MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 24


__ADS_3

Sebenarnya masih mau up besok, tapi karena kepikiran dengan pembaca yang komen-komen minta up, akhirnya aku up hari ini.


Mau crazy up? Crazy komen, dong!


Cekidot ...


"M-m-ma-maaf, Mbak. Saya tidak bilang ke Mbak Sinta kalau tadi saya menjemput Nur," jawab perempuan tersebut dengan wajah pucat karena ketakutan.


"Mana sekarang anak saya?" bentakku kepada perempuan tersebut.


"Ibuuuuuuuuu!!!" sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakangku. Aku pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Nuuur??" pekikku seraya menghampiri anakku yang berjalan ke arahku.


Kupeluk erat tubuh anakku yang sudah semakin beranjak remaja itu. Tak terasa tangisku pecah saat itu. Mas Diki membelai kepala anakku. Aku tahu Mas Diki sebenarnya perasaan Mas Diki juga campur aduk saat itu, tetapi sebagai laki-laki ia mungkin malu untuk meluapkan emosi dengan menangis sepertiku.


"Bu, maafkan Tante Clara, ya? Ini bukan kesalahannya, tapi ini kesalahan saya," cetus Nur setelah lepas dari pelukanku.


"Tadi siang sewaktu saya baru keluar dari gerbang sekolah, secara kebetulan saya melihat Tante Clara melintas di depan sekolah dan berhenti menghampiri saya yang sudah bersiap menuju ke pasar. Jujur, saya sebenarnya merasa takut untuk berangkat ke pasar sendirian karena sewaktu di toilet sekolah, saya sempat melihat bayangan putih," Nur menjelaskan alasan kenapa ia pulang bersama Clara.


"Bayangan putih apa, Nak?" selaku karena mengkhawatirkan keadaannya.


"Entahlah, Bu. Saya keburu lari menjauh. Saya takut berada sendirian, Bu!" jawabnya.


"Baiklah, lanjutkan ceritamu!" ucapku lagi.


"Awalnya Tante Clara menolak untuk mengantarkan saya pulang karena ia takut Ibu dan Bapak kebingungan. Tante Clara bilang kepada saya kalau ia hanya punya waktu sebentar untuk menggunakan mobil itu karena pemiliknya sudah menunggunya di rumah. Tante Clara hanya pinjam sebentar untuk membeli kebutuhan dapur di toko kelontong dekat sekolah. Saya tetap kekeuh mau pulang bersama Tante Clara karena saking takutnya. Akhirnya Tante Clara pun tidak bisa menolak permintaan saya. Dan saya pun pulang bersama Tante Clara, sepeda gunung saya diletakkan di bagasi belakang bersama barang belanjaan Tante Clara," terang Nur.


Aku menoleh ke arah Clara.


"Bukankah kamu bisa meminta nomer HP saya kepada Nur untuk mengabari saya menggunakan handphonemu, Clara?" tanyaku pada perempuan muda tersebut.


"Saya tidak punya HP, Mbak. Bapak angkat saya juga lupa membawa HP-nya, Mbak!" jawab Clara dengan wajah serius.


"Jadi mobil itu milik bapak angkatmu?" Aku bertanya.


"I-iya, Mbak. Tadi ia datang berkunjung ke sini untuk menjenguk kami," jawab Clara sambil merunduk.


Aku berjalan menuju Clara dan meraih tangan ibu muda itu.

__ADS_1


"Maafkan kekasaran saya tadi, ya, Clar!" ucapku.


Clara perlahan mengangkat kepalanya dan menatapku dengan wajah masih ketakutan.


"Saya tadi tidak dapat menguasai diri, Clar. Saya terlalu bingung karena mencemaskan anak saya," ucapku lagi sambil menatap wajah ibunya Riki itu.


"I-iya, Mbak. Saya sudah memaafkan Mbak Sinta. Justru saya yang seharusnya meminta maaf karena membuat Mbak Sinta bingung," jawab Clara.


Aku pun memeluk perempuan muda tersebut. Clara hanya diam dan tak bereaksi ketika kupeluk.


"Apakah bentakanku tadi masih membuatnya syok? Atau ia murung karena kedatangan bapak angkatnya? Apa sebenarnya yang terjadi antara Clara dengan bapak angkatnya?"


Saat memeluk Clara seperti itu, tiba-tiba aku melihat Riki memegang tirai pembatas di ruang tamu Clara. Riki menatapku tajam sebentar, kemudian ia membalikkan badan masuk ke dalam rumahnya.


"Riki!!!" pekikku sambil melepas pelukanku pada Clara dan berusaha untuk mengejar anak laki-laki Clara tersebut. Tapi Clara memegangi tanganku.


"Jangan, Mbak!" ucap Clara.


"Saya harus mengejarnya, Clara. Takutnya dia marah karena saya baru saja marah-marah sama kamu!" ujarku.


"Tidak, Mbak. Kalau Mbak mengejarnya sekarang, nanti dia akan tambah marah," jawab Clara.


"Baiklah Clara, saya akan menjelaskan padanya nanti. Tapi, tolong kamu sampaikan permintaan maafku padanya, ya?" ucapku secara perlahan.


"Iya, Mbak," jawab Clara.


"Saya pamit pulang dulu, ya?" ucapku.


Aku, Mas Diki, dan Nur meninggalkan rumah Clara menuju rumah kami sendiri.


Mungkin karena baru melampiaskan emosi kepada Clara, saat itu aku lupa dengan protokol pengamanan di rumah seperti tadi malam dan tadi pagi yaitu minta didampingi Mas Diki.


Ketika selesai mandi dan lain sebagainya barulah aku ingat dengan hal itu. Yang pertama kali kulakukan ketika mengingatnya adalah berlari ke kamar Nur untuk mengetahui keadaannya.


BRAK!


Suara pintu kamar anakku yang kubuka dengan keras.


"Ada apa, Bu?" pekik anakku dengan wajah terkejut. Saat itu ia sedang berbaring di atas tempat tidur dengan komik di tangannya.

__ADS_1


"Syukurlah, kamu baik-baik saja, Nak ...," jawabku dengan napas masih terengah.


"Ibu ini bikin kaget saya saja," ujar anakku kembali.


"Maafkan ibu, Nur. Ibu hanya cemas dengan keadaanmu, takutnya kejadian semalam terulang lagi," jawabku sambil melangkah mendekati anakku.


"Jangan bicara itu lagi, Bu. Saya sudah tenang sekarang," jawab Nur sambil melanjutkan membaca komiknya.


"Apa ibu tidak salah dengar? Bukankah semalam dan tadi pagi kamu masih ketakutan? Terus, kamu juga bilang kalau kamu melihat bayangan putih di toilet sekolah. Dan kamu pulang bersama Clara dengan alasan takut sendirian, kan?" ujarku dengan nada meninggi.


"Iya, Bu. Tapi setelah dinasehati oleh Tante Clara, saya menjadi lebih tenang, Bu," jawab Nur.


"Dinasehati apa kamu, Nur?" tanyaku penasaran.


"Hm ... Gelang ini pemberian Tante Clara, kan, Bu?" ucap Nur sambil menunjukkan gelang antik itu kepadaku.


"Iya benar. Dari mana kamu tahu? Pasti Clara yang memberitahumu, ya?" tanyaku menelisik.


"Tidak hanya itu, Bu. Tante Clara itu tahu kalau saya diganggu hantu. Makanya, ia memberikan gelang ini untuk saya pakai. Menurut Tante Clara, gelang ini jangan sampai terlepas dari tangan saya, karena kalau dilepas, hantu itu akan datang lagi," terang anakku.


"Tante Clara ngomong seperti itu sama kamu?" tanyaku dengan nada meninggi.


"Iya, Bu. Apa yang dikatakan Tante Clara ternyata benar. Pocong semalam dan bayangan putih di sekolah itu datang ketika saya nekad melepas gelang itu. Ketika saya memakai gelang itu lagi, perasaan saya menjadi lebih tenang, Bu," jawab Nur.


"Ya Tuhan! Apa sebenarnya yang terjadi dengan anakku ini? Mengapa tiba-tiba ia sering didatangi hantu? Gelang apa sebenarnya yang diberikan oleh Clara pada anakku? Siapa sebenarnya Clara ini?"


Kepalaku penuh dengan praduga-praduga yang tidak kuketahui. Ada keinginan untuk melepas gelang yang dipakai oleh Nur, tetapi aku takut hantu itu akan datang lagi mengganggu anakku.


"Aku tidak boleh diam saja. Aku harus mencari informasi tentang kejadian yang menimpa anakku ini. Aku juga harus mencari informasi tentang Clara,"


Bersambung


Novel cetak Kampung Hantu sudah bisa diorder, loh.



Jangan ngaku pembaca setia kalau belum kekepin novel cetaknya. Isinya beda dong dengan versi aplikasi. Yang pasti lebih serem dan lebih menguras emosi.


Mau pesan lewat penerbit boleh. Mau pesan lewat aku juga boleh. Khusus yang pesan lewat aku, ada bonus-bonus spesial.

__ADS_1


Salam Seram dan Bahagia


__ADS_2