MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 44 : TUMBAL


__ADS_3

Demikianlah view itu silih berganti muncul di depan mataku. Suasana yang kulihat juga tiba-tiba berubah secara drastis. Antar siang dan malam berganti dengan cepat. Aku begidik ngeri menyaksikan view seperti itu. Bahkan aku sangat merinding melihat view Pak Handoyo yang sedang menumbalkan manusia kepada seekor buaya berwarna putih. Saking seramnya, aku menutup mata karena tidak tega melihat manusia-manusia itu satu persatu diterkam oleh buaya putih itu. Suara jerit tangis kesakitan mereka begitu menyesakkan dadaku. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Clara. Mamanya Clara juga ditumbalkan oleh Pak Handoyo. Aku mengetahuinya dari suara jeritan wanita itu. Aku mulanya tidak berani untuk melihat view tersebut. Tapi, ketika aku mendengar suara teriakan anak-anak, aku penasaran, karena suaranya mirip dengan suara Nur dan Riki. Aku memberanikan diri menoleh ke sumber teriakan. Di bawah sungai yang sedang kulihat, ada anak kecil sedang berkelahi dengan buaya. Anak kecil itu sempat melukai mata sang buaya. Buaya itu pun marah dan menerjang tubuh kecil anak itu. Tubuh kecil anak itu terlempar menabrak batu. Buaya itu mencoba mengejarnya, tapi ia kalah cepat karena tubuh anak kecil itu keburu dibawa arus yang cukup deras. Aku semoat terkejut ketika melihat wajah anak itu sekilas, bentuk wajah dan bentuk fisik abak kecjl itu sangat mirip dengan arwah anak kexil yang pernah kutemui di lubang gorong-gorong di dekat pasar.


"Ya Tuhan!! Berarti anak kecil di dekat pasar itu adalah korban tumbal Pak Handoyo juga?" pekikku di dalam hati.


Aku sudah tidak mampu lagi untuk menyaksikan view di hadapanku ini. Sungguh sangat mengerikan dan membuat emosiku memuncak. Tapi, entah kenapa ketika aku melirik ke posisi Pak Handoyo berdiri semula sambil merapal mantra, ia sudah tidak berada di sana lagi.


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan Pak Handoyo yang tiba-tiba lenyap itu. Sementara di bawah sana, aku melihat buaya putih itu sedang merayap di atas batu. Dalam keadaan takut seperti itu, tiba-tiba aku merasa ada yang sedang menepuk bahuku. Secara refleks aku pun menoleh ke belakang.


"P-p-pak H-h-handoyo????" pekikku.


Pak Handoyo tersenyum lebar ke arahku. Kali ini ia muncul dengan wajah pada usianya yang sekarang. Matanya menunjukkan bahwa dia adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang dengan tega membunuh siapa pun untuk memenuhi ambisinya memiliki banyak harta dengan cara pesugihan buaya putih.


"Sekarang giliranmu untuk mati!" pekik pria tambun tersebut sambil mencekik leherku.


"Tidaaaaaaaaak!!!" Aku berteriak dan meronta sekuat tenaga agar bisa terlepas dari cengkraman pria tersebut.


Dengan tangannya yang kuat, Pak Handoyo mencekik leherku sambil mendorongku mundur semakin dekat dengan bibir sungai. Iya, view yang semula adalah taman memnag sudah berubah menjadi pemandangan sungai yang letaknya di belakang rumah Pak Handoko. Aku pun terus meronta dengan segenap energi yang masih tersisa. Kucakar tangan kanan Pak Handoyo untuk melonggarkan cekikannya di leherku, namun ternyata semua hanya sia-sia belaka. Tak sedikit pun seranganku mampu membuat pria itu bergeming. Ia tidak terpengaruh sama sekali. Ia tetap dapat mendorongku ke belakang, teruuuus, teruuuus, hingga aku sudah berada di ujung bantaran sungai. Aku semakin kuat meronta, dan Pak Handoyo semakin kuat mendorongku. Aku tidak punya pilihan lain selain memegang erat tubuh Pak Handoyo agar aku tidak terlempar ke bawah sungai. Namun, hal itu ternyata langkah yang salah karena apa yang aku lakukan ternyata membuat Pak Handoyo tergugah kelelakiannya.


"Hm ... Ternyata tubuhmu wangi sekali, Cantik. Ada baiknya saya nikmati dulu tubuhmu sebelum saya tumbalkan ke Mbah Bajol," ucapnya di tekingaku.


"Tidaaaaaak!!!!! Aku melepas peganganku pada pria mesum tersebut. Jujur, aku sangat jijik mendengar ucapannya. Terlebih, aku tahu ia tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.

__ADS_1


"Kemari, Cantiiik. He he he ...," ucap pria itu sambil nelangkah mendekatiku.


"T-t-tidaaaaaak!! J-j-jangan mendekat!" teriakku.


Ia tidak menggubris teriakanku. Tubuhku semakin dekat ke arahku. Aku takut sekali saat itu. Di belakangku, di bawah sana seekor buaya putih sedang bersiap menungguku untuk dimangsa, sedangkan di depanku, seorang pria mesum sedang berusaha untuk menyerangku. Aku mundur secara perlahan menghindari seringai wajah mesum pria tersebut. Kali ini aku benar-benar berdiri di ujung bantaran sungai. Bergerak sedikit saja, aku bisa terjatuh ke bawah. Tubuhku gemetar karena ketakutan dan bingung. Jantungku berdegup dengan kencang, sementara keringat dingin mengucur dengan deras dari pori-pori tubuhku.


Pria mesum itu sudah berada tepat di depanku. Ia menyeringai semakin mesum saja ke arahku. Tangannya dijulurkan ke depan berusaha untuk melecehkanku. Aku menghindar dan tanpa sengaja, aku pun terpeleset.


"Tidaaaaaaaaak!!!!!" Aku berteriak saat menyadari aku terjatuh dari atas bataran sungai. Di bawah sana, nulut buaya putih sedang menganga bersiap untuk menyantap tubuhku. Aku benar-benar merasa ketakutan dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.


"Dik ... Dik ... bangun!!!" teriak suamiku.


"Maaaaas... Maaaaas ... Mana hantunya Pak Handoko?" tanyaku pada Mas Diki.


"Dia sudah pergi, Dik," jawab Mas Diki.


"Bagaimana kamu mengusirnya, Mas?" tanyaku kembali dengan suara pelan.


"Ceritanya panjang, Dik. Nanti saja. Sekarang kita harus segera menyelamatkan anak kita," ucap Mas Diki.


"Iya, benar Mas. Pak Handoyo menyekap mereka di belakang sana. Di pinggir sungai," jawabku.

__ADS_1


"Pak Handoyo?" Suamiku mengernyitkan dahinya karena bingung.


"Suaminya Clara itu namanya Pak Handoyo. Dia itu adik kandungnya Pak Handoko. Pak Handoko tewas dibunuh istrinya sendiri yang berselingkuh dengan Pak Handoyo," ucapku lancar.


"Oh, ya?" timpal suamiku.


"Iya, Mas. Pak Handoko itu orang jahat. Anak kecil yang mayatnya ditemukan di gorong-gorong itu juga korban tumbal pesugihannya Pak Handoyo, Mas" ucapku.


"Dari mana kamu tahu semua itu, Dik?" tanya suamiku.


"Barusan, aku ditampakkan semuanya oleh arwah Pak Handoko. Termasuk lokasi penyerahan tumbalnya. Yaitu di sungai yang letaknya di belakang rumah ini, Mas. Saya yakin, Nur dan Riki saat ini sedang di sekap di sana," jawabku.


"Ayo, Dik! Kita segera susul mereka ke sana sebelum terlambat!" ucap suamiku.


"Ayo, Mas!" jawabku.


Kami berdua pun segera berjalan menuju belakang rumah ini. Baru saja kami melangkah, tiba-tiba kami mendengar suara lengkingan keras dari arah belakang rumah ini. Suara lengkingan tersebut terdengar sangat keras menggema. Hal itu kengingatkanku pada makhluk berwarna putih yang baru saja muncul dalam penglihatanku.


"Mbah Bajol????" pekikku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2