MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 25 : TERLUKA


__ADS_3

Pak Ade sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat sosok perempuan itu jongkok untuk mendekatkan wajahnya. Tubuh pria itu makin gemetaran karena takut.


“Ya tuhan. Kamu kenapa, Mas?” tegur perempuan itu sambil mengucek-ucek matanya yang masih belum terbuka seratus persen karena mengantuk.


“Toloooooong!!!” perempuan itu secara refleks berteriak agar didengar oleh para tetangga.


“Dik, tolong Mas, Dik!” sahut Pak Ade dengan suara lemah.


Bu Nisa pun buru-buru memindahkan alat-alat dapur yang menimpa tubuh suaminya. Ia melakukannya sambil menangis karena tidak tega melihat kondisi suaminya yang mengalami nasib sial tersebut. Setelah berhasil menyingkirkan benda-benda itu dan juga raknya, perempuan itu pun berusaha membalik tubuh Pak Ade yang tengkurap di lantai.


“Aduh, pelan-pelan, Dik! Pinggang mas sakit sekali,” tegur Pak Ade.


“Aduh, Mas. Ada apa sih, kok sampai kejatuhan rak segala? Astagfirullah! Dahi Mas juga berdarah ini. Aku telpon ambulan dulu, ya? Mas harus dibawa ke rumah sakit ini,” ucap Bu Nisa panik.


Pak Ade tidak menyahut karena ia merasa dengan kondisinya sekarang memang mengharuskannya dirawat di rumah sakit.


“Jangan lama-lama, Dik!” teriak Pak Ade ketika Bu Nisa meninggalkannya di dapur sendirian untuk mengambil Ponsel yang diletakkan di kamar.


“Tolooooooog!!!!” Bu Nisa berteriak lagi sambil berlari menuju kamar utama.


Bu Nisa yang panik membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencari Ponselnya. Setelah Ponselnya ditemukan, istri Pak Ade itu pun segera menghubungi pihak rumah sakit setempat. Ia meminta kepada pihak rumah sakit untuk mengirimkan ambulans secepatnya. Setelah memberitahukan alamat rumahnya dan mendapatkan kepastian dari pihak rumah sakit, perempuan itu pun kembali ke dapur untuk membantu suaminya. Tak lupa juga ia membawa bantal untuk tempat sandaran kepala pria nahas itu.


“Mas, pakai bantal dulu, ya? Sambil menunggu ambulan datang.”


“Iya, Dik!” sahut Pak Ade lemah.


“Pak Ade!!! Bu Nisa!! Ada apa?” teriak beberapa warga dari depan rumah mereka.


Bu Nisa pun buru-buru berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu para tetangganya yang sedang panic di depan rumahnya.


“Dik!!” suara panggilan Pak Ade lemah dan tidak didengar oleh istrinya. Ia tidak ingin istrinya meninggalkannya saat ini karena dalam posisi telentang seperti itu, ia dapat melihat keadaan di dalam dapur secara penuh dan ia takut Laras datang kembali untuk menyerangnya.


Setelah sampai di depan pintu, Bu Nisa membukakan pintu untuk para tetangganya. Merekapun berduyun-duyun masuk ke dalam rumahnya.


“Ada apa, Bu Nisa?” Tanya Pak Jefri panik.

__ADS_1


“A-anu, Pak. Suami saya kejatuhan rak dapur. Kepalanya bocor,” jawab Bu Nisa terbata-bata.


“Di mana sekarang Pak Ade?” Tanya Pak Jefri lagi.


“Masih di dapur, Pak. Saya tidak kuat yang mau mengangkatnya ke kasur,” jawab Bu Nisa.


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah dan secara bersama-sama menuju dapur. Mereka semua terkejut melihat kondisi dapur yang sudah berantakan dan Pak Ade terbaring di lantai dengan berlumuran darah terutama di bagian wajahnya.


“Bu Nisa ada kotak P3K?” Tanya Pak Dimas yang dulu sempat sekolah di sebuah SMK Farmasi meskipun profesinya saat ini tidak bergelut di dunia medis.


“A-ada, Pak. Saya ambil dulu!” jawab Bu Nisa sambil berlari ke arah ruang tamu.


Pak Ade senang dengan kedatangan para tetangganya. Kali ini ia sudah tidak perlu takutlagi dengan kedatangan arwah Laras.


“Pak Ade kok bisa kejatuhan rak, gimana ceritanya?” tanya Pak Jefri.


“Tadi, pas saya selesai buang air besar di kamar mandi. Ada Laras di belakang saya. Dia menarik pakaian saya sampai robek. Akhirnya saya jatuh nyosor ke lantai,” jawab Pak Ade dengan suara lemah.


“Laras?” ulang Pak Jefri sambil menoleh ke arah pintu kamar mandi.


Pak Jefri secara perlahan melangkah menuju pintu kamar mandi. Sepertinya ia mencurigai sesuatu. Bu Dimas dan Bu Jefri pun semakin ketakutan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia khawatir Laras tiba-tiba muncul dari dalam kamar mandi, mengingat saat itu masih dini hari dan kata orang-orang saat dini hari beginilah saatnya para arwah gentayangan sering  muncul mengganggu manusia.


“Mas!!” panggil Bu Jefri berusaha melarang suaminya untuk berjalan menuju kamar mandi.


Pak Jefri tidak menggubris panggilan istrinya. Ia terus melangkah menuju kamar mandi. Semua mata tertuju padanya. Termasuk mata Bu Nisa yang sedang memegang kotak P3K dengan kedua tangannya. Setelah ditunggu selama sekian detik, akhirnya Pak Jefri pun sampai tepat di depan pintu kamar mandi. Semua orang yang berada di tempat itu menahan napas karena khawatir dengan hal buruk yang akan terjadi di hadapan mereka.


“Bukankah ini robekan baju Pak Ade?” ucap Pak Jefri sambil memungut robekan kain yang menempel pada gagang pintu kamar mandi.


Kali ini semua mata tertuju pada robekan kain yang dipegang oleh Pak Jefri tersebut.


“I-iya, Pak,” sahut Pak Ade dengan suara lemah.


Orang-Orang menunggu perkataan Pak Jefri selanjutnya.


“Sepertinya Pak Ade terjatuh bukan karena bajunya dipegangi Laras, tapi karena kecantol ke gagang pintu ini,” ujar Pak Jefri yang sontak membuat semua orang di situ  berpikir.

__ADS_1


Pak Ade tidak menyahut. Sepertinya ia baru menyadari kesalahpahamannya. Karena rasa takutnya yang luar biasa terhadap Laras, akhirnya ia mengalami nasib sial seperti itu.


Melihat reaksi Pak Ade yang tidak menyangkal analisa Pak Jefri itu, ibu-ibu yang berada di tempat itu pun mulai merasa tenang. Setidaknya mereka tidak perlu khawatir lagi dengan kemunculan Laras di tempat itu.


“Mari saya bersihkan dulu luka-lukanya, Pak!” potong Pak Jefri memecah kebisuan yang baru saja terjadi.


“I-iya, Pak!” jawab Pak Ade lemah.


Pak Jefri pun membersihkan luka-luka di sekujur tubuh Pak Ade dengan menggunakan alkohol dan kapas yang diberikan Bu Nisa. Setelah semua luka dibersihkan, Pak Jefri pun, meneteskan obat merah ke luka-luka tersebut.


“Aduh, perih!” pekik Pak Ade menahan sakit.


“Tahan dulu, Mas! Makanya, aku kan udah bilang sama mas. Mas sih, nggak mau dengerin! Sampai gagang pintu dikira hantu segala. Kayak gini kan jadinya?” omel Bu Nisa.


“Sudah, Bu Nisa. Kasihan Pak Ade sedang luka parah,” tegur Pak Dimas.


Sementara itu Bu Jefri dan Bu Dimas juga menahan geli akibat kecerobohan Pak Ade. Namun, tidak etis jika mereka harus tertawa saat itu. Apalagi kondisi Pak Ade saat itu terluka cukup parah.


“Bu Nisa, untuk luka di dahi Pak Ade ini harus dijahit di rumah saki karena cukup parah sobekan kulitnya. Pak Ade juga perlu dirontgen untuk memastikan benturan di kepalanya tidak menimbulkan gegar otak. Untuk sekarang biar saya perban dulu untuk sementara biar darahnya tidak banyak keluar,” ujar Pak Dimas.


“Iya, Pak. Terima kasih banyak atas bantuan Bapak dan Ibu semuanya,” jawab Bu Nisa.


“Sama-Sama, Bu,” jawab Pak Dimas.


“Bu Nisa sudah menghubungi pihak rumah sakit?” Tanya Pak Dimas.


“Sudah, Pak,” jawab Bu Nisa.


“Baiklah, kalau begitu. Kita tinggal menunggu petugas ambulan datang. Nanti setelah saya perban luka Pak Ade, sebaiknya Pak Ade kita angkat ke kasur. Kalau di sini takutnya ntar malah masuk angina,” ujar Pak Dimas sambil memulai untuk memasang perban di luka Pak Ade.


“Iya, Pak,” sahut Bu Nisa.


Setelah selesai memperban luka di kening Pak Ade, mereka semua pun mengangkat tubuh Pak Ade ke atas kasur. Tidak sampai lima belas menit, ambulan pun datang ke rumah itu. Para tetangga pun semakin banyak yang datang ke rumah itu. Pak Ade pun dimasukkan ke dalam ambulan untuk dibawa ke rumah sakit. Bu Nisa turut serta masuk ke dalam mobil ambulan untuk menemani suaminya. Atas desakan masyarakat, Pak Dimas dan Bu Dimas pun ikut serta menemani Bu Nisa supaya perempua itu tidak kebingungan di rumah sakit. Sementara itu, Bu Dewi yang mendengar kabar tentang nasib sial yang menimpa Pak Ade pun merasa terkejut dan merasa ada hal aneh yang ia rasakan.


“Ada apa dengan Pak Ade?” tanyanya di dalam hati.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2