
Aku tertegun saat mendengar pengakuan Mas Diki. Aku tidak meminta Mas Diki mengulangi jawabannya, meskipun aku ragu apakah benar Mas Diki mengatakan hal itu. Ada rasa ketersinggungan yang hinggap di hatiku tatkala laki-laki yang paling kau cintai ini mengatakan bahwa saat kami bersama, tubuhku yang selalu rutin aku rawat ini tiba-tiba menjelma menjadi pocong dalam pandangannya.
Tidak satu kali, tapi sudah dua kali Mas Diki menunjukkan gejala aneh saat waktu kita bersama. Kemarin dan pagi tadi peristiwa itu terjadi. Bahkan kemarin aku ingat ia memang berteriak 'pocong' yang kukira ia hanya salah lihat saja. Rasanya, dua kejadian itu sudah cukup membuktikan bahwa Mas Diki memang mengatakan hal itu. Namun, aku tetaplah wanita. Setenang apapun aku menghadapi ucapan Mas Diki, ternyata perkataan itu melukai perasaanku. Aku menunduk dan mataku pun sembab dengan air mata. Aku memalingkan pandangan ke arah kiri untuk sekedar mengurangi rasa sakit itu.
"Dik ... Maafkan saya, ya, kalau perkataan saya menyakiti hati Dik Sinta?" ucapnya sambil tetap menyetir.
Aku hanya mengangguk untuk membuat perasaan Mas Diki tenang. Tapi, dugaanku salah, aku justru malah semakin merasakan sakit. Air mataku semakin deras mengalir.
"Dik ... Maafkan, Mas, ya? Kemarin Mas sengaja tidak menyampaikan kepada Dik Sinta karena Mas tahu Dik Sinta pasti akan sedih kalau Mas berkata jujur. Tapi, ketika kejadian itu terulang tadi pagi dan kita ke dokter Tedy, Mas pikir inilah saatnya Mas jujur kepada Dik Sinta sebelum terlambat. Mas tidak tahu penyebab semua ini. Mungkin Mas sudah mengalami halusinasi tingkat berat. Mungkin saja ada masalah di otak Mas. Mungkin Mas sudah mendekati kegilaan, Dik. Mas ingin sembuh, Mas kayaknya harus diperiksa ke psikiater, Dik. Mas takut kalau terlambat, kewarasan Mas tidak bisa tertolong lagi," tutur Mas Diki dengan panjang lebar dan penuh emosional.
Aku yang awalnya sedih karena merasa terhina dengan pengakuan suamiku, ketika mendengar Mas Diki berkata seperti itu aku menjadi kasihan dengannya. Jangan-Jangan Mas Diki benar, bahwa ada masalah di otaknya sehingga ia sampai berhalusinasi seperti itu. Aku menoleh ke arah Mas Diki. Kutatap wajah Mas Diki yang seperti menahan tangisan. Rasa sakit hati itu perlahan pun mencair dan berubah menjadi rasa iba terhadap suamiku. Tidak pernah aku melihat wajahnya sesedih itu selain ketika ditinggal oleh Yu Darmi, kakak sepupunya.
"Mas ingin waras, Dik. Mas ingin menkaga dan membahagiakan Dik Sinta dan Nur. Mas ingin melihat Nur menjadi anak yang sukses. Mas tidak mau seperti ini terus," rengek suamiku sambil menyetir mobilnya.
"Mas, berhenti dulu nyetirnya! Bahaya ...," jawabku sambil mengelus pundak suamiku.
Mas Diki pun secara perlahan menepikan mobilnya. Ternyata kami sudah sampai di depan TK Amanah Bangsa 03.
"Mas tidak boleh berpikir seperti itu. Mas ini orang sehat lahir dan batin. Mas akan terus sehat sampai tua bersama saya," ucapku lagi sambil merangkul tubuh suamiku.
"Tidak, Dik! Pasti ada apa-apa dengan otak Mas. Tidak mungkin kalau otak Mas baik-baik saja, Mas bisa melihat wujud Dik Sinta berubah. Pasti otak Mas tidak baik-baik saja," tangis Mas Diki pecah di dalam pelukanku.
Aku mengelus punggung suamiku untuk memberinya ketenangan. Aku yang semula sangat sakit hati pada ucapannya mendadak luluh dan justru berbalik merasa tidak tega dengan suamiku.
"Kita tunggu hasil cek Lab dari dokter Tedy dulu, ya? Kalau memang tidak ada masalah secara fisik, kita minta surat rujukan dari dokter tedy untuk ke psi-ki-a-ter ...," ucapku dengan terbata-bata ketika menyebut kata 'psikiater'.
Mas Diki adalah laki-laki yang paling aku hormati dan kagumi. Aku benar-benar tidak tega menyebut Mas Diki mengalami gangguan kejiwaan, meskipun sedikit. Aku lebih baik merasa sakit dipanggil 'pocong' daripada harus menyebut suamiku sebagai pasien dokter jiwa. Tapi, aku berusaha untuk tenang agar Mas Diki juga tenang.
__ADS_1
"Mas, sudah, ya? Sekarang kita fokus ke acaranya Bude Yati dulu. Nanti baru kita bahas hal ini?" ucapku saat aku mengetahui kondisi Mas Diki sudah cukup tenang.
"Iya, Dik. Terima kasih, ya?" jawabnya sambil melepas pelukanku.
"Ayo, Mas. Sudah siang! Mungkin Mbak Ning butuh apa-apa di sana?" ucapku pada Mas Diki.
"Iya, Dik!" jawab Mas Diki sambil menstarter mobil.
Mobil pun melaju menuju rumah Mbak Ning. Sesampai di rumah Mbak Ning kami dikejutkan dengan kejadian yang memprihatinkan. Mbak Ning muntah darah dan membuat orang-orang kebingungan. Mas Wisnu dan Ikbal menangis melihat kondisi Mbak Ning yang memprihatinkan.
"Ya Allah ... Mbak ...," teriakku histeris saat melihat Mbak Ning dalam kondisi lemah.
"Diiiiik ... tolong saya, Diiiik ...," teriak Mbak Ning begitu melihatku.
"Cepat bawa ke mobil!" teriakku pada orang-orang yang berada di sana.
"Kita bawa ke rumah sakit, Mas!" jawabku tegas.
Mas Wisnu pun membopong tubuh Mbak Ning ke dalam mobilku. Jok belakang sengaja diturunkan agar Mbak Ning lebih leluasa.
"Apa tidak sebaiknya kita menelpon ambulan dulu, Dik?" tanya Mas Wisnu.
"Kita harus gerak cepat, Mas! Nyawa Mbak Ning sedang dalam bahaya!" jawabku.
"Ayo, buruan kita berangkat!" ucapku.
Mas Wisnu, Ikbal, dan Mas Diki pun masuk ke dalam mobil. Kulihat Bu Dibyo dan Mbak Srintil berada di sana.
__ADS_1
"Bu Dibyo ... Mbak Srintil, saya titip selametan tetap diteruskan, ya? Jangan lupa doakan Mbak Ning juga. Ini saya titip uang untuk kebutuhan dapur," ucapku sambil memberikan uang kepada Mbak Srintil.
"Iya, Mbak. Tolong kirim kabar, ya? Kami sangat mencemaskan keadaan Mbak Ning," jawab Mbak Srintil dengan air mata berlinang.
"Iya, Mbak. Mohon doanya!" jawabku sambil masuk ke dalam mobil.
Para tetangga Mbak Srintil berjubel di sekitar rumah Mbak Ning untuk melihat keadaan Mbak Ning. Mereka semua melepas kepergian Mbak Ning menuju rumah sakit dengan perasaan khawatir.
Selama di perjalanan, Mas Wisnu tak henti-hentinya menangis melihat kondisi istrinya yang lemah. Ikbal pun tak kalah cemas dengan kakak iparnya.
"Mbak, maafkan Ikbal, ya? Mbak harus sembuh. Maafkan Ikbal. Ikbal janji akan tetap tinggal sama Mbak Ning!" ucap Ikbal sambil menangis tersedu-sedu.
"Baaaaal ..." teriak Mbak Ning lemas sambil memegang tangan Ikbal.
Aku ikut terisak melihat kondisi Mbak Ning di depanku.
"Bal, berikan minum untuk Mbak Ning meskipun sedikit," perintahku pada Ikbal.
"Iya, Mbak!" jawab Ikbal.
Ikbal pun menyuapi minuman ke mulut kakaknya. Mbak Ning berusaha untuk meminum cairan yang diberikan oleh adiknya. Secara perlahan air minum itu masuk ke dalam tubuh Mbak Ning melalui mulutnya yang terlihat kaku.
BERSAMBUNG
Baca novelku yang lain :
KAMPUNG HANTU
__ADS_1
SEKOLAH HANTU