MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 37 : DOKTER TEDY


__ADS_3

Setelah mempersiapkan segala sesuatu, termasuk barang bawaan yang akan kami bawa menginap di rumah Mbak Ning, kami pun berangkat menuju ke tempat praktik dokter Tedy.


"Mbak, saya agak siang datangnya karena harus ke dokter dulu." Bunyi pesan WA dariku yang ditujukan kepada Mbak Ning.


"Loh, siapa yang sakit, Dik?" balas Mbak Ning.


"Tidak ada, Mbak. Hanya check up saja," jawabku.


"Oalah, kirain siapa yang sakit? Hampir saya menyuruh kamu nggak usah ke sini," balas Mbak Ning.


"Mbak Ning sendiri gimana sekarang?" Aku berbalik tanya.


"Yah, gitu, Dik. Kadang enak ... kadang nggak enak ... perut ini kayak ditusuk-tusuk dan kaku kalau sudah kumat," jawab Mbak Ning.


"Obat dari dokter diminum terus, kan?" tanyaku.


"Iya, Dik. Tapi, kayaknya nggak begitu berefek. Hanya sedikit mengurangi rasa nyeri saja," jawabnya.


"Ditelateni dulu saja, Mbak. Penyakit, kan nggak langsung hilang, Mbak. Nanti kalau obatnya habis, nyoba cek Lab atau rontgen saja," jawabku.


"Iya, Dik. Tapi, ada yang aneh dengan penyakit ini, Dik. Bawaannya malas banget kalau mau salat," jawab Mbak Ning.


"Gitu, ya, Mbak?" tanyaku heran.


"Iya, Dik. Kayaknya ada sesuatu yang lain, Dik," jawab Mbak Ning.


"Ya, tapi tetap harua dilawan rasa malas itu, Mbak," jawabku.


"Iya, Dik," jawab Mbak Ning.


Setelah cukup lama saling berkirim pesan lewat WA dengan Mbak Ning, akhirnya mobil yang kami kendarai pun sampai di tempat praktik dokter Tedy. Suster Nina yang bertugas membantu dokter Tedy pun menyambut kedatangan kami.


"Selamat pagi, Bu Sinta ... Pak Diki .... Tunggu sebentar, ya? Dokter Tedy masih memeriksa pasien dengan nomor antrian empat di dalam. Silakan menunggu terlebih dahulu. Kebetulan nomor antrian Bu Sinta dan Pak Diki yang dipesan secara online adalah nomor lima," tutur Suster Nina dengan sopannya.


"Terima kasih banyak, ya, Sus ...," jawabku sambil menarik lengan Mas Diki untuk duduk di sofa.


Tak perlu waktu lama bagi kami berdua untuk menunggu. Kurang lebih lima menit setelah duduk di sofa, pasien yang berada di ruangan dokter Tedy pun keluar ruangan.


"Monggo, Pak Diki dan Bu Sinta! dokter Tedy sudah menunggu di dalam," panggil suster berparas cantik itu.


"Terima kasih, Sus," jawabku seraya melangkah ke dalam ruangan praktik.


"Assalamualaikum ...." Mas Diki mengucapkan salam.

__ADS_1


"Waalaikumussalaaam .... Wah, kedatangan saudagar pakaian nih! Mimpi apa, ya, saya semalam?" sahut dokter Tedy dengan penuh antusias.


"Jangan berlebihan begitu, Dok!" protes Mas Diki.


"Lah, faktanya memang begitu, kan? Pak Diki memang seorang saudagar pakaian. Lah, keluarga saya, kan, pelanggan tetap di toko Pak Diki?" jawab dokter Tedy.


"Bukan saudagar, Dok. Hanya bakul pakaian saja," jawab Mas Diki.


"Bakul apaan? Lah wong omsetnya sudah ratusan juta," jawab dokter Tedy tak mau kalah.


"Omset loh, ya? Bukan keuntungan," balas Mas Diki.


"Ngeles terus saja Pak Diki ini. Lah wong sumbangan Pak Diki di panti asuhan saya saja, tiap bulan banyak sekali.


" Sudah! Jangan diungkit-ungkit masalah itu, Dok! Saya ke sini mau konsultasi," potong Mas Diki.


"Oke. Emang Pak Diki ada keluhan apa?" tanya dokter Tedy.


"Hm ..." Mas Diki sepertinya sedang berpikir keras untuk dapat memilih kata-kata yang pantas diungkapkan kepada dokter Tedy.


"Begini, Dokter ...." Aku pun menjelaskan kronologi alasan kenapa kami datang menemui dokter Tedy. Dokter memperhatikan dengan saksama semua penjelasanku. Ia yang sudah seperti sahabat buat kami berdua benar-benar menunjukkan sikap profesional. Ekspresi wajahnya menyimak penjelasanku laksana seorang mahasiswa yang mendengarkan penjelasan dosennya. Tidak ada ekapresi tersenyum maupun mencibir apa yang terjadi dengan kami berdua. Sedangkan Mas Diki sepertinya agak malu dengan hal tersebut. Setelah aku selesai bertutur, dokter Tedy berpikir sejenak.


"Silakan berbaring di sana, Pak Diki!" ucapnya sambil mengambil beberapa peralatan yang akan digunakan untuk mengecek kondisi fisik suamiku.


Mas Diki pun menuruti perintah dokter Tedy. Aku berdiri di belakang dokter Tedy saat suamiku dicek tensi, detak nadi, dan sebagainya.


Mas Diki pun mengikuti gerakan yang ditunjukkan di gambar beberapa kali. Dokter Tedy pun menunjukkan gambar-gambar yang lain, Mas Diki dengan sigap dan terampil mengikuti instruksi dokter Tedy. Setelah beberapa waktu, dokter Tedy pun meminta kami duduk kembali.


"Begini, Bu Sinta dan Pak Diki. Setelah memeriksa kondisi fisik Pak Diki, sepertinya secara fisik Pak Diki ini tidak ada masalah apapun, justru ketahanan fisiknya sangat bagus di usianya. Tapi, untuk lebih meyakinkan lagi, sebaiknya Pak Diki dilakukan tes darah, tes urine, dan tes kualitas semennya," ungkap dokter Tedy.


"Lakukan yang terbaik, Dok! Kami akan mengikuti semua saran dokter," jawabku.


"Baiklah, sekarang kita akan mengambil sampel. Saya akan mempersiapkan alatnya," ucap dokter Tedy.


Setelah itu dilakukan pengambilan sampel untuk mengecek darah, urin, dan semen Mas Diki. Setelah semuanya selesai, kami pun diminta duduk kembali.


"Untuk hasilnya, masih menunggu, kalau nggak nanti sore, ya besok. Nanti akan saya hubungi lewat ponsel Pak Diki atau Bu Sinta," ujar dokter Tedy.


"Ke nomor saya saja, Dok. Oh, ya, apakah ada resep obat yang harus kami tebus?" tanyaku.


"Belum, Bu Sinta. Kita tunggu hasil cek Lab saja. Oh, ya, apa ada permasalahan lain?" tanya dokter Tedy.


"Begini, Dok. Kami mau program anak kedua," jawabku malu-malu.

__ADS_1


"Wah, bagus. Bu Sinta tinggal menghentikan saja program KB yang sudah dilaksanakan selama ini," jawab dokter Tedy.


"Apakah begitu berhenti program KB saya akan langsung hamil, Dok?" tanyaku.


"Ya, enggak, Bu. Semua butuh proses. Meskipun Bu Sinta sudah berhenti program KB hari ini, masih butuh waktu bagi Bu Sinta untuk proses hamil karena sisa-sisa pencegah hamilnya di tubuh ibu masih ada selama beberapa waktu, tapi ibu akan kembali subur setelah beberapa waktu," tutur dokter Tedy.


"Ooo begitu. Apa saya harus minum obat, Dok?" tanyaku lagi.


"Tidak usah, Bu. Bu Sinta saya kasih vitamin saja," jawab dokter Tedy sambil menjulurkan satu botol vitamin.


"Terima kasih, Dok! Kalau begitu kami pamit dulu," ujarku.


"Sama-Sama, Bu Sinta ... Pak Diki ...," jawab Dokter.


Kami pun meninggalkan klinik dokter Tedy menuju rumah Mbak Ning. Di sepanjang jalan, Mas Diki tidak menyungging senyum sama sekali setelah pulang dari dokter Tedy.


"Mas, kamu kenapa kok cemberut begitu? Ntar gantengnya ilang loh!" sapaku.


"Eh, enggak kok, Dik. Mas nggak apa-apa," jawab Mas Diki dengan menyungging senyum sedikit, tapi kemudian kembali datar mukanya.


"Tuh, kan cemberut lagi," tegurku.


"Eh, anu, Dik ...," jawab Mas Diki tergagap seperti menyembunyikan sesuatu.


"Ada apa, Mas? Terbukalah sama saya!" desakku.


Mas Diki menoleh ke arahku sebentar, kemudian kembali pandangannya lurus ke arah jalan.


"Dik Sinta janji nggak akan tersinggung ataupun marah kalau saya berterus terang?" tanya Mas Diki.


"Enggak lah, Mas. Saya tidak akan mungkin marah," jawabku meyakinkan.


"Dik, sebenarnya kalau pas lagi gituan sama Dik Sinta, kenapa Mas tiba-tiba kayak gitu itu bukan karena Mas mengalami kendala fisik. Tapi, entah karena Mas banyak pikiran atau apa, tapi Mas melihat tiba-tiba tubuh Dik Sinta itu berubah menjadi ...," jawab Mas Diki dengan perlahan.


"Menjadi apa, Mas?" tanyaku penasaran.


Mas Diki menarik napas dalam-dalam.


"Menjadi pocong, Dik!" jawabnya dengan mata berkaca-kaca dan ada rasa khawatir di matanya.


BERSAMBUNG


Jangan lupa membaca novelku yang lain :

__ADS_1


KAMPUNG HANTU


SEKOLAH HANTU


__ADS_2