MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 148 : TERKUBURNYA RAHASIA


__ADS_3

Keesokan harinya kota kecil tersebut menjadi heboh dengan penangkapan beberapa pejabat teras diantaranya pemilik Hotel Bunga atas dugaan penyalahgunaan ijin hotel untuk kegiatan prostitusi dan perdagangan manusia. Kontraktor yang dulu pernah melecehkan Laras juga diseret ke tahanan oleh polisi karena keterlibatannya atas pelecehan anak dibawah umur. Pejabat-Pejabat di kota kecil tersebut juga turut diseret ke tahanan oleh polisi atas dugaan perdagangan Narkoba setelah mendapat informasi dari kurir Narkoba yang ditangkap terlebih dahulu oleh polisi. Bahkan Pak Ade dan Pak Dimas juga dinyatakan terbukti menyalahgunakan Narkoba untuk keperluan bisnis mereka. Hal itu berbuntut pada ditutupnya ijin usaha mereka.


Hari ini polisi juga mengumumkan bahwa kematian Pak Ade disebabkan oleh serangan binatang buas. Polisi mengingatkan kepada masyarakat masyarakat yang beraktifitas di sekitar desa Curah Putih untuk lebih berhati-hati terhadap serangan ular besar yang bisa saja membahayakan jiwa mereka. Mengingat area di desa Curah Putih itu masih berbatasan langsung dengan hutan, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya ular atau satwa buas lainnya yang mungkin melintas untuk mencari mangsa.


Herman dan Cintia merasa puas dengan hasil kerja mereka. Apalagi mereka tidak perlu melibatkan Nona Larasati ke dalam kasus tersebut, sehingga nama baik perempuan itu dan Panji akan terus terjaga sampai akhir hayat. Setelah itu Cintia dan Herman pun memutuskan untuk membakar potongan buku harian yang mereka dapatkan dari arwah Nona Larasati. Mereka tidak ingin menyakiti hati Bu Dewi seandainya suatu saat perempuan itu sampai tahu isi potongan buku harian itu. Sepulang dari menemani Kapten Yosi melakukan konferensi pers, mereka berdua langsung berangkat menuju rumah mereka masing-masing untuk menyampaikan rencana mereka untuk meresmikan hubungan satu dengan lainnya.


“Cin, aku berjanji untuk selalu setia kepadamu …,” rayu Herman.


“Jangan berkata seperti itu, Herman! Kamu tahu sendiri, kan, bagaimana kasih sayang dan kekuatan cinta antara Bu Dewi dan suaminya? Tapi, mereka harus menyerah kepada takdir? Bukan tidak mungkin suatu saat kamu berada di posisi Pak Herman? Nama kalian sama, kan?” tegur Cintia.”


“Tidak, Cin! Kalau aku berada di posisi Pak Herman, aku akan tetap setiap pada Bu Dewi,” jawab Herman.


“Meskipun risikonya saat itu kalau kamu menolak menikahi perempuan itu maka warga akan menghajar kalian berdua dan kalian berdua bisa mati dengan membawa cerita yang akan lebih menyakiti hatiku?” ucap Cintia dengan nada emosi.


Herman pun terdiam.


“Tidak usah berjanji seperti itu, Her! Cukup cintai aku karena kamu mencintai Tuhanmu!” lanjut perkataan Cintia.


Hati Herman saat itu benar-benar tersentak. Ia tdak menyangka ternyata perempuan yang ia pilih untuk menjadi istrinya adalah seorang perempuan yang pemikirannya sudah sangat dewasa.


*

__ADS_1


Malam itu kembali Bu Dewi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia sekali lagi menunggu kedatangan suaminya untuk sekali lagi menyakiti hatinya sendiri dengan cara mengintip perilaku aneh suaminya. Sayangnya, malam itu suaminya tidak datang dan penungguannya selama semalam suntuk harus berakhir dengan kekecewaan karena suaminya baru mengabarinya keesokan harinya bahwa jadwalnya keluar kota dimajukan hari itu. Setelah bersiap-siap, ia pun langsung berangkat menuju ke rumah sahabatnya dengan minta diantar kepada Deni, salah satu saudara Ustad Andi yang memang sudah langganan mengantar keluarga Bu Dewi kalau bepergian.


“Wi, tetanggamu ada yang baru meninggal, nggak?” tanya Bu Sinta melalui WA.


“Ada. Kenapa?” tanya Bu Dewi.


“Aku ingin sekali makan kue dan nasi selamatan orang meninggal,” jawab Bu Sinta.


“Plis … Nggak usah aneh-aneh,” jawab Bu Dewi.


“AKu serius, Wi. Bawain, ya?” pinta Bu Sinta.


“Ok deh. Kebetulan ada. Tapi hanya kue saja karena ini selamatan hari ketiga,” jawab Bu Dewi.


Bu Dewi pun memasukkan kue selamatan itu ke dalam tasnya. Sebelum berangkat ke rumah sahabatnya itu, Bu Dewi tadi memang menyempatkan diri untuk takjiah dulu ke rumah salah satu tetangganya.


Setelah semua selesai ia siapkan, perempuan itu pun meminta Pak Salihun dan Pak Ratno untuk menjaga rumahnya selama ditinggal pergi. Pak Salihun dan Pak Ratno menyambutnya dengan senang hati karena beberapa hari ini sudah tidak ada isu adanya hantu di dusun Delima. Terlebih mereka tahu kalau disuruh menjaga rumahnya mereka pasti diberi uang lebih oleh Bu Dewi. Lumayan lah untuk menabung sebagai persiapan pernikahan mereka nanti.


*


Setelah beristirahat siang di ruma Bu Sinta, sore harinya Bu Dewi pun diajak mengobrol oleh sahabatnya itu. Bu Sinta sudah paham bahwa segelas teh hangat pasti akan membuat sahabatnya itu akan menceritakan semua masalahnya kepada Bu Sinta. Benar saja, setelah beberapa teguk Bu Dewi meminum teh hangat-hangat kuku buatan Bu Sinta, perempuan itu pun menceritakan semua permasalahannya kepada Bu Sinta. Tidak ada yang ditutup-tutupi, ia menceritakan sejak Laras masih ikut mereka sampai perilaku aneh yang dilakukan suaminya saat ini.

__ADS_1


Bu Dewi menarik napas dalam-dalam setelah mendengar semua cerita sahabatnya itu. Ia tidak memberikan statemen apapun saat itu. Bu Sinta hanya teringat dengan mimi-mimpinya beberapa hari sebelumnya. Ia pernah mimpi bertemu dengan seorang perempuan cantik yang mengaku dirinya sebagai leluhurnya dan bernama Nyi Ayu Kembang sampai ia bermimpi tentang Bu Dewi yang sedang dikejar-kejar oleh ular raksasa. Barulah kali ini ia ngeh dengan mimpi-mimpinya itu. Terlebih ia juga mendengar tentang kejadian terbunuhnya Pak Ade di desa Curah Putih. Bu Sinta teringat dengan kejadian masa kecilnya di desa tersebut. Kisah memalukan yang ingin ia kubur dalam-dalam. Tapi, kedatagan Bu Dewi ke rumahnya dengan kesedihan yang amat mendalam, membuat istri Pak Diki itu pun tidak tega untuk membiarkan sahabatnya itu terus-terusan tersakiti oleh perilaku aneh suaminya.


“Wi, Cintia yang kamu ceritakan itu adalah adik dari sahabat suamiku. Aku mengenal dia sudah lama. Dia itu sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Bulan depan dia akan menikah dengan Herman yang kamu temui itu,” ucap Bu Sinta.


“Ya Ampun … ternyata dunia ini tak selebar daun kelor, ya?” pekik Bu Dewi.


“Yah, begitulah, Wi!” jawab Bu Sinta.


“Wi, sebantar lagi Magrib tiba, mana kue selamatannya?” ujar Bu Sinta.


“Ada … Kamu yakin nggak apa-apa makan kue ini?” tanya Bu Dewi sambil mengeluarkan kue dari dalam tasnya.


“Nggak apa-apa, Wi,” jawab Bu Sinta.


Bu Dewi pun menyerahkan kue tiga macam kepada Bu Sinta. Istrinya Pak Diki itu pun langsung memakannya dengan sangat lahap.


“Sin,aku ke belakang dulu, ya?” ucap Bu Dewi sambil ngeloyor pergi ke kamar mandi.


Bu Sinta masih belum selesai mengunyah kuenya saat azan Magrib berkumandang di daerah tersebut. Begitu azan Magrib selesai berkumandang, Bu Sinta merasa tidak enak berada di luar rumah sendirian. Ia pun memilih untuk masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu dari dalam. Betapa terkejutnya Bu Sinta saat ia melihat sesosok perempuan sedang berdiri di pinggir jalan di depan rumahnya. Pakaian yang dikenakan perempuan itu tidak seperti orang kebanyakan. Ia mengenakan jubah putih panjang. Karena penasaran Bu Sinta pun mengucek-ucek matanya untuk memfokuskan pandangan. Sayangnya, sosok perempuan itu sudah menghilang bersama denga embusan angin malam.


BERSAMBUNG

__ADS_1



__ADS_2