
Jatmiko berpikir sejenak tentang pingsannya ketiga anggota keluarga Pak Ade dan kemunculan suara cekikikan wanita di sekitar tempat itu.
“Ya Tuhan … Jangan-Jangan Ade dan keluarganya ini baru saja diganggu oleh arwah perempuan bernama Laras itu?”ucap Jatmiko pada dirinya sendiri.
“Dalam situasi normal, seharusnya aku tidak dapat melihat kehadiran perempuan itu, tapi karena aku bersentuhan dengan Revan makanya aku bisa berinteraksi dengan arwah itu. Tidak, aku tidak boleh membiarkan arwah perempuan itu mencelakai keluarga Ade. Aku tetap harus menolong mereka bertiga. Mereka adalah keluarga bagiku. Lagipula, aku tidak perlu takut menghaapi arwah Laras. Toh, dia tidak akan bisa menyentuhku. Kecuali besok malam ketika ibuku dan Ki Santo membuka tabir gaib desa ini. Maka antara alam mereka dengan alamku akan lebih bisa berinteraksi,” ucap Jatmiko sambil menggendong Revan di pundaknya dan ia pun berjalan menyusuri pekarangan untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri.
“Hi hi hi hi hi ...,” suara cekikikan arwah Laras membahana di tempat itu.
Secara tiba-tiba arwah Laras muncul di hadapan Jatmiko. Sepertinya arwah Laras tidak sudi kalau Jatmiko menyelamatkan Revan.
“Ya Tuhan! Seram sekali wajah arwah Laras!” pekik Jatmiko terkejut.
“Hi hi hi hi hi … biarkan anak itu di sana! Kamu tidak usah iut campur urusan kami! Atau aku akan membunuhmu!” teriak arwah Laras dengan mata melotot seakan mau keluar dari tempatnya.
“Pergi kamu arwah sialan! Ini keponakanku. Tidak akan aku biarkan kamu mengganggu keponakanku ini!” jawab Jatmiko dengan tidak berani menatap arwah perempuan yang terlihat sangat menyeramkan itu.
“Hi hi hi hi hi … Bodoh kamu! Kalau kamu ikut campur, aku juga akan membuatmu seperti mereka!” teriak arwah Laras dengan penuh kemarahan.
“Menyingkir kamu! Aku mau membawa anak ini ke dalam!” teriak Jatmiko dengan tetap tidak menoleh ke arah arwah Laras.
__ADS_1
Cling!
Arwah Laras tiba-tiba menghilang dari pandangan Jatmiko. Suaranya pun tidak terdengar lagi. Jatmiko yang bisa merasakan ketiadaan arwah Laras pun menjadi senang dengan menghilangnya sosok menyeramkan itu dari hadapannya. Ia pikir bahwa arwah Laras takut dengan ancamannya karena meskipun begitu, Jatmiko juga memiliki sedikit kemampuan untuk menghadapi makluk halus sepertinya.
“Syukurlah, ia sudah pergi. Aku harus segera membawa Revan ke dalam. Sebelum arwah perempuan itu kembali muncul di sini,” ucap Jatmiko di dalam hati.
Baru saja ia berpikir seperti itu, tiba-tiba pria itu merasa tengkuknya hangat. Karena penasaran ia pun menoleh ke belakang untuk memastikan apa yang menyebabkan tengkuknya hangat tersebut. Dan pria itu benar-benar syok dan terkejut ketika ia menoleh ke belakang. Wajah arwah Laras yang sangat menyeramkan sudah berada di belakangnya dengan dua bji matanya yang menggantung ke depan seakan mau lepas.
“Aaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrggh!!!” Jatmiko pun berteriak dengan sekuat tenaga saat itu.
Hampir saja pria itu melepaskan Revan dari gendongannya karena saking terkejutnya. Dan apabila hal itu sampai terjadi, Revan bisa mengalami hal yang buruk. Untuglah jatmiko masih bisa menguasai dirinya. Meskipun ia terkejut, ia masih bisa berpikir taktis. Ia pun berlari menjauhi sosok menyeramkan di belakangnya sambil menggendong Revan di pundaknya. Tujuannya saat itu adalah lari ke dalam rumahnya untuk menyelamatkan dirinya dan juga Revan.
“Huaaaaaaaa!!!” teriak Jatmiko sambil berlari ke arah yang lain untuk menghindari arwah Laras.
Arwah Laras tentunya tidak diam saja dengan apa yang dilakukan oleh Jatmiko. Setiap Jatmiko akan berlari menuju pintu akses rumahnya, arwah Laras pun mencegat di depannya dengan kemunculannya yag tiba-tiba. Dengan cara melayang dari atas ke bawah, atau dengan muncul begitu saja di depan Jatmiko. Tak ayal, pria yang sedang berusaha menyelamatkan keponakannya itu pun selalu gagal untuk bisa membawa Revan masuk ke dalam rumahnya.
“Hi hi hi hi …,” suara tawa arwah perempuan itu terus saja melengking di pekarangan Jatmiko.
Pak Ade yang sudah mulai sadar dari pingsannya itu pun dapat melihat bagaimana sulitnya Jatmiko menyelamatkan anaknya. Namun, ia tidak mau memanfaatkan momen itu untuk bisa membangunkan istrinya yang sedang pingsan di kamar mandi. Dengan sisa-sisa tenanganya ia pun merangkah dan mengesot menuju istrinya yang masih tidak sadarkan diri di kamar mandi.
__ADS_1
“Aku harus membangunkan Nisa. Mumpung arwah Laras sedang tidak mengawasiku,” ucap Pak Ade pada dirinya sendiri.
Sementara itu Jatmiko terus saja berjibaku dengan arwah Laras yang terus saja menghalanginya untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri. Segala cara dilakukan oleh arwah Laras untuk menghalangi Jatmiko. Mulaidari menakut-nakuti pria bujang tua itu, sampai memberikan pandangan yang sesat kepada pria itu. Tentu saja Jatmiko kesulitan untuk menolong Revan. Ia kebingungan dengan pandangannya yang menjadi kabur akibat ditutupi penglihatannya oleh arwah Laras. Pada saat itu, ia seolah-olah tidak sedang berada di pekarangannya sendiri, melainkan di tempat lain yang kondisinya berbeda dengan yang harusnya ia lihat. Seandainya ada orang di sana yang bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh Jatmiko. Orang tersebut pasti heran karena Jatmiko sedang berlari-lari dengan cara memutar di depan rumahnya sendiri.
“Loh, ini di mana? Bukankah seharusnya aku ada di rumah?” tanya Jatmiko pada dirinya sendiri sambil tetap menggendong Revan.
“Hi hi hi hi hi …,” suara cekikikan arwah Laras terus saja menghantui pikiran Jatmiko.
“Tidak! Arwah perempuan itu pasti sedang menutupi penglihatanku. AKu harus bertindak. Iya, aku ingat dengan ajian yang pernah diajarkan oleh ibuku terhadapku. Aku akan membacanya sekarang,” pikir Jatmiko saat itu.
Beberapa waktu kemudian, Jatmiko pun membaca mantera yang pernah diajarkan oleh ibunya. Ibunya bilang kalau mantera itu sangat berguna apabila Jatmiko sedang berada di suatu tempat yang angker dan ia tersesat akibat ulah makhluk halus di tempat itu.
“Sun ajiku ajian balik pikir …..” Demikianlah Jatmiko merapal mantera dengan penuh kehkhusyu’an.
Setelah membaca mantera itu, Jatmiko pun mengusapkan jempol yang diusapkan ke ludahnya terlebih dahulu kemudian diusapkan ke dua pelipisnya sambil memejamkan mata. Setelah itu pria itu pun membuka matanya secara perlahan dan akhirnya penglihatannya yang dibuat kabur oleh arwah Laras pun bisa kembali seperti semula.
“Sialan! Ternyata benar dugaanku. Arwah perempuan itu telah menutup penglihatanku,” ucap Jatmiko di dalam hatinya sambil lurus memandang ke arah pintu rumahnya yang saat ini sudah berada tepat di depan matanya dalam jarak kurang lebih sepuuh meter.
“Aku harus segera berlari ke dalam rumah untuk menyelamatkan Revan. Kasihan anak ini kalau tidak segera ditolong,” ucap Jatmiko sambil bersiap diri untuk berlari sambil menggendong Revan di pundaknya.
__ADS_1
BERSAMBUNG