
Pak Ratno juga tidak memiliki jawaban atas kebingungan yang dialami Pak Salihun.
“Aku juga tidak tahu, Hun. Siapa yang mengembalikan kecah itu sama kamu? Oh ya, kamu juga salah sangka kalau mengira aku ini sudah jadian sama Minul. Tidak, Hun! Aku memang sempat berusaha dekat sama Minul, tapi jujur saja sepertinya aku tidak pantas buat dia. Aku sudah abai terhadap keseamatan dirinya. Dia itu pantas untuk mendapatkan orang yang lebih baik dari aku. Yang bisa menjaga dia dan juga sayang kepada anaknya. Sedangkan aku, sepertinya aku masih belum bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu,” jawab Pak Ratno dengan nada serius.
“Apa kamu jujur dengan yang kamu katakan barusan, Rat?” tanya Pak Salihun tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.
“Aku berkata yang sebenarnya, Hun. Untuk apa aku berbohong sama kamu, Hun. Aku itu menganggap kamu bukan hanya teman, tapi lebih dari saudara. Untuk sementara aku mau mengistirahatkan hatiku dulu, Hun. Siapa tahu nanti aku bisa bertemu dengan perempuan yang benar-benar akan menjadi jodohku,” jawab Pak Ratno.
“Aamiiin … Kalau begitu aku mau pamit dulu, ya? Aku sangat berterima kasih sama kamu karena mau memaafkan kesalahanku,” ucap Pak Salihun.
“Sama-Sama … Aku juga mau mandi, nih. Habis itu aku mau jalan-jalan sebentar untuk menghilangkan sumpek,” jawab Pak Ratno.
Pak Salihun pun pulang ke rumahnya setelah mendapatkan maaf dari sahabatnya. Sepanjang jalan ia terus memikirkan tentang perkataan Pak Ratno bahwa ia tidak ada hubungan apa-apa dengan Minul. Entah kenapa Pak Salihun merasa senang mendengar hal itu.
*
Minul saat itu baru saja selesai beres-beres rumahnya. Ia pun melanjutkan aktifitasnya yaitu menemani anaknya bermain di dalam rumahnya. Pikirannya saat itu sedang kacau akibat perselisihannya dengan sahabatnya, Jamila. Entahlah, bagaimana ia akan menghadapi hari-harinya ke depan kalau tidak akur dengan Jamila. Karena Jamila adalah teman yang paling enak diajak apapun saja. Maklum usianya dan usia Jamila masih sepantaran.
“Asalamualaikum …,” suara seseorang mengejutkan ibu satu anak itu.
“Waalaikumsalam … Eh, kamu, M-mil?” jawab Minul dengan rasa tidak percaya.
Minul benar-benar tergagap saat melihat Jamila yang sedang ada di pikirannya seharian ini, tiba-tiba berdiri di depan pintu rumahnya.
“S-silakan masuk, Mil!” ucap Minul dengan masih terbata-bata.
__ADS_1
Bukannya langsung mencari tempat duduk, Jamila justru langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.
“Maafkan sikapku yang keterlaluan sama kamu ya, Nul? Aku tadi khilaf dan emosi. Maafkan aku, Nul!” ucap Jamila dengan memelas.
“Tidak, Mil. Bukan kamu yang salah! Aku yang salah. Aku sudah keterlaluan melakukan hal itu sama kamu! Kamu pantas bersikap begitu sama aku!” sahut Minul dengan sedih.
Mereka berdua saling berpelukan dengan erat dan saling meminta maaf. Air mata keduanya sama-sama membanjir saat itu. Kedua perempuan itu tak kuasa untuk saling memusuhi satu dengan lainnya dalam waktu yang lebih lama lagi.
Setelah bermenit-menit menumpahkan emosi dan perasaan di antara mereka, akhirnya hati kedua perempuan itu menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
“Duduk, Mil!” ucap Minul.
“Iya, Nul. Terima kasih,” jawab Jamila.
“Aku ambilkan minuman dulu, ya?” ucap Minul sambil berjalan ke arah belakang.
“Makasih ya, Mil. Kamu sudah mau memaafkan aku,” ucap Minul.
“Aku juga makasih, Nul. Atas kepedulianmu terhadap Gio,” jawab Jamila.
“Wah, Si Bun-Bun itu siapa yang tidak sayang sama dia. Anaknya pintar dan lucu,” sahut Minul.
“Nul, sebenarnya kedatanganku ke sini ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan pada kamu tentang kejadian malam itu di rumah Pak Ratno,” ucap Jamila memulai pembicaraan dengan topik yang lain.
“Yang kapan itu?” tanya Minul.
__ADS_1
“Yang waktu kamu mengembalikan kencah itu,” jawab Jamila.
“Oh … Yang itu? Kenapa lagi, Mil?” tanya Minul.
“Pria yang menerima kencah kamu malam itu bukan Pak Ratno, Nul,” jawab Jamila.
“Bukan Pak Ratno? Terus siapa?” tanya Minul dengan penuh rasa penasaran karena ia masih ingat momen-momen kebahagiaan itu saat jarinya disentuh oleh pria yang ia kira adalah Pak Ratno.
“Pria itu adalah Pak Salihun, Nul. Tadi pagi Pak Salihun datang ke rumahku untuk meminta maaf kepadaku karena ia juga mengira bahwa perempuan yang ia temui malam itu adalah aku,” jawab Jamila.
“Kamu tidak sedang bercanda kan, Mil? Duh, maafkan aku, Mil. Aku tidak bermaksud mengganggu hubunganmu dengan Pak Salihun karena waktu itu aku sedang mengincar Pak Ratno. Kamu tahu itu, kan?” ucap Minul dengan memohon. Padahal ketika mendengar bahwa laki-laki yang menyentuh jarinya adalah Pak Salihun, hati Minul menjadi berbunga-bunga. Tapi ia berusaha menutupi perasaannya karena ia tahu bahwa Jamila sedang dekat dengan Pak Salihun.
Jamila menatap lekat mata Minul kemudian ia pun berkata.
“Nul, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Pak Salihun. Kita memang berusaha untuk saling dekat, tapi ternyata tidak ada kecocokan di antara kita berdua. Kamu suka sama Pak Salihun, kan? Aku tahu malam itu kamu cemburu melihat aku dan Pak Salihun pulang bareng, kan? Dan perlu kamu tahu, waktu itu dia lebih memikirkan kamu daripada aku yang sedang jalan bersamanya. Kamu tahu, nggak? Dia marah besar sama aku karena dia itu mengejar hantu yang menyamar menjadi kamu. Sudah aku peringatkan dia tetap kekeuh mengejar hantu itu. Malah aku yang diomeli karena dikiranya aku tidak peduli sama kamu,” jawab Jamila dengan nada serius.
“Kamu yakin tidak ada hubungan dengan Pak Salihun?” tanya Minul lagi.
“Yakin, Nul. Dan aku yakin di hati Pak Salihun itu ada kamu,” jawab Jamila.
Minul hanya bisa ternganga mendengar perkataan Jamila. Pikirannya melayang-layang dengan ucapan temannya itu. Ia benar-benar tidak menyangka pemilik tangan kekar yang menyentuh tangannya malam itu adalah Pak Salihun. Saking melayangnya Minul sampai tidak menyadari bahwa Jamila sudah pamit keluar dari rumahnya. Jamila tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia sedang menuju ke arah lain. Ada sebuah urusan yang harus segera ia tuntaskan hari itu juga. Bukan Jamila namanya kalau tidak bekerja secara sat set. Ia orangnya memang reaktif terhadap segala sesuatu. Tapi, di balik itu semua ia adalah seorang yang tidak suka menunda-nunda pekerjaan. “Mumpung ingat dan mumpung sempat”itu adalah kalimat inspirasinya. Karena kalau pekerjaan tidak segera diselesaikan maka akan bertumpuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang baru. Dan akhirnya, tak satu pun yang akan terselesaikan.
BERSAMBUNG
Bagi yang suka novel bergenre horor, silakan baca karya terbaruku bejudul TITISAN MARANTI yang sudah tayang di NOVELTOON juga
__ADS_1