
Setelah melihat anaknya benar-benar terlelap, Bu Dewi pun meletakkan Panji di atas kasur. Ia benar-benar bahagia melihat anak angkatnya itu tidak rewel lagi. Bagi Bu Dewi, kebahagiaan terbesarnya saat itu adalah Panji. Ia akan melakukan apapun saja demi kebahagiaan bayi lucu itu. Bu Dewi tak lupa memasangkan selimut tebal ke tubuh mungil anak Balita itu. Kemudian perempuan itu pun merebahkan tubuhnya di sebelah Panji. Pandangannya lurus ke depan ke arah jam dinding yang berukuran cukup besar.
"Sudah pukul setengah sebelas malam, tapi Mas Herman belum juga datang. Apa ia ada lembur malam ini?" tanya Bu Dewi pada dirinya sendiri.
Selanjutnya Bu Dewi pun teringat dengan potongan buku yang ia ambil di rumah Laras beberapa menit yang lalu. Ia meraih kain jarik yang ia gunakan untuk menggendong Panji tadi. Potongan buku itu ada di dalam jarik tersebut. Secara perlahan Bu Dewi menarik potongan buku itu dari dalam jarik tersebut. Selama beberapa detik Bu Dewi memperhatikan sampul bagian depan buku tersebut yang cukup tebal. Ada gambar bunga di halaman depan buku tersebut. Kenangan perempuan cantik itu kembali melayang pada beberapa tahun silam. Saat itu Bu Dewi mengajak Laras yang masih remaja untuk berbelanja kebutuhan sekolah di sebuah toko di desa sebelah. Saat itu Laras memilih buku dengan sampul bercorak bunga mawar.
"Bude, aku pilih yang ini ya?" ucap Laras pada Bu Dewi.
"Kamu suka gambar mawar, Laras?" tanya Bu Dewi.
Laras mengangguk.
"Ya sudah kalau kamu mau yang itu," jawab Bu Dewi.
"Makasih banyak, Bude," jawab Laras dengan berseri-seri.
Bu Dewi sangat menyayangi Laras dan memperlakukan Laras seperti anaknya sendiri. Makanya Bu dewi sempat kecewa karena Laras tidak mau melanjutkan studinya dan memilih untuk pergi ke kota meninggalkan rumah yang ia sediakan untuk Laras. Mengenang masa-masa itu membuat Bu Dewi meneteskan air mata.
__ADS_1
Bu Dewi membuka sampul buku itu dan ia pun menemukan tulisan-tulisan Laras selama masih hidup. Bu Dewi membaca lembar demi lembar tulisan Laras tersebut yang banyak mengisahkan tentang keseharian perempuan itu. Bagaimana Laras merasa bahagia memiliki keluarga baru yaitu Pak Herman dan Bu Dewi yang sudah dianggapnya sebagai orang tua sendiri. Juga ada tulisan tentang perasaan tertariknya pada sosok Andi yang sudah menjadi sahabatya sejak kecil. Namun, ia tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada pria tersebut karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berpacaran sebelum bisa membahagiakan ibunya dan juga keluarga Bu Dewi. Bu Dewi merasa trenyuh setelah membaca satu persatu kalimat yang ditulis secara detil oleh Laras. Air mata perempuan itu pun tak kuasa menetes.
"Semoga kamu bahagia di sana, Nduk," ucap Bu Dewi di dalam hatinya.
Bu Dewi terus saja membaca buku harian itu halaman demi halaman. Sudah tak terhitung seberapa banyak air mata yang menetes di pipi perempuan itu sampai matanya agak bengkak. Mata Bu Dewi terperangah ketika ia sampai pada beberapa halaman terakhir dari potongan buku tersebut. Jika sebelumnya Laras menulis dengan tinta hitam, biru, atau merah muda. Pada halaman ini Laras menulisnya dengan tinta berwarna merah. Bu Dewi membaca satu persatu kata yang ditulis dengan tinta berwarna merah tersebut.
Hari ini aku ingin mati saja. Hidupku sudah hancur. Tak ada gunanya lagi aku hidup. Semua karena ulah laki-laki bangsat itu.
Aku BODOH!!! Aku pikir dia orang baik. Aku tidak menyangka dia bisa berbuat jahat itu terhadapku.
Sebelumnya pria ini memang sering lewat di depan rumah. Aku tidak curiga kepadanya karena di daerah sini, dia terkenal sebagai orang baik. Bahkan ia juga memiliki hubungan baik dengan keluarga Bude.
Pria itu mampir ke rumah untuk meminta segelas air, katanya ia lupa membawa air sewaktu mau berangkat memancing. Mau pulang ke rumahnya katanya terlalu jauh. Karena merasa tetangga sendiri, aku pun tidak menaruh curiga apapun. Aku menyuruhnya menunggu sebentar di depan rumah dan aku mengambilkan air untuknya di dapur. Ternyata tanpa sepengetahuanku, ia ikut masuk ke dalam rumah dan bersembunyi di ruang tengah. Pada saat aku berjalan dari dapur menuju ke ruang tengah, secara tiba-tiba ia membekap mulutku dari belakang.
"Toooooooo-" Jeritku tak sampai.
Aku meronta berusaha untuk lepas dari cengkraman pria tersebut. Namun, apalah dayaku seorang wanita dibandingkan dengan kekuatan tubuh pria dewasa seperti dia. Ia terus membekapku dan menyeretku. Aku tidak mau menyerah, aku tahu pria itu akan berbuat jahat terhadapku. Aku berusaha menjerit, tapi percuma saja karena mulutku dibekap dengan erat menggunakan tangannya yang kekar. Sepertinya manusia biadab tersebut sudah lama merencanakan hal ini. Ia sengaja menunggu dusun ini sepi untuk melancarkan aksinya. Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Menjerit pun sudah tidak bisa. Bahkan, dalam keadaan seperti itu ia masih juga mengancam akan membunuhku kalau aku masih terus berusaha meronta.
__ADS_1
Laki-Laki itu benar-benar BIADAB. Kelakuannya jauh berbeda dengan nama baiknya. Hari ini ia sudah menghancurkan masa depanku. Aku ingin membunuhnya, tapi aku tidak bisa. Aku marah aku benci, tapi percuma saja. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hari ini aku ingin mati saja. HARTONO! Suatu saat aku akan membalas semua perbuatamu kepadaku!!!!! Kamu harus MATI!!!!
Mata Bu Dewi terbelalak ketika membaca halaman terakhir dari potongan buku harian yang ditulis oleh Laras tersebut. Ia tidak menyangka Laras telah menjadi korban kebiadaban Pak Hartono, tetangganya yang ia kenal baik dan tewas tertabrak mobil di tengah malam kemarin.
"Ya Allah, Nduk. Kenapa kamu nggak cerita kepada bude waktu itu?" tangis Bu Dewi kembali pecah mengenang kejadian tragis yang menimpa anakya Mbok Inah itu. Pada saat Bu Dewi menangis, tiba-tiba ia mendengar suara motor suaminya dari luar rumah. Bu Dewi berpikir sejenak, kemudian ia pun menyembunyikan potongan buku harian itu di bawah kasur. Entah kenapa ia tidak ingin suaminya tahu kalau Laras memiliki buku harian dan di dalamya tertulis bahwa Laras sudah pernah dilecehkan oleh Pak Hartono.
Bu Dewi membukakan pintu untuk suaminya.
"Assalamuaalikum,"
"Waalaikumsalam,"
"Matamu kok bengkak, Dik? Kamu habis nangis, ya? Panji baik-baik saja, kan?" tanya Pak Hermanto.
"Nggak apa-apa, Mas. AKu cuma habis tahajud saja," jawab Bu Dewi berbohong.
"Oalah ... Syukurlah kalau begitu. Kirain nangis kenapa. Maafin mas ya, Dik. Hari ini Mas dari luar kota lagi makanya pulang telat," ujar Pak Herman.
__ADS_1
"Iya Mas. Nggak apa-apa," jawab Bu Dewi.
BERSAMBUNG