MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 129 : PEMAKSAAN


__ADS_3

Herman dan Cintia akhirnya selesai menyantap makan siang mereka berupa nasi pecel kesukaan mereka berdua beserta segelas teh hangat. Pada saat mereka berdua akan pergi dari meja mereka, tiba-tiba datang Pak Antoni ke meja itu.


“Sudah selesai makan siangnya, Mbak Cintia?” sapa Pak Antoni dengan berbasa-basi.


Herman yang melihat Pak Antoni sedang membawa nampan berisi kue sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh pria tersebut. Ia hanya bisa senyam-senyum sendiri melihat gelagat pria tersebut. Kali ini pria itu memilih untuk diam karena ia ingin melihat secara langsung bagaimana Cintia mengatasi keadaan yang tidak mengenakkan itu.


“I-iya, Pak. Kami baru saja selesai makan siang dan sekarang perut kami sedang kenyang,” jawab Cintia dengan perasaan tertekan.


Pandangan mata Cintia sudah menuju pada kue yang berada di atas nampan yang dibawa oleh pria itu.


“Nah,itu dia, Mbak. Saya datang ke Mbak Cintia untuk memberi tahu bahwa saya punya produk kue baru yang rasanya dijamin endul, Mbak!” ujar Pak Antoni sambil meletakkan nampan berisi kue di atas meja tepat di depan Cintia.


“Aduh, Pak. Tapi, perutku suda kenyang banget, nih!” jawab Cintia sambil memegangi perutnya bermaksud memberi tahu pedagang itu agar tidak memaksanya untuk membeli kue itu lagi.


“Wah, Mbak Cintia baru tahu, ya? Kue terbaru saya ini bentuknya kecil. Jadi tidak masalah meskipun dimakan saat perut kenyang. Apalagi bahannya sengaja dipilihkan dari bahan-bahan berkualitas tinggi, Dijamin Mbak Cintia tidak akan menyesal membeli kue ini. Oh ya … satu lagi, kue ini baik dimakan setelah makan, Mbak. Karena dapat membakar kalori supaya badan Mbak Cintia bisa tetap langsing. Kalau Mbak Cintia tetap langsing, dijamin cowok-cowok bakalan naksir sama Mbak Cintia semua. Iya kan, Mas Herman?” ujar Pak Antoni dengan nada sedikit berbisik.


Herman yang tidak menyangka namanya akan disebut okeh Pak Antoni pun hanya bisa mengangguk saja karena respon otomatis.


“I-iya, Pak!” sahut Herman spontan.


“Tuh, kan apa saya bilang? Mas Herman saja bilang seperti itu! Masa Mbak Cintia masih mau menolak untuk membeli kue terbaru saya ini,” ujar Pak Antoni kembali.


“Anu, Pak Antoni. Saya masih belum berminat,” sahut Cintia berusaha menguatkan dirinya untuk tidak terpengaruh omongan pria penjual kue di depannya itu.


“Mbak Cintia kok nggak percaya sama saya, sih? Nih, Mbak Cintia boleh mencobanya satu. Nanti, kalau tidak enak, Mbak Cintia tidak perlu membayar,” balas Pak Antoni sambil memungut salah satu kue dan menyodorkannya pada  tangan kanan Cintia.


“Tapi,Pak?” Cintia masih berusaha menolak keinginan Pak Antoni.


“Coba dulu sudah, Mbak!” ujar Pak Antoni sambil menatap tajam ke arah mata Cintia.


Cintia saat itu hanya bisa menatap secara bergantian mata Pak Antoni dan Herman. Nampak sekali Herman berusaha mengingatkan Cintia untuk mencoba memakan kue gratis yang diberikan oleh Pak Antoni dan memuntahkannya di depan pria tersebut.


Cintia masih ragu saat itu, tapi ia bingung harus berbuat apa saat itu. Pak Antoni sudah menutup mulutnya rapat-rapat saat itu. Dia hanya menunggu Cintia mengunyah kue yang sudah dipegangnya saat itu. Akhirnya Cinta tidak punya pilihan lain selain memakan kue kecil buatan Pak Antoni yang sudah terlanjur diberikan kepadanya itu. Herman yang melihat Cintia mulai menggigit kue buatan Pak Antoni itu pun tersenyum pada Cintia dan mengacungi jempol pada Cintia. Tentunya tanpa sepengetahuan Pak Antoni. Cintia pun mengunyah kue buatan Pak Antoni secara perlahan dengan diperhatikan oleh Pak Antoni si pembuat kue dan Herman teman kerjanya sekaligus orang yang disukai oleh Cintia.


Pada saat Cintia mulai mengunyah kue kecil itu, Cintia mulai merasakan keanehan rasa dari kue yang ia makan tersebut. Manisnya tidak jelas, asinna tidak jelas, dan ada aroma-aroma yang tidak seharusnya ada pada sebuah kue basah. Herman yang sedang menyaksikan Cintia makan kue itu pun mulai melihat reaksi tidak lazim dari Cintia. Ia pun memberi kode kepada Cintia untuk memuntahkan kue itu di depan Pak Antoni. Herman secara bersemangat terus memberi kode kepada Cintia untuk muntah dan berkomentar buruk terhadap kue yang diberikan gratis oleh Pak Antoni. Semakin lama, Herman semakin bersemangat karena ia melihat reaksi Cintia yang seperti menahan rasa eneg di mulutnya.


“Gimana, Mbak Cintia? Enak, kan, kue baru buatan saya?” ucap Pak Antoni kemudian sambila tersenyum ke arah wanita cantik itu.


Cintia yang sat itu sedang merasakan sesuatu yang tidak nyaman di mulutnya pun mulai merasa bingung antara menjaga perasaan Pak Antoni atau melakukan perintah Herman temannya itu yang tampak sudah sangat memaksa nya untuk segara memuntahkan kue yang sedang dikunyahnya itu.


Senyuman ramah Pak Antoni dan pelototan Herman bergonta-ganti muncul di pikiran Cintia. Akhirnya, setelah dipikr matang-matang, Cintia pun mengerahkan segenap tenaganya untuk menelan kue yang dimakannya ke dalam perutnya meskipun ia melakukannya sambil merem. Setelah ia menelannya, ia pun buru-buru meminum sisa teh hangat miliknya.


Terang saja apa yag dilakukan oleh Cintia membuat Herman sangat kecewa dan mengomeli perempuan itu dengan menggunakan bahasa isyarat yang tidak diketahui oleh Pak Antoni.


“Lu-mayan, Pak!” sahut Cintia sambil masih menahan neg yang tersisa di tenggorokannya.


“Duh, Mbak Cintia saking enaknya sampai ditelan sekaligus. Minum yang banyak, Mbak! Biar tidak keselek. Sampean ini kayak Bu Retno saja, saking sukanya sama kue buatan saya sampai ditelan sekaligus seperti itu,” timpal Pak Antoni dengan melempar senyuman terbaiknya.


Cintia hanya bisa diam seribu bahasa karena ia tidak bisa berkata apa-apa lagi saat itu. Ia benar-benar sudah kalah dalam menghadapi Pak Antoni. Ia tidak bisa tegas seperti instruksi Herman. Akhirnya, ia pun harus mengalah sekali lagi hari itu.


“Ini, Mbak kuenya satu kotak. Sudah saya kasih tambahan satu potong. Mau bayar cash apa bayar nanti saja?” tanya Pak Antoni.


“Bayar nani saja, Pak,” sahut Cintia lemah.

__ADS_1


”Baiklah, saya pamit dulu, ya? Mau promosi kue ke yang lain dulu,” ujar Pak Antoni sambil melenggang pergi membawa nampan berisi kue buatannya.


Herman pun tertawa terpingkal-pingkal begitu Pak Antoni sudah pergi meninggalkan meja mereka.


“Tega kamu, ya!” omel Cintia sambil memukul pundak Herman.


“Aduh! Sakit! Suruh siapa kamu nggak tegaan! Aku kan sudah ngasih kode buat kamu tadi, kamu aja yang nggak tegas!” jawab Herman.


“Gimana aku bisa tegas, Her! Pak Antoni sangat antusia seperti itu,” jawab Cintia.


“Ya sudah, berarti risiko kamu sendiri. Kan lumayan kuenya bisa buat cemilan kamu kerja?” ledek Herman lagi.


“Tega banget kamu, Her! Tau nggak, rasanya itu aneh di lidah aku?” jawab Cintia.


“Terus mau dikemanain kuenya? Apa mau dikasihkan ke pengemis?” tanya Herman.


“Her, ngasih sama orang itu yang terbaik. Wong dimakan aku saja nggak enak masa mau diberikan ke orang lain. Tak kasihkan ke kucing liar saja sudah! Barangkali kucingnya mau,” jawab Cintia.


“Kucingnya jangan dipaksa, ya?” ledek Herman.


“Mana aa kucing dipaksa makan, Her? Kalau nggak suka ya nggak akan dimakan sama kuncingnya,” jawab Cintia kesal.


Akhirnya mereka pun kembali ke ruangan mereka untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.


“Cin, ayo sekarang kita periksa video hasil rekaman CCTV warung kakek dan nenek tua itu!” ajak Herman pada Cintia yang sudah duduk di meja kerjanya.


“Oke!” sahut Cintia sambil mengeluarkan laptop dari dalam tas ranselnya.


Cintia pun meletakkan laptopnya di atas meja dan ia pun menekan tombol power untuk menghidupkan barang elektronik itu.


Herman pun langsung menyeret kursinya ke sebelah Cintia. Mereka menunggu proses booting laptop Cintia yang tidak begitu lama larena speknya memang bagus. Cintia mendapatkan laptop itu dua bulan yang lalu sebagai fasilitas yang diberikan kantor untuk ia bekerja.


Setelah proses booting selesai, Cintia pun membuka folder yang berisi rekaman video CCTV yang ia salin dari memory di saluran CCTV warung kakek tua tadi.


“Wuih besar sekali ukuran filenya, Herman!” seru Cintia.


“Iya. Keren sekali CCTV kakek tua itu. Maklum produk Jepang sudah tidak diragukan lagi,” jawab Herman.


“Ayo, kita periksa sekarang, Herman!” ajak Cintia.


“Oke!” jawab Herman.


Cintia pun menekan tombol play dari video player yang ada di laptopnya dan video rekaman CCTV beberapa hari yang lalu pun muncul di laya monitor. Isinya mobil-mobil dan kendaraan lain yang lewat di sekitar warng tersebut. Ternyata sudut jangkauan kamera CCTV tersebut cukup luas. Bahkan sampai menjangkau ke sisi seberan jalan. Kualitas rekaman videonya pun bagus resolusinya.


“Geser-Geser kursornya, Cin! Sepertinya itu rekaman beberapa hari yang lalu. Itu ada tanggalnya!” ujar Herman mengomentari isi rekaman video yang tampil di layar monitor.


Cintia pun mulai menggeser kursor yang tampak di layar monitor dengan menggunakan jari telunjuknya. Ia menggeser ke sebelah kanan dengan perlahan sesuai dengan instruksi Herman.


“Geser … Geser  …. Terusss … geser lagi … geser lagi … terus! Gesr agak banyak! Geser lagi … Yak terus … agak banyakan gesernya, Cin! Terussssss … geser …. Yak … geser lagi! STOP!! STOP!! STOP!!” teriak Herman dengan agak keras membuat Cintia terkejut.


“Kenapa stop, Her? Itu kan bukan mobil yang kita naiki?” protes Cintia.


“Geser ke kiri lagi, Cin! Kamu terlewat barusan! Geser dikit!” perintah Herman lagi.

__ADS_1


“Yang mana, Her? Kan aku sudah bilang barusan, itu bukan mobil yang kita naiki!” protes Cintia sambil menggeser-geser kursor ke arah kiri sesuai permintaan Herman.


“Nah, STOP!” perintah Herman yang langsung diikuti oleh Cintia.


Cintia menatap layar monitor.


“Perbesar layarnya, Cin!”perintah Herman lagi.


Cintia pun memperbesar tampilan gambar di layar monitor. Kemudian Herman pun berkata pada Cintia.


“Cin, kamu lihat orang yang ada di dalam mobil taksi itu! Perhatikan baik-baik!” ujar Herman.


Cintia pun memperhatikan baik-baik sosok yang ada di dalam mobil.


“ Ya Tuhan! Itu kan Pak Dimas!” pekik Cintia dengan terkejut.


“Iya, Cin! Sekarang coba kamu putar videonya. Apa sebenarnya yang dilakukan Pak Dimas di pinggir jalan itu?” ucap Herman.


Cintia pu menekan tombol play dan mereka berdua pun melihat dengak saksama video yang sedang dimainkan di layar monitor laptop milik Cintia.


“Loh, siapa laki-laki berkendara motor yang menyerahkan sesuatu kepada Pak Dimas itu? Loh, kotak paket itu …. Iya, kotak paket itu kan yang kita temukan di lokasi penemuan jenazah Pak Dimas di kamarnya. Berarti, orang yang berada di motor itu adalah kurir yang sedang mengantar Narkoba kepada Pak Dimas!” pekik Herman dengan sangat terkejut.


“Stop! Stop! Tekan tangkapa layarnya, Cin. Pilih sudut yang bagus agar kita dapat mengenali siapa pria itu!” perintah Herman pada Cintia.


“Iya, bagus, Cin! Sebentar lagi kasus peredaran Narkoba ini akan terungkap. Aku senang sekali hari ini, Cin!” ujar Herman dengan perasaan bahagia.


“Iya. Apa kita akan memberi tahu Kapten Yosi sekarang? Karena kita butuh tenaga ahli untuk melacak ciri-ciri laki-laki tadi,” ujar Cintia.


“Iya, Cin. Sebentar lagi kita akan mengabari Kapten Yosi tentang temuan kita ini, tapi coba kamu setel sekali lagi bagian video yang tadi baragkali ada bukti-bukti tambahan,” jawab Herman.


Cintia pun memutar sekali lagi bagian video yang berkaitan dengan Pak Dimas tadi. Mereka berdua mengamati kejadian di layar monitor laptop dengan lebih teliti. Setelah diputar dua kali barulah mereka benar-benar puas.


“Cin, sekarang kita lihat video mobil kita semalam!” perintah Herman pada Cintia.


Cintia pun langsung menggeser kursor ke arah kanan.


“Terus … Terus … geser terus … yak terus … terus … terus … yak geser terus … Stop terlewat!” ujar Herman.


Cintia pun kembali menggeser kursor ke arah kiri.


“Stop! Di situ saja! Langsung tekan mainkan!” perintah Herman.


Cintia pun mengikuti instruksi yang diberikan oleh Herman. Ia langsung menekan tombol mainkan berbentuk segitiga yang muncul di bagian bawah video. Setelah itu mereka berdua pun secara bersama-sama memperhatikan hasil tangkapan CCTV warung kakek tua yang tampil di layar monitor.


Jantung mereka mulai berdebar-debar tatkala mereka tidak melihat sosok perempuan semalam yang wajahnya mirip dengan Nona Larasati. Hanya mereka berdua yang muncul di layar monitor. Bahkan jok belakang cukup terlihat jelas saat itu. Cintia sedang menoleh ke belakang dan seperti sedang berbicara dengan seseorang. Tapi orang tersebuttidak muncul di layar. Herman nampak sangat teliti memperhatikan gambar dirinya yang ada di video itu. Ia keluar dari mobil untuk mengecek kondisi mesin. Setelah itu ada Cintia yang keluar dari dalam mobil dan berusaha mencari seseorang. Padahal tidak ada seorang pun yang keluar dari mobil tersebut.


Pikiran mereka mulai bimbang dan takut melihat hasil rekaman itu. Karena ragu mereka pun memutar kembali video tersebut sekali lagi untuk memastikan bahwa perempuan yang mereka temui semalam ada di dalam layar karena semua sudut pada mobil dan juga di laur mobil tak satu pun yang luput dari pantauan kamera CCTV yang super canggih itu. Tapi, lagi-lagi mereka berdua harus menemukan kekecewaan.


Cintia sampai gemetar karena saking takutnya dengan pengalaman yangia alami semalam.


“Cin, ternyata benar dugaanmu. Perempuan semalam itu bukan kembarannya Nona Larasati, tapi memang dia adalah arwah Nona Larasati yang sedang membantu kita untuk mengungkap kasusnya,” ucap Herman dengan terbata-bata karena seumur-umur baru kali ini ia mengalami kejadian mistis secara langsung.


“i-iya, Her. Aku takut …,” ucap Cintia dengan terbata-bata.

__ADS_1


BERSAMBUNG 


Mau dapat pulsa 20 ribu secara cuma-cuma? Ikutan dong kuis novel KAMPUNG HANTU. Jangan sampai ketinggalan, ya!


__ADS_2