MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 6: BU RENI


__ADS_3

Bu Reni sedang mempersiapkan bekal yang akan dibawa suaminya. Kebetulan suaminya berprofesi sebagai Satpam di sebuah perumahan yang letaknya kurang lebih 5 kilometer dari dusun Delima.


"Pulang jam berapa, Mas?" tanya Bu Reni sambil memasukkan botol berisi air ke dalam kresek hitam yang berisi bekal untuk dimakan suaminya di tempat kerja.


"Seperti biasa, Dik. Jam tujuh pagi," jawab Pak Hartono datar.


"Jam tujuh apaan? Kemarin jam sepuluh baru datang. Ke mana saja, sih? Awas kamu aneh-aneh, Mas!" ancam Bu Reni.


"Kemarin, teman yang jaga shift kedua telat datangnya, Dik. Katanya tetangganya ada yang meninggal. Jadi, dia berangkat setelah ikut mengantar jenazah ke kuburan," jawab Pak Hartono.


"Ada saja alasan kamu ini, Mas? Kemarin alasan ini sekarang alasan itu. Kapan kamu benar-benar punya banyak waktu di rumah?" protes Bu Reni.


"Lah, Mas kan kerja juga buat kamu, Dik! Ayolah, Mas nggak mau berangkat kerja pakai bertengkar dulu. Mas ini capek!" sahut Pak Hartono dengan suara keras.


Brak!


Bu Reni memasukkan kresek hitam berisi bekal suaminya ke dalam tas ransel yang biasa suaminya pakai ke tempat kerja. Ada perasaan sedih menyeruak di dalam hati Bu Reni. Pak Hartono banyak berubah semenjak bekerja menjadi Satpam di perumahan itu. Dulu, sewaktu suaminya masih berkerja jadi kuli serabutan. Meskipun tidak tiap hari kerja, Bu Reni selalu bisa berkumpul dan bercengkrama dengan suaminya. Namun, semenjak diajak Pak Ade suaminya Bu Nisa, waktu Pak Hartono banyak dihabiskan di luar. Pulang-Pulang paling hanya untuk tidur saja.


Pak Hartono berangkat kerja dengan menstarter motornya keras sekali. Seolah-olah dia ingin menunjukkan emosinya kepada istrinya. Menurut batin Pak Hartono, istrinya itu terlalu rewel dan banyak maunya. Jadi, wajar bagi Pak Hartono jika malas berada di rumah. Ia lebih suka berada di tempat kerja. Apalagi ia juga sering diajak kumpul-kumpul oleh Pak Ade kalau pas teman kecilnya itu punya rejeki mendapat proyek baru.


"Enak kamu, De, kerjaan bagus istrimu pun juga nggak banyak nuntut," cetus Pak Hartono pada Pak Ade saat mereka di tempat karaoke beberapa tahun yang lalu.


"Kamu ini kerjaanmu ngeluh terus, Ton! Aku kerja enak kan supaya bisa ngajak kamu happy-happy juga, kan? Ngomong-Ngomong masalah istri. Justru istri kamu itu yang hebat. Buktinya kamu nggak pernah selingkuhin dia, kan? Lah, aku, kamu tahu sendiri kan cewekku ada berapa di luar," jawab Pak Ade.


"Itu mah karena aku nggak punya banyak duit kayak kamu, De. Cewek sekarang mana mau sama cowok kere kayak aku?" protes Pak Hartono.


"He he he ... Sudah nggak usah sewot begitu. Sebentar lagi aku panggilin LC buat menemani kita. Kamu sosor habis tuh LC nanti," jawab Pak Ade menghibur Pak Hartono yang gundah gulana setelah diomeli istrinya.

__ADS_1


*


Bu Reni mangkel begitu mendengar suara motor suaminya yang sengaja dikeraskan. Tapi, percuma saja dia mau marah sama siapa? Wong orangnya sudah pergi. Paling-Paling setelah ini anaknya yang jadi pelampiasan emosinya. Tapi, Ibnu sekarang sedang belajar kelompok di rumah temannya.


Hanya Bu Reni sendirian di rumah itu. Bu Reni memilih menonton televisi untuk menghilangkan rasa dongkolnya. Mangkel kepada suami ternyata tidak mudah hilang hanya dengan menonton televisi. Bu Reni hanya mengganti dari satu chanel ke chanel yang lain dengan gelisah. Akhirnya ia memilih untuk menghubungi teman ngerumpinya, Bu Nisa.


Beberapa kali Bu Reni menelpon, tapi tidak diangkat. Baru setelah menelpon ke tiga kali, Bu Nisa mengangkatnya. Baru saja ia akan membuka pembicaraan, Bu Nisa sudah nyerocos terlebih dahulu.


"Bu Reni, barusan aku ketemu hantunya Laras di sungai," ujar Bu Nisa.


"Apa? hantunya Laras?" tanya Bu Reni tidak percaya.


"Iya, Bu Reni. Ya Tuhan ... wajahnya serem banget. Pokoknya, aku nggak berani ke sungai sendirian lagi," tambah Bu Nisa.


"Kamu tidak mengada-ada, kan?" tanya Bu Reni mulai cemas.


"Kok bisa jadi hantu gitu, ya?" tanya Bu Reni sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia baru ingat bahwa pintu belakang rumah belum ia kunci.


Bu Reni pun berjalan ke arah bagian belakang rumahnya untuk menutup pintu sambil tetap berbicara dengan Bu Nisa.


"Apa karena warga dusun sini tidak ada yang mau membantu pemakamannya, ya?" tanya Bu Nisa.


"Ah, masa gara-gara itu seseorang bisa jadi hantu?" jawab Bu Reni sambil menutup pintu belakang dan menguncinya rapat-rapat.


Bulu kuduk Bu Reni merinding saat itu, tapi ia sudah lega karena sudah berhasil menutup pintu belakang.


"Nggak tau juga ya, Bu. Apa karena selama ini kita selalu membicarakan keburukan Laras?" tanya Bu Nisa.

__ADS_1


"Ah, kita kan membicarakan fakta, Bu. Emang Laras bukan perempuan baik-baik, kan?" Bu Reni protes.


"Iya juga sih. Kalau ingat pas dulu dia masih tinggal di sini, aku jadi mangkel juga. Masa Mas Ade kalau lewat di sana matanya jelalatan. Pasti Laras itu sering godain Mas Ade. Ya, kan?" tutur Bu Nisa.


"Iya, sama, Bu. Laki aku juga kayak gitu. Pamitnya mau nyuci motor di sungai, taunya malah nongkrong di dekat rumah Laras. Dasar perempuan nggak benar!" omel Bu Reni.


"Ups! Sudah dulu ya, Bu Reni. Aku sekarang takut ngomongin si Laras. Aku takut didatangi lagi. Aku mau tidur saja sekarang. Lakimu sudah berangkat?" tanya Bu Nisa.


"Sudah, Bu Nisa. Ibnu juga masih belum pulang kerja kelompok," jawab Bu Reni.


"Berarti kamu sendirian di rumah, Bu Reni? Duh, hati-hati, ya, Bu ... Semoga Si Ibnu segera pulang biar kamu nggak sendirian di rumah," jawab Bu Nisa.


"Iya, Bu. Makasih, ya!" ujar Bu Reni


Mereka pun menutup pembicaraan. Bu Reni merasa tidak nyaman setelah mendengar cerita dari temannya itu. Antara percaya dan tidak percaya ia dengan keterangan Bu Nisa, tapi Bu Nisa selama ini tidak pernah berkata bohong padanya.


Tok! Tok!


Terdengar suara pintu diketuk dari depan rumah.


"Akhirnya si Ibnu pulang,"


"Tunggu sebentar ya, Nu. Ibu ambil kunci dulu!" teriak Bu Reni agak keras.


Bu Reni pun menuju kamar untuk mengambil kunci pintu depan. Ternyata, kuncinya tidak ada. Bu Reni baru ingat bahwa ia belum mengunci pintu depan sejak suaminya berangkat tadi. Ia pun berjalan ke arah pintu. Bu Reni juga baru ingat bahwa Ibnu tidak punya kebiasaan mengetuk pintu kalau pulang. Biasanya ia memutar-mutar pegangan pintu dan berusaha membukanya. Dan ia yang mendengar suara putaran gagang pintu itu sudah paham bahwa Ibnu sedang berada di balik pintu.


"Terus, siapa yang ada di balik pintu ini sekarang?"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2