MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 81 : RENUNGAN


__ADS_3

Hari ini kedatangan dokter Marni sangat ditunggu-tunggu oleh Pak Ade dan Bu Nisa. Mereka berdua ingin memastikan apakah kondisi Pak Ade sudah memungkinkan untuk dibawa pulang. Sejak pagi tadi Bu Nisa sudah mempersiapkan barang-barang bawaan mereka. Agar nantinya mereka tidak memakan waktu yang lama untuk proses kepulangan.


“Bagaimana tidur kalian semalam?” tanya Suster Marissa.


Pak Ade dan Bu Nisa tidak langsung  menjawab. Mereka berdua saling menatap terlebih dahulu karena takut salah berbicara.


“Syukurlah, tidur kami bertiga cukup nyenyak semalam, Suster,” sahut Bu Nisa akhirnya.


“Bapak, bagaimana?” tanya Suster Marissa lagi sambil menatap suami Bu Nisa itu.


“S-Sama, Sus. Saya semalam juga tertidur dengan nyenyak,” jawab Pak Ade sedikit gugup.


“Baguslah kalau begitu. Semoga hasil pemeriksaan Dokter Marni siang nanti hasilnya baik dan Bapak diperbolehkan pulang sesuai keinginan Bapak,” jawab Suster Marissa sambil memeriksa tensi dan suhu tubuh Pak Ade.


“Semoga begitu, Suster. Saya sudah ingin menghirup udara rumah,” jawab Pak Ade.


“Sudah nggak kerasan di sini, ya?” sahut Suster Marissa.


“Sebagus-bagusnya fasilitas kamar rumah sakit, masih tetap lebih enak suasana di rumah sendiri, Suster,” sahut Bu Nisa.


“Nah, itu benar sekali, Bu. Jaga kesehatannya ya, Bu! Supaya tidak masuk ke rumah sakit!” balas Suster Marissa.


“Iya. Makasih banyak, Suster atas bantuannya selama di sini. Kami mohon maaf kalau ada salah-salah kata sama Suster dan seluruh petugas rumah sakit ini,” ucap Bu Nisa.


“Sama-Sama, Bu. Kami juga berterima kasih karena Ibu dan Bapak sudah mempercayakan rumah sakit ini untuk merawat Bapak dan juga kami mohon maaf kalau selama suami Ibu dirawat di sini ada pelayanan kami yang kurang berkenan di hati Ibu dan Bapak sekeluarga,” jawab Suster Marissa.

__ADS_1


“Tidak, Suster. Selama suami saya dirawat di sini, kam benar-benar puas dengan pelayanan di sini. Oh ya, Suster, kira-kira dokter Marni datang jam berapa, ya?” tanya Bu Nisa.


“Sekitar jam sepuluh, Bu. Hari ini beliau ada schedule melakukan operasi kecil jam sebelas. Sebelum melakukan operasi, beliau pasti datang ke sini dulu,” jawab Suster Marissa.


“Oke. Makasih informasinya, Sus. Oh ya kami ada sedikit hadiah untuk Suster Marni sebagai ucapan terima kasih,” ujar Bu Nisa.


“Hadiah apa, Bu? Saya tidak sedang berulang tahun,” jawab Suster Marissa kebingungan.


Bu Nisa buru-buru mengambil amplop berisi uang yang sudah ia siapkan sejak kemarin. Suster Marissa terkejut saat melihat amplop berwarna putih yang dipegang Bu Nisa.


“Ini ada sedikit ucapan terima kasih dari kami untuk Suster Marissa,” ucap Bu Nisa pada Suster yang usianya cukup senior jika dibandingkan dengan suster-suster yang lain itu.


“Maaf, Bu. Saya tidak bisa menerima ini! Rumah sakit ini melarang karyawannya untuk menerima pemberian dalam bentuk apapun dari pasien atau keluarganya”, tolak Suster Marissa.


“Tidak, Suster! Kami tidak bermaksud menyuap Suster. Kami memberikan ini secara pribadi kepada Mbak Marissa, bukan kepada Suster Marissa,” rayu Bu Nisa.


“Tolong, Suster! Terima pemberian istri saya. Kami akan sangat sedih apabila Suster tidak mau menerimanya,” timpal Pak Ade.


“Kalau saya menerimanya, saya yang akan sedih seumur hidup karena telah mengecewakan guru saya,” jawab Suster Marissa dengan mata berlinang.


Bu Nisa menghampiri Suster Marissa yang tiba-tiba melankolis itu.


“Kalau boleh tahu, ada apa dengan guru Suster Marissa?” tanya Bu Nisa dengan rasa empati.


“Lima belas tahun yang lalu, saya sedang menempuh pendidikan. Pada tahun terakhir, kedua orang tua saya mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal dunia. Karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan studi, saya memutuskan untuk putus sekolah. Namun, seminggu kemudian wali kelas saya datang ke rumah meminta saya untuk bersekolah lagi. Saya menolak karena faktor biaya. Namun, Bu Fitri terus memaksa saya untuk tetap bersekolah dan ia sendiri yang akan membantu membayar biaya sekolah saya. Saya tetap menolaknya karena saya tahu Bu Fitri hanyalah guru honorer yang gajinya sangat minim. Namun, Bu Fitri terus memaksa saya. Katanya, ia tidak akan pulang sebelum saya menerima tawarannya. Akhirnya, saya pun menerima tawaran Bu Fitri dan melanjutkan sekolah sampai lulus,” tutur Suster Marissa dengan nada sendu.

__ADS_1


“Di mana Bu Fitri sekarang, Sus?” sahut Bu Nisa sambil mengelus pundak Suster yang merawat suaminya tersebut.


“Be-li-au meninggal du-nia duluan sehari sebelum saya dinyatakan lulus dari sekolah tersebut,” jawab Suster Marissa dengan air mata yang tidak bisa ia bendung lagi.


Bu Nisa terkejut mendengar cerita Suster Marissa.


“Sabar ya, Sus! Bu Fitri pasti bangga melihat Suster Marissa sudah sukses dan bermanfaat untuk orang banyak!” jawab Bu Nisa.


“Iya, Bu Nisa. Maka dari itu, tolong maklumi penolakan saya, ya? Karena semasa hidupnya, Bu Fitri pernah berpesan kepada saya, apabila nanti saya sudah bekerja di suatu perusahaan, saya tidak diperbolehkan menerima hadiah apapun saja dari orang yang saya bantu. Saya tidak mungkin melawan pesan dari almarhumah Bu Fitri karena hanya itu yang bisa saya lakukan untuk berbakti kepada beliau


,” jawab Suster Marissa dengan nada serius.


Bu Nisa tetegun sejenak. Kemudian perempuan itu menyahut.


“Iya, Sus. Saya mengerti sekarang. Mohon maaf saya sudah berusaha mengganggu prinsip bekerja Suster. Semoga almarhumah Bu Fitri mendapatkan tempat terbaik di sisinya,” sahut Bu Nisa.


“AAmiiin …,” sahut Suster Marissa.


“Saya permisi pamit dulu, Bu. Mohon maaf kalau saya sudah Curhat kepada Ibu. Saya mau ke kamar yang lain dulu. Kalau ada perlu apa-apa, silakan kabari saya!” ucap Suster Marisa sebelum ia keluar dari kamar perawatan Pak Ade.


Bu Nisa menatap kepergian Suster Marissa dengan perasaan haru. Ia tidak menyangka di jaman yang serba kapitalis ini, masih ada orang-orang berpendirian teguh seperti Suster Marissa dan almarhumah Bu Fitri, gurunya Suster Marissa.


“Betapa beruntungnya Suster Marissa yang dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa. Harta bagi orang-orang seperti Suster Marissa dan gurunya bukanlah tujuan akhir. Tujuan utama mereka adalah menjadi bermanfaat hidupnya untuk orang lain. Sedangkan aku? Sejak kecil aku sudah hidup di lingkungan yang menomorsatukan uang di atas segala-galanya. Hanya di awal menikah saja, aku dapat merasakan kebahagiaan hakiki tanpa uang yang banyak. Seiring bertambahnya usia pernikahan, aku dan Mas Ade sama-sama diperbudak oleh harta dan uang. Ah, mungkinkah orang-orang seperti aku dan Mas Ade ini nanti akan diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk merasakan kebahagiaan hakiki kembali?” Bu Nisa merenungi hidupnya selama beberapa detik.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Selamat Hari Guru Nasional


Semoga perjuangan dan dedikasi kalian diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa


__ADS_2