MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 44 : HITAM


__ADS_3

Aku terkejut dengan munculnya sosok misterius tersebut. Aku pun langsung berteriak untuk memperingatkan Mas Diki tentang adanya sosok mencurigakan di belakangnya. Mas Diki yang mendengar teriakanku bermaksud menoleh ke belakang. Namun, sayangnya ia sudah terlambat. Sosok bertopeng tersebut lebih dahulu memukul bagian belakang kepala Mas Diki dengan menggunakan kayu. Mas Diki langsung terkapar tak berdaya dan terjerembap di atas kap mobil.


"Maaaaaaaaas!!!!" teriakku histeris begitu melihat suamiku langsung tidak sadarkan diri.


Aku segera berpindah tempat duduk ke sebelah begitu melihat sosok bertopeng itu berjalan ke arahku. Segera kuaktifkan kunci otomatis untuk mengisolir sosok hitam tersebut yang berusaha masuk ke dalam mobil. Alhasil aku berhasil menghalangi sosok hitam itu untuk masuk ke dalam.


Di dalam mobil aku panik, takut, dan bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Di satu sisi aku sangat mencemaskan kondisi Mas Diki yang entah masih hidup atau sudah tewas. Tapi di satu sisi aku harus menyelamatkan diri dari serangan sosok hitam ini.


Sosok hitam tidak tinggal diam. Kali ini ia memukul kaca mobil dengan kayu yang ia bawa.


BRAK!!!


Tidak hanya sekali ia melakukannya sampai-sampai mobil yang aku naiki bergetar. Aku yang berada di dalam berpikir keras bagaimana caranya aku bisa selamat dari serangan sosok hitam ini. Aku pun mencoba menstarter mobil dan ternyata mesinnya bisa menyala. Sosok hitam itu menghentikan sejenak aksinya begitu melihat mesin mobil ini menyala. Mas Diki masih terjerembap di atas kap mobil dengan kaki menyentuh tanah. Aku pikir, kalau aku memajukan mobil ini kemungkinan besar aku akan menabrak tubuhnya, tapi kalau aku memundurkan mobil ini akan lebih aman buat keselamatan Mas Diki.


Aku pun memundurkan mobil secara perlahan. Tubuh Mas Diki tetap berada di atas kap mobil tersebut. Aku pikir aku dapat menyelamatkan Mas Diki, tapi dugaanku salah. Begitu melihat mobil berhasil dimundurkan, sosok hitam itu malah menarik kerah baju Mas Diki bagian belakang. Selanjutnya Mas Diki sudah berada dalam cengkraman sosok hitam itu. Mas Diki menggeliat lemah. Sosok hitam itu sengaja mengacungkan tubuh Mas Diki. Ia seolah-olah berkata bahwa kalau aku pergi, ia akan membunuh Mas Diki.


Aku mengalami kebingungan luar biasa saat itu. Aku tidak mungkin pergi meninggalkan ayahnya Nur. Namun, aku juga tidak mungkin dapat menolongnya. Tapi, kalau aku pergi, sosok hitam itu pasti akan menganiaya suamiku. Oleh karena itu aku pun memilih untuk membunyikan klakson dengan kuat agar ada orang yang datang kemari untuk menyelamatkan kami berdua.


Rupanya usahaku berhasil. Sosok hitam itu tidak jadi menganiaya Mas Diki kembali. Tubuh Mas Diki dilepas begitu saja di atas jalan dan sosok hitam itu berjalan mendekatiku dengan membawa kayu. Aku mengatur napasku dalam.menghadapai situasi menegangkan tersebut.

__ADS_1


Sosok hitam itu sudah semakin denganku. Kali ini ia sudah bersiap untuk merusak kacaku kembali. Aku sudah mengatur strategi dengan matang, begitu oa sudah dekat dengan mobilku. Aku pun segera menekan gas mobil kuat-kuat dengan kakiku sehingga mobil yang kendarai berhasil menabrak sosok hitam itu. Sosok hitam itu terpental jauh ke depan dan bergulingan di atas jalan. Tidak ada lagi pergerakan dari sosok hitam itu. Mungkin ia sudah tewas atau minimal pingsan akibat berbenturan dengan mobilku.


Aku menghela napas lega begitu melihat sosok hitam tersebut terkapar di atas tanah. Sekarang aku berpikir untuk segera melarikan diri tentunya dengan membawa Mas Diki juga. Karena itu aku pun membuka pintu mobil dan secara perlahan berjalan mendekati Mas Diki yang sedang terbaring di atas jalan.


Mataku terus menatap ke arah sosok hitam itu, takutnya ia hanya pingsan dan tiba-tiba terbangun. Setelah memastikan kondisi aman, aku pun berusaha membopong tubuh suamiku dengan sekuat tenaga. Setelah bersusah payah akhirnya aku bisa membawa tubuh suamiku ke kursi depan mobil. Aku pun menutup pintu mobil dari luar. Setelah itu aku berlari menuju sisi mobil yang satunya dan segera masuk ke dalam.


Setelah berada di dalam mobil aku mulai bernapas lega, akhirnya kami berdua bisa lepas dari ancaman sosok hitam tersebut. Aku sudah bersiap untuk menjalankan mobil, namun tiba-tiba sosok hitam itu tidak berada di posisinya tadi.


"Ke mana perginya sosok hitam itu?" Aku bertanya pada diri sendiri.


Rasa cemas kembali merasuki pikiranku. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sosok hitam tadi. Namun, aku tidak menemukan petunjuk apapun.


"Masa bodoh dengan sosok hitam itu. Yang penting aku dan Mas Diki sekarang sudah selamat. Aku harus segera pergi ke rumah Mbak Ning untuk menolong Mbak Ning dan juga mencari pertolongan untuk Mas Diki," ucapku di dalam hati.


Ada benda tajam menekan leherku. Dan seseorang muncul dari belakang jok yang kududuki.


"Belok kanan!" teriaknya sambil agak menekankan benda tajam yang menempel erat di leherku.


"I-i-iya!" jawabku dengan ketakutan.

__ADS_1


Dari kaca dashboard aku dapat mengetahui bahwa ia adalah sosok hitam yang tadi menghilang di kebun kopi. Entah bagaimana caranya ia bisa ada di dalam mobil ini. Mas Diki yang berada di sebelahku tidak sanggup berbuat apa-apa karena tubuhnya terluka.


Aku terus menyetir mobil dalam ancaman sosok hitam tersebut. Mobil yang aku kendarai terus melaju ke utara meninggakan area pemukiman penduduk menuju ke area perbukitan yang jauh dari jangkauan orang-orang hingga kami sampai di sebuah sungai.


"Stop! Matikan mesin mobilnya!" perintah sosok berpakaian serba hitam dengan topeng menutupi wajahnya itu.


"Tunggu, kenapa orang ini harus menutupi mukanya? Jangan-Jangan dia adalah orang yang kami kenal? Jika tidak, untuk apa ia harus menyembunyikan identitasnya? Kalau dari suaranya sih, kayaknya aku tidak mengenalnya. Tapi, bisa saja ia sengaja mengubah cara berbicaranya untuk mengecohku," pikirku di dalam hati.


KLIK!


Sosok hitam tiba-tiba memasangkan borgol untuk kedua tanganku. Tentu saja itu sangat mengejutkanku karena aku sudah berencana untuk menyerang sosok hitam ini secara tiba-tiba. Tapi, dengan tangan diborgol seperti ini tentunya agak menyulitkanku untuk menyerangnya.


"Ayo turun!" ancamnya lagi.


Aku menuruti perintah sosok hitam dengan perasaan takut meskipun kali ini tidak ada lagi benda tajam yang ditempelkan ke leherku. Tapi, di tempat sepi begini aku takut ia akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti aku atau Mas Diki.


BERSAMBUNG


Jangan lupa like dan komentarnya. Baca juga cerita lainnya.

__ADS_1


KAMPUNG HANTU


SEKOLAH HANTU


__ADS_2