MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 45 : RUANG RAHASIA


__ADS_3

Sosok hitam menuntunku untuk menuruni bantaran sungai dan meninggalkan Mas Diki di dalam mobil.


"Mau ke mana kita?" tanyaku pada sosok hitam itu.


"Tidak usah banyak bertanya. Nanti kamu akan tahu sendiri," jawab sosok hitam itu datar.


"Tapi, suami saya ada di dalam mobil. Tolong, jangan kamu apa-apakan dia!" ucapku lagi.


"Diam! Apa yang sudah laki-laki itu berikan sama kamu sampai kamu segitu cintanya sama dia?" bentak sosok hitam itu dengan nada emosional.


"Dia itu suami saya. Ayah dari anak saya. Tentu saja saya sangat mengkhawatirkannya. Jika kamu mau, bunuh saya saja! Tapi, lepaskan suami saya itu!" jawabku tegas.


"Tutup mulutmu! Di sini saya yang berkuasa, bukan kamu! Sebaiknya mulai sekarang kamu harus belajar melupakan suami bodohmu itu karena sebentar lagi kehidupan barumu akan dimulai!" bentak sosok hitam itu kembali.


"Kehidupan baru?" Aku sengaja mengulang apa yang dikatakan sosok hitam itu dengan maksud mendapat penjelasan tentang apa yang ia katakan barusan.


"Ya. Kehidupan baru yang tentunya jauh lebih baik dari kehidupan kamu sebelumnya. Tanpa batasan ... baik harta maupun aturan agama yang serba mengikat itu. Harta ... Kemewahan ... Keabadian ... semuanya akan kamu dapatkan di sini," terang sosok hitam itu lagi.


"Tidak!!! Saya sudah bahagia dengan kehidupan saya sekarang. Saya tidak membutuhkan semua yang kamu tawarkan barusan!" teriakku.


"Diam!!! Kamu pikir kamu bisa memilih? Tidak! Kami yang memilihkan untukmu!" bentak sosok berbaju hitam itu lagi.


"Kami???" tanyaku dengan maksud ia akan menjelaskan siapa saja orang yang bekerja sama dengan sosok hitam ini.


"Cukup! Kamu tidak usah banyak berbicara!" Ayo, ikut denganku!" teriak sosok hitam yang kuperkirakan seorang kaki-laki itu.


Sosok hitam itu pun menarikku ke sebuah gua di sekitar bantaran sungai itu. Aku tidak menyangka di daerah ini terdapat gua rahasia yang tidak diketahui oleh penduduk setempat.


"Masuk!" sosok hitam itu mendorongku ke sebuah ruangan dengan sebuah altar di bagian tengahnya.


"Tempat apa ini?" Aku masih memberanikan bertanya pada sosok hitam itu.


"Duduk!" perintah sosok hitam itu lagi yang lagi-lagi harus aku turuti.

__ADS_1


"Lepaskan ikatan di tangan saya!" Aku mencoba merayu sosok hitam itu.


"Kamu pikir aku bodoh? Justeru sekarang aku akan mengikatmu di altar ini!" jawab sosok hitam itu sambil mengangkat kakiku dan ditambatkan pada dua buah patok terpisah.


Aku berusaha untuk meronta, tapi dengan kondisi tangan terborgol seperti ini tentunya sangat menyulitkan bagiku untuk melawan tenaga sosok hitam di depanku. Kali ini tubuhku benar-benar terbelenggu sempurna. Kedua kakiku terentang ke arah yang berbeda sedangkan tanganku juga terborgol. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh sosok hitam ini kepadaku.


"Ha ha ha ha ha ... akhirnya, setelah penantian panjangku ...," pekik suara sosok hitam itu menggema ke seluruh dinding gua.


"Apa yang akan kamu lakukan pada saya?" Aku bertanya dalam ketakutan.


Sosok hitam mendekat ke arahku, kemudian ia mendorong tubuhku sehingga aku pun terbaring di atas altar itu. Aku baru tahu ternyata terdapat lubang berukuran cukup besar di atas altar yang langsung menghadap ke langit.


"Tenang, Sinta ... waktunya belum tiba. Nanti malam, tepat saat bulan purnama. Kamu akan memahami semuanya," bisik sosok hitam itu di telingaku.


"Apa saya akan ditumbalkan untuk ritual pesugihan yang kalian lakukan?" bentakku pada sosok hitam itu.


"Apa? Tumbal?" sosok hitam itu balik bertanya.


"Iya, kalian akan membunuhku untuk dijadikan tumbal, kan?" Aku bertanya lagi.


"Apa???" Aku terkejut dengan pengakuan sosok hitam itu.


"Iya. Kasihan kamu baru menyadari hal itu! Ha ha ha ...Dan kamu pasti akan terkejut setelah mengetahui siapa yang telah menumbalkan mereka berdua!" jawab sosok hitam itu lagi.


"Apa maksud kamu mengatakan hal itu?" Aku bertanya dengan penuh rasa penasaran.


"Jangan naif kamu, Sinta! Seseorang yang kamu hormati atau kagumi selama ini ternyata diam-diam telah menumbalkan anggota keluargamu. Ha ha ha ...," teriak sosok hitam itu lagi.


Perkataan sosok hitam itu terang saja membuat perasaanku menjadi tidak menentu. Meskipun sebelumnya aku sudah curiga bahwa kematian Bude Yati tidak lazim dan penyakit yang diderita oleh Mbak Ning juga aneh, tapi aku tetap merasa gelisah setelah mendengar dengan telingaku sendiri bahwa mereka berdua ternyata ditumbalkan oleh orang yang kukenal baik.


"Katakan! Siapa yang telah menumbalkan mereka berdua!" ucapku pada sosok hitam itu.


Sosok hitam itu tidak bergeming sedikitpun.

__ADS_1


"Sudahlah, Sin ... Nanti kamu akan tahu sendiri," jawabnya kemudian setelah diam selama beberapa detik.


Kriiiiing ... bunyi suara nada dering Ponsel. Sosok hitam mengeluarkan Ponsel dari saku celananya kemudian ia meninggalkan aku sendirian di ruangan ini.


"Nada dering itu ... Ponsel itu ..." Aku berkata pada diriku sendiri.


Selanjutnya, aku sedikit menguping pembicaraan sosok hitam itu dengan lawan bicaranya.


"Oke, saya tunggu segera. Mempelai wanita sudah berhasil aku tangkap!"


Itulah kata-kata yang sedikit aku dengar dari pembicaraan sosok hitam dengan lawab bicaranya.


"Mempelai wanita? Siapa yang akan menikah? Jangan-Jangan ... Tidaaaaak!!!! Aku tidak mau menikah dengan laki-laki lain. Aku sudah punya suami yang sangat aku cintai. Aku tidak mau terlibat dalam ritual sesat ini!" Aku berkata pada diriku sendiri.


Sosok hitam kembali masuk ke ruangan tempat aku berbaring. Ia menatap mataku lekat.


"Siapa kamu sebenarnya? Apa saya mengenalmu sebelumnya?" tanyaku pada sosok hitam itu dengan cukup lancang.


Aku tidak peduli ia akan marah dengan perkataanku.


"Hh ... Kamu penasaran, Sinta?" ledek sosok hitam itu terhadapku.


"Siapa kamu? Kenapa kamu tega melakukan hal ini terhadap saya?" Aku bertanya lagi.


Sosok hitam itu tidak menyahut. Ia hanya menatapku dengan tatapan anehnya. Aku semakin ketakutan dengan apa yang akan ia lakukan. Tiba-Tiba aku mendengar langkah kaki seseorang dari luar gua ini sedang menuju ke tempat ini. Sosok hitam itu juga mengetahui kedatangan seseorang tersebut.


"Apakah itu Mas Diki? Jangan, Mas! Jangan ke sini!" Aku berteriak dengan keras untuk memperingatkan orang yang akan menuju ke tempat ini.


Sosok hitam itu membungkam mulutku dengan tangannya hingga terdengar suara seseorang dari luar ruangan ini.


"Muridku !!! Saya datang!" teriak seseorang yang baru datang itu yang ternyata bukan suara Mas Diki.


Sosok hitam itu melangkah keluar ruangan untuk menyambut kedatangan temannya. Aku terus berusaha menguping pembicaraan mereka. Aku seperti hapal dengan suara teman sosok hitam itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Jangan lupa like dan komentarnya


__ADS_2