MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 63 : TAKUT


__ADS_3

Pukul dua belas siang, jam berkunjung pagi rumah sakit daerah kembali ditutup. Para pengunjung pun satu persatu meninggalkan kamar pasien. Ada saja pengunjung nakal yang tidak mau peri sebelum diusir oleh Satpam atau tenaga kesehatan. Pada jam tersebut biasanya dokter atau pun suster menyuruh pasien untuk makan siang dan meminum obatnya.


Pak Ade baru saja dikunjungi oleh beberapa anak buahnya yang ingin melihat perkembangan kondisi beliau. Setelah anak buahnya itu pergi, Pak Ade nampak melamun. Revan yang sedang bermain di atas dipannya itu pun tidak diperhatikan oleh Pak Ade. Bu Nisa yang melihat gelagat tak biasa dari suaminya itu pun segera menegur suaminya itu.


“Mas, kok melamun? Revan main sendiri tuh!” ucap Bu Nisa sambil memegang bahu sebelah kiri Pak Ade dari belakang.


“Eh, iya, Dik? Ada apa?” sahut Pak Ade terkejut dengan sapaan istrinya yang tiba-tiba itu.


“Kamu lagi ngapain? Kamu mikirin apa, Mas?” Bu Nisa mengulangi perkataaannya.


Pak Ade pun membalikkan badannya dan ia pun terlentang. Terlihat dada pria tersebut mengembang dan mengempis secara ekstrim pertanda ia sedang menarik napas dalam-dalam. Setelah itu Pak Ade pun berkata dengan nada lemah.


“Dik, apa kita boleh keluar dari rumah sakit ini hari ini?” tanya Pak Ade.


Bu Nisa tampak mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Pak Ade yang cukup mengejutkannya itu.


“Kenapa Mas tiba-tiba menanyakan hal itu? Kan, Mas sudah mendengar sendiri dari dokter Marni bahwa Mas baru boleh pulang paling cepat besok siang? Kondisi Mas hari ini masih belum memungkinkan untuk pulang,” jawab Bu Nisa dengan intonasi benar-benar dijaga agar Pak Ade percaya dengannya.


“Perasaanku tidak enak, Dik. Lagipula kondisiku sudah lebih enakan, kok!” jawab Pak Ade dengan ekspresi sedikit memaksa.


“Itu hanya perasaan Mas saja. Di sini enak banget kok suasananya. Mungkin ini semua karena Mas masih syok dengan kepergian Pak Dimas. Kita semua ini sedang berduka, Mas. Tapi, kesehatan Mas juga penting. Makanya pengobatan Mas harus benar-benar tuntas,” balas Bu Nisa.


“Tidak, Dik. Ini bukan hanya masalah Pak Dimas. Ini masalah nyawaku sendiri. Mas takut terjadi apa-apa dengan mas,” jawab Pak Ade sedikit keceplosan.


“Masalah nyawa? Aku nggak ngerti dengan apa yang Mas ucapkan barusan? Justeru kalau Mas memaksa pulang dan ternyata luka Mas ini mengalami infeksi, hal itu justeru yang dapat membahayakan jiwa Mas Ade,” balas Bu Nisa dengan tatapan mata kebingungan.


“Bukan begitu, Dik. Ah, sudahlah! Dijelaskan juga Dik Nisa nggak bakalan mengerti,” jawab Pak Ade.


“Apa ini ada hubungannya dengan kematian Pak  Hartono dan Pak Dimas?” todong Bu Nisa dengan tatapan mata serius.


Pak Ade kembali teringat dengan mimpinya semalam. Pria itu tidak mau mimpi buruknya semalam menjadi kenyataan. Pria itu juga teringat dengan kematian dua sahabatnya yang terjadi secara beruntun.


“Entahlah, Dik. Yang jelas kematian mereka berdua itu sangat memukul jiwa dan perasaanku. Kamu tahu sendiri, kan? Seberapa dekatnya aku dengan mereka berdua? Aku sudah tidak nyaman berada di sini, Dik,” jawab Pak Ade dengan nada lemah.


“Mas betah-betahin dulu satu hari di sini, ya? Besok Mas sudah bisa pulang, kok! Pokoknya Mas harus bertahan di sini dulu sampai besok!” ucap Bu Nisa dengan nada tegas.


Pak Ade sudah tidak bisa memaksa istrinya lagi saat itu. Ia tahu karakter istrinya seperti apa. Kalau sudah bilang ‘A’ maka yang harus dilakukan adalah ‘A’ dan sebaliknya. Namun saat itu pria itu juga tidak bisa mengabaikan rasa ketakutannya terhadap kematian.


“Baiklah, Dik, kalau itu memang keputusanmu, tapi ijinkan aku menghubungi seseorang,” jawab Pak Ade.


“Mas mau menghubungi siapa?” tanya Bu Nisa dengan penuh rasa penasaran.


“Teman, Dik,” jawab Pak Ade sambil menjulurkan tangannya untuk mendapatkan Ponsel dari istrinya.


Bu Nisa tidak punya pilihan lain saat itu. Ia harus menuruti suaminya untuk memegang Ponsel yang sebenarnya ia ingin batasi dari suaminya. Ia takut suaminya malah konsentrasi ke Ponsel dan kurang istirahat.


“Ini Ponselmu. Tapi, ingat! Gunakan untuk menghubung temanmu itu saja! Tidak untuk urusan bisnis ata main game apalagi judi online!” pesan Bu Nisa.


“Iya … Iya, Dik! Bawel amat, sih!” gerutu Pak Ade.


“Mau Ponsel apa enggak? Kalau enggak, ya sudah!” ancam Bu Nisa.

__ADS_1


“Ya deh, mau!” jawab Pak Ade.


“Nah, gitu dong!” balas Bu Nisa.


Setelah menerima Ponsel dari istrinya, Pak Ade pun bangkit dari tidurnya. Ia pun menyandarkan punggungnya di bantal ang ia susun agak tinggi. Setelah itu Pak Ade pun berusaha melakukan panggilan pada seseorang.


“Halo, tumben kamu menghubungiku, De? Kirain sudah buang nomorku?” suara seorang laki-laki dari seberang sambungan telepon.


“Bukan begitu, Jat! Aku sibuk dengan urusan bisnisku selama ini,” jawab Pak Ade.


“Kalau kamu sibuk kenapa masih menghubungiku? Sana, kamu urus bisnismu saja dan lupakan aku! Hapus nomorku dari list kontakmu!” sahut orang itu dengan ketus.


“Enggak, Jat! Aku nggak mungkin menghapus nomormu, Jat! Siapa lagi yang bisa membantuku sekarang kalau bukan kamu?” sahut Pak Ade.


“Oooo jadi kamu sekarang sedang ada masalah, makanya ingat aku? Kenapa?Kamu mau mati, ya? Kalau sudah mau mati saja ingat sama aku,” omel teman Pak Ade.


“Aku sekarang ada di rumah sakit daerah, Jat. Kamu harus ke sini hari ini, Jat!” jawab Pak Ade dengan merengek.


“Kamu kenapa kok bisa masuk rumah sakit? Jangan-Jangan kamu ini sedang kualat! Adeeeee … Adeeeee … sejak dulu kamu selalu begini. Giliran happy kamu nggak ingat aku. Giliran susah baru deh ingat sama aku,” jawab orang itu.


“Plis, Jat … Kamu ke sini sekarang, ya? Kalau nggak ke sini sekarang, mungkin kamu sudah nggak bisa ketemu aku lagi,” jawab Pak Ade dengan merengek.


“Sialan! Kau lontarkan juga jurus merengekmu itu, Ade! Kamu tahu aku ini orangnya nggak tegaan apalagi sama teman. Ah, bodohnya aku ini! Harusnya aku blokir saj nomormu ini dari list kontakku supaya aku tidak berurusan lagi dengan parasit seperti dirimu ini,” omel pria itu lagi.


“Terserah kamu mau ngomon apa sama aku, yang penting sekarang kamu harus ke sini!” sahut Pak Ade dengan ekspresi senang sambil menutup panggilannya.


Pak Ade sudah kenal dengan betul seperti apa Jatmiko, teman masa kecilnya itu. Jatmiko tidak akan pernah tega terhadapnya. Ia yakin dengan pasti satu jam lagi Jatmiko itu sudah pasti datang ke rumah sakit tersebut.


“Jatmiko, maafkan keegoisanku selama ini, ya? Lagian kamu kan tahu selama ini aku terlalu sibuk dengan bisnis dan keluargaku makanya aku sudah tidak punya waktu lagi untuk sekedar mengobrol denganmu. Yah, lagipula suruh siapa kamu nggak nikah-nikah? Sudah berapa kali aku mengenalkanmu dengan perempuan. Mulai dari yang muda sampai yang sudah janda semuanya kamu tolak dengan alasan ibumu tidak setuju. Emangnya yang mau menikah itu kamu atau ibumu sih, Jat? Kalau kamu sudah menikah aku yakin kita akan banyak waktu untuk kumpul karena istrimu pasti juga bisa bersahabat dengan Nisa. Ah, sudahlah capek aku ngurusi kamu. Pokoknya kamu ke sini dulu untuk bantui aku. Hanya kamu yang bisa menolongku saat ini, Jatmiko. Aku tidak mati konyol seperti kedua temanku itu.” Pak Ade berbicara di dalam hati


“Siapa yang kamu hubungi barusan, Mas?” tanya Bu Nisa.


“Jatmiko, Dik!” sahut Pak Ade.


“Oh … temanmu yang aneh itu?” tanya Bu Nisa.


“Kamu kok ngomong begitu, Dik? Bagaimana pun dia itu sahabat kecilku. Aku pernah tinggal satu desa dengannya waktu itu. Ibunya dan ibuku juga bersahabat waktu itu. Lagipula Jatmiko itu kamu tahu sendiri, dia sering menolongku. Terutama urusan persaingan bisnis,” jawab Pak Ade.


“Iya, aku tahu dia memang pernah menolong kita dari santet yang dikirim oleh saingan bisnis kita. Tapi, menurutku dia tetap terlihat aneh, Mas? Kenapa Mas mengundangnya ke sini? Apa Mas butuh kemampuan spiritualnya untuk mengobati luka-luka Mas ini? Ingat loh, Mas. Mas Ade ini sakit medis bukan sakit jiwa. He he he …,” goda Bu Nisa.


“Sialan kamu, Dik! Bukan begitu konsepnya. Sudahlah! Ini urusan aku sama Jatmiko. Yang penting aku nggak minta pulang sekarang, kan?” protes Pak Ade.


“Ya sudah. Tapi, kalau temanmu itu datang, aku ijin pergi dulu, ya?” ucap Bu Nisa.


“Loh, emangnya kenapa kamu mau pergi, Dik? Ya, kamu temani di sini lah!” jawab Pak Ade.


“Enggak, Mas. Ntar aku geli sendiri kalau temanmu itu ngomong yang aneh-aneh tentang penglihatannya,” jawab Bu Nisa.


“Ya sudah, Itu terserah kamu. Pokoknya kamu siapin minum dan kue untuk Jatmiko,” jawab Pak Ade tenang karena ia tidak perlu khawatir percakapannya dengan Jatmiko nanti akan didengar oleh istrinya.


“Ya sudah, kalau begitu sekarang Mas makan siang dan minumobat dulu supaya cepat sembuh!” ucap Bu Nisa sambil menyiapkan obat dan makanan untuk suaminya.

__ADS_1


“Baiklah, Dik!” jawab Pak Ade dengan perasaan lebih tenang dari sebelumnya.


Pak Ade pun mengkonsumsi makanan dan obat yang diberikan oleh Bu Nisa. Setengah jam kemudia Pak Ade merasa mengantuk karena terlalu lama menunggu kedatangan temannya. Ia pun tertidur dengan lelap dengan dijaga oleh Bu Nisa.


Pada saat Bu Nisa menjaga suaminya, Bu Nisa memandangi wajah Pak Ade yang sedang terlelap. Perempuan itu sibuk memikirkan apa sebenarnya yang sedang dirisaukan oleh suaminya saat itu.


“Mas, kamu mikir apa sih? Kamu kok kayak ketakutan sekali berada di sini? Terutama setelah kamu mendengar kematian Pak Dimas. Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, Mas? Apa kamu takut mati juga seperti Pak Hartono dan Pak Dimas? Kenapa kamu harus takut, Mas? Bukankah kematian kedua temanmu itu sesuatu yang wajar? Pak Hartono mati kecelakaan dan Pak Dimas mati overdosis. Hm … Atau jangan-jangan … Apakah mereka berdua itu mati dibunuh oleh hantunya Laras? Ah, nggak mungkin! Hantu itu kan bisanya Cuma nakut-nakutin saja! Seperti yang sudah Laras lakuka terhadapku waktu itu.Ya, mungkin Laras marah kepadaku karena aku senang membicarakan keburukan-keburukannya. Tapi, Pak Hartono dan Pak Dimas tidak pernah sekalipun membicarakan keburukan Laras. Masa Laras menakut-nakuti mereka berdua juga? Nggak lah! Itu sangat tidak mungkin. Apalagi Mas Ade sendiri orang sibuk. Tidak ada waktu untuk membicarakan keburukan tetangga dan Mas juga tidak pernah aktif berkomunikasi selama hidup dengan Laras. Nggak mungkin lah Mas Ade takut digangguin sama hantunya Laras. Tapi, nyatanya Mas Ade jatuh di dapur gara-gara terlalu takut sama hantunya Laras. Padahal bajunya kecantol gagang pintu dikirain dipegangin Laras. Loh, aku kok malah mikirin Laras? Ntar aku malah takut lagi. Mana rumah sakit jam segini sudah sepi. Hiiiii …,” Bu Nisa berkata pada dirinya sendiri.


Baru saja perempuan itu memikirkan tentang Laras, tiba-tiba ia mendengar suara pintu diketuk dari luar.


“Siapa?” teriak Bu Nisa memanggil orang yang berada di luar kamarnya.


Tidak ada yang menyahut. Bu Nisa pun meninggalkan kursi dan berjalan menuju ke arah pintu masuk. Setelah berada di pintu masuk, ia pun memanggil sekali lagi orang yang berada di luar kamar.


“Siapa?” teriaknya sekali lagi.


Karena tidak ada sahutan, Bu Nisa pun mengintip melalui jendela kaca kecil yang berada di salah satu bagian pintu. Dan betapa terkejutnya perempuan itu setelah melihat sebuah wajah keriput tiba-tiba muncul tepat di depan wajah Bu Nisa. Keduanya hanya dibatasi oleh kaca tembus pandang.


“Ya Tuhan!” pekik Bu Nisa.


“Ini aku, Mbak!” ucap Jatmiko yang berada di sebelah nenek tua itu dan menggantikan posisi nenek tua itu berada di jendela kecil di salah satu bagian daun pintu.


“Kamu, Mas Jatmiko!” jawab Bu Nisa sambil membuka pintu kamar.


Bu Nisa langsung menyalami Jatmiko dan nenenk tua di sebelahnya.


“Ini ibuku, Mbak,” ucap Jatmiko.


“Iya, Mas Jatmiko. Aku mohon maaf atas keterkejutanku barusan,” jawab Bu Nisa.


“Aku yang minta maa, Nak, karena sudah membuatmu kaget. Maklum aku kan sudah tua jadi wajahnya sudah tidak cantik lagi. Malah mirip kayak setan,” ucap nenek tua itu.


“Nggak juga kok, Bu. Aku aja yang terlalu parnoan. Monggo masuk dulu! Kita bicara di dalam saja!” ucap Bu Nisa sambil menyuruh dua orang itu masuk ke dalam kamar.


“Terima kasih, Mbak. Ade sedang istirahat, ya?” tanya Jatmiko.


“Iya. Mas. Tapi, sebentar lagi pasti bangun kalau mendengar suara Mas Jatmiko. Dia sudah menunggu kedatangan Mas Jatmiko sejak tadi sampai ketiduran,” jawab Bu Nisa.


“Kamu masuk dulu, Jat! Biar aku melakukan ritual di pintu ini dulu!” ucap nenek tua itu.


Bu Nisa yang selama ini merasa aneh dengan Jatmiko pun kembali merasa risih dengan perkataan ibunya Jatmiko itu.


“Ah, nggak ibu nggak anak sama anehnya. He he he  …,” ucap Bu Nisa pada dirinya sendiri sambil berjalan ke dalam bersama Jatmiko.


“Kalau nggak ngerti lebih baik diam, Nduk!” Tiba-Tiba nenek tua itu berbicara kepada Bu Nisa.


“Apa, Bu?” tanya Bu Nisa kepada nenek tua itu.


Nenek tua itu tidak menggubris ucapan Bu Nisa. Ia tetap berjalan ke arah pintu dan komat-kamit di sana. Jatmiko segera menarik lengan Bu Nisa untuk masuk. Bu Nisa terheran-heran sendiri saat itu. Ia mulai berpikir bahwa nenek tua itu mendengar apa yang ia pikirkan di dalam hatinya barusan.


“Apa nenek tua itu bisa mendengar apa yang barusan aku pikirkan?”

__ADS_1


BERSAMBUNG


Ayo, yang belum ikutan GAME novel MARANTI, buruan like dan tulis komentar di setiap bab. Aku tungguin loh, ya?


__ADS_2