MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 126 : SESUATU YANG SAMA


__ADS_3

Kali ini kondisi benar-benar berbalik. Giliran Bu Dewi yang harus menunggu jawaban Cintia dengan penuh rasa penasaran.  Sementara Cintia harus berpikir keras bagaimana caranya agar Bu Dewi tidak membaca dulu isi potongan buku haria yang diberikan oleh seseorang yang menyamar menjadi Nona Larasati semalam.


Setelah berpikir dengan keras, akhirnya Cintia menemukan cara untuk menjawab pertanyaan Bu Dewi yang menuntut benda yang ia sembunyikan itu.


“Begini, Bu Dewi. Untuk sementara kami belum bisa memberikan barang itu kepada Bu Dewi karena itu menyalahi prosedur kerja kami. Tapi, kami bisa memberikan sedikit bocoran tentang benda apa yang dititipkan oleh perempuan misterius semalam. Bagaimana? Apa Bu Dewi bersedia?” ucap Cintia dengan penuh ketenangan.


Herman yang duduk di samping Cintia merasa lega akhirnya rekan satu timnya itu menemukan cara untuk menolak permintaan Bu Dewi. Herman menyimak apa selanjutnya yang akan dikatakan oleh Bu Dewi terhadap Cintia.


“Maksud Dik Cintia bagaimana? Saya kurang paham? Coba lebih disederhanakan kata-katanya. Maklum, saya ini kan hanya ibu rumah tangga biasa. Jadi, daya tangkapnya serba kurang,” sahut Bu Dewi.


“Maksud saya begini, Bu. Untuk sementara kami belum bisa menyerahkan bendanya kepada Bu Dewi. Tapi, kami bisa memberitahukan nama benda itu,” jawab Cintia dengan lebihperlahan.


“Oh … begitu. Ya sudah, Dik Cintia. Kalau memang tidak bisa diberikan sekarang tidak apa-apa. Tapi, saya boleh tahu jenis bendanya, kan? Benda apa yang nantinya akan diberikan kepada saya itu?” tanya Bu Dewi selanjutnya.


Cintia menarik napas dalam-dalam sambil memperhatikan wajah perempuan paruh baya di depannya itu.


“Benda yang mau diberikan kepada Bu Dewi itu adalah sebuah potongan buku harian,” jawab Cintia secara perlahan namun cukup jelas didengar oleh Bu Dewi.


Bu Dewi yang mendengar jawaban dari Cintia pun menjadi tercengang karena ia tidak menyangka bahwa benda yang dimaksudkan oleh Cintia adalah buku harian.


“Buku harian???” pekik Bu Dewi dengan mata sedikit melotot.


“Iya, Bu. Buku harian. Kalau melihat dari reaksi Bu Dewi, sepertinya Bu Dewi tidak asing dengan benda itu? Apa Bu Dewi mau menyampaikan sesuatu terkait buku harian itu kepada kami?” tanya Cintia dengan penuh intuisi.


Bu Dewi memandang Cintia dengan penuh tanda tanya.


“Kalian berdua sudah membaca isi buku harian itu?” tanya Bu Dewi penuh selidik.


Cintia dan Herman saling berpandangan dulu sebelum salah satu dari mereka menjawab.


“I-iya, Bu. Kami sudah membacanya terlebih dahulu,” jawab Cintia jujur.


“Apa saja yang kalian ketahui tentang Laras dari potongan buku harian itu?” tanya Bu Dewi lagi.


“Banyak, Bu. Di potongan buku harian itu tertulis bahwa Nona Larasati ini pernah dijahati oleh Pak Dimas,” jawab Cintia dengan penuh kehati-hatian.


Bu Dewi tercengang dengan jawaban jujur dari Cintia. Kemudian ia pun berucap pada Cintia.


“Dik Cintia … Dik Herman … tolong rahasiakan kejadian pelecehan terhadap Laras ya, Dik! Saya tidak mau orang-orang nanti mengolok-olok Panji,” pinta Bu Dewi denga penuh harap pada Cintia dan Herman.


“Tenang, Bu Dewi. Kami berdua memang masih merahasiakan hal tersebut dari siapapun karena kami masih belum yakin apa benar buku harian itu benar-benar ditulis oleh Nona Larasati. Bisa jadi ada orang lain yang sengaja memperkeruh keadaan ini,” jawab Herman.


“Buku harian itu  memang tulisan Laras, Dik Cintia … Dik Herman … Saya sangat hapal tulisan anak itu,” jawab Bu Dewi dengan penuh emosional.


Cintia dan Herman mendengar perkataan perempuan itu.


“Dari mana Bu Dewi yakin bahwa buku harian itu adalah tulisan Nona Larasati? Bukankah potongan buku hariannya masih ada pada kami?” tanya Cintia dengan penuh selidik.


Bu Dewi terkejut mendapat pertanyaan menekan seperti itu dari Cintia. Ia baru menyadari bahwa ia sudah salah berucap saat itu.


“Eh, anu, Dik …,” gumam Bu Dewi dengan terbata-bata.


“Hanya ada satu alasan yang membuat Bu Dewi meyakini hal itu. Berarti Bu Dewi juga menyimpan potongan lain dari buku harian itu!” ucap Cintia dengan nada tegas dan lugas.


Dier!!


Tebakan yang diajukan oleh Cintia benar-benar membuat Bu Dewi tidak dapat berkelit lagi. Bu Dewi langsung menatap mata Cintia dengan perasaan campur aduk. Hal itu membuat perempuan itu kembali berpikir apakah ia akan mengakui tuduhan Cintia atau mengelak lagi.


“Ya. Saya menyimpan potongan yang lain dari buku harian itu,” jawab Bu Dewi dengan tegas.


Akhirnya setelah menimbang-nimbang. Bu Dewi memilh untuk berkata jujur kepada kedua polisi itu.


“Boleh kami melihat potongan buku harian yang dipegang Bu Dewi untuk memastikan apakah tulisannya sama atau berbeda dengan buku harian yang kami pegang?” tanya Herman pada Bu Dewi.


Bu Dewi diam sejenak. Tapi, kali ini ia sudah merasa tidak ada gunanya lagi merahasiakannya dari mereka berdua. Toh, kedua polisiitu sudah tahu tentang kejahatan Pak Dimas.


“Baiklah! Akan saya ambil potongan buku hariannya sebentar! Tapi, mohon maaf, saya keberatan kalau buku harian itu harus dibawa oleh kalian berdua,” jawab Bu Dewi dengan nada tegas.

__ADS_1


Cintia dan Herman pun saling menoleh. Kemudian Herman pun berkata.


“Tidak masalah, Bu Dewi. Kami hanya ingin mencocokkan tulisannya saja,” jawab Herman datar.


“Oke! Saya ambilkan dulu sebentar!” jawab Bu Dewi sambil berjalan menuju kamarnya.


Herman dan Cintia menunggu Bu Dewi mengambil potonga buku harian selama beberapa menit. Setelah itu Bu Dewi datang dengan membawa salah satu potongan buku harian yang berisi kejahatan Pak Dimas. Bu Dewi masih ingin menyembunyikan kejadian pelecehan Laras oleh Pak Hartono.


“Ini, Dik Cintia … Dik Herman … potongan buku hariannya!” ucap Bu Dewi sambil menyodorkan salah satu potongan buku harian yang ia simpan.


Cintia dan Herman langsung mengambil potongan buku harian itu untuk ia periksa jenis tulisannya.


“Tolong, jangan dibaca isinya!” tegur Bu Dewi pada Cintia yang sedang mengamati jenis tulisan di buku harian itu.


“Ya … jenis tulisannya sama persis dengan yang ada di kami,” ucap Cintia setelah mengamati tulisannya selama beberapa detik.


Giliran Herman yang mengamati tulisan di buku harian itu.


“Gimana, Herman?” tanya Cintia pada rekannya.


“Iya. Tulisannya sama persis dengan yang ada di kami. Dengan kata lain bahwa penulisnya memang benar-benar orang yang sama,” jawab Herman.


“Penulisnya memang Laras, Dik Herman …,” potong Bu Dewi dengan tegas.


Herman dan Cintia menoleh kepada Bu Dewi secara bersamaan sambil menyerahkan potongan buku harian yang baru saja mereka pegang.


“Kenapa Bu Dewi bisa seyakin itu?” tanya Cintia dengan penuh selidik.


“Selain saya hapal tulisan Laras. Isi tulisannya yang membuat saya yakin bahwa penulisnya memang anak itu. Ada peristiwa yang hanya diketahui olehku dan Laras. Dan ia menuangkannya di dalam buku harian itu. Mustahil orang lain mengetahuinya,” jawab Bu Dewi dengan penuh keyakinan.


“Oooo … begitu … kalau boleh kami tahu, bagaimana Bu Dewi bisa mendapatkan potongan buku harian itu?” tanya Cintia lagi.


Bu Dewi menari napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Cintia.


“Kalian berdua percaya hantu tidak?” tanya Bu Dewi pada kedua polisi itu.


“Kenapa Bu Dewi berbicara tentang hantu?” tanya Herman sambil menahan senyum.


Bu Dewi diam sejenak. Kemudian ia pun menjawab.


“Hantu Laras yang memberikan potongan buku harian itu kepada saya,” jawab Bu Dewi dengan nada serius.


Herman dan Cintia tertegun mendengar jawaban perempuan cantik itu.


“Hantu? BU Dewi tidak sedang bercanda, kan? Ini sudah tahun berapa, Bu? Kok masih percaya begituan?” tegur Herman.


“Ya sudah kalau kalian berdua memang tidak percaya kepada saya. Hantu Laras memberikan beberapa potongan buku harian itu kepada saya. Anak saya rewel malam-malam dan memaksa saya untuk masuk ke dalam rumah Laras di depan sana itu. Dan sesampai di sana, tanpa sengaja potongan buku harian yang pertama saya temukan karena jatuh di depan saya saat saya masuk ke sana membawa Panji ,” jawab Bu Dewi jujur.


“Nah, kalauitu sih bukan karena hantu. Tapi, memang potongan buku hariannya ada di atas dan jatuh ke bawah saat Bu Dewi ke sana,” jawab Herman.


“Potongan kedua dan ketiga lebih nyata penampakan  hantu Laras dari sebelumnya. Bahkan ia masih sering mengganggu saya akhir-akhir ini, “ jawab Bu Dewi dengan jujur.


“Mungkin itu bukan kerjaan hantu Laras, Bu Dewi. Melainkan orang lain yang ingin menakut-nakuti Bu Dewi,” jawab Herman masih tidak percaya.


“Sepersis itukah wajahnya?” tanya Bu Dewi.


“Hm … Bisa jadi itu hanya ilusi Bu Dewi saja. Atau siapa tahu Laras memiliki saudara kembar?” tanya Herman lagi.


“Setahu saya sih tidak. Laras itu anak tunggal. Ini saya masih menyimpan fotonya,” jawab Bu Dewi sambil mencari foto Laras di dalam galeri ponselnya.


Cukup lama Bu Dewi mencari foto Laras di dalam Ponselnya. Cintia dan Herman pun penasaran dengan foto Laras karena mereka ingin membandigkan foto itu dengan wajah perempuan misterius yang semalam memberikan potongan buku harian kepada Cintia.


“Nah, ini dia foto kami berempat waktu Laras masih SMK,” ujar Bu Dewi sambil menyodorkan Ponselnya untuk diperiksa oleh Cintia dan Herman.


Cintia dan Herman pun secara perlahan mengambil Ponsel yang diberikan Bu Dewi. Kemudia mereka berdua pun mengamati  foto yang tampil di layar. Karena kurang jelas maka Cintia mencubit layar Ponsel Bu Dewi untuk diperbesar ukuran fotonya.


“Ya tuhan!!!” pekik Cintia terkejut dengan hebat.

__ADS_1


Herman pun turut terkejut setelah melihat foto ang ditunjukkan oleh Cintia.


“Kenapa, Dik Cintia?” tanya Bu Dewi ingin tahu alasan Cintia terkejut.


“Wajah di dalam foto itu sama persis dengan wajah perempuan yang menemui kami semalam di depan rumah sana itu dan memberikan potongan buku harian untuk diserahkan kepada Bu Dewi,” jawab Cintia dengan masih menahan rasa ngeri di pikirannya.


“Apaaaaa??” pekik Bu Dewi dengan tak kalah terkejutnya.


Tangan Cintia langsung dingin seketika saat itu. Ia benar-benar masih tidak percaya bahwa sosok perempuan misterius semalam yang duduk di belakangnya adalah sesosok hantu.


“Apa Dik Cintia sekarang sudah percaya bahwa hantu Laras yang menyerahkan potongan buku harian ini?” tanya Bu Dewi kemudian.


Cintia tidak bisa menjawab pertanyaan Bu Dewi.


“Sebenarnya warga di sini sudah lama membicarakan bahwa Laras menjadi hantu. Tapi, saya sendiri tidak percaya sebelum akhirnya Laras juga datang mengganggu saya,” ujar Bu Dewi.


Cintia dan Herman menyimak ucapan Bu Dewi dengan saksama.


“Tidak hanya itu yang dilakukan oleh hantu Laras. Dia juga-“ uca Bu Dewi tap dihentikan karena ia tidak ingin kedua polisi itu tahu bahwa Laras lah yang membunuh Pak Hartono dan Pak Dimas.


“Tenang, Bu Dewi, Bu Dewi tidak perlu berpikir sejauh itu. Kalau menurut saya, sih, bukan Nona Larasati yang menganggu Bu Dewi atau pun yang datang menemui kamis semalam, tapi saudara kembarnya yang kebetulan Bu Dewi juga tidak mengetahuinya, kan?” ucap Herman yang memang tidak begitu percaya dengan hal-hal mistis.


“Saudara kembar?” tanya Bu Dewi dan Cinta secara bersamaan.


“Iya. Saya yakin ketika Laras dan ibunya datang ke sini. Mereka merahasiakan keberadaan saudara kembar itu. Dan saudara kembarnya itu ingin mengungkap kasus ini dengan cara seperti yang sudah ia lakukan yaitu dengan memberikan potongan buku harian itu kepada Bu Dewi dan Cintia,” jawab Herman dengan nada serius.


Terang saja ucapan Herman tidak begitu dipercayai oleh Cintia apalagi Bu Dewi.


“Bu Dewi, sebenarnya buku harian tersebut tidak bisa dijadikan bukti utama untuk mengungkap kasus yang sedang kami tangani, tapi dari buku harian itu bisa membantu kami untuk menemukan barang bukti yang lebih kuat,” ucap Herman.


“Iya, Dik Herman. Saya paham hal itu. Saya Cuma nitip tolong sebisa mungkin jaga nama baik laras karena hal itu akan berdampak pada masa depan Panji,” jawab Bu Dewi.


“Insyaallah, Bu Dewi. Kami akan melakukan yang terbaik. Oh ya kami minta nomor Ponsel Bu Dewi Agar kalau ada sesuatu kami bisa menghubungi Bu Dewi,” ujar Cintia.


“Oke. Ini nomor saya,” ujar Bu Dewi sambil menyodorkan nomor Ponselnya.


Cintia dan Herman langsung mencatat nomor Bu Dewi.


“Itu saya kirim pesan ke Bu Dewi, Tolong disimpan nomor saya, ya?” pinta Cintia.


“Iya, Dik,” jawab Bu Dewi.


“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas semua info yang diberikan oleh Bu Dewi barusan. Kami mau tanya rumah Pak Ade di mana, ya?” tanya Herman.


“Rumah Pak Ade tepat di depan rumah Pak Dimas yang kapan hari ditemukan meninggal itu, tapi Pak Ade masih belum pulang dari rumah sakit,” jawab Bu Dewi.


“Iya. Kami baru ingat kapan hari kami memang pernah menjenguk Pak Ade di rumah sakit sewaktu mengantar jenazah Pak Dimas,” jawab Herman.


“Kenapa kalian mau bertemu Pak Ade? Apa kalian sedang mencurigai Pak Ade terkait dengan Narkoba yang dipakai Pak Dimas?” tanya Bu Dewi penuh selidik karena di dalam potongan buku harian miliknya memang dituliskan bahwa Pak Ade bukanlah orang yang baik tapi masih menggunakan Narkoba sebagai alat pemulus bisnisnya.


“Hm … Kami belum berani berkata seperti itu, Bu Dewi. Bu Dewi tunggu saja kabar selanjutnya dari kami tentang kasus ini,” jawab Herman datar.


“Baiklah kalau begitu. Semoga kalian berdua menemukan titik terang tentang kasus tersebut,” ucap Bu Dewi.


“Terima kasih, Bu Dewi. Minumannya saya habiskan dulu, ya?” ujar Cintia.


“Oh ya, silakan! Harus dihabiskan sebelum pulang,” jawab Bu Dewi dengan ramah.


Cintia dan Herman pun meminum sisa teh yang sudah tak hangat lagi itu kemudian mereka pun pamit pulang.


Bu Dewi mengantar kepergian dua polisi itu sampai di depan rumahnya.


“Semoga mereka berdua dapat menyelesaikan kasus tersebut dengan tuntas! Tapi, kenapa aku jadi khawatir begini,  ya?” ucap Bu Dewi pada dirinya sendiri sambil memperhatikan punggung dua polisi muda itu.


BERSAMBUNG


Ayo, waktu untuk ikutan kuis novel KAMPUNG HANTU tinggals sedikit lagi. Rugi kalau nggak ikutan!

__ADS_1


__ADS_2