
Minul pulang dari sawah dengan perasaan yang lebih lega dibandingkan sebelumnya. Di dalam hati ia sangat berterima kasih kepada Pak Salihun yang telah menghiburnya sekaligus membantunya untuk menghilangkan perasaan sedihnya.
“Pak Salihun. Kamu memang laki-laki yang sangat sempurna. Beruntung sekali Jamila bisa memiliki kamu, tapi memang sudah sepatutnya Jamila mendapatkan pria terbaik untuk menghabiskan sisa hidupnya dan juga sekaligus menjadi figur ayah untuk Gio. Hm … Kenapa aku malah mikiran Pak Salihun? Tidak! Pak Salihun adalah milik Jamila. Aku tidak boleh mengganggu hubungan mereka berdua. Aku sudah terlalu sering menyakiti Jamila. Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama yang dapat membuat Jamila semakin benci ke padaku. Aku harus membuang jauh-jauh perasaan kagumku kepada Pak Salihun …,” Minul berkata pada dirinya sendiri.
Sementara itu Jamila yang sedang berbaring sedih di rumahnya menjadi malas untuk beraktifitas. Ia yang awalnya masih kesal dengan Pak Salihun ditambah lagi dengan rasa kesalnya kepada Minul. Ia sampai tidak menggubris anaknya yang sedang butuh teman untuk bermain.
“Oh ya, pagi tadi Pak Salihun itu mau meminta maaf kepadaku dan ia mengaku bahwa yang menerima kencahnya adalah dia, bukan Pak Ratno. Sayangnya, bukan aku yang menyerahkan kencah itu padanya. Loh, Minul kan menakutiku agar bisa merebut kencah dariku sehingga ia bisa mengambil kesempatan untuk mengembalikan kecah itu kepada Pak Ratno. Berarti? Ups ... Iya, berarti perempuan yang disangka aku oleh Pak Salihun itu adalah Minul. Dan Minul sendiri juga tidak menyadari bahwa malam itu ia tidak menyerahkan kencahnya kepada Pak Ratno, melainkan kepada Pak Salihun yang sedang menyamar menjadi Pak Ratno. Karena Pak Ratno kan ketemu sama aku di dekat musholla.” Jamila berkata pada diri sendiri sambil menganalisa kembali ucapan Pak Salihun dan Minul.
“Sebaiknya aku menyampaikan hal ini kepada mereka berdua. Agar merka berdua tahu bahwa mereka sudah melakukan kesalahpahaman. Tapi, aku males ketemu dengan Minul. Biarlah, nanti saja aku ngomong sama Pak Salihun kalau ada waktu,” ucap Jamila lagi.
Pada sore hari barulah Jamila bangun dari tempat tidur karena ia ingin mandi untuk menyegarkan pikirannya. Setelah selesai mandi, ia mencari Gio untuk menyuruh anaknya itu mandi juga. Namun, ternyata Gio baru pulang dari luar rumah dan dalam keadaan sudah bersih dan segar.
“Dari mana kamu, Bun?” tanya Jamila.
“Eh … Aku habis main sama anaknya Tante Minul,” jawab Gio dengan sedikit tergagap.
“Kapan kamu yang keluar rumah? Kok nggak ijin sama ibu dulu?” tanya Jamila lagi.
“Tadi Gio sudah ijin sama Ibu, tapi kayaknya Ibu tidak merespons. Ibu kayaknya tidur. Akhirnya Gio berangkat sendiri,” jawab Gio dengan sedikit takut.
“Lain kali kamu nggak boleh kayak gitu! Harus ijin dulu kalau mau ke luar rumah. Takutnya ada apa-apa gimana?” tegur Jamila lagi.
“Iya, Bu. Gio minta maaf,” jawab Gio dengan polosnya.
“Kamu sudah makan, Gio?” tanya Jamila lagi.
__ADS_1
“S-sudah, Bu. Tadi Tante Minul yang menyuapi aku bareng sama anaknya,” jawab Gio jujur.
“Loh, kan ibu sudah bilang. Kamu nggak boleh makan di rumah orang. Harusnya kamu menolak kalau ditawari makan sama Tante Minul,” omel Jamila.
“Tante Minul juga awalnya tidak mau menyuapi aku, Bu. Karena dia takut aku ntar dimarahi sama Ibu. Tapi, aku yang minta disuapi karena aku laper,” jawab Gio dengan polosnya.
“Lo, kenapa kamu sampai laper? Kan di dapur ada nasi?” omel Jamila dengan tidak begitu keras karena Jamila tidak ingin anaknya ketakutan.
“Nggak ada nasi di dapur, Bu. Kan mati listrik sejak pagi tadi? Aku mau membangunkan Ibu untuk menanak nasi, tapi aku nggak tega kayaknya ibu sedang sedih,” jawab Gio dengan sedikit berhati-hati karena takut dimarahi oleh ibunya.
“Ya Ampuuuun!!!” pekik Jamila sambil berjalan ke arah dapur dan benar saja ketika ia membuka rice cooker, isinya masih beras.
Gio mengekor di belakang ibunya dengan perasaan takut. Jamila pun membalikkan badannya menghadap anaknya.
“Iya, Bu. Maafkan Gio, ya Gio janji tidak akan mengulanginya lagi,” jawab Gio dengan polosnya.
“Ya sudah. Sekarang kamu mandi, ya, ibu masakin air panas?” ucap Jamila lagi.
“Gio sudah mandi, Bu. Tadi mandi di rumah Tante Minul. Tante Minul tadi yang manasin air buat Gio. Gio kan cerita sama Tante Minul kalau ibu sedih dan nggak mau ke luar kamar sama sekali. Lalu Tante Minul yang nyuruh aku mandi di sana biar ibu tidak repot di rumah,” jawab Gio dengan kecerdasan verbal alaminya.
Jamila hanya bisa melongo mendapat penjelasan seperti itu dari anaknya yang masih kecil. Di dalam hatinya sebenarnya ia masih marah kepada Minul, tapi hatinya sedikit tersentuh dengan kepedulian sahabatnya itu.
“Ibu sudah makan?” tanya Gio pada ibunya.
“Belum, Gio. Ibu mau masak nasi dulu di kompor,” jawab Jamila.
__ADS_1
“Tante Minul membawakan sebungkus nasi buat Ibu. Tante Minul juga membawakan lilin ini untuk persiapan nanti malam kalau lampunya belum hidup,” jawab Gio sambil menyodorkan kresek kepada ibunya.
Jamila terkejut karena Minul membawakan bend-benda itu. Sebenarnya ia ingin menolak mentah-mentah barang itu, tapi ia tidak ingin mengajarkan kebencian kepada anaknya yang masih kecil.
“Kamu taruh kreseknya di meja makan itu saja! Terus kamu ganti bajumu. Ambil bajunya di lemari dan letakkan baju kotormu di timba ya?” perintah Jamila pada anaknya.
“Iya, Bu!” sahut Gio sambil meletakkan kresek hitam pemberian Minul di meja dan anak kecil itu pun bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah itu ia pun meletakkan baju kotornya ditimba yang memang khusus untuk mengumpulkan baju-baju kotor.
Jamila pun mulai menyalakan kompor dan memindahkan beras yang ada di dalam rice cooker ke panci Setela itu janda muda itu pun duduk di meja makan untuk membuka nasi bungkus yang dibawa oleh anaknya.
“Iwak pe!” pekik Jamila saat ia mendapati menu kesukaannya di dalam nasi bungkus pemberian temannya itu.
Iwak Pe adalah masakan yang jarang didapati di dusun Delima. Andaipun ada harganya sangat mahal. Sebenarnya Jamila awalnya tidak suka dengan jenis makanan tersebut karena menurutnya aromanya aneh dan sedikit pesing. Tapi, suatu hari saat ia galau, tiba-tiba Minul datang dan mengajaknya untuk masa iwak pe bareng di rumahnya.
“Mil! Untuk melampiaskan kemarahan kamu pada lakimu yang kurang ajar itu, giman kalau kita masak makanan ekstrim yaitu iwak pe?” tawar Minul.
Jamila awalnya ragu, tapi benar kata Minul. Ia ingin melampiaskan kemarahannya saat itu dengan makan makanan yang tidak ia suka plus cabe mau ia banyakin untuk melampiaskan emosi.
“Oke, Nul! Sikaaaaat!” sahut Jamila saat itu sambil menutup hidungnya.
Dan ternyata sesuatu di luar dugaan terjadi saat iwak pe nya sudah matang. Ternyata rasanya semakin lama semakin enak dan aromanya lambat laun bisa diterima oleh Jamila. Malahan pada akhirnya iwak pe menjadi salah satu makanan favorit janda muda itu.
Saking suntuknya pikiran Jamila, ia sampai tidak sadar bahwa ia sudah menghabiskan nasi bungkus pemberian Minul. Gio yang melihat betapa lahapnya ibunya makan pun menjadi senang hatinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1