MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 42 : LAPAR


__ADS_3

Setelah salat Magrib Bu Dewi melanjutkan membersihkan sisa-sisa sampah setelah acara tahlilan yang berakhir sebelum salat Magrib tadi. Untunglah Panji sudah tidur sejak sore tadi. Jadi, Bu Dewi tidak terganggu aktifitasnya oleh ulah Panji. Tidak banyak yang dibersihkan oleh perempuan itu karena semua sudah dikerjakan oleh Pak Salihun dan Pak Ratno. Ia hanya perlu membuang sisa-sisa sampah ke tempat sampah saja.


“Kenapa tadi Pak Ratno dan Pak Salihun terlihat berbeda, ya? Tidak biasanya mereka berdua saling cuek seperti tadi. Apa mereka sedang ada masalah?” Bu Dewi memikirkan kedua karyawan suaminya yang selalu setia membantu pekerjaan rumah Bu Dewi terutama untuk acara tahlilan Laras.


Saking asyiknya bersih-bersih rumah, tak terasa sudah memasuki waktunya salat Isya. Bu Dewi pun buru-buru berwudu dan menunaikan salat Isya. Perempuan itu memang selalu salat di awal waktu.


“Hoam! Duh, jam segini aku sudah mengantuk. Sebaiknya aku segera menutup gorden dan mengunci pintu. Toh, kalau sudah selesai salat Isya begini nggak masalah kalau aku langsung tidur saja,” pikir Bu Dewi sambil berjalan ke arah jendela dan menutup tirai yang ada di sana setelah itu ia pun langsung masuk kamar tempat Panji sudah tertidur di sana sejak tadi.


Baru saja Bu Dewi akan merebahkan diri di sebelah Panji tiba-tiba Panji sudah terbangun dari tidurnya dan langsung menangis.


“Oeeeee ….,” suara tangisan Baby-Panji yang membuat Bu Dewi tidak jadi merebahkan tubuhnya di atas kasur.


“Akhirnya kamu bangun, Le. Pasti kamu lapar nih, ya? Ibu buatin susu dulu, ya?” ujar Bu Dewi sambil bangkit dari tidurnya dan buru-buru berjalan menuju meja. Ia meletakkan termos berisi air panas di atas meja beserta susu bubuk yang sudah dibuka dari kemasan aslinya dan dimasukkan ke dalam wadah khusus.


Bu Dewi menyiapkan air panas di termos saat orang-orang tahlilan di rumahnya. Sebenarnya Pak Herman sudah mau membelikan dispenser kepada Bu Dewi jauh-jauh hari, tapi Bu Dewi menolak karena di dusun Delima tidak ada depo air minum yang melayani penukaran air galon. Selain itu Bu Dewi juga tidak kuat kalau harus mengangkat galon ke atas sedangkan Pak Herman pulangnya sering larut malam. Kalaupun Pak Herman mau membelikan dispenser yang agak mahal dan galonnya tidak perlu dinaikkan ke atas, stk air minumnya juga sulit diperoleh di dusun Delima. Maklum, distributor air minum malas masuk ke dusun tersebut karena jalannya yang rusak parah. Ditambah lagi jaringan listrik di dusun Delima juga sering mati lampu terlebih kalau sudah memasuki musim penghujan karena banyaknya pohon-pohon besar di daerah tersebut. Atas alasan itulah masyarakat yang tinggal di dusun Delima masih mengandalkan air sumur atau artesis sebagai sumber air utama untuk minum dan termos untuk menyimpan cadangan air panas. Termasuk juga Bu Dewi, meskipun perempuan itu termasuk orang kaya di dusun tersebut.


Butuh waktu sekitar tiga menit bagi Bu Dewi untuk menyiapkan susu hangat kepada Panji. Bu Dewi mula-mula memasukkan air panas ke dalam botol susu kemudian ia memasukkan beberapa sendok takar susu bubuk ke dalamnya, memutar-mutar botolnya agar susu itu larut sempurna di dalam air dan terakhir Bu Dewi memasukkan air dingin matang ke dalamnya dan kembali botolnya diputar sampai larut sempurna. Tak lupa juga perempuan itu mengira-ngira botl yang dipegangnya tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Setelah selesai, ia pun memasukkan ujung botol yang berbentuk dot ke mulut mungil Panji. Dan Panji yang sedang kelaparan itu pun mengenyot dot yang dipegang ibunya dengan sangat kencang. Tangan mungil Panji uga ikut memegangi botol susu itu, tapi Bu Dewi tetap memegangi botol susu itu sembari memperhatikan wajah Panji yang sangat menggemaskan.


“Duh, Le … Kamu kelaparan betul ya, Nak. Pelan-Pelan, Nak, minumnya …,” ujar Bu Nisa kepada Panji.

__ADS_1


Tak sampai sepuluh menit, satu botol susu di tangan Bu Dewi sudah habis menyisakan bercak-bercak putih pada dinding botol tersebut. Bu Dewi menarik botol susu itu dari mulut Panji yang masih saja terus mengenyotnya. Alhasil, Panji menangis saat botol itu berhasil dilepas oleh Bu Dewi.


“Oeeeee ..,” suara tangisan Panji yang masih kelaparan.


“Sabar, Nak. Ini ibu buatkan lagi susunya,” ucap Bu Dewi kepada Panji yang terus saja menangis dan tidak peduli dengan omongan ibunya. Maklum, namanya juga masih bayi.


Bu Dewi kembali memasukkan air panas ke dalam botol itu. Setelah itu perempuan itu pun memasukkan takaran susu yang sama dengan sebelumnya, dilanjutkan dengan memutar-mutar botornya secara horisontal. Bu Dewi pernah mendengar dari saudaranya bahwa susu bayi tidak boleh dikocok-kocok karena bisa menimbulkan gelembung udara di dalamnya yang dapat memicu bayi menjadi masuk angin. Dan masuk anginnya bayi itu sangat berbahaya. Omongan saudara Bu Dewi itu membekas di ingatan istri Pak Herman itu dan diterapkan saat ia merawat Panji. Bu Dewi sengaja membuat susu dengan jumlah yang sama dengan sebelumnya karena ia yakin Panji sangat lapar saat itu. Setelah botol susu kedua ini siap, Bu Dewi pun memberikannya kepada Panji dan bayi itu pun dengan semangat meminumnya. Bu Dewi tersenyum simpul melihat bayinya sangat lahap meminum susu yang ia berikan.


“Semoga kamu sehat selalu ya, Le …,” ucap Bu Dewi sembari memperhatikan Panji.


Ketika Panji sudah berhasil meminumbotol kedua hingga tersisa seperempat botol, Panji melepas hisapannya pada ujung dot itu. Sepertinya Panji sudah kenyang sekarang. Bu Dewi meletakkan botol itu di tempatnya lagi dan ia segera mengangat Panji dan diletakkannya kepala Panji di pundaknya. Setelah itu Bu Dewi menepuk-nepuk punggung Panji secara perlahan sampai terdengar buni sendawa dari mulut Panji.


Hal ini juga dikatakan oleh saudara Bu Dewi kepada perempuan itu bahwa bayi itu kalau sudah minum susu sebaiknya ditepuk-tepuk pundaknya sampai sendawa agar bayinya tidak muntah. Dan benar saja Panji tidak pernah muntah selama dirawat oleh Bu Dewi.


“Bubuk lagi, Nak!” ucap Bu Dewi pada Panji setelah perempuan itu mencuci bersih botol susu yang habis dipakai barusan dengan menggunakan air panas yang dikocok-kocok di dalam botol. Pagi hari biasanya Bu Dewi mencuci semua peralatan minum Panji dan menyeduhnya di atas kompor agar kuman-kuman pada peralatan minum itu mati semuanya. Makanya, Bu Dewi memiliki beberapa set peralatan minum susu Panji agar saat yang satunya dicuci masih ada peralatan lain yang bisa digunakan.


“Oeeeee …,” Panji menangis lagi membuat Bu Dewi kebingungan.


“Loh, kok nangis ago, Nak? Kan sudah minum susunya. Masa masih kurang?” ujar Bu Dewi sambil memperhatikan wajah Panji.

__ADS_1


“Oeee …,” Panji masih menangis.


Bu Dewi memperhatikan cara Panji menangis tidak seperti sedang kelaparan atau kehausan. Ia pun mengambil minyak kayu putih diatas meja dan diusapkan ke beberapa bagian tubuh Panji agar Panji menjadi tenang.


Panji diam sesaat,namun selanjutnya ia menangis kembali.


“Oeee …,” suara tangisan Panji semakin keras.


Bu Dewi bingung dan khawatir. Ia takut ada apa-apa dengan bayi itu. Ia pun memeriksa suhu badan Panji dan ternyata suhunya normal. Dan, ia lemas seketika ketika ia melihat Panji menunjuk ke arah pintu dengan menggunakan tangannya yang mungil itu seperti malam kemarin.


“Ya Allah … Sudah ya, Nak. Jangan begitu lagi. Plis, stop ya, Nak!” pinta Bu Dewi kepada Panji.


Namun, Panji tetap menangis dengan keras sambil menunjuk ke arah pintu.


“Oeeee …,” suara tangisan Panji semakin keras.


Bu Dewi pun tak tahan mendengar suara tangisan itu. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus menuruti kemauan Panji. Meskipun saat itu ia benar-benar takut dengan kejadiananeh apa lagi yang akan ia hadapi saat ini.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2