MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 26 : KEBETULAN


__ADS_3

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyapa nenek tua tersebut.


"Nenek mau ke mana?" sapaku sopan.


"ini, Nduk. Saya mau pulang, tapi lupa arah jalan pulang," jawab nenek tua itu cemas.


"Loh! Memangnya rumah nenek di mana? Kenapa nenek bisa sampai di tempat ini?" tanyaku penasaran.


"Saya lupa nama desanya, Nduk. Kemarin, setelah subuh saya meninggalkan rumah karena mau ziarah ke makam almarhum suami saya, tapi pulangnya sepertinya saya salah jalan makanya saya tersesat sampai ke sini. Pasti anak dan menantu saya sejak kemarin bingung mencari saya," jawab nenek itu masih dengan ekspresi kebingungan.


"Ya Allah, Nek ... Oh, ya, apakah nenek sudah makan?" tanyaku gusar.


"B-belum, Nduk. Sudah, jangan repot-repot, saya cuma ingin diantar pulang ke rumah saja," jawab nenek tua itu malu-malu.


"Nenek tidak makan sejak kapan? Apakah sejak kemarin?" tanyaku kepikiran.


"Oh tidak, Nduk. Kebetulan kemarin saya masih punya uang untuk membeli makanan di warung. Namun, hari ini saya tidak punya uang sama sekali untuk membeli makanan," jawab nenek tua itu dengan jujur.


"Baiklah, sebaiknya kita duduk dulu sebentar di sana itu. Kebetulan saya membawa roti di tas saya ini," ucapku sambil menunjuk ke arah tempat duduk di pinggir jembatan kecil.


"Sudah, Nduk. Jangan repot-repot. Itu kan bekal kamu di jalan. Jangan diberikan kepada saya," jawabnya.


"Tidak apa-apa, Nek. Nanti saya bisa beli lagi di jalan. Lagipula nenek harus kenyang agar bisa membantu saya untuk melacak asal desa nenek," jawabku.


"Baiklah, Nduk. Terima kasih atas kebaikanmu," jawab nenek sambil berjalan mengikuti arahanku menuju tempat duduk yang terbuat dari semen tersebut.


Sesampai di tempat duduk itu, aku dan nenek tua itu duduk berdampingan. Aku pun mengeluarkan roti dari dalam tas untuk diberikan ke nenek tersebut. Sambil menunggu nenek tersebut selesai makan, aku pun melakukan panggilan kepada Mbak Srintil.


"Ya, Mbak," sapa Mbak Srintil di seberang.


"Gimana, Mbak? Apa sampean sudah nemu ojek?" tanyaku.


"Ojeknya libur semua, Mbak. Ini, saya sedang ke rumah salah satu tetangga untuk minta diantar ke sana," jawab Mbak Srintil.


"Apakah orang itu mau mengantarmu, Mbak?" tanyaku lagi.


"Iya, Mbak. Orangnya sudah kenal baik, kok. Dia pasti mau mengantar saya. Mbak Sinta tenang saja. Oh, ya, kalau nomor saya nggak bisa dihubungi, Mbak Sinta nggak usah bingung, ya, karena hape saya sedang low bat nih. Yang jelas saya pasti datang, Mbak," jawab Mbak Srintil meyakinkanku.

__ADS_1


"Okelah kalau begitu, Mbak," jawabku.


Kemudian kami berdua pun mengakhiri percakapan melalui sambungan telepon. Selanjutnya aku pun melakukan panggilan telepon terhadap Pak RT.


"Selamat pagi, Dik Sinta ...," sapa Pak RT dengan kenesnya.


"Selamat pagi, Pak RT. Hari ini kita jadi, kan, ke rumah Pak Seno untuk melihat isi CCTV rumahnya?" tanyaku dengan nada datar. Jujur, saya tidak suka dengan nada ganjen Pak RT.


"Jadi dong, Dik. Masa enggak? Kita ketemuan di mana?" tanya Pak RT.


"Begini, Pak RT. Sepertinya ada beberapa perubahan rencana karena ada kejadian tak terduga. Jadi, kita nanti ketemuan di depan TK AMANAH BANGSA 3. Nanti saya akan menumpang mobil Pak RT," jawabku.


"Loh, mobil suamimu kenapa? ada masalah kah?" tanya Pak RT.


"Tidak apa-apa. Nanti saja kita bahas hal itu karena sekarang saya harus membantu seseorang. Jadi, nanti kalau saya agak terlambat mohon dimaklumi," jawabku datar.


"Oh, tenang saja, Dik. Saya pasti akan sabar menunggu kamu dan suamimu yang tampan itu," jawab Pak RT seenaknya. Ia tidak tahu kalau Mas Diki tidak dapat menemaniku. Dan aku tidak mau ia tahu hal itu lebih awal.


"Baiklah, saya tutup dulu teleponnya," ucapku kemudian menutup sambungan teleponnya.


Nenek tua di sebelahku sudah selesai menyantap beberapa potong roti yang kuberikan. Setelahnya, aku menyodorkan air mineral kepada nenek tua tersebut. Ia menenggaknya dan menghabiskan minumannya dengan cukup cepat. Dari caranya makan dan minum menunjukkan bahwa ia benar-benar kelaparan dan kehausan.


"Iya, Nek. Terima kasih atas nasihatnya. Saya tidak pernah keluar rumah sendirian. Tapi, kali ini saya terpaksa melakukannya karena suatu hal yang sangat penting," jawabku.


"Jangan mudah percaya sama orang, Nduk. Orang jahat itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan," jawab nenek tua.


"Iya, Nek. Terima kasih atas nasihatnya," jawabku.


"Terima kasih atas makanan dan minumannya. Saya tidak pernah makan roti seenak ini. Pasti ini roti mahal, ya?" tanya nenek.


Aku menjawabnya dengan tersenyum. Roti yang baru saja dimakan nenek tua itu memang roti terbaik yang aku beli melalui teman baikku.


"Sekarang saya ingin menanyakan banyak hal kepada nenek agar saya bisa mengetahui asal nenek," ujarku.


"Baiklah, Nduk. Silakan kamu mau nanya apa saja?" ujar nenek.


"Apa yang nenek ingat tentang lingkungan di sekitar tempat nenek?" tanyaku.

__ADS_1


"Hm ... apa ya? Ya, ada sawah ... Rumah ... Itu saja yang saya ingat," jawab nenek.


"Oke! Berarti rumah nenek dekat dengan sawah. Apa nenek ingat nama kepala desa atau nama sekolah atau nama masjid di sana?" tanyaku lagi.


"Saya tidak tahu nama kepala desanya. Kalau sekolah SD sih ada, tapi saya tidak tahu apa namanya. Nama masjidnya juga saya tidak tahu, Nduk. Maklum, saya kan buta huruf," jawab nenek tua itu dengan tersenyum simpul.


Aku merasa informasi yang diberikan oleh nenek tua ini terlalu sedikit dan sifatnya umum. Aku jadi kepikiran bagaimana kalau seandainya saya tidak bisa mengetahui asal desa nenek tua ini. Sedangkan aku harus segera berangkat ke rumah Pak Seno. Aku merasa kasihan dan berdosa jika tidak bisa membantu nenek tua ini pulang.


"Nduk, maafkan nenek, ya, sudah membuat kamu bingung. Kalau kamu tidak bisa membantu saya, tidak apa-apa, kok, biar saya terus mencarinya sendiri. Saya yakin saya bisa menemukan arah jalan pulang nantinya," jawab nenek tua itu seperti mengerti dengan kegundahan hatiku.


"Maafkan saya, ya, Nek. Mungkin saya akan mengantar nenek ke kantor polisi terdekat saja nanti biar polisi yang membantu nenek. Saya tidak mungkin membiarkan nenek luntang-lantung sendirian di jalan," jawabku sedih.


"Terima kasih, Nduk," jawab nenek tua itu.


"Sama-Sama, Nduk. Oh, ya, saya boleh mengambil foto nenek untuk saya sebar melalui hape saya ini? Siapa tahu ada teman saya yang bisa membantunya," ujarku.


"Boleh, Nduk. Silakan!" jawab nenek.


Aku pun mengambil gambar sebanyak dua kali. Kemudian aku menulis tentang nenek hilang itu di status WA-ku dan Facebook-ku.


"Nek, coba nenek ingat-ingat lagi. Di sekitar rumah nenek apa ada sesuatu yang tidak ada di tempat lain?" tanyaku lagi.


Sebelum nenek itu menjawab, aku melihat ada angkutan umum di ujung jalan yang sedang menuju ke tempat kami berdua.


"Aku ingat sesuatu, Nduk. Di desaku ada sebuah makam keramat yang tiap malam jumat ramai dijunjungi orang-orang dari berbagai daerah untuk mencari keberkahan di sana. Setiap setahun sekali di dekat makam itu digelar acara ruwatan," jawab nenek tua dengan terbata-bata.


"Makam Mbah Darmo?" tanyaku.


"Iya, benar, Nduk. Dari mana kamu tahu hal itu?" tanya nenek keheranan.


"Nama desa nenek Curah Putih. Kepala desanya namanya Ki Sukmo dan nama masjid di dekat rumah nenek namanya Masjid Baitur Rohim, kan?" desakku.


"Iya, benar, Nduk. Kok, kamu bisa tahu?" tanya nenek makin pensaran.


"Ayo, ikut saya naik angkutan itu. Saya akan mengantar nenek pulang ke desa nenek," jawabku serius sambil menuntun tangan nenek masuk ke angkutan umum yang berhenti tepat di depan kami berdua.


"Dari mana kamu bisa tahu desa saya, Nduk?" tanya nenek lagi.

__ADS_1


"Saya bukan hanya tahu, Nek. Tapi, saya sangat kenal dengan tempat itu," jawabku tegas.


BERSAMBUNG


__ADS_2