
Pak Jefri dan Bu Jefri naik motor dari rumahnya menuju rumah sakit. Revan dibonceng di tengah-tengah mereka berdua.
“Revan, pegangan yang erat ya sama, Om!” perintah Pak Jefri.
“Iya, Om. Ini Revan sudah pegangan,” jawab Revan.
“Tapi, kok pegangannya ke bahu, Om? Ke pinggang saja biar pegangannya lebih kuat,” jawab Pak Jefri.
“Nggak bisa, Om. Tangan Revan nggak muat ke perut Om Jefri,” teriak Revan dengan polosnya.
“Ha ha ha … Makanya, Mas. Diet … Diet … perutmu itu makin lama makin buncit saja!” teriak Bu Jefri sambil tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengar jawaban Revan.
Pak Jefri tidak bisa menyahut lagi karena memang benar perkataan istrinya itu. Akhir-Akhir ini bobot tubuh Pak Jefri terus bertambah. Sulit bagi pria itu untuk makan hanya sedikit saja. Apalagi masakan istrinya memang selalu enak-enak terus.
“Mas … Kira-Kira kita masih boleh masuk nggak, ya? Ini kan sudah malam, Mas?” tanya Bu Jefri setelah mereka berkendara cukup lama.
“Bisa, Dik,” jawab Pak Jefri singkat.
“Emangnya ada jam besuk malam-malam begini?” tanya Bu Jefri.
“Ya, kalau nanti nggak boleh masuk, kita pulang saja. Besok kita balik lagi,” jawab Pak Jefri enteng.
“Loh, kasian sama Revan, Mas. Dia ingin sekali melihat kondisi ayahnya,” jawab Bu Jefri.
“Iya, Om. Aku ingin sekali bertemu dengan ayah, jawab Revan.
“Tuh, benar kan apa yang aku bilang!” protes Bu Jefri.
“Jam besuknya sudah berakhir jam enam barusan, Dik,” jawab Pak Jefri.
“Terus? Ngapain kita berangkat, Mas. Kalau sudah tidak ada jam besuk lagi,” protes Bu Jefri.
Pak Jefri hanya diam. Ia tidak menjawab pertanyaan istrinya. Bu Jefri mulai merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti itu.
“Kita minggir dulu, Dik. Mas mau membeli rokok,” ujar Pak Jefri tiba-tiba sambil meminggirkan motornya di depan sebuah warung yang baru ia temui setelah cukup lama berkendara.
“Loh, Mas merokok lagi? Katanya sudah berhenti merokok? Gimana Mas ini!” omel Bu Jefri pada suaminya
“Turun dulu!” perintah Pak Jefri sambil mematikan mesin motornya.
Bu Jefri pun turun dari boncengannya disusul oleh Revan.
“Kita pulang saja, Mas! Ngapain kita jauh-jauh berkendara kalau tidak bisa ketemu dengan Pak Ade. Apa hanya untuk mengantar kamu membeli rokok, paling malas aku kalau kayak gini!” omel Bu Jefri kepada suaminya.
Pak Jefri tetap meneruskan aktifitasnya untuk membeli rokok di warung tersebut. Ada seorang bapak-bapak tua yang melayani dari dalam toko.
“Pak, saya beli rokok cap Sapu Lidi dua, Pak!” teriak Pak Jefri.
__ADS_1
“Ini, Mas!” jawab bapak tua itu sambil menyerahkan rokoknya kepada Pak Jefri.
“Sekalian koreknya, Pak. Berapa semuanya?” tanya Pak Jefri.
“Empat puluh dua ribu, Mas,” jawab bapak tua.
“Ini, Pak. Uang pas,” jawab Pak Jefri sambil memungut rokok dan korek yang diletakkan di atas bak berisi beras oleh bapak tua itu.
“Makasih banyak, Mas. Mau ke mana malam-malam begini?” tanya bapak tua.
“Mau ke rumah sakit, Pak,” jawab Pak Jefri.
“Siapa yang sakit, Mas?” tanya bapak tua itu lagi.
“Tetangga. Bapaknya anak itu,” jawab Pak Jefri sambil menunjuk ke arah Revan yang sedang berdiri di samping istrinya. Saat itu Bu Jefri melihat sinis ke arah Pak Jefri.
“Oalah. Sakit apa, Mas?” tanya bapak tua itu lagi.
“Kecelakaan, Pak,” jawab Pak Jefri.
“Astagfirullah! Semoga lekas sembuh, Mas,” jawab bapak tua.
“Aaamiiiin. Terima kasih, Pak Saya pamit dulu,” ujar Pak Jefri.
“Sama-Sama, Mas. Hati-Hati di jalan!” pesan bapak tua.
“Kita pulang saja, Mas! Capek!” sindir Bu Jefri dengan ketus.
“Loh, katanya mau ke rumah sakit? Kok, malah minta pulang?” balas Pak Jefri.
“Bukankah Mas Jefri sendiri yang bilang kalau jam besuknya sudah tidak ada. Dan, Mas juga masih nyempe-nyempetin beli barang nggak penting kayak gitu!!” omel Bu Jefri.
Revan hanya terdiam saja melihat kedua orang dewasa itu berdebat. Ia hanyalah anak kecil yang tidak boleh ikut campur urusan orang dewasa.
“Apa? Rokok ini kamu bilang nggak penting? Justeru ini yang paling penting, Dik!” balas Pak Jefri.
“Penting apaan rokok ini, Mas? Bikin kamu jadi tambah sakit-sakitan, iya! Pokoknya, aku nggak suka kalau kamu merokok lagi. Titik!” jawab Bu Jefri dengan suara lebih keras.
Bapak tua penjaga toko hanya bisa memandang mereka berdua dari tokonya. Tapi, di dalam hatinya ia sudah bersiap seandainya Pak Jefri mengembalikan rokoknya kembali.
“COba dengerin dulu penjelasanku, Dik!” ujar Pak Jefri dengan nada meninggi.
“Penjelasan tai kucing? Pokoknya kalau kamu berdakwah tentang rokok, nggak masuk ke pikiranku, Mas. Aku benci barang haram itu sejak bapakku meninggal akibat terkena kanker tenggorokan. Kamu tahu itu, kan?” jawab Bu Jefri dengan sambil meneteskan air mata.
“Dik, kamu jangan emosi dulu! Kamu ingat si Mamat teman SMA-ku, kan?” ujar pak Jefri.
“Iya. Temanmu yang kayak asbak berjalan itu, kan? Tidak pernah terputus dengan rokok. Kenapa? Dia yang mempengaruhi kamu untuk merokok lagi?” protes Bu Jefri.
__ADS_1
“Bukan, Dik. Dia itu sekarang menjadi Satpam di rumah sakit daerah tempat Pak Ade dirawat. Rokok ini bukan untuk mas,tapi untuk diberikan kepada si Mamat. Kan, nggak enak, Dik. Minta tolong diberikan ijin menjenguk di jam sekarang, tanpa memberi apa-apa?” ujar Pak Jefri dengan nada datar.
“Oooo … Jadi rokok itu bukan buat Mas?” tanya Bu Jefri lagi.
“Ya bukan lah, Dik. Sejak kepergian Bapak, mas kan sudah berjanji sama kamu untuk tidak merokok lagi? Nggak mungkin mas melanggar janji mas sendiri,” jawab Pak Jefri serius.
“Syukurlah kalau begitu. Habisnya tadi Mas Jefri nggak bilang dulu!” jawab Bu Jefri sambil menyeka air matanya yang mengalir sia-sia.
“Kamu juga asal nyerocos saja,” jawab Pak Jefri.
“Mas sih nggak langsung bilang,” balas Bu Jefri.
“Ayo sudh kita berangkat!” jawab Pak Jefri karena ia tahu bahwa kata 'maaf' itu tidak akan pernah keluar dari mulut seorang perempuan.
Bu Jefri dan Revan pun akhirnya naik lagi ke atas motor dan mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Tiba-Tiba ada suara sirine dari arah berlawanan.
Niu Niu Niu
“Loh, kok ada mobil ambulan dan polisi, Dik? Mau ke mana mereka?” tanya Pak Jefri kepada istrinya.
“Entahlah, Mas. Mungkin ada kecelakaan,” jawab Bu Jefri.
“Perasaanku kok nggak enak ya, Dik?” ucap pak Jefri.
“Semoga tidak terjadi apa-apa, Mas!” ucap Bu Jefri.
“Aamiiin …,” jawab Pak Jefri.
Mereka bertiga pun berangkat menuju rumah sakit dengan disaksikan oleh bapak tua penjaga toko yang sejak tadi juga ikut menyimak percakapan mereka.
“Dasar anak muda! Sedikit-Sedikit bertengkar. Habis itu baikan! Kayak anak kecil saja. Yah, tapi namanya juga anak muda. Wajar seperti itu!” ucap bapak tua.
“Ada apa, Pak? Ada orang beli-beli, tah?” suara seorang ibu tua dari arah dapur menuju ke bagian toko.
“Enggak, Bu. Barusan ada orang beli-beli terus bertengkar di depan toko kita, tapi habis itu baikan lagi,” jawab bapak tua dengan sopannya.
“Ngapain Bapak ngurusi urusan mereka? Nggak penting banget, sih! Tuh, kerupuk di dapur belum dibungkusi! Aku sudah capek yang menggorengnya. Belum lagi aku tadi juga mencuci setumpuk baju kotor. Bapak malah enak-enakan ngurusi urusan orang! Biar aku saja sekarang yang menjaga toko. Gantian Bapak yang membungkus kerupuk di dapur! Awas, kalau sampai kemurahan, ntar jatah rokok Bapak aku potong!” omel Ibu tua itu pada suaminya.
"Kalau jatah rokok bapak dikurangi, bapak nggak bisa semangat, Bu, ngasih jatah ke Ibu," balas bapak tua.
"Biar tak sunat sekalian kalau Bapak nggak semangat!" protes ibu tua itu lagi.
"Ampuuun, Bu!" teriak bapak tua sambil memegangi sangkar burungnya.
"Ya sudah sana yang semangat membungkus kerupuknya. Ntar, aku kasih dua pak rokok kalau selesai," jawab ibu tua yang memang penduduk asli wilayah tersebut.
“I-iya, Bu, Beres!!!” sahut bapak tua itu dengan penuh semangat.
__ADS_1
BERSAMBUNG