
Bu Dewi memeriksa bangkai ayam itu. Ia melihat di tanah makam Laras ada bekas darah yang sudah mulai menghitam. Ia berpikir bahwa kalau memang ayam ini tidak sengaja mati di atas makam Laras, tidak mungkin ada bekas darah di sana. Perempuan itu mulai berpikir bahwa ada seseorang yang sengaja membunuh ayam dan meneteskan darahnya di atas makam Laras.
Bu Dewi pun dengan segenap keberaniannya, menyingkirkan bangkai ayam itu dari atas makam Laras dengan menggunakan ranting kayu kering yang ia temukan di samping makam Laras. Ia juga menyingkirkan tanah yang ada bekas darah ayamnya.
“Siapa yang tega melakukan ini semua terhadap Laras? Nduk, kamu yang kuat ya, Nduk. Bude akan menolongmu supaya lepas dari dendammu. Bude tidak akan membiarkan orang memanfaatkanmu untuk berbuat jahat. Bude sekarang pamit dulu. Assalamualaikum …,” ucap Bu Dewi sambil berlalu pergi meninggalkan makam Laras dengan perasan gamang.
Matahari sudah mulai naik dan menampakkan sinarnya untuk menerangi bumi. Memberi kehidupan kepada semua makhluk bumi sebaga sunnatullah-Nya. Setiap kejadian di muka bumi ini adalah takdir dari-Nya. Namun, manusia juga diberikan kesempatan untuk menentuka jalan hidupya sendiri. Tentunya, semua pilihan ada konsekuensinya masing-masing. Setiap kebaikan maupun kejahatan akan ada balasannya masing-masing. Bu Dewi tidak habis pikir kok bisa ada orang yang tega melakukan hal itu kepada Laras.
“Aduh!” tiba-tiba kaki Bu Dewi tersangkut sesuatu saat berjalan melalui jalan setapak sehingga perempuan itu pun terjatuh ke depan. Tidak ada yang menolong perempuan itu karena ia sedang sendirian di tempat tersebut. Bu Dewi hanya bisa meringis menahan sakit di tumitnya akibat jatuh tersebut. Ia berusaha bangkit sendiri. Betapa terkejutnya perempuan itu tatkala ia melihat tulisan di salah satu nisan yang tepat berada di sampingnya.
“Pak Hartono!” pekik perempuan itu.
Entah apa yang dirasakan Bu Dewi saat itu. Ia langsung bangkit dan lari sekuat tenaga meninggalkan area pemakaman hingga napasnya menjadi tersengal. Saking takutnya, hampir saja ia menabrak seseorang di depan pintu gerbang pemakaman.’
“Astagfirullah!!” pekik Bu Dewi.
“Aduh!” pekik perempuan itu.
“Maaf, Mas!”ucap Bu Dewi.
“Iya nggak apa-apa, Bu Dewi. Bu Dewi kenapa kok lari-lari kayak ketakutan begini?” tegur pemuda itu.
“Nggak apa-apa, Mas Dwi. Saya keburu pulang saja habis dari makam-“ jawab Bu Dewi.
“Apa Bu Dewi barusan diganggu-“ tanya Dwi Purnomo.
“Tidak, Mas. Tidak ada yang mengganggu saya,” jawab Bu Dewi memotong ucapan Dwi Purnomo karena ia sudah bisa menebak jalan bicara pemuda itu yang nantinya akan menyudutkan arwah Laras kembali.
“Oh, syukurlah kalau tidak ada apa-apa,” jawab Dwi Purnomo.
__ADS_1
“Saya pamit dulu, Mas Dwi,” ucap Bu Dewi yang dijawab anggukan oleh pemuda tampan tersebut.
Bu Dewi pun meninggalkan pemuda yang sedang menenteng kresek hitam yang mungkin berisi makanan yang akan ia berikan kepada pekerja-pekerja di sawahnya. Maklum, Dwi Purnomo adalah anak tunggal kepala desa Sido Mekar yang digadang-gadang akan menggantikan posisi ayahnya yang akan habis masa baktinya tahun depan. Dusun Delima merupakan bagian dari desa Sido Mekar. Dusun Delima juga adalah lumbung pangan bagi warga dusun Sido Mekar. Namun, sayangnya fasilitas umum di dusun Delima masih jauh dari cukup. Terutama akses jalan di dusun Delima masih sangat memprihatinkan sehingga menyulitkan aktifitas bagi warga tersebut. Sudah berkali-kali warga menyampaikan keluhan kepada kepala desa, tapi tak kunjung diperhatikan. Alasannya nanti dan nanti terus.
“Mungkin nunggu lebaran monyet mau dibangun jalannya, Pak Herman,” ujar Pak Bagong.
“He he he … Ada-Ada saja Pak Bagong ini,” jawab Ustad Andi.
“Yah, begini lah kalau kepala desanya turun-temurun. Sulit maju desa ini,” imbuh Pak Bagong.
“Loh, kan sistemnya sudah pemilihan langsung. Berarti memang masyarakat menginginkan Pak Dibyo menjadi kepala desa Sido Mekar ini,” jawab Ustad Andi.
“Teorinya sih begitu, Ustad. Tapi, Ustad tahu nggak kalau rakyat kebanyakan memilih Pak Dibyo karena mereka diberi uang dua ratus ribu per KK,” jawab Pak Bagong.
“Wah, aku kok nggak ada yang ngasih uang pas pemilihan?” tanya Ustad Andi.
“Yah, kalau begitu. Tahun depan masyarakat harus kompak untuk memilih kepala desa yang amanah,” ujar Ustad Andi.
“Maunya warga sih begitu, Tad. Doakan semoga orangnya mau maju jadi kepala desa ya, Tad!” jawab Pak Bagong.
“Emangnya siapa yang akan disuruh menjadi kepala desa oleh warga sini?” tanya Ustad Andi.
“Ada deh, Tad!” jawab Pak Bagong.
“Siapa, Pak Bagong? Jadi penasaran, nih!” desak Ustad Andi.
“Tapi, jangan bilag siapa-siapa dulu ya, Tad. Soalnya kalau sampai informasi ini didengar oleh pendukung Pak Dibo bisa bahaya, Ustad. Pak Dibyo kan mau mengajukan anaknya, Mas Dwi, untuk menggantikan posisinya,” jawab Pak Bagong.
“Oke, tenang. Siapa orangnya, Pak Bagong?” tanya Ustad Andi lagi.
__ADS_1
“Sini saya bisikin, Ustad!” jawab Pak Bagong sambil memajukan mulutnya ke telinga pemuda yang menjadi salah satu tokoh agama di dusun Delima itu.
“Hah?” pekik Ustad Andi tidak percaya.
“Kenapa, Ustad? Nggak nyangka, kan?” ucap Pak Bagong.
“Iya. Nggak mungkin deh kayaknya?” protes Ustad Andi.
“Ustad ini dibilangi tidak percaya,” jawab Pak Bagong.
“Bukan begitunya, Pak Bagong. Tapi-“ jawab Ustad Andi.
“Tunggu tanggal mainnya, Ustad. Saya berani sedot lemak kalau sampai orang yang saya sebutkan barusan tidak maju sebagai calon kepala desa Sido Mekar,” ujar Pak Bagong dengan penuh percaya diri.
“Ah, itu mah enak di Pak Bagong kalau bisa sedot lemak!” Ustad Andi tertawa terpingkal-pingkal dengan ucapan pria tambun di depannya.
“He he he … Yang dicari kan yang enak, Ustad? Oh ya, Ustad Andi juga harus siap-siap jadi perangkat desa kalau calon yang saya sebutkan barusan bisa terpilih,”ujar Pak Bagong lagi.
“Ogah, Pak Bagong. Saya malas ngurusi politik,” jawab Ustad Andi.
“Nggak ada alasan. Pokoknya harus mau!” tegas Pak Bagong.
“Ogah, Pak!” ucap Ustad Andi sambil pamit pergi meninggalkan Pak Bagong.
Sepanjang jalan, pemuda itu berpikir bahwa Pak Bagong tidak serius mengatakan nama calon kepala desa itu. Mungkin itu hanya omongan sambillalu saja, seperti ucapan Pak Bagong yang menyurunya menjadi perangkat desa barusan.
“Ada-Ada saja Pak Bagong, nih!”
BERSAMBUNG
__ADS_1