
Bu Dewi sudah sekuat tenaga berjalan cepat dari kantin menuju kamar suaminya. Namun, perempuan itu merasa ia tidak cepat sampai di kamar Pak Ade. Ia semakin khawatir dengan nasib yang akan menimpa suaminya oleh ulah dokter Marni gadungan itu.
“Ya Tuhan! Siapa sebenarnya orang yang menyamar menjadi dokter Marni itu? Apa ini ada hubungannya dengan ketakutan suamiku terhadap arwah Laras? Atau dia itu memang Laras? Kenapa Laras mau mencelakai suamiku? Atau jangan-jangan yang mencelakai Pak Hartono juga Laras? Tapi, kenapa Laras membunuh Pak Hartono dan akan mencelakai suamiku? Atau jangan-jangan Pak Hartono dan suamiku ini … Aaaaargh!!!” Bu Nisa memaksakan diri untuk berlari di koridor karena memikirkan nasib suaminya. Padahal saat itu kakinyasedang dalam kondisi yang kurang baik. Beberapa perawat yang melihat Bu Nisa berlari sempat terkejut karena ada orang berlari di koridor rumah sakit dan saat malam pula. Sayangnya, ketika perawat tersebut mengejar keluar untuk menegur Bu Nisa Bu Nisa sudah berhasil kabur karena saking cepatnya Bu Nisa berlari.
Setelah berlari selama beberapa menit, Bu Nisa pun sudah hampir mencapai kamar Pak Ade. Pintu kamar Pak Ade sudah beberapa meter di depan mata Bu Nisa. Perempuan itu buru-buru membuka pintu dan meimbulkan suara sedikit bising karena saking kerasnya Bu Nisa membukanya.
Prak!!
Tak hanya itu, dengan napas terengah-engah, Bu Nisa berlari ke dalam kamar Pak Ade tanpa melepas sandalnya saking paniknya dan betapa terkejutnya ia saat melihat Pak Ade dalam keadaan ma terbelalak.
“Mas …,” pekik Bu Nisa Lirih.
“Kenapa kamu, Dik?Kok, kayak orang kesetanan begitu?” Pak Ade balik bertanya kepada Bu Nisa.
Bu Nisa gelagapan dan kaget karena ia melihat Pak Ade tidak terluka atau kenapa-kenapa seperti dugaannya. Bu Nisa masih belum bisa tenang sebelum ia bertemu dengan dokter Marni. Ia pikir bisa saja dokter Marni gadungan itu belum melancarkan aksinya sekarang. Tapi, menunggu aktu yang tepat. Untunglah, Bu Nisa sudah mengetaui perihal dokter gadungan itu.
“Mana dokter Marni, Mas?” tanya Bu Nisa dengan terbata-bata karena Bu Nisa masih sibuk mengatur napasnya .
“Dokte Marni ada di belakangmu, Dik,” jawab Pak Ade masih bertanya kenapa istrinya sepanik itu.
Mendengar jawaban Pak Ade, Bu Nisa sontak terkejut. Ia pun buru-buru menoleh ke belakang karena khawatir dokter Marni gadungan itu sedang berusaha untuk menyerangnya dari belakang. Tapi, Bu Nisa yang panik itu terkejut karena dilihatnya dokter Marni sedang santai saja di belakangnya malah ia tidak sedang memegang apa-apa di tangannya. Dokter Marni pun sama dengan Pak Ade reaksinya ketika melihat Bu Nisa. Bu Nisa tampak tegang dan wajahnya kurang bersahabat.
“Ada apa Bu?” apa dokter Marni dengan kebingungan.
“A-apa benar Anda ini dokter Marni?” tanya Bu Nisa dengan terbata-bata.
__ADS_1
“Apa-apaan kamu ini, Dik. Itu dokter Marni yang barusan memeriksaku dan ijin ke kamar mandi setelah selesai mengecek tubuhku,” potong Pak Ade.
“Iya benar kata, Bapak, Bu. Saya ini dokter Marni yang meman ditugaskan untuk merawat suami ibu. Ibu kenapa? Apa Ibu sakit?” ujar dokter Marni dengan penuh rasa kebingungan mendera di pikirannya. Perempuan yang sebelumnya bersikap baik seharian ini malah berubah menjadi sosok yang kurang bersahabat dan seperti mencurigai dirinya.
“Tapi, Mbak berkemeja merah tadi bilang kalau dokter Marni sudah pulang dari tadi,” jawab Bu Nisa dengan terbata-bata.
“Perempuan berbaju merah? Apa rambutnya panjang dan disemir coklat terang?” dokter Marni bertanya balik kepada Bu Nisa.
“Iya, benar. Tadi, di kantin tanpa sengaja saya mendengar pembicaraa mbak itu kepada mbak kasir bahwa dokter Marni sudah pulang sejak tadi,” jawab Bu Nisa.
“Ya Allah … Itu Mbak Sherly asisten pribadiku, Bu Nisa. Memang tadi saya sudah pamit pulang kepada Mbak Sherly.Tapi, aku mampir ke fotokopian dulu terus aku ingat dengan suami ibu. Makanya aku mampir ke sini untuk mengecek kondisi bapak soalnya tadi sore pas ke sini, saya melihat Bapak dan Ibu sedang nyenyak tertidur jadi saya tidak tega untuk membangunkannya,” jawab dokter Mirna dengan diakhiri tawa renyahnya.
“Apa benar yang dokter Marni katakan barusan?” Bu Nisa bertanya untuk memastikan.
“Jangan, Dok! Istri saya ini hanya salah paham saja. Mungkin ini karena istri saya kecapekan,” potong Pak Ade sambil mencolek badan Bu Nisa.
“Iya, saya maklum. Namanya juga merawat orang sakit pasti capek fisik dan juga pikiran. Wajar kalau Bu Nisa ini mengira saya hantu apalagi setelah mendengar omongan dari Mbak Sherly yang mengatakan kalau saya sudah pulang,” jawab dokter Mirna dengan ramahnya.
“M-maafkan atas kesalahan saya ya, Bu!” ucap Bu Nisa kemudian
Akhirnya istri Pak Ade itu sadar bahwa ia sudah salah paham terhadap dokter Marni.
“Tidak apa-apa, Bu. Sebaiknya Ibu beristirahat yang cukup. Atau Ibu mau pulang saja nggak apa-apa kok Bapak sendirian di sini kan sada perawat yang akan memantau perkembangan Bapak dua puluh empat jam di sini. Lagipula Bapak berani kan tidur sendirian di sini? Iya kan, Pak?” ujar dokter Marni.
“I-iya eh tidak, Dok! Istri saya tidak biasa di rumah tanpa ada saya,” jawab Pak Ade berbohong padahal ia sendiri yang takut kalau ditinggal sendirian di rumah sakit tersebut.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu Ibu tidur di sini tidak apa-apa asal jangan kayak tadi lagi. Kasian pasien lain yang kaget mendengar Ibu berlari dan panik seperti ini,” sahut dokter Marni.
“I-iya, Dok. Sekali lagi saya mohoh maaf atas keteledoran saya,” jawab Bu Nisa.
“Ya sudah. Saya pamit dulu sekarang. Selamat beristirahat,” ujar dokter Marni sambil mengambil tasnya dan berjalan ke luar kamar.
“Terima kasih, Dok,” jawab Pak Ade dan istrinya.
Dokter Marni pun akhirnya sampai di luar kamar. Sebelum pergi perempuan itu menatap ke arah pintu kamar Pak Ade. Kemudian ia tersenyum dan pergi meninggalkan kamar.
Sementara itu Pa Ade dan Bu Nisa melanjutkan obrolannya di dalam kamar.
“Dik, kamu ini kok sampai kayak gitu kepada dokter Marni. Untung beliau tidak marah. Kalau sampai beliau tersinggung, bagaimana?” ucap Pak Ade.
“Namanya juga aku salah paham, Mas. Yah, semoga saja dokter Marni benar-benar tidak marah kepadaku,” jawab Bu Nisa.
“Loh, nasi bungkusnya kok tidak diberikan ke dokter Marni?” tanya Pak Ade yang abru menyadari bahwa istrinya masih memegang kresek berisi makanan di tangannya.
“Ya Allah, iya, Mas. Aku lupa!” jawab Bu Nisa.
“Kejar, Dik. Mumpung belum jauh!” suruh Pak Ade.
“Iya, Mas!” jawab Bu Nisa sambil berlari meninggalkan Pak Ade di dalam kamar. Namun, saat Bu Nisa keluar dari kamar, perempuan itu tidak melihat batang hidung dokter Marni. Malah ia juga tidak melihat ada orang lain seliwar-seliwer di koridor rumah sakit. Perasaan Marni menjadi tidak enak karenanya. Makanya perempuan itu memilih untuk kembali ke dalam dan mengurungkan niatnya memberikan nasi bungkus kepada dokter Marni. Namun, sesampai di dalam kamar Pak Ade, Bu Nisa dibuat terkejut dengan pemandangan yang ia lihat di depannya. Bu Nisa sampai melotot matanya karena saking terkejutnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1