullah SAW pernah sholat, terus kaki Siti Aisyah menghalangi di tempat sujudnya. Setiap sujud, Rosulullah SAW menyentuh kakinya, tapi beliau tetap melanjutkan sholatnya. Iya, kan?” ujar Pak Herman.
“Iya, Mas. Memang ada beberapa pendapat ulama terkait hal ini, tapi aku lebih cenderung ke yang membatalkan wudu. Boleh kan aku berbeda pendapat dengan Mas?” ucap Bu Dewi.
“Ya sudah, cup jauh saja, dah!” ucap Pak Herman sambil memberi kode cium jauh kepada istrinya.
“hati-hati di jalan, Mas!” ucap Bu Dewi.
“Kamu juga hati-hati di rumah sama Panji,” jawab Bu Dewi.
“Iya, Dik,” sahut Pak Herman.
Selanjutnya Pak Herman pun meninggalkan rumah menuju rumah Bu Reni, istri almarhum Pak Hartono.
Sepeninggal suaminya, Bu Reni pun membaca surat Yasin untuk dikirimkan pahalanya kepada almarhumah Laras dan ibunya serta untuk ahli kubur Bu Dewi dan Pak Herman. Karena tak kunjung datang waktu sholat Isya, Bu Dewi pun masuk ke kamarnya untuk menemui Panji. Saat itu Panji sedang tertidur dengan nyenyaknya di atas kasur. Bu Dewi merasa damai setiap melihat anak angkatnya itu tertidur.
Ketika menatap wajah Panji, Bu Dewi teringat kembali dengan ucapan kedua polisi yang baru pulang dari rumahnya beberapa menit sebelumnya.
“Aku yakin kejahatan yang dimaksudkan oleh kedua polisi itu adalah kejahatan Narkoba yang dilakukan oleh Pak Dimas dan Pak Ade. Dari mana kedua polisi itu bisa menemukan identitas Laras? Haruskah aku memberitahukan isi buku harian ini kepada kedua polisi itu? Apakah hal itu akan memudahkan tugas kepolisian untuk mengungkap kejahatan mereka? Tapi, Pak Dimas sudah tewas. Apalagi yang harus diungkap? Aku tidak mau Laras semakin dijadikan bahan olok-olokan warga. Terlebih, hal itu akan menyakiti Panji sebagai anaknya. Tidak! Aku tidak boleh melakukan itu. Tapi, bagaimana dengan Pak Ade? Ia akan adem ayem saja padahal menurut isi buku harian yang ditulis Laras, Pak Ade itu sering menggunakan Narkoba untuk kelancaran usahanya. Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung!” Bu Dewi berkata pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Saat Bu Dewi sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari pintu luar.
Tok Tok Tok …
“Siapa yang mengetuk pintu itu? Apakah Mas Herman? Tapi, Mas Herman kan tadi pergi membawa kunci sendiri? Jadi, ia tidak perlu mengetuk pintu untuk sekedar masuk ke dalam rumah. Tapi, kalau bukan Mas Herman, siapa lagi?” pikir Bu Dewi dengan kebingungan.
Tok Tok Tok …
Kembali terdengar ketukan dari arah luar pintu.
“Siapa?” teriak Bu Dewi dari dalam kamar.
Perempuan itu tidak berani keluar kamar sebelum tahu pasti siapa yang sedang berada di depan rumahnya.
Tidak ada sahutan dari luar rumah. Bu Dewi pun tetap tidak beranjak dari kamar.
Tok Tok Tok …
Suara ketukan dipintu itu semakin keras terdengar membuat Bu Dewi menjadi jengkel.
“Siapa di luar? Kalau tidak bersuara, tidak akan aku bukakan pintu!” teriak Bu Dewi kembali.
Sebenarnya Bu Dewi tidak enak hati berkata seperti itu. Ia khawatir orang yang ada di balik pintu adalah salah satu tokoh masyarakat dusun Delima. Tentunya perempuan itu akan malu nantinya, tapi karena ia dalam keadaan takut. Maka, kata-kata itu terpaksa keluar juga dari mulut istri Pak Herman itu.
Setelah menunggu selama beberapa detik ternyata suara jawaban itu tak kunjung terdengar. Bu Dewi makin gelisah saja saat itu. Ia takut orang itu pergi karena tersinggung dengan kata-katanya. Maksud hati ingin mengejar orang itu, tapi apalah daya rasa takut di dada perempuan itu jauh lebih besar.
Tok Tok Tok
__ADS_1
Bu Dewi terkejut karena suara ketukan di pintu terdengar semakin keras dan seperti sedang dilakukan dengan unsur emosi. Bu Dewi yang mendengar suara keras tersebut pun menjadi marah juga dan ingin mengumpat habis-habisan orang yang telah menggedor pintunya dengan keras.
BERSAMBUNG