MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 23 : KETAKUTAN


__ADS_3

Pak Ade semalaman tidak bisa tidur. Ia teringat dengan kondisi jenazah Pak Hartono yang mengenaskan. Laki-Laki itu juga melarang istrinya mematikan lampu kamar karena takut. Beberapa kali ia bersembunyi di balik badan istrinya ketika terdengar suara hewan di luar rumah yang mencurigakan.


“Ada apa sih, Mas? Ayo, tidur! Besok kamu harus kerja, kan?” tegur Bu Nisa.


“Dik, kayaknya di luar ada orang,” jawab Pak Ade dengan gemetar.


“Nggak ada siapa-siapa, Mas. Ayo, tidur! Aku ngantuk banget nih!” protes Bu Nisa sambil memunggungi Pak Ade.


“Dik, ngadep sini dong! Aku takut …” suara Pak Ade gemetaran.


“Mas ini apaan, sih? Pas Laras mati perasaan Mas nggak setakut ini? Giliran teman Mas sendiri yang meninggal, Mas kok malah kayak anak kecil begini? Aku juga sebenarnya masih takut diganggu Laras lagi, Mas. Tapi, karena seharian aku capek bantuin Bu Reni, aku sudah nggak peduli si Laras mau gangguin atau tidak. Aku terlalu capek, Mas!” gerutu Bu Nisa.


“Jangan kamu sebut-sebut nama Laras, Dik! Aku tidak takut sama Hartono, tapi aku takut sama Laras!” jawab Pak Ade keceplosan.


“Apa? Mas juga takut sama Laras? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa baru sekarang Mas takut sama Laras? Kemarin-Kemarin pas aku digangguin sama Laras, Mas kayak nggak peduli?” Tanya Bu Nisa curiga.


“Mmm-maksudnya Mas itu takut sama Laras setelah Mas ingat cerita kamu itu, Dik!” jawab Pak Ade ngeles.


“Mas tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?” telisik Bu Nisa.

__ADS_1


“Nnn-nggak, Dik. Suer! Mas beneran terngiang-ngiang dengan cerita kamu Dik. Makanya mas jadi takut begini!”


“Ooooo … tapi ini sudah malam, Mas? Dan besok kita harus beraktifitas. Aku aja yang aslinya takut sama Laras, tapi karena ada Mas di sini aku jadi berani. Masa Mas malahan yang takut? Ayo, tidur!” ucap Bu Nisa berusaha menenangkan suaminya. Seolah-olah tidak ada sesuatu yang perlu ditakutkan.


Pak Ade menimbang-nimbang omongan istrinya. Benar juga apa yang dikatakan oleh istrinya bahwa secara psikologis hantu tidak akan muncul pada saat orang sedang tidak sendirian. Namun, kejadian tewasnya Pak Hartono lah yang membuat Pak Ade takut. Ia takut akan bernasib sama dengan teman akrabnya itu. Karena pria tersebut berkeyakinan bahwa Pak Hartono tewas akibat dibunuh oleh Laras. Namun, ia tidak mungkin mengatakan hal tersebut kepada istrinya. Malah ia ingin tidak ada seorang pun yang berasumsi bahwa Pak Hartono tewas dibunuh oleh Laras. Sayangnya, beberapa detik lalu ia sudah keceplosan berbicara kepada istrinya. Untunglah, ia pandai berkelit. Dan sepertinya istrinya percaya dengan alasan yang ia buat-buat.


Pak Ade melihat istrinya sudah memejamkan mata di depannya sedangkan ia sendiri masih dipermainkan oleh pikirannya. Ia ingin memejamkan mata seperti istrinya, namun saat matanya sedetik terpejam, rasa ketakutannya kemarin muncul. Satu detik ia merasa Laras sedang berada di luar rumahya, dan satu detik ia merasa Laras sedang berada di ruang tamu, bahkan satu detik ia merasa Laras sudah ada di dalam kamar tersebut.


“Dik …” panggil Pak Ade pada istrinya.


Tidak ada suara sahutan. Sepertinya Bu Nisa sudah jauh masuk ke alam mimpi. Pak Ade tidak berani membangunkan istrinya lagi. Selain kasihan, ia tidak ingin istrinya bertambah curiga padanya tentang sebab rasa ketakutannya terhadap Laras. Akhirnya, terpaksa ia harus semalaman bertarung dengan rasa ketakutan sendirian.


Krieeeeeeet …


Pak Ade tidaklah tertidur, melainkan hanya beberapa detik terpejam. Karena saat matanya terpejam, justru arwah Laras hadir dengan sangat menyeramkan di dalam mimpinya sehingga memaksa Pak Ade untuk kembali terjaga dengan keringat  yang mengucur deras dan rasa ketakutan yang memuncak.


“Kenapa, Mas?”Tanya Bu Nisa yang terkejut mendengar suara igauan suaminya.


Pak Ade menatap wajah istrinya dengan tatapan kebingungan. Bu Nisa melihat raut wajah suaminya yang sangat memprihatinkan. Matanya sangat lelah sedangkan badannya penuh keringat layaknya seseorang yang baru bangun dari mimpi buruk.

__ADS_1


“Mas mimpi buruk, ya? Ayo tidur lagi saja. Itu hanya mimpi,” ucap Bu Nisa.


Pak Ade tidak menjawab apa-apa. Ingin ia berkata kepada istrinya bahwa ia hanya tertidur beberapa detik atau bisa dibilang belum tertidur sejak tadi. Teriakannya barusan karena sosok Laras hadir di dalam mimpi singkatnya. Namun, tiada guna ia mengatakan hal itu pada perempuan itu. Malah ia sendiri yang akan kerepotan kalau sampai istrinya curiga macam-macam terhadapnya.


Pak Ade mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Hembusan angin malam secara perlahan menetralisir suhu tubuhnya yang sempat memanas karena keringat. Keringat di tubuhnya pun perlahan mongering. Laki-Laki itu pun semakin takut untuk memejamkan mata. Suara dentingan jam dinding kuno di ruang tamu sebanyak satu kali menyadarkannya bahwa saat ini sudah pukul satu malam dan ia sudah berjam-jam mengalami insomnia.


“Ya Tuhan!!!! Bagaimana aku harus beristirahat? Padahal proyek yang akan ia tangani esok hari akan ada kunjungan dari pengawas dari perusahaan yang mengadakan kerjasama dengan CV-nya.


Mata Pak Ade sibuk mengitari ruangan berukuran 4 meter kali 4 meter itu. Ia ingin memastikan bahwa Laras tidak berada di sana. Namun, ketika matanya tidak sengaja menutup karena kelelahan, kembali ia tersadar dan membelalakkan matanya agar bayangan arwah Laras tidak muncul di pelupuk matanya. Akibatnya, pria tersebut menjadi sangat kelelahan dan tubuhnya pun memprotes apa yang sedang ia lakukan. Perut pria tersebut pun merasa mulas seketika.


“Aduh … apa-apaan ini? Perutku mulas seketika. Aduh, bisa-bisa aku mencret di kasur nih!”


Pak Ade menahan sakit perutnya dengan sekuat tenaga. Namun, apalah daya ia melawan panggilan alam tersebut. Karena sudahtidak tahan, ia pun membangunkan istrinya untuk menemaninya menuju kamar mandi.


“Dik … Dik … temani mas ke kamar mandi!”


Bu Nisa tidak bergeming. Ia seperti berada pada fase deep sleep. Sekeras apapun Pak Ade mengguncang-guncangkan tubuh istrinya, perempuan itu tetap terpejam dalam tidurnya.


“Aduh, Mak!” pekik Pak Ade sambil menahan mulas di perutnya.

__ADS_1


Kali ini Pak Ade benar-benar tidak kuat lagi menahan rasa sakit perut itu. Kotoran itu sepertinya sudah berada di ujung. Dan sedetik lagi ia terlambat maka kotorannya akan merusak kebersihan kamarnya. Pak Ade tidak punya pilihan lagi. Ia pun berlari keluar kamar menuju kamar mandi.


BERSAMBUNG


__ADS_2