MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 65 : PELINDUNG


__ADS_3

Nenek tua mendekati Pak Ade yang sedang duduk di atas kasur. Jatmiko memberi ruang kepada ibunya untuk berhadapan dengan temannya itu.


“Sekarang kamu pejamkan matamu dan tenangkan pikiranmu dulu! Kita akan memulai ritualnya,” ucap nenek tua kepada Pak Ade.


“Baik, Bu,” jawab Pak Ade sambil memejamkan matanya.


Nenek tua mengeluarkan sebuah wadah bulat dari dalam tasnya. Kemudian ia mengeluarkan segenggam bunga dengan berbagai jenis dari dalam tasnya dan diletakkan di atas wadah yang diletakkan di atas kasur itu tepat di depan Pak Ade.


Kemudian nenek tua itu memejamkan matanya dan membaca mantra dan diikuti oleh Jatmiko. Mantra yang dibacakan itu berbahasa jawa kuno yang sulit dimengerti oleh siapapun kecuali nenek tua itu dan Jatmiko. Pak Ade sendiri kurang memahami makna dari mantra itu, tapi ia juga diminta oleh Jatmiko untuk mengikuti mantra yang dibacakan oleh mereka berdua.


Ajaibnya. Ketika mereka sedang membacakan mantra, tiba-tiba bunga yang ada di atas wadah itu mengeluarkan asap dan asapnya mengalir menuju hidung Pak Ade. Pak Ade merasa tidak tahan dengan wangi yang masuk ke dalam hidungnya. Namun, nenek tua itu kemudian berkata.


“Kamu hirup semua aroma wangi bunga tujuh rupa ini, Nak Ade! Hirup semua!” ucap nenek tua dengan nada suara agak meninggi.


“Uhuk! Uhuk!” Pak Ade sampai terbatuk-batuk karena hidungnya menghirup wewangian yang sangat ekstrim itu, tapi ia terus berusaha untuk menghirup asap itu semuanya meskipun sampai terbatuk-batuk. Hingga akhirnya bunga itu tidak mengeluarkan asap lagi. Dan anehnya, bunga yang awalnya segar itu sekarang sudah menjadi abu.


“Sekarang buka mata kamu, Nak Ade!” perintah nenek tua itu kepada Pak Ade.


Pak Ade pun secara perlahan membuka matanya. Pria itu terkejut saat melihat bunga yang tadi segar bugar telah menjadi abu.


“Tidak usah kaget, Nak Ade. Sekarang kamu sudah berhasil dilindungi oleh mantraku. Arwah wanita itu tidak akan dapat melihat maupun menyentuh tubuhmu. Tentunya kamu tidak perlu khawatir lagi untuk diganggu oleh hantu itu,” ucap nenek tua itu sambil terkekeh-kekeh.


“Be-benarkah itu, Bu? Terus, bagaimana dengan anak dan istriku?” tanya Pak Ade kepada nenek tua itu.


Nenek tua itu pun memejamkan matanya sejenak.


“Arwah wanita itu tidak akan bisa membunuh istri dan anakmu. Karena ia tidak punya energi untuk dapat melakukannya. Ia hanya ingin membunuhmu saja,” jawab nenek tua itu.


“Tapi, dia pernah menakut-nakuti istriku?” protes Pak Ade.


“Hanya sebatas itu saja yang bisa ia lakukan karena ia membutuhkan energi yang cukup besar untuk bisa kontak fisik dengan manusia. Ada dua hal yang dapat membuat energi arwah wanita itu bisa menjadi berkali-kali lipat. Rasa dendam dan perasaan cinta,” jawab nenek tua itu.


“Bisakah Ibu juga melindungi anak dan istriku?” tanya Pak Ade.


Nenek tua itu berpikir sejenak, kemudian ia pun berkata.


“Hm ... Bisa. Campurkan abu bunga ini ke minuman mereka. Arwah wanita itu tidak akan bisa mengganggu mereka berdua lagi,” jawab nenek tua itu.


“Terima kasih banyak, Bu. Kalau nggak ada Ibu aku bisa mati dibunuh oleh arwah wanita itu,” ucap Pak Ade sambil berusaha mencium tangan keriput nenek tua itu.


Nenek tua itu pun tertawa terkekeh-kekeh melihat aksi Pak Ade yang menunjukkan kepatuhannya padanya.


“Kamu jangan senang dulu, Nak Ade! Ingat, mantra itu hanya bisa bertahan selama tiga hari. Setelah itu lambat laun pengaruhnya akan menurun seiring dengan keluarnya mantar bunga itu dari tubuh kalian,” ucap nenek tua dengan tawa terkekeh.


“Maksud Ibu mantra ini tidak bisa melindungiku seumur hidup? Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa terbebas dari arwah itu selama-lamanya?” tanya Pak Ade tidak puas.


“Ha ha ha ... dasar kamu ini serakah, Nak Ade. Kamu berani berbuat jahat tetapi tidak mau menanggung risikonya. Kamu pikir bisa seenaknya saja mempermainkan kehidupan orang lain. Kecuali, kamu mau untuk melakukan ritual yang lebih berat dari ini!” jawab nenek tua dengan nada meninggi.


“Aku siap melakukan apapun saja demi keselamatanku dan juga keluargaku, Bu. Aku siap melakukan ritual apapun asal kami semua bisa selamat,” jawab Pak Ade tak mau menyerah.


“Hanya ada dua cara kamu bisa lepas dari ancaman hantu wanita itu untuk selamanya,” jawab nenek tua itu.


“Apa saja kedua cara itu, Bu? Mau berapa juta pun perlengkapan untuk melakukan ritual itu akan aku penuhi,” jawab Pak Ade.


“Kurang ajar kamu! Kamu pikir uang dapat menyelesaikan ini? Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan uang!” teriak nenek tua itu dengan penuh kemarahan.

__ADS_1


“M-maaf, Bu. Aku tidak bermaksud begitu,” jawab Pak Ade dengan suara memelas.


“Cara pertama yaitu dengan menumbalkan salah satu keluargamu sebagai pengganti nyawa kamu. Apa kamu mau melakukannya?” tanya nenek tua itu dengan terkekeh.


“Tidak, Bu. Aku tidak mungkin mengorbankan keluargaku. Aku sangat menyayangi mereka. Tidak bisakah korbannya diganti dengan orang lain saja?” tawar Pak Ade.


“Bisa sebenarnya, tapi perlu waktu yang lama. Kamu harus mengajak orang tinggal bersamamu dan membiayai hidup mereka selama setahun. Barulah kamu bisa menumbalkan mereka setelahnya, tapi aku yakin hantu wanita itu tidak akan mau kalau harus menunggu selama itu. Dia pasti sudah sangat ingin mencincang tubuhmu itu!” ucap nenek tua dengan ketusnya.


Pak Ade yang mendengar ucapan nenek tua itu pun menjadi syok karenanya. Kemudian ia pun tak sabar untuk mengetahui cara kedua yang bisa dilakukan olehnya untuk bisa lepas dari ancaman pembunuhan hantu wanita itu.


“Cara kedua apa, Bu? Siapa tahu cara kedua ini bisa aku lakukan,” tanya Pak Ade.


Nenek tua itu melempar senyuman kepada Pak Ade.


“Cara kedua yaitu degan cara melawan hantu itu dan memusnahkannya,” jawab nenek tua itu dengan nada serius.


“Apa? Bisakah kita melakukannya?” Pak Ade bertanya dengan rasa sangat penasaran.


“Hantu itu sama dengan kita. Dia yang berani menyebrang ke alam kita berarti sudah siap dengan segala risikonya. Dia juga bisa musnah kalau ada yang mampu menyerangnya. Tentunya tidak mudah untuk mengalahkan hantu wanita itu. Tapi, kamu tidak punya pilihan lain lagi,” jawab nenek tua itu.


“Bagaimana cara memusnahkan hantu wanita itu, Bu?” tanya Pak Ade dengan sangat penasaran.


Nenek tua itu tersenyum kembali pada Pak Ade.


“Sabar, Nak Ade! Untuk sekarang ini kita belum bisa memusnahkan arwah wanita itu. Tiga hari lagi barulah kita bisa melakukannya,” jawab nenek tua itu.


“Tiga hari lagi? Bukankah tiga hari lagi perlindungan terhadapku sudah hilang?” tanya Pak Ade.


“Justeru itulah saat terbaik untuk memusnahkan arwah wanita itu,” jawab nenek tua itu.


“Bodoh kamu, Nak Ade! Mantra itu hanya bisa dilakukan sekali pada satu orang selama hidupnya. Untuk yang kedua sudah tidak bisa lagi melindungi kamu dan keluargamu!” jawab nenek tua itu.


“Jadi, tiga hari lagi arwah hantu itu bisa membunuhku?” Pak Ade melotot karena ketakutan.


“Yah, begitulah. Makanya, kita harus memusnahkan arwah wanita itu sebelum dia berhasil membunuhmu!” jawab nenek tua itu.


“Kenapa tidak kita lakukan sekarang?” tanya Pak Ade dengan rasa ketakutan.


“Nanti kamu akan tahu sendiri, Nak Ade. Tiga hari lagi kita akan melakukan ritual lagi untuk memanggil dan memusnahkan arwah Laras,” jawab nenek tua itu.


“Dari mana Ibu bisa tahu kalau wanita itu bernama Laras?” tanya Pak Ade penasaran.


“Kamu tidak perlu tahu hal itu, Nak Ade. Yang perlu kamu tahu, aku datang ke sini tidak semata karena ingin menolongmu saja, tapi ada suatu hal yang harus aku selesaikan setelah ini. Jatmiko! Sebentar lagi kamu akan menikah,” jawab nenek tua itu dengan yakinnya.


“Aku tidak mengerti maksud perkataan Ibu? Bisakah Ibu menjelaskan maksud perkataan Ibu barusan?” tanya pak Ade.


“Belum saatnya, Nak Ade. Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab nenek tua itu.


“Jat, kamu paham maksud perkataan ibumu barusan?” tanya Pak Ade.


“Tidak, De. Aku juga tidak tahu apa yang dimaksud ibuku. Aku akan menikah, Bu? Dengan siapa?” tanya Jatmiko pada ibunya.


“Sudahlah, kamu menurut saja dengan ibu. Kamu sebentar lagi akan menikah dengan jodohmu yang sudah ibu tunggu-tunggu sekian lama. Dan kamu pasti akan terkejut setelah bertemu dengan calon istrimu nanti. Dia itu adalah sosok wanita yang sudah kamu rindukan sekian lama, Jatmiko. Ha ha ha ha ... Aku sudah tidak sabar menimang cucu dari kalian berdua nanti. Cucuku akan menjadi penerus trah keluarga kita. Dia akan mewarisi kesaktian leluhur kita yang tiada tandingannya. Leluhur kita pasti akan bangga dengan kamu dan keturunan musuh bebuyutan leluhur kita pasti akan menangis selamanya ... Ha ha ha ...” jawab nenek tua itu dengan tawanya yang membuat bergidik ngeri bagi siapapun yang mendengarnya.


“Bu, aku tidak paham dengan apa yang ibu katakan barusan,” jawab Jatmiko.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu tahu sekarang, Jatmiko. Nanti juga kamu pasti akan senang setelah aku nikahkan dengan orang yang sudah lama kamu idam-idamkan. Kamu pasti akan berterima kasih kepada ibu. Kamu pasti akan bahagia nantinya,” jawab nenek tua itu dengan bersemangat.


Pak Ade yang kebingungan dengan ucapan nenek tua itu pun hanya bisa diam dan tidak berkata-kata lagi. Jatmiko pun tidak jauh berbeda dengan Pak Ade. Ia hanya bisa diam dan tidak bertanya-tanya lagi karena ia sangat hapal dengan karakter ibunya yang selalu serba mendadak dan senang memberi kejutan.


“Oh ya, Nak Ade. Ada satu yang harus kamu tahu. Meskipun arwah wanita itu tidak bisa melihat atau pun menyentuh tubuh kamu dan keluargamu, tapi pada saat arwah itu berada di dekat kalian, kalian dapat melihatnya dengan jelas bentuk fisik dan aroma arwah wanita itu. Jadi, tolong jaga anak dan istrimu takutnya mereka berdua malah histeris atau kenapa-kenapa karena hal itu,” ucap nenek tua itu.


“Hah, apa tidak bisa ditutup penglihatan kami akan hal itu, Bu?” tanya Pak Ade.


“Maaf, Nak Ade. Itu sudah satu paket yang harus kalian terima. Karena mantra yang aku bacakan tadi sifatnya memang sementara, jadi tidak bisa melindungi kalian seratus persen. Bersabarlah selama tiga hari ini,” jawab nenek tua itu.


“Yah, kalau memang begitu adanya. Kami bisa berbuat apa lagi? Tapi, tolong tiga hari lagi Ibu benar-benar membantuku untuk memusnahkan arwah wanita itu. Mungkin untuk sementara aku dan keluargaku tidak keluar rumah dulu demi keamanan kami atau kami bertiga pergi ke luar kota dulu,” jawab Pak Ade.


“Aku tidak akan pernah ingkar dengan janjiku, Nak Ade. Lagipula aku kan sudah bilang sama kamu bahwa aku juga punya kepentingan lain dengan menolongmu. Oh ya, jangan kamu pikir dengan kalian tidak keluar rumah atau pergi ke luar kota kalian akan bebas dari arwah wanita itu. Ingat! Alat indera arwah wanita itu bukanlah mata atau hidung lagi seperti kita, tapi energi. Dia akan mengikuti ke mana pun kamu pergi karena kamulah penyuplai energi terbesar bagi arwah wanita itu. Perasaan dendamnya terhadap perbuatanmu adalah kekuatan terbesarnya. Siapkan mentalmu untuk melawan rasa ketakutan terhadap arwah wanita itu, Nak Ade!” jawab nenek tua itu dengan nada yang membuat ciut nyali Pak Ade saat itu.


Pak Ade tidak menyahut lagi. Ia tidak berkata-kata apa lagi saat ini. Ia hanya bisa pasrah atas apa yang akan dialami olehnya dan keluarganya.


“Nak Ade, aku dan Jatmiko pamit dulu. Kami berdua harus menyiapkan segala sesuatu untuk ritual tiga hari lagi,” ucap nenek tua kepada Pak Ade yang masih merenung dengan nasib yang akan menimpanya.


“I-iya, Bu. Terima kasih sudah mau membantu keluargaku! Tapi, tunggu istriku datang dulu!” jawab Pak Ade dengan terkejut.


“Tidak, Nak Ade. Kita berdua harus bergerak dengan cepat. Ada banyak hal yang harus kami lakukan untuk mempersiapkannya. Tidak semuanya ada di dekat sini. Tolong, kamu jaga keluargamu baik-baik!” jawab nenek tua sambil menjulurkan tangannya kepada Pak Ade.


Pak Ade pun sekali lagi mencium punggung tangan nenek tua itu dan ia juga berpelukan dengan Jatmiko.


“Makasih ya, Jat!” ucap Pak Ade.


“Kalau ada apa-apa kamu hubungi aku, ya!” jawab Jatmiko.


“Iya, jat. Pasti,” jawab Pak Ade.


Pada saat kedua tamu itu akan pergi meninggalkan Pak Ade, Bu Nisa dan Revan datang dengan membawa makanan dan minuman untuk mereka berdua.


“Ibu ... Mas Jatmiko ... mau ke mana? Ini aku bawa makanan dan minuman untuk kalian,” ucap Bu Nisa dengan nada sopan.


“Nggak perlu. Orang aneh seperti kami tidak butuh makan dan minum seperti layaknya orang normal,” sindir nenek tua itu.


Bu Nisa terkejut mendengar jawaban dari nenek tua itu. Lagi-Lagi ia syok karena nenek tua itu bisa membaca isi hatinya padahal ia sudah berusaha untuk tidak berpikir macam-macam di depan nenek tua itu.


“Maafkan aku, Bu!” ucap Bu Nisa sambil menunduk minta maaf kepada nenek tua itu.


Nenek tua tidak menggubris ucapan Bu Nisa. Ia pergi begitu saja meninggalkan ruangan tersebut dan tidak mengambil kresek putih berisi makanan dan minuman yang disodorkan oleh Bu Nisa.


“Sudah. Nggak usah dipikirkan, Nis. Ibuku memang begitu,” jawab Jatmiko sambil mengambil kresek putih yang disodorkan oleh Bu Nisa.


Jatmiko dan ibunya pun meninggalkan rumah sakit meninggalkan keluarga Pak Ade. Pak Ade menatap nanar ke arah istri dan anaknya. Ia benar-benar khawatir dengan nasibnya dan juga kedua orang yang paling ia sayangi itu.


Pada saat Pak Ade sedikit melamun, Bu Nisa menegur suaminya.


"Apa ini, Mas? Aku buang, ya?" tanya Bu Nisa.


"Jangan, Dik!" Itu dari ibunya Jatmiko. Itu penting untuk kita," jawab Pak Ade sambil berusaha menahan istrinya untuk tidak menyentuh benda itu.


Bu Nisa menyungging senyuman saat mendengar hal itu dari suaminya. Ia memang dasarnya tidak begitu suka dengan hal klenik seperti itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Hai Readers ... Jangan lupa like dan komentarnya, ya? Siapa tahu Andalah pemenang Game novel MARANTI bulan ini.


__ADS_2