MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 42 PINGSAN


__ADS_3

Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Sebelum aku tidak sadarkan diri, aku sempat melihat Mas Diki berusaha melepaskanku dari cengkraman arwah Pak Handoko, tapi ia tak mampu melakukannya.


Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Ketika aku terbangun, aku tidak melihat arwah Pak Handoko dan Mas Diki ada di dekatku. Aku berada sendirian di timurnya rumah Pak Handoko. Dan suasananya entah kenapa tidak seseram tadi. Tanaman-Tanaman di sana terlihat terawat dengan baik. Kolam ikannya pun jernih dengan hiasan-hiasan lampu di beberapa tempat. Aku tertegun dengan pemandangan di depanku tersebut yang berubah secara drastis. Aku sampai mengucek-ngucek mataku untuk memastikan bahwa pemandangan infah di depanku benar-benar nyata.


Lama aku tertegun, tiba-tiba sayup-sayup aku mendengar suara anak perempuan dari dalam rumah tersebut. Suara anak perempuan itu semakin lama semakin keras. Sepertinya anak perempuan itu sedang menuju ke tempat ini. Aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Aku pun memilih untuk bersembunyi di balik salah satu tanaman.


"Pamaaan ayo temani Clara mencari kupu-kupu!" ucap anak perempuan itu kepada seseorang.


"Jangan lari-lari Clara! Nanti kamu terjatuh!" jawab seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang anak kecil itu.


"Clara??? Anak kecil itu bernama Clara? Apakah ia adalah Clara sewaktu masih kecil? Kalau kuperhatikan, wajahnya memang mirip sekali dengan Clara. Dan, siapa laki-laki yang dipanggil 'Paman' oleh Clara kecil itu? Hm ... Wajahnya, kok, mirip sekali dengan ayah angkatnya Clara? Atau, pria itu memang ayah angkatnya Clara ketika masih muda. Tapi kenapa Clara memanggilnya 'Paman', bukan 'Ayah'?" Aku bertanya-tanya di dalam hati.


Aku memperhatikan aktivitas mereka berdua dari balik salah satu tanaman.


"Paman kok cium-cium Clara, sih?" protes anak kecil itu.


"Itu artinya paman sayang sama Clara," jawab pria itu dengan wajah tersenyum penuh arti.


"Tapi Clara tidak suka. Nanti aku bilangin sama Papa pokoknya," ucap anak kecil itu lagi.


"Eh, jangan! Nanti kalau kamu bilang-bilang sama papamu. Nanti mainan kamu yang banyak itu paman minta ke mamamu untuk dibuang saja," ancam pria itu.


"Jangan dong, Paman. Nanti Clara main apa?" rengek anak kecil itu.


"Makanya, kamu nggak usah bilang-bilang sama papamu, ya?" ucap pria itu merasa menang.


"Iya deh. Tapi Paman janji untuk tidak cium-cium Clara lagi, ya!" jawab anak kecil itu.


"Iya deh. Paman janji tidak akan melakukannya. Meskipun sebenarnya itu tandanya paman sayang sama Clara," jawab pria itu lagi.


Melihat adegan itu aku merasa geram dengan pria itu karena sudah melakukan hal buruk pada anak itu. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku masih merasa aneh dengan semua yang aku lihat tersebut.


Mereka pun melanjutkan aktivitasnya sambil mengejar kupu-kupu yang berlarian dari satu bunga ke bunga yang lain. Untunglah, kupu-kupu itu tidak lari ie dekat persembunyianku.


"Oh, ya, Paman juga harus janji juga," ucap Clara kecil lagi.

__ADS_1


"Janji apa lagi sih, Clara?" tanya pria itu.


"Janji nggak boleh cium-cium mamaku lagi," ucap Clara mengagetkanku.


Pria itu juga terkejut dengan ucapan Clara.


"Oh, itu tidak seperti yang kamu lihat, Clara. Waktu itu paman sedang berusaha membantu mamamu yang sedang terjatuh. Jadi tanpa sengaja hidung kami bertemu saat oaman berusaha menolong mamamu. Untung paman tolongin, kalau tidak, mamamu bisa mati dan kamu tidak punya mama bagaimana?" ucap pria itu dengan wajah kelihatan berbohong.


"Iya, Clara paham," jawab anak perempuan itu lagi.


Pria itu tersenyum penuh kemenangan di balik ketidaktahumenahuan Clara kecil.


Aku mencium ketidakberesan antara pria itu dengan mamanya Clara.


"Apakah mereka berselingkuh tanpa sepengetahuan papanya Clara?"


"Kamu mau kemana, Clara?" tanya pria itu kemudian.


"Aku mau ke depan, Paman. Aku mau ke Papa," jawab Clara kecil sambil berlari meninggalkan pria itu sendirian.


Pria itu melihat aneh ke arah Clara. Dari caranya melihat Clara, ia tidak seperti sedang melihat seorang keponakan. Kemudian pria tersebut berjalan ke depan.


"Terima kasih banyak, Om Handoko, berkat bantuan Om, ban sepedaku bisa digunakan kembali," ucap seorang anak laki-laki di depan rumah tersebut.


"Iya, lain kali lebih berhati-hati, ya!" jawab pria seusia dengan pria yang tadi.


"Ooo berarti pria ini adalah Pak Handoko di masa mudanya. Ternyata perawakan Pak Handoko dengan suaminya Clara sangat mirip. Berarti suami Clara sekarang adalah adik dari Pak Handoko. Makanya Clara memanggilnya paman," pikirku di dalam hati.


"Terima kasih banyak, Om. Saya mau bernagkat sekarang," ucap anak laki-laki kecil itu sambil menuntun sepedanya.


Clara kecil berlari ke arah papanya.


"Papa lagi ngapain?" tanya Clara kecil.


"Ini, papa habis bantuin menambal ban sepeda kakak ini," jawab Pak Handoko sambil menggendong Clara.

__ADS_1


"Oooo ... Kakak namanya siapa?" tanya Clara pada anak laki-laki itu.


"Nama kakak Diki. Kamu siapa?" ucap anak laki-laki itu.


"Aku Clara," jawab Clara kecil.


"Ya Tuhan! Ternyata anak laki-laki itu adalah Mas Diki. Iya, wajahnya benar-benar mirip dengan Nur," pekikku di dalam hati.


Kemudian Mas Diki kecil itu pun berpamitan pergi. Clara dan papanya mengantar kepergian Mas Diki kecil sampai di pintu gerbang.


"Apa sebenarnya yang sedang kulihat di depanku ini. Mengapa Clara tidak pernah bercerita bahwa ayah angkatnya yang sebenarnya adalah Pak Handoko, bukan suaminya yang sekarang? Bagaimana ceritanya, kok bisa pamannya menjadi ayah angkatnya Clara? Pusing sekali kepalaku menyaksikan ini semua," Aku bertanya-tanya di dalam hati.


Aku masih tetap bersembunyi di balik salah satu tanaman. Tiba-Tiba angin bertiup dengan kencang. Hujan turun dengan derasnya. Petir menyambar-nyambar. Bajuku menjadi basah kuyup. Aku sudah bersiap keluar dari persembunyianku dan mencari tempat untuk berteduh, ketika tiba-tiba, aku mendengar suara kegaduhan.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" bentak seseorang.


"Ini tidak seperti yang kamu lihat, Mas!" jawab seorang perempuan.


Aku mencari sumber suara itu. Aku celinguk ke kiri dan ke kanan untuk mencari sumber suara. Namun, orangnya tak juga kutemukan. Setelah beberapa lama akhirnya orangnya muncul juga. Dari arah depan rumah, Pak Handoko sedang menyeret ayah angkatnya Clara menuju ke kolam ikan.


BUKK!!!


Pak Handoko melayangkan tinju ke wajah suami Clara.


"Ampuuuun, Maaaas! Saya khilaaaaf!" suara rintihan suami Clara.


"Khilaaaf-Khilaaaaf. Kamu itu bukan khilaf, tapi doyan! Tega-Teganya kamu berselingkuh dengan istriku, Handoyo!!" teriak Pak Handoko.


"Oh, rupanya nama suami Clara itu Handoyo. Hm ... Handoko dan Handoyo. Ternyata mereka saudara kakak beradik," pikirku di dalam hati.


BUKKKK!


Lagi-Lagi Pak Handoko melayangkan tinju kepada Pak Handoyo.


"Ampuni saya, Mas! Ampuuuuun!!!" teriak Pak Handoyo lagi.

__ADS_1


"Tidak ada ampun buat kalian berdua!" teriak Pak Handoko dengan keras.


Bersambung


__ADS_2